Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Bocah Pemberontak dan Staf Baru yang Mencurigakan
Malam itu, Vivi menatap nama Regina di layar ponsel selama hampir satu menit sebelum menekan tombol panggil.
Ia sudah berada di rumah. Pintu kamarnya terbuka, boneka beruang terjepit di antara siku dan pinggangnya. Aman. Namun titik cahaya di balik kisi-kisi ventilasi terus muncul setiap kali ia memejamkan mata.
“Vivi?” Suara Regina terdengar lelah. “Kakimu sakit?”
“Tidak. Ada hal lain.”
Vivi menarik napas. Ia tidak bisa berkata bahwa ia pernah melihat akibat dari kamera itu dalam kehidupan lain. Ia hanya bisa memberikan fakta yang dilihatnya hari ini.
“Miss Regina, tadi aku melihat pantulan seperti lensa di ventilasi ruang ganti.”
Hening di seberang.
“Kamu yakin?”
“Belum. Karena itu jangan sentuh apa pun. Tolong kunci ruang ganti dan ruang latihan malam ini, lalu panggil pemeriksa keamanan digital besok. Jangan pakai teknisi gedung yang biasa.”
Nada Regina langsung berubah tajam. “Kenapa tidak bilang saat masih di sini?”
“Kalau ada yang memantau dari jauh, aku tidak ingin mereka tahu kita curiga.”
Regina mengembuskan napas berat. “Baik. Saya akan datang sebelum mereka memulai pemeriksaan.”
“Aku juga datang.”
“Tidak. Kamu menunggu sampai saya bilang aman.”
Kalimat itu terdengar seperti perintah seorang guru, tetapi kekhawatiran di baliknya terasa jelas. Vivi akhirnya setuju.
***
Pukul sebelas keesokan harinya, dua benda hitam seukuran kuku terbaring di atas kantong bukti bening.
Satu ditemukan di ventilasi ruang ganti. Satu lagi disembunyikan di dekat sensor asap ruang latihan, mengarah tepat ke lantai tengah.
“Keduanya aktif,” kata Regina saat Vivi tiba. Wajahnya pucat menahan marah. “Pemeriksa sudah menyalin kartu memori, mencatat nomor seri, dan memutus akses jaringan. Perangkatnya terhubung ke akun awan dengan nama samaran.”
“Bisa dilacak?”
“Mereka sedang mengerjakannya. Tetapi akun pemulihannya memakai nomor yang pernah dicantumkan Tata, asisten Nadya, saat memesan studio dua bulan lalu.”
Vivi menatap kantong itu. Jadi serangan tersebut bukan sekadar bayangan dari masa lalu. Nadya benar-benar telah memulai.
“Kita simpan semuanya,” katanya. “Jangan unggah ke media sosial.”
“Tentu tidak.” Regina meremas pangkal hidung. “Saya seharusnya memeriksa ruangan sebelum memanggilmu kembali.”
“Yang salah orang yang memasang, bukan Miss Regina.”
“Kamu hampir menjadi korban di tempat saya.”
Vivi menggenggam tangan gurunya. “Tapi aku tidak jadi korban.”
Regina memandangnya lama, lalu mengangguk. Hari itu juga, kode pintu diganti. Daftar akses dipangkas. Pemeriksa memasang penutup ventilasi yang dapat diperiksa dari bawah dan memastikan tak ada titik buta lain.
Baru setelah laporan awal ditandatangani, Vivi masuk ruang ganti dengan pakaian latihan miliknya sendiri. Regina menunggu di luar pintu. Untuk pertama kalinya sejak kembali, Vivi mengenakan leotard hitam dan rok tipis putih tanpa merasa ada mata asing mencuri tubuhnya.
Di ruang latihan, nada pertama Angsa di Bawah Cahaya Bulan memenuhi udara.
Vivi mengangkat kedua tangan.
Kakinya belum sekuat dulu. Putarannya kehilangan sedikit kecepatan, dan ia harus mengatur napas setelah lompatan kecil. Namun garis tubuh, arah kepala, dan kelembutan pergelangan tangannya kembali satu demi satu.
Ketika musik berhenti, Regina berdiri membelakanginya.
“Miss Regina?”
Perempuan itu mengusap sudut matanya sebelum berbalik. “Bahumu terlalu tegang.”
Vivi tersenyum. “Itu saja?”
“Dan kamu masih suka mencari pujian.”
“Berarti aku belum berubah banyak.”
Kali ini Regina ikut tersenyum.
***
Tiga hari kemudian, ketenangan studio pecah oleh suara pintu dibanting.
