NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Malam harinya, Tirta bergelut dengan laporannya hingga waktu makan malam tiba. Ia memilih membeli makanan dari luar, lalu memakannya di dalam kamar. Suasana rumah yang begitu sepi membuatnya lebih fokus mengerjakan pekerjaannya.

Pukul delapan malam, dirinya baru teringat pada makanan yang sama sekali tidak disentuh oleh Marchel sejak pagi hingga siang tadi. Ia pun meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk mengecek apakah makan malam pria itu sudah dimakan atau belum.

Ternyata tiga kotak makanan itu masih berada di tempatnya. Dua kotak di depan rumah dan satu lagi di depan kamar Marchel. Tirta memang belum sempat memindahkannya karena sejak pulang sore tadi ia langsung masuk ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Dia tidak makan lagi?" gumam Tirta pelan. Ia menarik napas, lalu mengetuk pintu kamar pria itu dengan hati-hati.

Tok...

Tok...

Tok...

"Aku masuk, ya..." pamitnya dengan sopan, meski beberapa hari lalu ia sempat melupakan kesopanannya.

Di dalam kamar, Marchel terlihat sedang membaca sebuah buku. Entah apa isinya, tetapi pria itu tampak begitu serius.

"Kenapa? Baru ingat?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

Tirta yang merasa dirinya sedang disindir hanya bisa terdiam bingung. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana saat suasana mendadak berubah mencekam dan seolah menyudutkannya.

"Kamu tidak makan malam?" tanyanya berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung.

Hening.

Pria itu tidak menjawab. Bahkan meliriknya pun seolah enggan. Tirta akhirnya menafsirkan bahwa Marchel memang tidak ingin makan, sama seperti kemarin. Mengingat dirinya masih harus menyelesaikan pekerjaannya, gadis itu pun berbalik hendak kembali ke kamar. Lagi pula, pria itu sudah meminum susu yang tadi ia berikan. Gelas kosongnya masih berada di depan pintu.

"Tidak enak."

Sepenggal kalimat itu membuat Tirta kembali menoleh.

Maksudnya apa? Ingin dibuatkan makanan? Atau bagaimana? Dirinya bukan Arga yang selalu mengerti setiap ucapan pria itu.

"Ya sudah, jangan makan malam. Bukankah kamu sudah terbiasa tidak makan dari kemarin?" ketusnya lalu kembali melangkah.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Marchel kembali terdengar.

"Lapar..."

Tirta mengembuskan napas kasar. Ia keluar dari kamar tanpa menutup pintunya. Kotak makanan dan gelas yang tadi berada di depan kamar sudah ia bawa ke dapur sehingga tidak sempat lagi ia tendang seperti sebelumnya.

Marchel hanya menatap pintu itu cukup lama sebelum akhirnya kembali terdiam dengan pikirannya sendiri.

Apa ini?

Apa penyakitnya bertambah lagi?

Beberapa menit kemudian, Tirta kembali membawa sepiring makanan. Gadis itu menghampiri Marchel dan menyodorkannya.

Namun pria itu tetap diam. Tidak mengambilnya, bahkan tidak memberi respons sedikit pun.

"Tuan muda, Anda ingin makan atau tidak? Tadi bilang lapar, sekarang malah diam."

Marchel menatap gadis itu, lalu mengangkat kedua tangannya yang masih memegang buku.

"Tanganku penuh. Tidak bisa kugunakan untuk makan."

Senyum menyebalkan itu kembali muncul. Sepertinya pria ini memang sangat lihai membuat tekanan darah orang naik.

"Tapi buku itu bisa kamu taruh dulu, lalu makan. Bagaimana caranya makan kalau tanganmu masih memegang buku?"

"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin menaruh buku ini di tempat lain, jadi pikirkan caranya agar aku bisa makan sambil tetap membaca."

Maksud ucapan pria itu tentu saja Tirta pahami. Ia ingin disuapi. Namun sepertinya kata tolong memang tidak akan pernah keluar dari mulutnya.

"Aku masih harus mengerjakan pekerjaanku. Jadi, kamu makan sendiri saja, ya?" Tirta mencoba bernegosiasi dengan pria keras kepala itu.

"Lupakan saja."

Jawaban singkat itu membuat Tirta mendesah pelan. Ia meletakkan piring di meja kecil di dekat sofa berbentuk L, lalu menarik kursi roda Marchel mendekat ke sana.

"Tunggu sebentar."

Gadis itu kembali keluar dan beberapa saat kemudian datang membawa laptopnya.

Kini pekerjaannya tinggal mengecek laporan sekali lagi sebelum mengirimkannya kepada manajernya.

