Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Gelisah sendiri.
"Saya sudah bilang, Dante itu hanya akan gerak kalau dia cemburu. Selama hatinya baik-baik saja, dia nggak peka." Kata Mama Phia.
"Sampai perang Baratayudha lah kalau begini caranya." Gumam Bang Jangkar berucap setelah Mama Phia meliriknya.
Ucapan sang putra seolah menghantam dada Pak Riegan, bagaimana pun juga ada hati perempuan yang harus di jaga.
Tak lama Tian datang menemui kedua orang tuanya. "Ma.. Yah.. Sudah tau apa belum, ada gosip yang bilang kalau Bang Dante maj nikah sama bocah kecil, team relawan. Ayah cepat hentikan rumornya, donk..!! Kemarin Bang Dante kena masalah karena perempuan, masa sekarang mau bermasalah lagi sama perempuan???"
Mama Phia dan Pak Riegan saling lirik. Putri mereka itu memang di kenal tegas dan kaku tak ubahnya sifat Almarhum Hernando dalam versi perempuan.
"Kalau mereka mau memutuskan menikah, biar saja. Lagipula, kejadian kemarin pasti sudah memberi pelajaran berharga untuk Abangmu." Kata Pak Riegan.
"Yaaaah.. Nggak ada kah perempuan yang lebih baik daripada dia??? Dia terlalu muda."
"Beberapa bulan sudah berlalu, biarkan abangmu bahagia, Tian." Ucap Pak Riegan. Agaknya Pak Riegan tau apa yang sedang di rasakan putrinya. Sejak kecil, anak-anak hidup dan tumbuh bersama, namun Tian lebih dekat dengan Dante yang dinilai lebih bisa menjaga wanitanya. "Kamu boleh menyukai laki-laki, tapi jangan Abangmu. Semua ini demi kebaikanmu, kalau saja Abangmu ada rasa untukmu.. Itu baru benar. Masalahnya Abangmu hanya menganggapmu adik dan tidak pernah ada rasa untukmu."
Tian sangat kecewa mendengarnya. Ia menangis dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayah salah ya, Ma? Ayah hanya takut, Tian menunggu sesuatu yang tidak pasti. Cinta tidak berbalas, rasanya sangat sakit." Gumam Pak Riegan dengan penuh rasa menyesal.
Mama Phia mendekap lengan suaminya. "Mama ngerti, yah. Ayah sudah benar."
***
Pagi ini Bian sudah boleh pulang. Pak Riegan dan Mama sendiri yang menjemputnya. Karena kesibukan yang padat, Pak Riegan dan Mama Phia meninggalkan Bian di rumah di dinas mereka. Para 'sesepuh' itu sama sekali tidak berani meninggalkan Bian di camp relawan.
Tau Bian sudah ada di rumah dan hanya di rumah sendirian, Bang Dante pun ingin menemuinya. Tapi jelas saja semua bukan hal yang mudah.
Akal berputar memenuhi isi kepala, mencari akal agar bisa bicara berdua dengan Bian. Setelah beberapa menit berpikir, ide brilian muncul di kepalanya. Ia mengambil ponselnya.
"Marwan.. Kau kesini sama si Wahyu, jangan lupa bawa................."
...
Bang Dante memandangi wajahnya dari cermin kecil di tangannya.
"Ini kurang ada warna ungu, agak bonyok-bonyok gimana gitu lho, Yuuu.. Kau ini bisa penyamaran nggak sih." Omel Bang Dante.
"Siap, PaSie. Ijin, ini mau pergerakan dimana? Biar kami sesuaikan." Tanya Prada Wahyu yang terbiasa membuat lukisan mural.
"Dii.... Dimana saja yang penting saya senang. Pergerakan operasi itu harus total. Beri efek sempurna, biar lawan percaya." Kata Bang Dante meyakinkan.
"Siap.. Ini kalau mau bonyok, berarti harus sedikit bengkak wajahnya, Ndan. Mulut Komandan harus di sumpel." Ide Prada Marwan.
"Mulutmu yang saya sumpel." Jawab Bang Dante dengan nada tinggi. Tapi beberapa menit kemudian semua berubah. " Ya wes, cepat kau sumpel.. Yang natural, ya..!!"
...
Bang Dante mengintai dari balik tanaman pagar rumah dinas. Wajahnya sudah 'lebam' total.
"Komandan mau ngerampok Irjen???" Tanya Prada Marwan cemas.
"Nggak." Jawab Bang Dante mengintai serius.
"Mau nge_begal ibu????" Sambung Prada Wahyu.
"Kalian ini memang banyak mulut." Bentak Bang Dante setengah menahan suaranya. Tak lama terlihat Bian menyapu halaman depan rumah. "Naah.. Itu target saya." Tunjuk Bang Dante.
"Lho.. Itu kan, mbak Bian."
"Jangan banyak tanya." Geram Bang Dante mendiamkan mulut kedua ajudannya. "Cepat, papah saya..!! Bilang saya baru tabrakan."
~
"Mbak Biaaaann.." Teriak Prada Wahyu sengaja membuat kepanikan.
Mendengar suara teriakan, Bian segera keluar dari dari rumah dengan tergesa-gesa. Sungguh Bian kaget melihat Bang Dante meringis dan di papah dua orang anggota disana.
"Bang Wiraa..!!!! Kenapa ini, Baang..!!!!" Pekik Bian syok melihat wajah lebam pria gagah itu.
"Ini, Mbak.. Komandan, kecelakaan di tikungan." Kata Prada Marwan.
"Nabrak????"
Kedua ajudan yang sedang memapah Bang Dante mengangguk bersamaan.
"Nabrak apa??" Tanya Bian.
"Anjing."
"Babi." Jawab Prada Wahyu.
Kedua ajudan saling pandang lalu meralatnya.
"Anjing." Kata Prada Wahyu.
"Babi." Prada Marwan meneguk salivanya dengan kasar.
Bang Dante meringis memejamkan mata dengan jengkel merasakan tingkah kedua ajudannya yang tidak mendengarkan briefing darinya dengan jelas.
"Yang mana yang benar?????"
Setelah keduanya mengingat, keduanya serentak menjawab.
"Kambing."
Seketika itu Bian melipat kedua tangan di depan dada. "Hewan apa?????"
"Harusnya mnyet nggak sih?" Gumam Prada Marwan.
Bang Dante yang mendengarnya seketika ingin menelan kedua ajudannya bulat-bulat.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara