Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Jam 13:00 Siang Hari.
Pusat Kota Tokyo.
Akira bersama Lumina sedang berada di sebuah kafe yang ramai dengan banyaknya orang yang memakai pakaian mencolok, ada yang menggunakan zirah berat atau sebuah jubah, namun itu semua sudah normal disini.
sedangkan Akira sedang duduk di salah satu tempat yang kosong di pojok dekat jendela bersama Lumina, mereka berdua duduk saling berhadapan sambil menyantap beberapa camilan kue.
Karena Lumina pertama kali ke kafe, makanan di kafe membuatnya merasakan cita rasa baru, hingga ia sibuk makan pelan-pelan supaya tidak terlihat bahwa ia menyukai camilan-camilan itu, namun hal itu justru terlihat jelas di mata Akira, walau begitu ia menghiraukannya agar Lumina bisa lebih tenang dan tidak malu.
Akira pun memakan camilan sambil membuka ponselnya dan melihat berita-berita tentang pahlawan yang menggunakan kekuatannya untuk hal yang tidak baik.
Namun bukan hal itu yang menjadi fokus utamanya, karena ia diam diam mendengarkan perkataan orang-orang yang ada di kafe.
“Aku tidak tau siapa gadis kecil itu, tapi berkatnya, aku jadi tidak takut keluar malam hari mulai sekarang,” ucap pria yang sedang berbincang di kafe.
“Kau takut keluar malam hari? Hahaha lemah sekali, sepertinya kau perlu perlindungan ku ya.”
“Apaan, kau juga sendiri juga takut kan.”
“Hah? Ti-tidak kok.”
Akira mendengarkan semua orang yang sedang saling berbicara dan menemukan satu kesimpulan, setiap malam di Tokyo, selalu ada seorang pahlawan yang menggunakan kekuatannya untuk melakukan hal buruk, diperkirakan mereka semua ada ratusan.
Dan hanya dalam semalam semua orang itu dikalahkan, lalu mereka semua selalu ditemukan dalam keadaan pingsan, hingga akhirnya mereka semua ditangkap, dan saat mereka di interogasi, salah satu di antara mereka mengatakan bahwa mereka dikalahkan oleh seorang gadis kecil.
Entah bagaimana berita tentang gadis kecil itu mulai tersebar dari mulut ke mulut walau sebagian orang masih ada yang tidak percaya.
Akira berhenti memakan camilannya dan menatap keluar jendela melihat orang berlalu lalang sambil berpikir.
“Sudah jelas itu ulahnya, tapi… bagaimana cara menemukannya ya…”
Disaat Akira sedang kebingungan, pembicaraan dari orang di belakangnya terdengar menarik, hingga ia mendengarkannya secara seksama.
“Kau tau? Ada rumor gadis itu seolah tau jika ada seseorang yang sedang melakukan hal buruk atau berniat jahat.”
Setelah mendengarkan perkataan orang dibelakangnya ia mendapatkan sebuah ide.
Akira yang sebelumnya menatap ke luar jendela langsung menatap Lumina dan ingin membicarakan idenya, namun setelah melihat ke arah Lumina, ia terdiam.
Karena dia melihat disekitar mulutnya ada sisa makanan yang belepotan, dan meja di depannya yang sebelumnya banyak camilan kini sudah habis tak tersisa.
“Hmm?” Lumina menatap Akira sambil sedikit memiringkan kepalanya karena kebingungan.
“Itu, mulut mu.”
“Mulut saya?” Lumina langsung memegang mulutnya dan melihat tangannya, kemudian ia baru sadar dan langsung segera membersihkannya secara cepat dengan tisu yang ada di meja.
“Ma-maaf.” ucap Lumina dengan gagap sambil kepalanya sedikit menunduk karena malu.
“Tidak apa-apa, Yang lebih penting aku ingin membicarakan sebuah rencana.”
Mendengar perkataan Akira, Lumina mengangkat kepalanya lalu bertanya dengan rasa penasaran.
“Rencana?”
“Iya, dan rencananya adalah—”
......................
Malam Hari...
Di salah satu jalanan yang gelap dan hanya disinari oleh beberapa lampu jalan, seorang perempuan terlihat berlari dikejar oleh sesuatu, perempuan itu memakai sebuah tudung hitam hingga menutupi mukanya.
Brak!
Dia tersandung tepat di tengah perempatan dan bangkit kembali dengan kedua tangannya.
Tap... tap... tap...
Baru setengah bangkit, dia mendapati di hadapannya ada suara langkah kaki dan tidak lama seseorang yang memakai topeng muncul seolah keluar dari kegelapan malam.
Perempuan bertudung hitam yang masih belum berdiri, perlahan mundur ketakutan, sedangkan orang di hadapannya terus mendekatinya dengan niat yang tak diketahui.
“To-tolong!” Perempuan itu berteriak minta tolong walau agak gagap.
