NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Suara kertas yang diremas dengan kasar memecah keheningan ruang tamu rumah Bayu yang berantakan. Bayu berdiri mematung di tengah ruangan, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Di tangannya, selembar surat panggilan sidang dari Pengadilan Agama sudah tidak berbentuk lagi, kusut masai akibat cengkeramannya yang penuh amarah.

​Wajahnya merah padam. Urat-urat lehernya menonjol, menandakan betapa murka pria itu setelah membaca isi surat gugatan cerai yang dikirimkan oleh jurusita kemarin siang. Baginya, surat itu bukan sekadar dokumen hukum, melainkan tamparan keras yang meruntuhkan harga dirinya di depan mata kepala sendiri.

​"Berani-beraninya dia..." gumam Bayu dengan gigi terkatup rapat. "Berani-beraninya Maya melakukan ini di belakangku!"

​Di sudut ruangan, Ibu Sumiati wanita paruh baya dengan tatapan mata yang tajam dan sinis tengah duduk bersandar di sofa, menyesap tehnya dengan santai. Namun, bibirnya tidak berhenti mengeluarkan kata-kata yang memanaskan suasana.

​"Sudah Ibu bilang, Bayu. Perempuan itu memang tidak tahu diuntung," ujar Ibu Sumiati dengan nada suara yang sengaja dibuat melengking, memancing amarah putranya. "Dulu waktu dia masih miskin, kita yang menampungnya.

Sekarang, baru dikasih sedikit napas, dia malah berani menggugat cerai kamu? Dia pikir dia siapa? Perempuan yang sudah dicerai saja masih berlagak punya harga diri!"

​Di samping Ibu Sumiati, Rika dan Fery Adik dan adik ipar Bayu yang saat ini hidup menumpang turut menimpali. Keduanya seolah berlomba menjadi kompor yang paling panas.

​"Iya, Mas Bayu. Maya itu pasti sudah punya laki-laki lain. Mana mungkin perempuan nekat gugat cerai kalau tidak ada yang kasih dukungan?" sahut Rika dengan nada licik. "Ingat, Mas, perempuan seperti Maya itu kalau dibiarkan, dia akan makin ngelunjak. Dia pikir tanpa Mas Bayu dia bisa hidup mewah?"

​"Betul tuh, Mas," timpal Fery yang sedari tadi sibuk mengunyah camilan di meja. "Lagipula, kalau Mas Bayu diam saja, orang bakal menganggap Mas Bayu yang salah. Harus dikasih pelajaran perempuan itu, Mas. Harus diseret balik ke sini, biar dia tahu siapa majikannya!"

​Kata-kata mereka menghujam telinga Bayu. Bukannya menenangkan, justru narasi-narasi busuk tersebut semakin menyalakan api dendam di dalam dada Bayu. Bayu membuang sisa kertas surat gugatan itu ke lantai, menginjaknya dengan sepatu kerjanya seolah sedang menginjak harga diri Maya.

​"Cukup!" bentak Bayu tiba-tiba, membuat seisi ruangan terdiam. Namun, bentakan itu bukan ditujukan kepada ibunya atau sepupunya, melainkan kepada amarahnya sendiri yang meluap-luap.

​"Maya tidak akan berani melakukan ini kalau dia tidak dipengaruhi orang lain," ucap Bayu, otaknya yang dipenuhi obsesi mulai meracik skenario sendiri. "Aku tahu Maya. Dia tidak punya nyali untuk berurusan dengan pengadilan kalau tidak ada yang menyokongnya. Dia pasti sekarang sedang bersembunyi di suatu tempat."

​"Terus kamu mau diam saja, Bayu?" Ibu Sumiati menatap anaknya dengan tatapan menuntut. "Kamu itu laki-laki, jangan mau diinjak-injak perempuan macam dia. Kamu harus temui dia sekarang juga! Kasih dia pelajaran, paksa dia buat cabut gugatan itu!"

​Bayu mengangguk kaku. Sifat keras kepalanya memang sudah mendarah daging. Ia menolak untuk menyerah. Baginya, Maya adalah properti miliknya yang tidak boleh lepas begitu saja, apa pun alasannya.

​"Aku akan mencarinya," ujar Bayu dingin. Ia melangkah menuju meja, mengambil kunci mobil yang tergeletak di sana. "Aku akan membawanya pulang, entah dengan cara baik-baik atau... dengan cara lain."

​Rika dan Fery saling berpandangan, seringai licik terpancar di wajah mereka. Mereka ingin Bayu mengamuk karena mereka pikir, jika Bayu berhasil membawa Maya kembali, status sosial dan kemudahan hidup mereka di rumah ini akan tetap terjaga.

