NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Orang yang Tetap Tinggal

Tara masuk ke Ruang Tengah dari lantai dua gedung seberang.

Aku tidak datang untuk mengawasi Nadira. Setidaknya, itu yang kubilang pada diri sendiri.

Damar meminta satu kotak dokumen asli diserahkan ke kantor penyimpanan hukum di gedung seberang Ruang Tengah. Aku bisa mengirim kurir. Bisa meminta Elsa. Bisa memilih pintu belakang agar tidak melihat kantor Nadira sama sekali.

Aku memilih datang sendiri.

Itu bukan pelanggaran kesepakatan pisah. Aku tidak memasuki gedungnya, tidak menghubungi staf, dan tidak membuka sistem kamera. Tetap saja, ada bagian dari diriku yang sudah tahu aku mungkin akan melihat Nadira ketika memilih waktu pengantaran pukul delapan pagi.

Aku berdiri di dekat jendela ruang tunggu sambil memegang tanda terima.

Di seberang jalan, Tara mengetuk pintu kaca Ruang Tengah. Nadira datang membukanya. Mereka bicara sebentar, lalu Tara masuk setelah Nadira mengizinkannya. Laptop pribadinya ada di tangan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada senyum lebar.

Mereka cuma bicara sebentar. Tara masuk setelah diizinkan.

Ponselku bergetar.

Asisten keuangan mengirim konfirmasi akhir untuk transfer yang kusiapkan semalam.

Nominalnya cukup untuk membayar audit Ruang Tengah selama tiga bulan, menutup gaji staf yang tersisa, dan memperpanjang sewa kantor sampai pemeriksaan etik selesai. Uang itu tidak akan memakai namaku. Jalurnya dibuat melalui sebuah lembaga bantuan profesi yang pernah mendanai mediator independen.

Di atas kertas, tidak ada hubungan dengan Kalyana.

Aku menyiapkan semuanya setelah menerima laporan bahwa dua pegawai mengundurkan diri. Aku mengatakan kepada diri sendiri bahwa uang tersebut bukan hadiah, bukan suap, dan tidak meminta imbalan. Ruang Tengah sedang terancam karena campur tangan keluargaku. Membayar kerusakan terasa seperti tanggung jawab.

Masalahnya, Nadira sudah menolak bantuan keuanganku.

Mengganti nama pengirim tidak mengubah penolakan itu.

Pesan dari asisten muncul lagi.

Persetujuan diperlukan sebelum pukul 09.00 agar dana masuk hari ini.

Aku mengangkat kepala ke arah kantor di seberang.

Tara sudah berada di ruang depan, memindahkan dua kotak audit bersama Bagas. Nadira berdiri di dekat meja administrasi sambil membaca daftar. Sesekali Tara menunjuk salah satu label, lalu menunggu Nadira mengangguk sebelum menyentuh kotaknya.

Gerakannya sederhana.

Dulu, Tara akan langsung mengambil alih ruangan, mengganti jadwal, memesan makanan, lalu memberi Nadira daftar hal yang sudah selesai. Aku menyukai itu karena hidup Nadira menjadi mudah tanpa perlu menjelaskan siapa yang membuatnya mudah. Tara mendapat uang. Aku mendapat ketenangan. Nadira mendapat hasil akhir tanpa pernah melihat transaksi di belakangnya.

Pagi ini, Tara tidak langsung bergerak.

Setiap kali hendak menyentuh sesuatu, ia lebih dulu meminta izin. Kotak ini boleh dipindahkan? Berkas itu boleh dibuka? Laptopnya boleh terhubung ke jaringan tamu?

Aku tidak mendengar apa yang mereka katakan dari seberang jalan. Aku hanya bisa menebak dari gerakannya. Aku mengenal Tara cukup lama untuk tahu betapa sulitnya ia menahan kebiasaan mengurus semuanya sebelum Nadira meminta.

Dulu, aku yang membayar semua itu. Aku menaikkan uangnya setiap kali laporan semakin rinci, lalu menyebutnya bantuan operasional.

Sekarang Tara bekerja tanpa jabatan, tanpa gaji, dan tanpa jaminan akan tetap dianggap sahabat.

Aku membuka berkas transfer.

Nama lembaga penerima sudah benar. Rekening perantara tidak dapat dilacak publik kepada perusahaan keluarga. Bahkan auditor biasa mungkin menganggapnya hibah sah.

Hanya aku, asisten keuangan, dan direktur lembaga yang tahu asalnya.

Tiga orang sudah tahu dari mana uang itu berasal.

Sudah terlalu banyak.

Aku menelepon asisten.

“Batalkan transfer.”

Ia diam sejenak. “Seluruhnya, Pak?”

“Seluruhnya.”

“Lembaga penerima sudah membuat surat penerimaan. Kalau dibatalkan sekarang, mereka mungkin meminta alasan.”

“Tulis bahwa pemberi dana tidak memperoleh persetujuan penerima manfaat.”

“Nama penerima manfaat tidak tercantum dalam dokumen.”

“Itu masalahnya.”

Keheningan di ujung sambungan berlangsung lebih lama.

“Apakah dananya dialihkan ke program lain?” tanyanya.

“Tidak. Bekukan sampai audit internal selesai.”

“Baik.”

Aku meminta salinan pembatalan dikirim kepada Elsa dan penyimpan dokumen independen. Bukan kepada Nadira. Aku membatalkan sesuatu yang belum sempat diketahui Nadira. Itu tetap bukan alasan untuk meminta pujian.

