Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunangan Paksa dan Bayangan Sang Pangeran
Beberapa hari berlalu di dalam pengasingan menara barat yang sunyi. Hari-hari bagi Putri Celestia terasa berjalan sangat lambat, diisi hanya dengan lamunan panjang dan coretan-coretan nama Zass di atas lembaran kertas usang. Ia menolak menyentuh makanan mewah yang diantarkan para pelayan istana, menyisakan tubuhnya yang kian hari kian terlihat rapuh.
Hingga pada suatu pagi, pintu besi menara barat itu terbuka lebar dengan bunyi decitan keras yang memekakkan telinga.
Empat orang ksatria pengawal kerajaan berdiri tegap di ambang pintu, memasang wajah kaku tanpa ekspresi. "Putri Celestia," ucap sang kepala ksatria dengan nada formal yang tak membantah. "Yang Mulia Raja David memerintahkan Anda untuk keluar dari pengasingan. Kenakan gaun kehormatan Anda dan bersiaplah. Tamu agung dari Kerajaan Aiteria telah tiba di balairung utama."
Celestia mendongakkan kepalanya perlahan. Tatapannya dingin dan tajam, menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman ayahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia bangkit berdiri, merapikan gaun birunya yang sedikit kusut, lalu berjalan melewati para ksatria itu dengan langkah tegap penuh wibawa seorang putri mahkota.
Suasana balairung utama istana Imperial tampak sangat meriah dan dipenuhi oleh para bangsawan tinggi serta petinggi militer dari dua kerajaan. Bendera kebesaran Kerajaan Aiteria yang berwarna putih, kuning, dan biru berkibar megah di sepanjang sisi ruangan, berdampingan dengan lambang singa emas Kerajaan Imperial.
Di singgasana utama, Raja David duduk berdampingan dengan seorang pria paruh baya bertubuh gempal bermahkota permata biru—Raja Valerius dari Kerajaan Aiteria.
Saat Celestia melangkah masuk menuruni anak tangga marmer menuju pusat balairung, seluruh pasang mata di ruangan itu langsung tertuju padanya. Di tengah ruangan, berdiri seorang pemuda tampan berambut pirang rapi dengan gaya bangsawan tinggi. Ia mengenakan jubah mewah berwarna putih bergaris kuning emas dengan lencana safir biru berkilau di dadanya—Pangeran Mahkota Kerajaan Aiteria, Helix.
Helix menyunggingkan senyuman penuh pesona, menampilkan citra seorang pangeran sempurna yang diidamkan oleh para putri bangsawan di seluruh daratan. Namun, di dalam sorot mata biru pangeran itu, tersirat ambisi dan rasa memiliki yang begitu kuat.
Begitu Celestia berhenti di hadapannya, Helix melangkah maju dengan gestur yang sangat elegan. Ia mengangkat sebuah kotak kado berukuran besar terbungkus kain sutra biru tua berhiaskan pita emas merekah, lalu menyerahkannya kepada sang putri.
"Selamat ulang tahun, calon istriku tersayang," ucap Helix dengan suara lembut yang dibuat semanis mungkin, mencair di tengah keheningan balairung.
Celestia tertegun sejenak. Mendengar ucapan itu, ia baru sadar sepenuhnya—hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-18. Tanggal istimewa yang biasanya dirayakan dengan senyuman dan kehangatan keluarga, kini berubah menjadi hari paling kelam di mana kebebasan hidupnya dirampas secara paksa di hadapan para bangsawan asing.
Celestia menatap kotak kado besar di hadapannya, lalu beralih menatap wajah Helix dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak mengulurkan tangannya untuk menyambut pemberian itu. Suasana balairung seketika menjadi canggung; beberapa bangsawan mulai berbisik-bisik melihat sikap dingin sang putri.
Melihat hal itu, salah satu pelayan istana dengan sigap maju dan menerima kotak kado tersebut dari tangan Pangeran Helix untuk menghindari rasa malu yang lebih besar.
Helix menarik kembali tangannya perlahan, senyum di bibirnya sedikit memudar, namun ia segera menutupinya dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Ah, kurasa Putri Celestia masih terkejut dengan kejutan istimewa ini. Wajar saja bagi seorang gadis muda yang pemalu."
Di atas singgasana, dahi Raja David mengerut tajam melihat sikap putrinya. Sebelum kemarahannya sempat meledak di hadapan Raja Valerius, Raja Imperial itu segera berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menarik perhatian seluruh isi ruangan.
"Para bangsawan dan rakyat Kerajaan Imperial yang terhormat!" suara menggelegar Raja David memecah ketegangan. "Hari ini, di hari ulang tahun kedelapan belas Putri Celestia, kami mengumumkan sebuah aliansi suci dan abadi antara Kerajaan Imperial dan Kerajaan Aiteria!"
Raja Valerius ikut berdiri, menyunggingkan senyuman lebar penuh kemenangan. "Sebuah kehormatan besar bagi keluarga kerajaan kami dapat menyatukan darah bangsawan terbaik kami dengan sang putri tercinta dari Imperial."
"Oleh karena itu," lanjut Raja David dengan nada mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, "di hadapan para saksi agung hari ini, kami resmi menjodohkan dan menunangkan Putri Celestia dengan Pangeran Mahkota Helix dari Kerajaan Aiteria!"
Suara tepuk tangan riuh seketika menggema di seluruh balairung utama. Para bangsawan saling berbalas ucapan selamat, memuji kecerdasan langkah politik kedua raja tersebut.
Namun, di tengah hiruk-pikuk tepuk tangan dan kemeriahan palsu itu, Raja David menambahkan satu kalimat penutup yang membuat napas Celestia tertahan di tenggorokan.
"Mengingat usia mereka yang masih sangat muda dan masih memerlukan persiapan matang dalam memimpin pemerintahan," ujar Raja David dengan suara dingin yang disengaja agar didengar oleh putrinya, "maka pernikahan agung antara Pangeran Helix dan Putri Celestia akan dilangsungkan tiga sampai empat tahun dari sekarang, saat usia mereka benar-benar matang."
Raja David menatap lurus ke arah Celestia, lalu memberikan ultimatum mutlaknya secara terbuka. "Dan selama masa pertunangan ini berlangsung, demi menjaga kesucian ikatan politik kerajaan, Putri Celestia dilarang keras meninggalkan area istana, dilarang menemui pihak luar mana pun, dan hanya diperbolehkan untuk berhubungan serta menghabiskan waktu dengan calon suaminya, Pangeran Helix."
Mendengar aturan mengekang itu, amarah dan rasa sesak membuncah di dada Celestia. Pengekangan kali ini jauh lebih kejam dari sekadar pengasingan di menara barat; ia dipenjara dalam sangkar emas, dipaksa berdampingan dengan pria yang tidak ia cintai, sementara Zass berada nun jauh di luar sana bertaruh nyawa di dunia petualangan.
Pangeran Helix melangkah mendekati Celestia sekali lagi, membisikkan kalimat tepat di dekat telinga sang putri dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Kau tidak perlu bersedih, Celestia," bisik Helix menyeringai tipis. "Mulai hari ini, aku akan memastikan tidak ada lagi bayang-bayang pemuda rendahan bernama Zass yang mengganggu pikiranmu. Kau sepenuhnya milikku."
Celestia menoleh tajam ke arah Helix. Iris matanya memancarkan kebencian yang teramat dalam, namun ia tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan seluruh badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Di dalam lubuk hatinya yang paling sunyi, Celestia mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, menaruh seluruh sisa harapannya pada satu janji suci yang pernah diucapkan oleh sang penempa petir sebelum ia melangkah pergi ke ujung dunia.