"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Ke Singapore
Pintu ruang istirahat di balik ruang praktik terbuka pelan. Elio baru saja keluar sambil merapikan jas dokternya yang sedikit kusut. Rambutnya masih berantakan.
Napasnya belum benar-benar kembali normal. Begitu mengangkat kepala... Matanya langsung membulat.
"Yaaaa!" Ia berteriak histeris, dengan wajah kaget.
Mulutnya tak berhenti mengumpat dengan bahasa Korea penuh kesal.Di depan pintu tepat, Sienna berdiri sambil menyilangkan tangan di dada. Senyum usil mengembang lebar di wajah saudara kembarnya itu.
"Wah..." Sudut bibir Sienna semakin terangkat. "Akhirnya keluar juga. Udah puas?"
"Sial...." Elio memejamkan mata sesaat, lalu mengembuskan napas panjang dalam bahasa Korea. "Ya! Lo kayak hantu yang tiba-tiba muncul!"
Di belakang Elio, Kaia berdiri membeku. Rambut bobnya masih sedikit basah.
Wajahnya merah sampai ke telinga. Ia bahkan tak sanggup mengangkat kepala.Jemarinya sibuk merapikan ujung blouse yang kusut, berharap bumi menelannya saat itu juga.
Sienna menggeleng pelan sambil terkekeh, menunjuk keduanya bergantian. "Kalian ini nikah udah tiga bulan, nggak ada bosan-bosannya begituan. Hampir tiap hari kayaknya." Matanya memicing menggoda. "Ngejar setoran ya? Mommy sama Daddy udah nggak sabar punya cucu?"
"Berisik." Elio mendesah kesal. "Ada perlu apa ke ruangan gue?" Ia berjalan melewati adiknya menuju meja kerja.
Kaia buru-buru duduk di sofa, pura-pura sibuk membereskan kotak bekal makan siang agar rasa malunya tidak semakin terlihat.
Sienna ikut duduk santai di seberang meja Elio. "Daddy nyariin dari tadi tuh." Ia memainkan pulpen di meja.
"Akhirnya gue yang disuruh ke sini buat manggil elo...."
Tatapannya bergeser nakal ke arah ruang istirahat. "...eh ternyata Dokter Elio masih sibuk minta jatah."
"Khuk!" Kaia langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru menutup mulut sambil batuk berkali-kali.
Pipinya semakin panas.Elio memejamkan mata sebentar. Urat di pelipisnya sampai terlihat. "Kalau nggak ada kepentingan, keluar."
Sienna malah tertawa puas."Dih masih aja malu-malu, semua orang juga tahu kalian suami istri." Ia lalu berdecak kecil, "buruan! Nanti Daddy bisa marah kalau ketinggalan pesawat."
Elio hanya mendengus pelan. "Iya bawel!" Kemudian berdiri menarik koper kecil di samping meja yang sudah di siapkan Kaia sejak semalam.
Hari ini ia akan menuju Semarang bersama Yama. Pembukaan cabang klinik kecantikan milik ibunya. Elio akan berada di sana selama tiga hari.
Nah! Pas ini... Waktunya quality time." Sienna langsung menoleh pada adik iparnya. "Kai... Selama Elio pergi kita jalan-jalan yuk."
Mata Kaia langsung berbinar kecil. "Benarkah?" Ia jarang sekali mempunyai teman sejak kecil, ia merasa senang mendapat ipar seperti Sienna yang periang.
"Iya." Sienna mengangguk semangat. "Aku juga pas dapet libur dua hari."
Elio yang sedang mengecek isi koper melirik sekilas. Sienna adalah dokter anak dengan banyak pasien. "Emang lo nggak praktik?"
"Gue libur plus dapet jatah cuti," ia lalu menoleh ke arah Kaia lagi. "Kita ke Singapore aja yuk Kai."
"Nggak." Jawaban Elio keluar begitu cepat. Ruangan langsung hening. Bahkan Elio sendiri sedikit mengernyit. Kenapa ia menolak secepat itu?
Sienna mengangkat kedua alis. "Loh? Cuma dua hari El."
"Enggak." Nada Elio tetap datar. "Terlalu jauh, apa-apaan sampe Singapore. Nanti kalau ada apa-apa gimana?"
Sienna langsung menyeringai lebar. "Weh... udah mulai posesif?"
"Nggak." Elio segera membantah. "Gue cuma nggak mau ada masalah."
