"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAK YANG TAK PERNAH ADA
Isma melangkah masuk menembus pintu depan yang terbuka lebar. Suasana di dalam rumah terasa amat tegang, bagaikan ruang sidang yang siap menghakimi terdakwa. Begitu Isma mendorong pintu kamarnya, pandangannya langsung tertuju pada tiga orang yang sudah berdiri menunggunya: Yoga, Ibu Lestari, dan Aini.
Di atas meja kecil di sudut kamar, sebuah buku tabungan atas nama Isma tergeletak dalam keadaan terbuka. Di sampingnya, lembaran cetak riwayat transaksi bank terpampang nyata. Yoga memegang kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, matanya membelalak menatap Isma dengan campuran antara rasa terkejut, bingung, dan desakan emosi yang tak tertahan.
"Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini, Isma?!" gertak Yoga seraya mengacungkan kertas tersebut ke udara. "Hampir satu miliar rupiah ada di rekening ini! Kamu menyembunyikan uang sebanyak ini dari aku?!"
Ibu Lestari melipat dadanya, menatap Isma dengan tatapan penuh tuduhan yang tajam. "Pantas saja kamu belakangan ini sering keluyuran sore-sore! Jangan-jangan kamu main belakang di luar sana, ya? Dari mana lagi seorang istri rumah tangga yang tidak punya pekerjaan bisa dapat uang hampir semiliar kalau bukan jalan pintas yang tidak benar?!"
Aini ikut menimpali dengan nada sewot, "Iya, Mas! Kemarin dan hari ini Kak Isma keluar rumah terus pakai alibi ketemu teman. Jangan-jangan uang ini hasil yang enggak-enggak!"
Isma berdiri tegap di ambang pintu, menatap ketiga orang di hadapannya satu per satu dengan raut wajah yang sangat tenang—bahkan terlalu dingin. Tidak ada kepanikan, tidak ada gemetar di tubuhnya, dan tidak ada setetes pun air mata yang menetes.
Isma menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu menyindir di mata mereka.
"Mas Yoga..." suara Isma terdengar halus namun menusuk, "sebelum Mas dan Ibu menuduhku yang tidak-tidak dengan nada tinggi seperti itu... bukankah sebaiknya Mas tanyakan pada diri Mas sendiri, dari mana seluruh hasil royalti novel dan kontrak eksklusif penulisan karyaku selama ini mengalir?"
Yoga mematung sejenak, keningnya berkerut makin dalam. "Royalti? Jangan bercanda, Isma! Mana ada tulisan cerita pendekmu menghasilkan uang sebanyak ini?!"
Isma melangkah mendekat, mengambil buku tabungan itu dari genggaman Yoga tanpa rasa takut sedikit pun, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang mulai goyah.
"Terserah kalau Mas tidak percaya. Aku malas basa-basi," ucap Isma datar. Suaranya tidak tinggi, namun mengandung dingin yang sanggup membekukan ruangan.
Ibu Lestari melangkah maju, memangkas jarak dengan raut wajah yang mendadak berubah serakah. Matanya menatap buku tabungan di tangan Isma dengan binar kelaparan yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
"Ya sudah! Kalau memang itu uangmu, mana sini!" sergah Ibu Lestari tanpa rasa malu, mengulurkan tangannya yang keriput seraya mencoba merebut buku tabungan itu. "Kamu itu berada di bawah naungan Yoga! Makan di sini, tinggal di sini! Jadi kami juga berhak dong atas uang itu!"
"Betul kata Ibu!" Aini menyambar cepat, matanya berbinar membayangkan nominal miliaran rupiah yang baru saja ia lihat. "Mas Yoga sudah banting tulang kerja keras tiap hari pakai mobil tua, masa Kak Isma simpan uang sebanyak itu sendirian? Harusnya dibagi ke Mas Yoga, buat Ibu, sama buat aku juga! Kita kan keluarga!"
Yoga berdiri mematung di samping mereka, bibirnya terkunci. Pria itu sama sekali tidak melarang ibu atau adiknya yang dengan tidak tahu dirinya meminta bagian. Justru dari tatapan matanya, terlihat jelas kepuasan dan harapan implisit agar Isma menyerahkan aset tersebut untuk menopang gaya hidupnya—dan mungkin untuk memanjakan Gladis.
Isma menarik tangannya perlahan, menjauhkan buku tabungan itu dari jangkauan jemari mertuanya. Ia menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah mereka lihat.
"Berhak?" ulang Isma pelan, mengeja kata itu satu per satu. "Atas dasar apa Ibu dan Aini merasa berhak atas uang hasil keringatku sendiri?"
"Isma! Kamu jangan kurang ajar ya sama orang tua!" bentak Ibu Lestari, mukanya memerah padam karena merasa ditantang. "Semua rezeki istri itu ada karena doa dan naungan suami! Kalau tidak ada Yoga yang kasih kamu tempat berteduh, kamu tidak akan bisa duduk manis nulis-nulis tidak jelas begitu!"
"Mas..." Isma memindahkan pandangannya, menatap Yoga lurus-lurus tanpa berkedip. "Mas Yoga juga berpikir begitu? Mas merasa berhak atas setiap rupiah dari hasil kerja keras jari-jariku?"
Yoga berdeham, mencoba menguasai diri dan menegakkan badannya demi mempertahankan wibawa yang sejatinya sudah hancur.
"Isma, kita ini suami istri," ujar Yoga dengan intonasi sok bijak yang terasa teramat palsu. "Secara hukum dan agama, transparan soal keuangan itu wajib. Uang sebanyak ini harusnya dikelola bersama untuk masa depan rumah tangga kita, bukan kamu sembunyikan seperti ini. Serahkan ke aku, biar aku yang atur alokasinya—termasuk untuk membantu Ibu dan Aini."
Isma menahan tawa sinis yang hampir meledak di dadanya. Mengelola bersama untuk masa depan? Atau untuk membiayai makan siang mewah dan memanjakan Gladis?
Dengan gerakan sangat tenang, Isma memasukkan buku tabungan itu ke dalam tas bahunya, meletakkannya di samping kunci rumah mewahnya yang baru.
"Uang ini adalah hak mutlak milik saya, atas nama saya, dan dari karya saya," tegas Isma dengan mata menyala. "Tidak satu rupiah pun dari uang ini yang berasal dari kantong Mas Yoga. Dan tidak akan ada satu sen pun yang akan saya bagikan kepada siapa pun di rumah ini."