NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:816
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya berjarak sekian meter

Tidak seharusnya didekati karena dia pasti akan menjauh tetapi jika aku menjauh dia akan mendekat. Tidak terlalu dekat namun tidak jauh. Aku sudah merasa di jarak yang aman tak ingin memaksakan apapun.

Akhirnya latihan hari ini dapat terselesaikan dengan sempurna. Rasa lelah yang sungguh luar biasa. Kami duduk dipinggir lapangan melepaskan lelah yang hampir menguras energi.

Aku merebahkan tubuhku dilantai lapangan, menatap langit masih memperlihatkan warnanya yang terang. Kuhembuskan nafas pelan melepas sisa sisa energi.

"Capek banget ya Ay?" Suara Arya terdengar lirih disampingku.

Aku bangkit duduk disebelah Arya "Langsung pulang aja boleh enggak sih"

"Boleh lah, mau aku anterin pulang?"

"Enggak. Terimakasih"

"Besok Minggu kamu ada acara enggak Ay?"

"Kenapa?"

"Ada enggak? Tomy mau maen kerumah kamu"

"Gimana kabarnya Tomy? Udah lama banget enggak ketemu"

"Iya makanya anaknya mau maen kerumah kamu, trus aku bilang mau ikut"

"Ngapain kamu ikut? setiap hari kita udah ketemu jadi nggak perlu ketemu dihari libur. Tolong Arya... Tolonglah beri aku kesempatan sehari saja enggak liat wajah kamu!"

"Gimana sih Ay? Padahal biarpun libur aku tetep pengennya ketemu kamu, aku tuh pengen ikut kemanapun kamu pergi, pokoknya setiap hari sama kamu"

"Enggak usah! Pokoknya kalau Tomy kerumahku kamu enggak perlu ikut! Tar biar aku chat Tomy aja"

"Kita langsung pulang apa mau ganti baju dulu Ay" Putri datang duduk disebelahku.

"Ayok ganti baju sekarang" Aku bangun dari dudukku lalu berdiri mengajak Putri.

"Ya ampun baru juga duduk udah diajak berdiri" Dengan lemas Putri ikut bangun dari duduknya.

Aku melihat ke arah Arya "Arya... Katanya kamu pengen ikut kemanapun aku pergi? Ayo bangun cepetan ikut keruang ganti"

Arya ikut berdiri "Beneran mau diikutin sampai keruang ganti? Aku mau mau aja yang penting sama kamu"

"Ayolah, entar kamu jagain kita didepan pintu" kataku sambil menarik tangan Arya.

Aku Putri dan Arya tertawa bersama, kami berjalan bersama menuju ruang ganti, lalu bersiap untuk pulang.

Arya senyum senyum menunggu di depan, aku dan Putri masuk kedalam ruang ganti ruangan "Udah cukup, ikutnya sampai sini aja. Sana masuk! tenang aku tungguin didepan"

Saat aku dan Putri sudah selesai, kami keluar dari ruang ganti, kami tidak mendapati Arya didepan.

Putri melongok mencari keberadaan Arya "Katanya mau nungguin didepan udah ilang aja tuh kak Arya, gimana sih tuh best friend kamu Ya?"

Kami bersiap pulang berjalan keluar dengan mengendong tas dipundak yang isinya sudah seperti orang mau pindah rumah, disamping badan yang rasanya berat, ternyata menggendong tas juga sangat berat, belum lagi beban pikiran yang lebih berat.

Diparkiran sepeda motor terasa sepi, sunyi hanya tinggal beberapa yang masih tersisa.

Putri datang kerahku yang sedang mengelurkan motor "Ya aku ikut sampai pasar burung ya?"

"Kalau gitu kamu yang didepan" Aku berpindah tempat kebelakang, lalu Putri naik didepan. Kami berjalan pelan pelan melewati Arya, Aldrian dan beberapa temannya yang sedang duduk disebelah pos satpam. Putri membunyikan klakson untuk menyapa mereka.

Aku menyapa Arya tanpa mempedulikan Aldrian yang disebelahnya "Aku duluan ya Ar"

Arya berteriak dari tempatnya duduk "Ay, beneran engak mau dianter?"

Akupun menjawab dengan teriakan "Enggak usah Arya...! terimakasih udah perhatian"

Kami berjalan keluar dari sekolah, semakin menjauh dari pandangan Arya dan Aldrian.

Beberapa waktu kemudian disepanjang jalan Putri seperti enggak tenang, sering menengok ke kaca spion.

Aku berusaha mencari tau "Kenapa sih Put, nengok nengok mulu"

"Coba kamu yang lebih tau, itu dibelakang kita kak Aldrian bukan?"

Tanpa berfikir panjang aku langsung saja menoleh kebelakang. Benar kata Putri, Hanya berjarak sekian meter Aldrian mengendarai sepeda motornya tepat dibelakang motor kami.

Aku terpaku memandangnya yang mengiringi dari belakang membuat angin jalanan sore ini begitu sejuk. Sepertinya dia menyadari keberadaanku yang memandangnya dari kejauhan. Aku buru buru memalingkan pandanganku kedepan. Kembali ngobrol sama Putri.