Dibalik tudung hitam yang menyembunyikan wajahnya, mukanya sedikit memerah sambil berpikir,
“Ini memalukan… tapi, ini demi Tuan,”
Kebenaran sosok dibalik Perempuan bertudung hitam itu adalah Lumina.
“Percuma saja, tidak akan ada yang menolongmu,” ucap orang bertopeng dengan nada berat untuk menunjukan bahwa dirinya adalah sosok jahat.
“Rasanya... aku menyesal merencanakan ide ini.”
Sedangkan orang bertopeng yang sedang mengejar Lumina adalah Akira yang sedang menyamar sebagai penjahat.
Mereka berdua merencanakan ini untuk menarik perhatian gadis kecil yang merupakan Pahlawan Rank S Bernama Nako Yumeno, dia adalah pahlawan dari Planet Remnant yang dicari Akira.
WUSHHH!
Angin kencang berputar dan berkumpul di satu titik tepat didepan Lumina, saat angin itu menghilang, terlihat sosok gadis kecil sedang memegang ujung topinya dengan satu tangan sambil menatap ke depan, dan tidak lain gadis kecil itu adalah Nako Yumeno.
“Padahal aku yakin sudah membereskan semuanya, tapi sepertinya terlewat satu ya…”
“Tidak salah lagi… itu di—”
BRUAKK!
“Agghh!!!”
Tanpa jeda angin besar muncul mendorong Akira jauh ke belakang hingga menabrak sebuah tembok rumah yang berada di pertigaan.
“Ohh, sepertinya yang kali ini lebih kuat ya…”
Perlahan Nako berjalan ke arah Akira.
“Tunggu!”
“Tenang saja nona, aku bisa menyelesaikannya.” Nako menengok sebentar ke belakang lalu lanjut berjalan.
“Bukan begitu maksudku…” pikir Lumina.
[Skill Heal:Aktif]
Tap… tap… tap…
Nako maju perlahan dengan wajah tertutup topi, lalu berhenti tepat di hadapan Akira yang sedang bertekuk lutut, di bawah lampu jalan yang menyinari mereka berdua.
“Tunggu.” ucap Akira.
“Hmm? Apa?”
“Kau tidak mengenalku?” ucap Akira sambil melepas topengnya.
Nako mengangkat topinya sedikit dan melihat wajah Akira dengan seksama, kemudian dia berbicara,
“Hmm? Tidak kenal, Siapa kau?”
“Eh, dia tidak kenal? Gawat... kalau begitu hanya ada satu cara.” pikir Akira.
Akira yang sedang bertekuk lutut berdiri dengan gagah sambil berkata,
“Aku adalah Sang Raja Pahlawan! seorang Raja yang memimpin kerajaan manusia terakhir di Planet Remnant!” ucap Akira dengan nada tegas dan berwibawa.
“Ini memalukan…” pikirnya.
“Kau, Sang Raja?”
“Bena—”
BRAKK!
“Agghh!!!” Akira tiba tiba saja terjatuh tengkurap karena medan gravitasinya menjadi lebih berat hingga menghancurkan jalanan di sekitarnya.
“Apa ini! apa dia tidak percaya!?” pikirnya.
Tap... tap... tap...
Nako perlahan maju mendekati Akira hingga jaraknya hanya sejengkal, dia menatap Akira yang sedang jatuh di bawah dengan mata yang tajam yang sinis.
“Beraninya kau mengaku sebagai sebagai Sang Raja, tidak akan kubiarkan kau selamat,” ucap Gadis itu dengan raut wajah yang marah.
“Gawat! bagaimana ini!” pikir Akira dengan panik dan mencoba bangun, namun ia kesulitan karena menahan gravitasi yang berat.
“Selamat tinggal," ucap Nako sambil mengulurkan tangannya kedepan.
Wssshhh...
“Hmm?” Belum sempat malayangkan serangan, Nako berhenti karena melihat Lumina yang sedang memakai tudung hitam menutupi wajahnya, Lumina muncul di hadapannya sambil membentangkan kedua tangan.
“Oi, minggir, apa jangan jangan kalian berdua merencanakan ini ya? Kalau begi—” Nako mendadak berhenti berbicara dan menurunkan tangannya, matanya membulat ketika melihat Lumina yang memakai tudung hitam membukanya dan memperlihatkan wajahnya.
“Kak Lumina!? Kenapa Kakak bisa ada di sini!?"
Nako tiba-tiba menyadari sesuatu dan medan gravitasi yang terasa berat menimpa Akira sebelumnya langsung hilang, namun itu sudah terlambat karena Akira sudah pingsan duluan.
“Ja-jangan-jangan, di-dia,” Nako berkeringat dingin sambil gemetaran menunjuk Akira yang berada di belakang Lumina.
“Benar, yang kau lawan adalah Tuan."