​"Ikut ya, Mas? Kita bisa bantu saksikan kalau nanti perempuan itu melawan!"

celetuk Fery dengan penuh semangat, berharap bisa ikut campur lebih dalam.

​Mendengar permintaan Fery, tiba-tiba emosi Bayu yang sejak tadi tertahan meledak. Ia berbalik, menatap Rika dan Fery dengan sorot mata yang penuh kebencian. Selama ini, ia sudah cukup sabar dengan kehadiran mereka yang hanya menjadi beban di rumahnya. Namun hari ini, melihat mereka terus-menerus memanas-manasi keadaan demi kepentingan pribadi mereka sendiri, kesabaran Bayu benar-benar habis.

​"Kalian!" tunjuk Bayu dengan jarinya tepat ke wajah Fery. "Diam! Tidak usah ikut campur urusan rumah tanggaku!"

​Rika terperanjat, sementara Fery membeku. "Loh, Mas, kita kan cuma mau membantu"

​"Membantu?" potong Bayu dengan suara yang menggelegar. "Membantu apa? Membantu membuat hidupku makin berantakan? Lihat dirimu, Fery! Sudah berapa lama kamu tinggal di sini? Sudah berapa lama kamu hanya makan, tidur, dan menghabiskan uangku tanpa melakukan apa pun?"

​Bayu berjalan mendekat ke arah Fery, membuat pria itu mundur selangkah karena nyali yang menciut.

​"Aku muak dengan kelakuan kalian berdua! Kalian pikir aku tidak tahu? Kalian senang kalau aku bertengkar dengan Maya supaya kalian punya alasan untuk terus menumpang di rumah ini tanpa rasa malu. Mulai hari ini, cari kerja! Jangan cuma bisa jadi parasit yang memberikan makan setiap hari dengan uang keringatku! Kalau kalian tidak bisa mencari uang sendiri, silakan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!"

​Ibu Sumiati ternganga, tak menyangka Bayu akan meluapkan kekesalannya sampai ke titik itu. "Bayu, jangan begitu sama saudara sendiri"

​"Sudah cukup, Bu!" potong Bayu tegas, tidak memedulikan ibunya. "Bayu sudah lelah dengan drama rumah tangga ini, dan Bayu lebih lelah lagi melihat kalian semua yang hanya bisa menuntut tanpa memberi kontribusi apa pun!"

​Setelah melontarkan kemarahannya yang tertahan, Bayu menyambar jaket kulitnya dan melangkah keluar rumah dengan langkah kaki yang teramat berat dan penuh emosi. Ia tidak peduli lagi dengan wajah-wajah terkejut di ruang tamu. Fokusnya kini hanya satu, Maya.

​Ia masuk ke dalam mobil sedan hitam miliknya. Ia menatap alamat yang tertera di surat gugatan tersebut. Itu adalah alamat rumah orang tua Maya yang dulu pernah mereka tempati bersama di awal pernikahan. Bayu tahu kemungkinan besar Maya tidak ada di sana mungkin rumah itu sudah kosong atau ditempati orang lain namun ia yakin, di sana ia bisa mendapatkan petunjuk. Tetangga, kerabat jauh, atau siapa pun yang tahu ke mana Maya pergi.

​Bayu menyalakan mesin mobilnya. Suara raungan mesin terdengar kasar di pagi yang tenang itu. Ia memutar kemudi dengan paksa, membelah jalanan perumahan dengan kecepatan tinggi.

"​Kamu tidak akan bisa lari, Maya", batin Bayu dengan nada yang mengancam. Aku yang menjadikanmu istri, dan aku pula yang berhak memutuskan kapan hubungan ini berakhir. Tidak ada yang boleh mengambilmu dariku.

​Di dalam mobil, Bayu terus memacu kendaraannya. Pikirannya dipenuhi oleh obsesi. Ia tidak merasa bersalah atas perlakuannya dulu, ia justru merasa sebagai korban yang dikhianati. Ego laki-lakinya tidak terima dicampakkan oleh wanita yang selama ini ia anggap lemah.

​Sepanjang perjalanan, Bayu tidak berhenti memikirkan di mana Maya bersembunyi. Apakah dia bersama laki-laki lain? Ataukah dia kembali ke keluarganya? Bayu berjanji pada dirinya sendiri, siapa pun yang membantu Maya untuk berani menggugat cerai, dia akan memberikan pelajaran yang setimpal.

​Mobilnya melaju menembus kepadatan lalu lintas kota. Bayu tidak peduli dengan lampu merah atau aturan jalan. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, setiap detik yang terbuang terasa seperti penghinaan bagi harga dirinya.

1
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!