Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Acha, Fara, Kevin dan Bayu sudah sampai di depan kontrakan Alina. Mereka baru saja keluar dari dalam mobil, tetapi Fara sudah jalan lebih dulu dengan berlari - lari kecil karena tak sabar ingin bertemu dengan Alina.
"Astaghfirullah!" Fara terkejut melihat noda merah di lantai, Bayu menghampiri Fara dengan berlari. Sedangkan Kevin dan Acha saling pandang karena merasa heran.
"Kakak, coba lihat ini!" Fara menoleh ke arah belakang, di mana Bayu sedang berdiri sekarang.
Bayu terus memperhatikan lantai itu, lalu menerobos masuk ke dalam kontrakan Alina karena pintunya terbuka.
"Ya ampun, teman kamu keterlaluan banget sih!" bentak Acha pada Kevin, lalu berlari untuk menghentikan Bayu.
"Hadeh, nggak ngerti lagi gue dengan rencana Bayu" kata Kevin, ia masih berjalan dengan santai, karena ia yakin Bayu tidak akan berbuat hal - hal yang dapat merugikan dirinya sendiri apalagi Alina.
Acha yang semula akan menghentikan Bayu ia mengurungkan niatnya, ketika melihat noda merah di lantai. Ia masih syok dan berusaha menenangkan Fara. "Lumayan banyak juga, ini kursi sampai pada berantakan lagi, kata Acha dengan lirih.
Bayu sangat khawatir, tetapi dia juga berusaha menjaga suasana tetap kondusif tidak menimbulkan keributan. Ia melihat suasana di dalam kontrakan sangat bersih dan rapi tidak berantakan. Bayu memanggil Alina, seraya menyusuri setiap ruangan.
"Iya, sebentar!" Teriak Alina berasal dari kamar mandi.
"Kamu lagi ngapain? baik - baik aja kan?" Tanya Bayu beruntun, dari balik pintu kamar mandi.
"Iyaa, Bayu! ajak teman - teman masuk dulu aja ya."
"Oke." ucap Bayu dengan singkat. Ia sangat terkejut ketika menoleh ke belakangnya ternyata sudah ada Fara, Acha dan juga Kevin yang tampak tersenyum lega.
Alina keluar dari kamar mandi.
"Hai, eh, kalian duduk dulu aja ya, kita makan dulu," kata Alina yang masih sibuk dengan alat pengepel lantai. Tiba - tiba, Fara memeluknya begitu erat dan Acha juga mengamati diri Alina khawatir ada yang terluka beserta mengajukan banyak pertanyaan. Bayu menatap Alina dengan mata yang berkaca - kaca, Kevin yang tidak terlalu dekat dengan Alina pun ikut terharu menyaksikan persahabatan Antara Fara, Acha dan Alina.
"Tenang aja, semuanya aman, Acha. Ih, kok suasananya jadi gini sih," Alina memperhatikan semua rekan kerja yang sekaligus sahabatnya itu.
"Aku panik banget tahu, lihat darah berceceran." Ucap Fara terdengar seperti sedang pilek karena menangis. Mendengar hal itu Alina tersenyum, ia tahu apa yang di maksud oleh Fara.
Alina berkata, "Itu bukan darah, tapi sirup merah, Fara."
Kevin tertawa, "hahaha, sudah gue duga. Lagian kalau Bu Bos kenapa - napa, pasti di sini udah rame banget warga."
"Tapi, kenapa bisa sampai ada di lantai? terus juga itu kursi posisinya kayak nggak beraturan banget gitu?" tanya Acha.
"Oke, jadi gini, tadi tuh ibu - ibu yang ngontrak di sebelah main ke sini, bawa anaknya juga. Terus aku sajikan minuman ini, ternyata malah pada rebutan tarik sana tarik sini, jadinya tumpah. Kursi juga, ya ulah anak - anak, wajarlah usia segitu lagi aktif - aktifnya banget."
"Aku aja sini yang beresin," kata Bayu.
"Eh, nggak usah, biar aku aja," tolak Alina.
"Biar cepat selesai Bu Bos, lagian Bu Bos juga mau nyiapin makanan kan?" ucap Kevin untuk meyakinkan. Alina menoleh ke Arah Bayu dan cowok itu pun tersenyum, ia mengangguk meminta Alina agar setuju dan akhirnya berhasil. Bayu membersihkan teras dan Alina dibantu oleh Fara untuk mengambil makanan yang ada di dapur. Sedangkan Acha mempersiapkan laptopnya dan berdiskusi dengan Kevin.
Alina menoleh ke layar laptop yang terbuka menampilkan beberapa pilihan desain mengenai konsep seragam team Vin Books. Alina berkata, "Masyaallah, geser dulu itu laptopnya. Kita makan dulu, kalian pasti belum makan juga, iya kan?"
"Siap, Bu Bos!" ujar Kevin dan Acha pun ikut - ikutan mengucapkan panggilan tersebut. Alina menutup mulutnya untuk menahan tawa karena salting, ia belum terbiasa dan tidak nyaman dengan panggilan itu.