"Yaelah... paling bahaya di Singapore itu dompet lo yang jebol." Sienna tertawa puas melihat wajah kakaknya mulai kesal.
Saat sedang berdebat kecil pintu kembali terbuka. Maika masuk sambil membawa map. "Ya ampun kalian ribut lagi? Dari luar udah kedengeran loh. Udah gede masih aja ribut terus."
"Mom!" Sienna langsung mengadu. "Elio nggak ngijinin aku sama Kaia ke Singapore."
Maika menatap putranya bergantian dengan Kaia. "Loh, kenapa El? Kaia juga kasihan sendirian di apartemen."
Elio mengembuskan napas panjang. Tatapannya bergeser pada Kaia yang sejak tadi hanya diam. Perempuan itu seperti sedang menunggu izinnya.
Beberapa detik berlalu.Akhirnya ia mengangkat bahu kecil. "Terserah. Tapi jangan sampe lupa waktu."
Senyum Kaia langsung mengembang tanpa sadar. "Iya, Kak."
Elio hanya mengangguk tipis, lalu melangkah keluar. Sebelum pintu tertutup, terdengar suara lirih Kaia dari belakang.
"Hati-hati di jalan..."
Langkah Elio berhenti sepersekian detik. Ia tidak menoleh, hanya menjawab singkat. "...Hm." Lalu kembali berjalan pergi.
******
Sinar matahari sore menerpa kaca-kaca gedung tinggi Singapura. Tak sampai dua jam penerbangan dari Jakarta, kini Kaia dan Sienna sudah berada di kawasan Orchard Road, jalan paling ramai yang dipenuhi deretan butik mewah, pusat perbelanjaan, dan kafe.
Kaia berdiri beberapa saat di trotoar lebar. Pandangannya bergerak ke kanan dan kiri, memperhatikan pepohonan yang tertata rapi, gedung-gedung menjulang dengan fasad kaca mengilap, juga orang-orang dari berbagai negara yang berjalan cepat membawa paper bag belanjaan.
"Bagus banget..." gumamnya pelan.
Sienna terkekeh. "Norak ya?" godanya.
Kaia langsung menggeleng cepat. "Enggak... Aku cuma..." Ia tersenyum malu. "Baru dua kali ke Singapore, Kak."
"Nah makanya!" Sienna langsung menggandeng lengannya. "Hari ini tugas kamu cuma satu."
"Apa?"
"Senang-senang!" Seru Sienna, kakinya bergoyang heboh.
Mereka masuk ke ION Orchard. Begitu pintu otomatis terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Langit-langit tinggi dengan lampu-lampu modern membuat seluruh ruangan tampak mewah.
Etalase butik internasional berjajar di kanan kiri. Mata Kaia membulat. "Ini mall atau museum?" bisiknya.
Sienna tertawa sampai memegang perut. "Lucu banget sih kamu."
Ia langsung menyeret Kaia masuk ke butik pertama. "Dua ini dibungkus ya." Sienna menunjuk dua tas kulit
berwarna hitam dan putih tanpa banyak berpikir.Kaia melirik label harganya.
Matanya langsung melebar.Harganya hampir seratus juta rupiah. Tangannya refleks menarik lengan Sienna.
"Kak..."
"Hm?"
"Itu... mahal banget."
Sienna menoleh santai."Iya."
"Iya gimana?"
"Ya emang mahal, Kaia"
Kaia menelan ludah. "Bisa buat beli mobil itu kak..."
Sejak kecil Kaia diajarkan oleh Hardja dan Farida, tentang arti sebuah barang, tentang kebutuhan dan fungsi daripada sekedar keinginan.
Sienna malah tertawa semakin keras. "Hasil kerja keras. Ini bentuk self reward aku."
Butik berikutnya, Sienna kembali membeli dompet, sepasang heels, kacamata hitam.
Parfum, beberapa scarf sutra. Semuanya dibayar tanpa berkedip.
Sementara Kaia hanya mengikuti dari belakang sambil membawa beberapa paper bag.
"Capek nggak?" tanya Sienna.
Kaia menggeleng. "Cuma bingung aja, Kak."
"Bingung kenapa?"
"Kak Nena kayak kak Kiara, bisa belanja sebanyak ini."
Sienna mengangkat bahu. "Stress shopping."
Kaia langsung tertawa kecil."Oh... ternyata dokter juga begitu."
"Dokter justru paling sering. Kai"
Mereka berhenti di sebuah butik lain. Tatapan Kaia jatuh pada sebuah tas kecil berwarna krem dengan desain sederhana.