Seorang anak laki-laki berseragam olahraga berdiri di lorong dengan ransel tersampir di satu bahu. Usianya sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Rambutnya berantakan, dan kedua alisnya bertaut seolah seluruh dunia telah bersalah kepadanya.
“Aku tidak mau ikut kelas,” katanya.
Regina menyilangkan tangan. “Saya juga tidak menyuruhmu ikut kelas. Duduk di kantor sampai saya selesai.”
“Sama saja. Semua orang di sini membicarakan balet.”
“Ini studio balet, Kevin.”
“Makanya aku tidak mau di sini!”
Kevin mengeluarkan ponsel. Pada layarnya tampak pertandingan Mobile Legends yang sedang berlangsung. “Seleksi akademi esports tinggal dua bulan. Aku butuh latihan tim, bukan melihat orang berdiri jinjit.”
“Kamu butuh menyelesaikan sekolah dan belajar menepati jadwal.”
“Mama tidak pernah mendengarkan.”
Anak itu berbalik dan masuk ke ruang penyimpanan. Pintu kembali tertutup keras.
Regina menekan pelipis. “Pengasuhnya mendadak izin. Ayahnya sedang di luar kota.”
“Biar aku bicara dengannya.”
“Dia sedang berada pada usia ketika semua nasihat dianggap serangan.”
“Aku tidak akan memberi nasihat.”
Vivi menemukan Kevin duduk di atas peti kostum, memasang earphone meski pertandingan di layar sudah berakhir.
“Aku tidak akan menyuruhmu menari,” kata Vivi dari pintu.
Kevin mengangkat mata dengan curiga. “Terus?”
“Aku hanya mau mengambil pita dari rak belakang. Tapi aku dengar kamu ingin ikut akademi.”
“Mama bilang itu buang-buang waktu.”
“Miss Regina bilang sekolah dan jadwalmu harus selesai. Itu bukan hal yang sama.”
Kevin menurunkan satu earphone. “Kamu membela siapa?”
“Tidak ada. Aku bahkan baru datang.” Vivi mengambil gulungan pita. “Setelah festival, mungkin aku bisa membawamu melihat markas tim yang kamu suka. Bukan menjanjikan seleksi, hanya melihat cara mereka berlatih. Tapi kamu harus membicarakannya dulu dengan mamamu.”
“Kamu kenal pemain profesional?”
“Aku kenal orang yang mungkin kenal.” Joce pasti akan menertawakannya karena menjual jaringan Kusuma sebelum meminta izin. “Tidak ada jaminan.”
Kevin menyipitkan mata. “Orang dewasa selalu bilang begitu kalau berbohong.”
“Kalau begitu, jangan percaya dulu.”
Jawaban itu membuatnya terdiam. Beberapa detik kemudian Kevin turun dari peti dan berjalan melewati Vivi tanpa membanting pintu.
Itu mungkin kemenangan kecil.
***
Pada hari kelima, Vivi mulai mengenali semua wajah yang keluar masuk studio.
Karena itu, perempuan berseragam abu-abu yang belum pernah dilihatnya langsung menarik perhatian.
“Staf kebersihan sementara,” jelas Regina. “Namanya Wulan. Pengganti selama dua minggu.”
Wulan tersenyum sangat ramah setiap kali berpapasan. Ia menawarkan handuk, mengelap lantai sebelum diminta, dan dua kali bersikeras mengisi ulang botol minum Vivi.
Pada hari pertama, Vivi menganggapnya sekadar rajin. Hari kedua, ia melihat Wulan menghafal jam istirahatnya dan selalu muncul ketika latihan berhenti. Perempuan itu tidak pernah menawarkan bantuan yang sama kepada Regina atau dua murid kelas sore.
Vivi memeriksa daftar akses yang dikirim Regina. Nama Wulan tercatat resmi melalui perusahaan penyedia tenaga kebersihan. Foto identitasnya cocok. Tidak ada pelanggaran yang cukup untuk menuduhnya.
Justru itu yang mengganggu Vivi.
Dalam ingatan lamanya, ia tidak pernah mengenal Wulan. Setelah kamera gagal, masa depan telah bergeser. Ancaman berikutnya mungkin datang melalui orang yang sama sekali tidak ada dalam jalur sebelumnya.
Vivi selalu menolak.
Siang itu, setelah latihan, ia pergi ke toilet untuk mencuci tangan. Ketika kembali, Wulan berdiri di dekat bangku tempat botol minumnya diletakkan.
Begitu melihat Vivi, perempuan itu menarik tangannya dari sisi gelas terlalu cepat.
Senyumnya terlambat muncul.
“Airnya hampir habis, Bu. Saya mau isi.”
Botol itu masih tiga perempat penuh.