“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
•••
Masih pada posisi tangan yang sedang memeluk Giselle tersebut, Jio dibuat bingung dengan respon Giselle yang mengalungkan tangannya pada leher Jio apalagi dengan kedua matanya yang mulai tertutup.
Jio hendak melepas pelukannya tadi namun diurungkan saat mendengar derap langkah kaki yang berjalan mendekat. Ia yakin itu langkah kaki para preman tadi, sontak Jio mempererat pelukannya pada Giselle.
Hingga para preman itu berjalan melewatinya.
"Ah... sepertinya kita harus mencari wanita lain malam ini." Ujar salah satu dari mereka.
Mendengar ucapan itu membuat Giselle kembali menyunggingkan senyum, ditambah lagi dengan Jio yang mempererat pelukannya tadi membuat Giselle makin salah tingkah.
Jio kembali mengikis jarak sampai nafasnya terasa hangat menerpa wajah cantik Giselle. Memperhatikan kedua mata yang sedang tertutup itu, mendekatkan wajah ke samping kiri Giselle kemudian berbisik di telinganya.
"Kenapa menutup matamu?" Bisik Jio sembari melepas pelukannya.
Giselle yang sedari tadi memejamkan mata kini membuka matanya lebar-lebar seakan kedua bola mata itu bisa melompat keluar dari tempatnya. Dia kesal, jadi sejak tadi dirinya hanya dipermainkan begitu pikirnya.
Tak terima Giselle menarik tangan Jio yang tadinya hendak pergi dan segera mengalungkan tangannya ke leher Jio kembali.
"Kau pikir kau bisa pergi meninggalkanku begitu saja?"
"Apa yang kau lakukan? Lepas." Sergah Jio kesal.
"Niatku baik, awalnya aku mengikutimu jauh-jauh sampai kemari hanya untuk mengucapkan terima kasih padamu karena telah menolongku tempo hari.”
“Tapi lihat, kau malah mempermainkan aku seperti wanita murahan..."
"Yang kau lakukan sekarang sama dengan sikap wanita murahan."
"Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku."
Giselle menyeringai memandang Jio yang menghela nafas.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Antarkan aku pulang."
Jio tersenyum miring mengejek, "Untuk apa, kau pikir siapa dirimu?"
"Aku?”
“Orang, yang bisa membuatmu di keluarkan dari kampus. Mahasiswa Universitas Neosentra tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan ilegal seperti ini.”
“Nama baikmu bisa tercemar jika komite kampus tahu, karena aku punya kartu AS-mu sekarang..." Ujarnya, kembali menunjukkan sebuah potret yang dia ambil menggunakan ponsel tadi. Giselle bersyukur saat foto ini benar-benar berguna.
"Kau pasti pernah dengar kalau aku adalah Ratunya pembuat onar, bukan?" Lanjut Giselle yang membuat Jio melunturkan senyumnya.
Jio terus berfikir, berusaha mencari alasan untuk bisa lepas dari jerat gadis gila ini. Tak sengaja netranya menangkap presensi sebuah mobil di ujung gang yang diyakininya sebagai mobil si gadis.
"Kau kemari membawa mobil bukan? Kenapa tidak pulang sendiri saja, kau akan meninggalkan mobil mewahmu itu di sini?" Ucap Jio mengalihkan, yang dalam hati berharap supaya Giselle tak jadi memintanya mengantarkan pulang.
"Siapa bilang aku akan meninggalkan mobilku di sini?"
"Aku harus mengemudi untukmu begitu?"
Giselle tertawa, "Seperti kau mau saja."
"Tck... Jadi maksudmu kau bawa mobilmu dan aku harus mengikutimu dari belakang sampai kau tiba di rumahmu?"
Giselle menganggukkan kepala, "Tepat sekali, kau cepat tanggap juga rupanya."
Baiklah Jio menyerah ia tak punya pilihan, gadis ini membuat Jio tak memiliki pilihan, "Hah... Baiklah, tapi ingat jangan pernah kau datang ke sini lagi."
"Kau takut aku membocorkan rahasiamu?"
"Cepat masuk ke dalam mobilmu sebelum aku berubah pikiran."
"Baiklah. Tapi kau harus benar-benar mengantarku, awas saja kalau sampai kau berbohong."
Jio mengangkat kedua bahunya, Giselle tersenyum puas. Bergegas masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan langsung tancap gas menuju apartemen miliknya yang diikuti oleh Jio dengan motornya dari belakang.
"Hah... Bodoh, dia benar-benar mengantarkanku? Apa dia setakut itu jika rahasianya sampai terbongkar?"
Memasuki pintu masuk gedung apartemen, Giselle dapat melihat dari kaca spion mobilnya, motor yang dikendarai oleh Jio melaju terus setelah mengantarkannya pulang.
•••
Setelah mengantar Giselle pulang, Jio bergegas menuju suatu tempat.
Motor yang dikendarainya masuk ke sebuah kawasan perumahan yang tak jauh dari pusat kota Metrosentra. Dilihat dari lingkungannya orang-orang pasti sudah tahu jikalau hunian di kawasan ini adalah rumah bagi para elite.
Jio dengan mengendarai motornya masuk ke salah satu halaman rumah mewah tersebut kemudian memarkirkannya.
Di depan pintu masuk terlihat seorang gadis yang tengah menunggunya dengan tangan bersendekap dada dan raut wajah tak bersahabat.
“Dari mana saja? Lama sekali, aku sudah menunggumu sedari tadi."
"Maaf ya... aku tak akan mengulanginya lagi."