Tidak mencolok, tidak penuh logo, sangat elegan. Ia lantas mendekat perlahan, jemarinya menyentuh kulit tas itu dengan hati-hati.
"Cocok buat kamu." Suara Sienna terdengar dari belakang.
Kaia langsung melepaskan tangannya. "Enggak ah, Kak."
"Kenapa?" Sienna menaikkan satu alisnya.
"Harganya mahal."
Sienna melihat labelnya. Tas itu memang jauh lebih murah dibanding semua barang yang sudah ia beli hari itu. "Buat Elio itu sih murah, ambil aja, Kai."
Kaia menggeleng pelan."Aku nggak mau pakai uang Kak Elio untuk belanja barang gini."
Kalimat itu membuat Sienna diam beberapa detik. Ia baru sadar... Selama tiga bulan menikah, Kaia hampir tidak pernah meminta apa pun kepada Elio.
Bahkan kosmetik yang dipakainya pun masih merek lama. Baju-bajunya kebanyakan tetap kaus oversized dan celana longgar. Tidak pernah terlihat minta dibelikan apa pun.
Sienna tahu uang dari Elio, Kaia gunakan untuk kebutuhan rumah tangga mereka. "Kamu beli pakai uang sendiri?"
Kaia mengangguk kecil."Masih ada tabungan dari kerja freelance."
Sienna tersenyum tipis.Semakin lama mengenal adik iparnya, semakin ia paham kenapa mamanya sangat menyukai Kaia.
Perempuan ini tidak pernah mengambil keuntungan dari siapa pun. "Kalau begitu..."
Katanya pelan. "Beli aja, nggak sering-sering kan?"
Kaia memandang tas itu sekali lagi. BLalu tersenyum kecil. "Iya. Yang ini aja deh."
Setelah keluar dari butik,keduanya duduk di sebuah kafe yang menghadap lorong utama Orchard Road.
Di atas meja tersaji dua gelas iced latte dan sepotong cheesecake. Kaia memandang paper bag kecil di samping kursinya.
Belanjaannya hanya satu tas.Sedangkan milik Sienna sudah hampir memenuhi lantai.
Sienna tertawa melihat arah pandangan Kaia. "Jangan dibandingin dong, mata kamu kayak ngeledek"
"Aku cuma heran. Kak Nena belanja banyak banget."
Sienna mengaduk kopinya pelan. "Dulu aku juga nggak begini, tapi sejak putus sama mantan. Aku lebih milih belanja banyak daripada harus nangisin seseorang."
Kaia menoleh. "Alasan macam apa itu?"
Mereka sama-sama tertawa. Suasana sore itu terasa hangat. Tanpa Kaia sadari, tepat di seberang lorong mall...
Seorang pria berpostur tinggi baru saja keluar dari sebuah toko elektronik. Langkahnya tiba-tiba terhenti.
Tatapannya terpaku pada sosok perempuan berambut bob yang sedang tertawa kecil di dalam kafe. "...Kaia?"
Sienna menepuk dahinya pelan. "Aduh! Aku lupa beli dompet titipan temenku."
Kaia yang sedang mengaduk latte hangatnya mengangkat wajah. "Masih kurang, Kak? Bukannya tadi udah belanja banyak?"
"Iya... tapi yang ini titipan."Sienna terkekeh kecil. Ia menarik kursinya ke belakang lalu berdiri. "Tunggu di sini ya, Kai. Paling sepuluh menit aja kok."
"Iya Kak."
"Kalau makanan kita datang duluan, makan aja."
Kaia mengangguk. "Iya, Kakak belanja lagi aja, aku nunggu sini. Kakiku pegel."
Sienna segera keluar dari kafe dan menghilang di antara keramaian koridor mal.
Kaia kini sendirian. Ia menyandarkan punggung kursi. Dari balik dinding kaca, Orchard Road tampak ramai.
Deretan pepohonan yang tertata rapi, kendaraan yang melintas teratur, serta pejalan kaki dari berbagai negara memenuhi trotoar.
Sesekali ia menyeruput kopinya. Matanya menerawang jauh.Tiga bulan menikah dengan Elio terasa seperti hidup bersama seseorang yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
Mereka tidur di ranjang yang sama. Makan di meja yang sama. Bahkan setiap malam Elio memeluk tubuhnya.
Namun ketika pagi tiba...
Pria itu kembali berubah menjadi sosok yang begitu jauh.Seolah malam hanyalah kewajiban. Bukan kasih sayang.