Setelah sambungan berakhir, aku tetap di dekat jendela.

Nadira tidak pernah tahu seberapa dekat uang itu hampir masuk ke kantornya.

Aku juga tidak tahu apakah keputusan membatalkannya akan membuat Ruang Tengah kehilangan pegawai lain bulan depan.

Yang paling sulit justru ini: menghormati pilihan Nadira bisa membuat keadaan tetap buruk, bahkan lebih buruk daripada kalau aku turun tangan.

Selama bertahun-tahun, aku menganggap hasil baik sebagai bukti caraku benar.

Sekarang aku harus menerima hasil yang tidak bisa kukendalikan. Tidak semua hal yang membuatku tidak nyaman harus segera kubereskan.

Elsa menelepon saat aku turun menuju lobi.

“Kau membatalkan transfer,” katanya.

“Berita di keluargaku bergerak cepat.”

“Asisten keuanganmu menyalin aku sesuai perintahmu.”

“Aku hampir melakukannya lagi.”

“Hampir ya tetap hampir.”

“Ya, tapi aku juga belum benar-benar berubah.”

“Belum tentu. Yang penting setelah sadar, kau berhenti atau tidak.”

Aku keluar dari lift.

“Kau mengakses kamera?”

“Tidak.”

“Menghubungi pegawainya?”

“Tidak.”

“Menyeberang jalan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu jangan dipikirin sampai segitunya. Kau tahu batasnya sudah mulai abu-abu. Besok jangan ulangi.”

Aku berhenti di lobi. Elsa jarang terdengar seperti orang yang menawarkan keringanan. Mungkin karena kali ini Elsa tidak sedang meringankan tanggung jawabku. Ia hanya tidak mau aku menjadikan rasa bersalah sebagai alasan untuk terus menghukum diri sendiri.

“Ada kabar tentang sidang?” tanyaku.

“Pemanggilan resmi akan dikirim besok. Tim Surya mencoba meminta dokumen keuangan rumah tangga melalui kuasa lama, tetapi sudah kutolak.”

“Dia akan mencari jalur lain.”

“Sudah.”

Elsa mengirim satu berkas.

Itu rancangan kontrak konsultasi untuk Tara Savitri. Dibuat pagi tadi oleh perusahaan yang terhubung dengan Surya. Nilai tahunannya sepuluh kali lebih besar daripada pembayaran tertinggi yang pernah kuberikan kepada Tara.

Pekerjaannya ditulis sebagai penasihat risiko hubungan publik.

Tugas aslinya tersembunyi dalam lampiran: menjaga akses kepada Nadira, melaporkan perkembangan gugatan, memengaruhi pilihan media, dan memastikan dokumen Aditya tidak dibuka sebelum “fase stabilisasi” dimulai.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanyaku.

“Orang Surya mengirim draf ke alamat lama Tara yang masih masuk sistem kepatuhan. Mereka mengira akun itu tidak diaudit.”

“Apakah Tara sudah menerima?”

“Drafnya masuk ke surel pribadinya tiga belas menit lalu.”

Aku mengarahkan pandangan ke gedung seberang melalui pintu kaca lobi. Dari sini Ruang Tengah hanya terlihat sebagai lantai dengan logo kecil di jendela.

“Aku harus memperingatkan Nadira.”

“Jangan lewat kau.”

Aku tahu.

Keinginan menelepon tetap datang begitu cepat sampai terasa seperti refleks fisik.

“Kasih ke Damar. Log asalnya sekalian, struktur perusahaannya, sama nama semua yang tanda tangan.”

“Sudah.”

“Apa Tara menjawab?”

“Belum.”

Aku membayangkan angka pada kontrak itu. Tara baru kehilangan jabatan, gaji, dan akses operasional. Ruang Tengah belum tentu bertahan. Uang Surya cukup untuk melunasi rumah, membuka usaha baru, dan membuat Tara tidak perlu memikirkan uang selama bertahun-tahun.

Kalau orang sedang kehilangan banyak hal, tawaran sepuluh kali lipat memang bisa terlihat seperti jalan keluar.

“Ayah tidak akan berhenti pada satu tawaran,” kataku.

“Tidak.”

“Kalau Tara menerimanya?”

“Kalau dia ambil, ya itu pilihan dia. Kita tinggal simpan buktinya.”

Jawaban Elsa terasa dingin, tetapi benar.

Aku tidak bisa membayar Tara supaya menolak uang Surya. Aku juga tidak bisa mengancam pekerjaannya, menjanjikan perlindungan, atau membawa-bawa utang lama. Bahkan kalau aku menasihatinya, hubungan lama kami tetap akan ikut bicara.

Aku harus membiarkan Tara memilih.

Ponsel Elsa berbunyi di ujung sambungan.

“Ada pesan baru,” katanya.

“Dari siapa?”

“Tara meneruskan surel Surya kepada Damar. Dia meminta penawaran itu dibuka di depan Nadira dan direkam.”

Aku baru sadar sejak tadi menahan napas.

Dari balik kaca Ruang Tengah, Tara berdiri di samping meja Nadira sambil memegang ponsel. Nadira membaca pesan itu tanpa mengambil ponsel dari tangan Tara.

Tak lama kemudian, layar laptop Tara menyala. Sebuah panggilan masuk.

Elsa mengirim salinan pesan terakhir yang menyertai kontrak.

Pengirimnya Surya Kalyana sendiri.

Bayaran lama hanya cukup untuk membuatmu tinggal. Aku menawarkan sepuluh kali lipat agar kali ini kau membuat Nadira kembali percaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!