"Selalu saja begitu, aku muak mendengar kata maafmu. Mana barang yang aku minta, sudah kau belikan?"
"Ada di ranselku."
Gadis itu tersenyum seraya merangkul lengan Jio, "Ya sudah ayo masuk..."
Jio yang melihatnya ikut tersenyum gemas lalu mengacak rambut si gadis pelan.
"Aku sudah menata rambutku, dan kau merusaknya dalam sekejap." Ujar si gadis memukul pelan lengan Jio.
"Maafkan aku untuk itu juga." Jio tertawa sambil berjalan masuk menuju ruang keluarga dengan merangkul sang gadis.
"Akan aku maafkan asal kau menuruti keinginanku."
"Apa yang kau inginkan, hmm?"
"Ada satu. Aku ingin sesuatu, sesuatu yang mahal kali ini."
"Iya, apa itu?"
"Aku ingin sebuah mobil."
"Mobil? Kau ingin sebuah mobil?" Tanya Jio memastikan dan si gadis menganggukkan kepalanya berulang.
"Iya aku ingin mobil agar aku bisa pergi kapanpun aku mau, jalan-jalan bersama teman-temanku tanpa menunggumu untuk mengantarkanku."
"Baiklah, tapi dengan satu syarat. Tunjukkan sesuatu dulu padaku." Ucap Jio serius.
Dengan mata tajam menatap gadis di depannya yang mulai beringsut ketakutan, Jio kembali melanjutkan ucapannya.
"Kau bilang ingin dibelikan mobil bukan? Kemari." Titah Jio yang langsung dilaksanakan oleh si gadis.
Setelah gadis itu mendekat Jio langsung memeluk dan menggelitik si gadis tanpa ampun, "Kalau begitu tunjukkan kartu SIM-mu padaku."
"Berhenti dulu haha... Kau membuatku geli haha..."
"Tunjukkan dulu baru aku akan berhenti."
Di tengah candaan Jio dan si gadis, terdapat seorang wanita—berusia sekitar empat puluh tujuh tahunan yang masih terlihat muda dan elegant— tersebut datang menghampiri mereka dengan menuruni tangga.
"Jio... apa yang kau lakukan pada Adikmu?" Tanyanya sembari tersenyum.
"Ibu... Kakak nakal, lihat dia menggelitiki aku." Adu si gadis seraya berlari menuju Joanna Kusuma Ningrat, sang Ibu.
"Jangan memutar balikan fakta.”
“Yasmeen yang nakal bukan aku, Ibu tahu? Dia memintaku membelikannya mobil, jadi aku suruh dia menunjukkan kartu SIM-nya dulu padaku." Jelas Jio.
Joanna melirik Yasmeen yang tersenyum lebar menampakkan deretan gigi rapinya.
“Yasmeen, kau masih di bawah umur jadi jangan minta hal yang aneh-aneh. Mengerti?"
"Baik Ibu..." Cicit Yasmeen yang mendapat ledekan dari Jio.
"Makanya jangan nakal..." Ledek Jio menjulurkan lidahnya.
"Jio... berhentilah meledek Adikmu begitu.”
“Yasmeen, pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Besok kau harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah."
"Iya Ibu, selamat malam Ibu. Selamat malam Jio." Ujar Yasmeen sambil berlari menaiki tangga.
"Yasmeen Pratama... anak itu benar-benar."
"Sudahlah nak, ayo kemari Ibu ingin bicara."
Setelah ucapannya itu, Joanna duduk di sofa ruang keluarga tersebut menepuk di sisi sampingnya mengarahkan agar Jio duduk di sebelahnya yang kemudian diikuti oleh Jio.
"Kau sudah menemui Ayahmu?"
Tak mendapat jawaban Joanna pun melanjutkan ucapannya.
"Jio… Ibu tahu kau marah pada Ayah, Ibu juga tahu kau tidak mau menemuinya. Tapi cobalah luangkan sedikit waktumu untuk bicara dengannya.”
“Apapun yang coba dilakukan oleh Ayahmu dia hanya ingin yang terbaik untukmu, untuk Yasmeen, dan untuk Ibu."
"Ibu... Kapan terakhir kali Ibu bicara dengannya?”
Joanna terdiam.
“Ayah bahkan jarang sekali pulang ke rumah, dia hanya mementingkan urusan kantornya. Dia bahkan tidak menganggap Ibu ada. Untuk apa aku repot-repot meluangkan waktuku untuk orang yang tak pernah menganggap keluarganya ada?"
"Jio..."
"Ibu... ayah tahu Ibu sangat menyayangi Ayah, tapi apa yang dilakukan oleh Ayah sama sekali tidak benar."
"Ibu hanya ingin kau menganggap Ayah sama seperti manusia biasa lainnya.”
“Yang bisa berbuat salah dan juga bisa berubah. Jangan membencinya hanya karena kalian selalu berbeda pendapat nak...”
“Ayah jarang pulang ke rumah karena dia harus mempersiapkan segala urusan kantor, sebelum itu semua dialihkan padamu. Dia tak ingin anak-anaknya menghadapi kesulitan dikemudian hari.”
"Percayalah Ayah sangat menyayangi kita jauh di lubuk hatinya, tapi sikapnya yang keras membuatnya sulit terlihat. Dia hanya butuh waktu untuk menunjukkan itu pada kita."
Usai mengucapkan itu Joanna berdiri, mengusap kepala Jio sebelum pergi meninggalkannya yang duduk termenung dengan pandangan kosong tersebut.
•••Vienbluu (annavienbluu)