"Kaia?"
Suara laki-laki itu membuat lamunannya buyar.Kaia mendongak. Cangkir di tangannya hampir terlepas.Matanya membulat di balik bingkai kacamata.
"...Sean?"
Pria itu tersenyum hangat.Rambut hitamnya sedikit lebih panjang dibanding terakhir kali mereka bertemu.Tubuhnya tetap tinggi
dengan kemeja putih sederhana dan celana hitam. "Aku boleh duduk?"
Kaia masih terpaku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Silahkan..."
Sean menarik kursi di hadapannya. "Aku benar-benar nggak nyangka ketemu kamu di Singapura."
Kaia mengembuskan napas kecil, masih berusaha mencerna keadaan. "Aku juga."
Sesaat mereka hanya saling memandang. Begitu banyak kenangan yang dulu pernah mereka bangun bersama, kini terasa begitu jauh.
"Kamu ke sini liburan?" tanya Sean.
Kaia mengangguk. "Iya.Diajak kakak iparku. Kalau kamu?"
Mendengar kata 'kakak ipar', senyum Sean mengecil. Ia sadar, perempuan di hadapannya kini sudah menjadi istri orang.
"Aku ke sini karena koko Adrick menikah," jawab Sean sambil tersenyum tipis. "Sejak kemarin seluruh keluarga ngumpul di sini."
Wajah Kaia langsung berbinar. "Koko Adrick nikah?" Ia cukup mengenal baik keluarga Sean.
"Iya."
"Wah... Sampein selamat ya buat Koko. Aku ikut senang."
"Nanti aku sampaikan ke Koko. Dia pasti seneng." Sean memperhatikan wajah Kaia beberapa saat.
Perempuan itu memang masih sama. Tetapi... Sorot matanya berbeda. Ada lelah yang dulu tidak pernah ada.Ada senyum yang dipaksakan. Tangannya bahkan beberapa kali meremas gelas tanpa sadar.
Sean menundukkan pandangan sesaat. Lalu bertanya dengan hati-hati. "...Kamu bahagia Kai?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat dada Kaia sesak. Bayangan Elio muncul begitu saja.Tatapan dingin, ucapan-ucapan yang melukai. Pil kontrasepsi yang selalu diingatkan setiap pagi.
Kalimat... "Aku nggak mau punya anak dari rahim kamu."
Semua kembali berputar di kepalanya. Namun ia memaksa tersenyum. "Iya..."
Sean menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. "Kamu masih nggak bisa bohong."
Kaia terdiam. Tangannya menggenggam cangkir semakin erat.
Sean mengembuskan napas pelan. "Aku nggak akan tanya apa-apa lagi. Aku cuma..." Ia berhenti sejenak. "...berharap orang yang sekarang ada di sampingmu benar-benar bisa membuatmu bahagia."
Kelopak mata Kaia mulai terasa panas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke luar jendela agar Sean tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Di sisi lain koridor...
Seorang pria bertopi hitam berdiri di balik pilar. Masker menutupi separuh wajahnya. Tangannya mengangkat kamera dengan lensa tele.
Klik.
Kaia dan Sean yang duduk saling berhadapan terekam jelas.
Klik.
Sudut lain.
Klik.
Sean yang sedang tersenyum.
Klik.
Kaia yang menatap Sean.Pria itu menurunkan kameranya. Seringai tipis terukir di balik masker.
"Perfect..."
Ia segera memilih beberapa foto terbaik.
Lalu mengirimkannya ke sebuah nomor yang sudah tersimpan.
Pesan singkat muncul. Foto sudah dapat. Tak lama... Status pesan berubah menjadi read.
Dan di belahan dunia lain... Langit Amerika masih gelap. Lampu-lampu kota berkilauan dari balik jendela apartemen mewah.
Seorang wanita paruh baya mengenakan piyama satin berwarna marun duduk santai sambil memutar gelas wine di tangannya.
Ponselnya bergetar. Ia membuka pesan yang baru masuk. Satu per satu foto itu muncul di layar.
Tatapannya perlahan berubah dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Bagus..." Ia memperbesar foto Kaia yang sedang duduk bersama Sean. Jemarinya mengusap layar pelan.
"Lihat saja...Kebahagiaanmu tidak akan bertahan lama. Anak Ivanka memang tidak berhak bahagia"
Wanita itu menyesap winenya perlahan. Matanya masih terpaku pada foto tersebut.
**********
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih 🙏 *
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