"Oke, sekarang buka mulutmu. Makan. Biar kalau perutmu sudah kenyang, kosa kata yang keluar dari bibir itu jadi lebih banyak." Celotehnya sambil menyuapi pria itu.

Katanya tidak enak. Nyatanya, setiap suapan yang masuk ke mulutnya ia telan tanpa protes sedikit pun.

Melihat itu, Tirta hanya bisa menyembunyikan senyumnya. Ia memang tidak sempat memasak. Lagi pula sayang jika makanan yang sudah dibelikan dibiarkan terbuang. Jadi ia hanya memindahkannya ke piring agar lebih nyaman dimakan.

"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Marchel di sela-sela kunyahannya.

Sedari tadi ia melihat gadis itu terus menatap layar laptop.

"Aku harus mengirim laporan ini malam ini juga supaya besok bisa dipresentasikan oleh manajerku saat rapat."

Jawabannya keluar tanpa menoleh. Namun setiap beberapa detik, Tirta tetap mengalihkan pandangan untuk menyuapi Marchel.

"Kenapa dibawa pulang?" Benar juga ucapan Tirta. Begitu perut Marchel mulai terisi, mulutnya ikut menjadi lebih banyak bicara. Atau mungkin itu hanya kebetulan. Hanya pria itu yang tahu jawabannya.

"Tadi siang aku diberi pekerjaan mendadak, jadi terpaksa kubawa pulang. Aku tidak mau bekerja sampai larut di kantor. Lebih baik menyelesaikannya dari rumah. Lagi pula, kalau sekarang aku masih di kantor, pria manja ini pasti tidak akan makan." Sindiran di akhir kalimatnya membuat Marchel langsung menutup mulut.

"Kenapa? Buka mulutmu." Tangan Tirta masih menggantung membawa sendok berisi makanan. Wajah Marchel terlihat serius.

"Aku tidak manja." Nada protesnya terdengar begitu meyakinkan.

Bagaimana mungkin dirinya yang selama ini disegani dan dikenal kejam justru disebut manja oleh gadis di depannya? Bukankah itu benar-benar merusak citra dinginnya? Gelak tawa Tirta pun memenuhi ruangan. Tawanya lepas begitu saja mendengar pembelaan pria itu.

"Baiklah, aku percaya. Sekarang buka mulutmu." Ucapnya sambil berusaha menahan tawa.

"Aku bilang sekali lagi, aku tidak manja." Marchel kembali menegaskan ucapannya sembari menerima suapan berikutnya.

"Manja atau tidak, yang lebih tahu itu orang yang melihatnya."

Tirta terkekeh pelan. Tanpa sadar, ia mengusap sisa makanan di sudut bibir pria itu menggunakan jarinya. Gerakan sederhana itu justru membuat Marchel membeku. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Tanpa disadari Tirta, gadis itu perlahan mulai menimbulkan gejolak yang asing di dalam hati Marchel. Tak lama kemudian laporan Tirta selesai dikirim dan makanan di piring pun habis tak bersisa.

"Istirahatlah. Aku kembali ke kamarku dulu." Tirta menutup laptopnya, lalu membereskan meja agar tidak ada sisa makanan yang tertinggal.

Marchel hanya diam.

Tatapannya mengikuti setiap gerakan gadis itu seolah enggan berpaling.

"Aku tidak bisa tidur." Ucapannya membuat Tirta menghentikan langkah. Mengerti maksud pria itu, ia kembali meletakkan piring dan mendorong kursi roda Marchel mendekati ranjang.

"Ayo, aku bantu." Tirta mengulurkan tangan. Pria bertubuh besar itu kali ini menerima bantuannya tanpa banyak protes. Tangannya yang kekar melingkar di bahu Tirta sebagai tumpuan.

Dengan sedikit usaha, akhirnya Marchel berhasil berbaring di atas ranjang dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur. Setelah itu, Tirta membuka laci nakas, mengambil obat yang kemarin ia simpan di sana, lalu menyerahkan satu butir bersama segelas air putih.

"Minumlah. Nanti kamu bisa tidur." Sebenarnya bukan itu yang dimaksud Marchel. Namun karena gengsi, pada akhirnya ia tetap menelan obat itu tanpa banyak bicara.

"Selamat malam. Semoga mimpi indah." Tirta tersenyum tipis sebelum mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur di sisi ranjang. Pintu kamar pun perlahan tertutup. Begitu Tirta benar-benar pergi, Marchel mengusap wajahnya kasar.

"Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari gadis berotak 2 GB itu? Dasar tidak peka." Meski sudah larut malam, matanya tetap sulit terpejam. Pada akhirnya ia kembali mengambil satu butir obat tidur lagi.

Setidaknya, dengan begitu ia bisa memaksa dirinya tenggelam dalam ketidaksadaran.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!