"Iya bener kak Aldrian, tapi enggak tau sama siapa. Kayaknya juga bukan motor yang dia pakai biasanya"

"Iya itu yang buat aku tadi enggak yakin, kayak kak Aldrian tapi motornya bukan"

"Tadi pagi kayaknya dia enggak bawa motor ya Put? mungkin itu saudaranya atau siapa yang jemput dia kali ya?"

"Bisa jadi... Bisa bisanya tangannya lagi cidera dia bawa motor sendiri tuh pangeran kamu"

"Bukankah kamu tadi sudah mendengar sendiri apa yang beliau katakan Putri.., katanya aman enggak kenapa napa"

"Dasar orang aneh. Ya sudahlah, aku turun depan situ aja ya? Entar cari ojek aja"

"Sorry Put, enggak bisa nganter sampai rumah, udah mau gelap soalnya"

"Iya santai aja, terimakasih tumpangannya"

Sepeda motor kami berhenti tepat dipinggir jalan pasar burung. Aku kedepan menggantikan posisi Putri yang turun.

"'Kak Aldrian" Putri meneriaki dan melambaikan tangan ke Aldrian yang hampir saja melewati kami.

Aldrian dengan semua yang tak bisa diceritakan, dia tersenyum kearah Putri tanpa mempedulikan aku yang juga ada disekitarnya.

Aku yang dari tadi melihat Aldrian seketika saja aku memalingkan wajahku, memandang ke arah Putri.

"Hahahahaha... Rasain" Putri melihatku dengan santainya tertawa terbahak bahak.

Aku dengan wajah yang kesal "Kenapa ketawa? Enggak ada yang lucu tau!"

"Ih kata siapa enggak lucu, lucu tau hehe" Putri masih saja menertawaiku.

"Lucu dari mana!"

"Lucu dari kalian lah, salah sendiri tadi pulang kak Arya doang yang di pamitin jelas jelas disebelahnya ada kak Aldrian, sekarang jangan ngarep bakalan disapa! sekarang rasain dapat karma tuh dari pangeranmu"

"Ih siapa...??? Aku ngarep?? Aku enggak pernah ngarep apapun dari seorang Aldrian, aku sudah dapat memprediksi apa yang terjadi, bahkan senyumnya tadi yang buat kamu aku sudah menduganya"

"Dasar tukang bohong, mulut bilang enggak enggak, tapi matanya enggak bisa bohong!"

Putri sepertinya belum menyadari bahwa aku dan Aldrian seasing fajar dan senja yang tak pernah berharap untuk bertegur sapa.

"Udah ah balik dulu, enggak usah cari ojek tuh bisnya trans lewat, buruan naik biar kebagian tempat duduk!"

"Alhamdulillah pas banget, Okelah aku naik bis saja, hati hati di jalan Ya" Putri berlari naik ke koridor bis trans sambil melambaikan tangan.

Aku mengendarai sepeda motorku dengan pelan, kulihat sekelilingku ta ada dia. Aldrian menghilang bersama senja yang tergantikan malam.

Akhirnya perjalan panjang telah menemukan akhirnya. Dengan nafas panjang memasuki halaman rumah begitu sejuk yang membuat hati nyaman.

Dengan langkah berat aku masuk kedalam melewati pintu garasi, melepas sepatu, menaruh kunci di dinding lalu membuka pintu.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam, kok udah pulang?" Jawab mas Nandito yang sedang duduk santai diruang tengah.

Aku berjalan melewati mas Nandito "Tolong masukin motornya mas?! Aku capek banget"

"Bisa bisanya udah lewat garasi tapi motor enggak dimasukin sekalian" Mas Nandito membulatkan matanya, dengan wajah yang tidak iklas mas Nandito marah marah.

Bapak dari belakang mendengar suaraku yang sudah terdengar mengisi seluruh rumah "Tumben latihannya enggak sampai malem? Katanya mau lomba"

"Iya, tolong motor Aya dimasukan ya Pak? mas Nandito enggak mau nolongin tuh, padahal Ayakan capek banget"

"Iya nanti mas Nandito yang masukin motornya Aya, sana istirahat trus makan, tadi Bapak beli bebek panggang di koh Sun"

"Asyik... Udah lama Bapak enggak beli ditempat koh Sun" Aku berjalan ke ruang makan melihat isi didalam meja.

Mas Nandito dengan wajah yang kecewa tidak diterima di suruh Bapak "Kok Nandito sih Pak? Biar dimasukin sendiri, belajar tanggung jawab"

Bapak "Ya sudah Bapak saja yang masukin motor Aya, kalau mas enggak mau nolongin adeknya enggak papa masih ada Bapak"

Mas Nandito "Bapak selalu saja mem bernarkan apa yang Aya ucapkan"

Sebelum aku masuk kedalam kamar aku menengok ke arah mas Nandito sambil meledek "Dasar pelit!"

Aku merebahkan tubuhku dengan energi yang tersisa, hari ini sungguh melelahkan. Pencapaikan luar biasa untuk diriku sendiri. Perjalanan panjang baru saja dimulai, aku akan berkomitmen untuk selalu tampil dengan versi terbaikku. Perasaanku, suasana hatiku tak akan menjadi rintangan dalam setiap prosesnya.

1
MyRed
oke siap, terimakasih bnyk ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!