Alina memanggil Bayu yang sedang berada di luar. "Gimana, udah beres?"
Bayu menoleh, "Eh, udah nih. Di simpan dimana ini?"
"Di taro dipinggir situ aja dulu," Alina menunjuk ke arah pojok dekat sapu lantai, meminta Bayu agar menyimpan alat pengepel lantainya di sebelah itu.
Ketika Alina dan Bayu masuk menghampiri teman - teman, Fara berkata dengan penuh riang, "Let's go, mari kita makan!"
Mereka pun makan terlebih dahulu sebelum membahas mengenai pekerjaan. Alina adalah atasan atau bos yang memperlakukan mereka seperti keluarga. Ia sangat ramah dan penuh dengan ketenangan, di tambah wajah Alina yang memiliki paras cantik serta aura positif membuat siapa saja ingin tersenyum kepadanya. Begitulah yang dipikirkan oleh Bayu yang sedang memperhatikan Alina menuangkan makanan ke piring untuknya.
"Assalamu'alaikum!" Alina yang mendengar hal itu pun bergegas pergi membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam. Farhan, kamu tumben ke sini malam - malam, ada apa? Di kampung amankan kan tidak ada masalah" tanya Alina.
"Aman kok, aku tadi ada urusan, kebetulan lewat sini sekalian mau memastikan kalau kamu baik - baik aja, aku khawatir karena melihat 2 mobil ini terparkir di depan kontrakan kamu."
Bayu datang menghampiri mereka berdua.
"Alina, ayo kita mulai" kata Bayu dengan raut wajah sedang kesal. Ia tidak marah pada Alina tetapi pada Farhan, "apa mungkin Farhan ke sini tiap malam" batin Bayu.
"Eh, ada Mas Bayu ternyata."
"Iya, ada teman - teman yang lainnya juga di dalam. Ada yang ingin mereka bahas mengenai pekerjaan, tapi belum mulai kok. Yuk, mampir dulu Farhan. Kita makan bareng - bareng."
Farhan menoleh ke arah Bayu, di raut wajahnya tampak jelas menunjukkan bahwa ia tidak senang dengan kedatangan Farhan.
"Maaf, lain kali aja Alina. Aku harus segera pulang ke Bogor agar tidak terlalu kemalaman di jalan," tolak Farhan dengan sopan.
Alina cemberut, lalu tersenyum tipis.
"Yah, Farhan. Oke, deh. Kalau gitu kamu hati - hati ya."
"Oke. Mas Bayu, saya duluan ya," ucap Farhan dengan ramah. Bayu pun mengangguk dengan tersenyum tipis.
Setelah Farhan pergi pulang, Bayu berusaha untuk tetap bersikap seperti biasanya pada Alina dan juga teman teman lainnya. Ia tidak ingin di bilang cemburu atau bahkan nanti akan di ejek oleh Kevin.
Bayu berbicara seperti sedang menjadi bodyguard.
"Mari, Bu Bos. Rekan - rekan kita sudah menunggu di dalam."
Alina hanya mengangguk dan tersenyum.
...----------------...
Acha membuka laptopnya.
"Guys! Biar nggak kemalaman aku sambil menjelaskan aja ya."
"Iya, boleh" kata Alina, sedangkan yang lain hanya meresponnya dengan mengangguk karena masih sibuk makan.
"Oke, Alina, tadi kan kita di toko Vin Books sudah berdiskusi mengenai warnanya. Tetapi, mereka masih bingung dengan konsep seragamnya. Jadi, aku buat sendiri saja dulu berdasarkan warnanya, kalau kalian udah dapat gambaran, tinggal sampaikan saja nanti aku revisi lagi."
Acha memutarkan posisi layar laptop itu kepada semua rekan kerjanya, "Tuniknya warna Cream, hijab polos warna sage, cokelat tua roknya dengan model flowy sehingga tetap nyaman digunakan untuk bekerja. Untuk alas kakinya, Cewek pake flat shoes warna cream agar selaras dengan keseluruhan outfit. Untuk cowok ada saku di pinggir dada, model kerah dengan modern aksen hijau sage pada saku dan bagian dalam kerah. Sedangkan sepatunya sneakers hitam dengan sol putih untuk memberikan kesan modern, aktif, dan tidak terlalu formal. Nih, ada name tag dan juga ada logo toko. Di bagian lengan menggunakan model lengan panjang dengan karet pada bagian ujung agar terlihat rapi, yang ini untuk cewek. Terus ada aksen hijau sage pada bagian saku dibagian bawah tunik kiri dan kanan. Bagaimana menurut kamu Alina?"
Alina tampak berpikir.
"Hmm, pada bagian seragam lengan tunik pake kancing aja. Jangan pake karet, karena ada kemungkinan kalau pake karet lama - lama bisa longgar."
Acha mengangguk - anggukan kepalanya dan mencatat apa yang di ucapkan oleh Alina.
"Itu yang mengenai name tag, mau pake name tag kayak gimana?" tanya Bayu, yang baru selesai makan.
Acha menoleh.
"Pake name tag akrilik. Gimana, setuju nggak?"
"Oh, oke."
"Yups, agar memudahkan pelanggan mengenal kita." kata Fara yang sedang mengelap tangannya dengan tissu.
"Iya, aku juga setuju." ucap Kevin dengan tersenyum seraya mengamati desain seragam yang Acha buat.
"Oke, Udah selesai ya. Nanti kalau kalian ada yang mau memberikan saran bisa langsung ngomong aja melalui grup." Acha menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu, ia mulai memakan makanan yang sudah di hidangkan oleh Alina.
Acha tersenyum.
"Akhirnya, aku bisa menikmati makanan ini." Oh, iya. Alina, gimana dengan konsep pojok baca?"
Alina membuka buku catatan miliknya yang berisi konsep pojok baca.
"Kita rubah sedikit posisi meja display dan rak buku yang di pojok agak ke tengah. Nah, nanti kita pake sekat ruangan, kayak sekat model kayu kisi - kisi gitu. Agar pengunjung tetap punya privasi, dan dari area toko masih terlihat aktivitas membaca. Sofa kecil atau bench panjang, 2–3 kursi single, meja kecil untuk meletakkan buku/minuman, Karpet lembut, rak buku rendah di dekat sekat, ada lampu berdiri bernuansa warm dan juga tanaman hias sebagai dekorasi."
Kevin memberikan reaction dengan mengangkat kedua jempolnya seraya berkata, "Wah, cakep banget konsepnya, Bu Bos."
Alina tersenyum.
"Aku setuju dengan konsep yang kamu buat," Kata Bayu.
"Aku pun sama!" ucap Fara dengan wajah ceria. Sedangkan Acha yang masih mengunyah makanan itu menoleh dan memberikan reaction mengangkat jempol tangannya.
Beberapa menit kemudian....
Semua rekan kerjanya Alina pun berpamitan untuk pulang. Mereka juga berterima kasih karena Alina sampai repot - repot membuat banyak makanan. Acha, Fara dan Kevin masuk ke dalam mobil lebih dulu. Berbeda dengan Bayu, ia menasehati Alina dengan banyak hal, jangan keluyuran, jangan lupa kunci pintu, kabarin kalau ada apa - apa. Bagi Alina, itu merupakan suatu kebaikan yang Bayu sampaikan padanya. Berbeda dengan Bayu, ketika ia selesai menasehati Alina, wanita itu berkata, "kamu juga, jangan lupa kabarin ya, kalau udah nyampe."
Deg.
Perhatian seperti ini, sudah lama tidak ia dapatkan, kecuali dari Bunda Indri. Hal ini pun, mengingatkan ia pada seorang wanita yang sudah mengecewakannya. Bayu menatap Alina, ia hanya merespon dengan mengangguk dan tersenyum, lalu berpamitan.
...----------------...
Luthfi duduk di sofa, ia memperhatikan Sarina yang sudah tertidur. Luthfi sibuk memikirkan tentang apa yang sedang di sembunyikan oleh istrinya itu. "Bukan pertama kalinya Bi Tuti ngasih info seperti ini, kamu masih saja mengulangi hal yang sama. Kamu hanya makan saat ada aku saja di rumah, tetapi ketika aku tidak ada di rumah, ternyata kamu tidak memperhatikan kesehatan kamu sendiri. Entah itu tentang aku, kita atau orang lain, aku tidak tahu apa yang kamu rasakan dan juga apa yang kamu pikirkan. Aku masih ingat dengan pesan Almarhum Pak Rusdi yaitu ayah kamu, beliau menceritakan sedikit kisah tentang kamu sebelum meninggal. Aku tahu, kenapa kamu tidak memperhatikan pola makan kamu sendiri, itu pasti karena kamu ada masalah atau sedang sedih. Aku tahu, kamu tidak akan dengan mudahnya menceritakan hal itu kepadaku. Karena kita hanya sebatas mengenal, tetapi tidak terlalu mengenal lebih jauh dan memahami. Sudah 3 tahun kita menikah, bahkan sekarang kita sudah memiliki Maira. Tetapi, aku rasa sikap diantara kita masih sama seperti orang asing," batin Luthfi. Tidak lama kemudian, Luthfi beranjak dari duduknya pergi menuju kasur, ia menyelimuti tubuh Maira dan juga Sarina.
Luthfi menatap Sarina dengan lekat, ia berkata, "Aku sangat berharap, besok pagi kita akan lebih dari sekadar mengenal, Sarina."
Pandangannya beralih kepada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, ia sedang berusaha bangun agar lebih pagi dari Sarina. Luthfi merebahkan dirinya di kasur, tepatnya yaitu di sebelah Maira. "Semoga, besok berhasil." Ucap Luthfi dengan penuh harap.