Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Tetangga Baru, Hidup Baru
Pagi pertama di Griya Asri dimulai dengan suara palu.
Meilan membuka mata dan melihat debu halus jatuh dari kusen pintu. Di halaman, seorang pria berkulit sawo matang sedang memaku papan yang semalam hampir lepas. Di sampingnya, seorang perempuan membawa termos dan beberapa pisang rebus.
"Mbak Mei sudah bangun?" perempuan itu tersenyum. "Saya Yuni. Ini suami saya, Darto. Pak Joko bilang ada ibu baru pindah dengan dua anak kecil. Rumah ini lama kosong, jadi pasti banyak rusak."
Darto menoleh dan mengangkat tangan. "Maaf berisik. Pintu depan kalau tidak dibetulkan, nanti gampang didobrak orang."
Kalimat itu membuat Meilan langsung menyukai mereka.
Tidak banyak orang bertanya apakah ia butuh bantuan tanpa mencampuri luka.
"Terima kasih, Pak Darto. Bu Yuni."
"Panggil Bang Darto saja kalau mau," kata Darto sambil tertawa kecil. "Tapi kalau anak-anak panggil Pak juga tidak apa-apa."
Bobo dan Lala muncul dari kamar. Lala masih mengantuk, rambutnya kusut. Begitu melihat orang asing, ia bersembunyi di belakang kaki Meilan. Bobo berdiri di depannya seperti biasa.
Yuni berjongkok, menjaga jarak. "Halo, Lala. Halo, Bobo. Tante bawa pisang rebus. Mau?"
Bobo melihat Meilan dulu. Setelah Meilan mengangguk, ia mengambil dua buah dan memberikan satu kepada Lala.
"Terima kasih," katanya pendek.
Yuni tampak terkejut oleh nada tenang anak itu, tetapi ia tidak berkomentar.
Ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari pagar sebelah, seorang perempuan berkerudung warna ungu menyembulkan kepala. Matanya bergerak dari wajah Meilan ke tubuhnya, lalu ke rumah kecil itu.
"Oh, ini yang baru pindah?" katanya. "Cantik sekali. Janda muda, ya?"
Yuni langsung menegang. Darto berhenti memaku.
Meilan menatap perempuan itu.
"Bu Tuti," bisik Yuni, nada suaranya memperingatkan.
Bu Tuti tidak merasa bersalah. "Saya cuma tanya. Di kompleks begini kita harus tahu siapa tetangga. Apalagi kalau terlalu cantik. Nanti suami orang lewat terus."
Darto menurunkan palu. "Bu Tuti, kalau suami orang matanya liar, yang ditegur suaminya, bukan tetangga baru."
Wajah Bu Tuti berubah masam.
Meilan hampir tertawa.
Ia tidak perlu membalas. Untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini, ada orang lain yang menjawab untuknya.
Bu Tuti mendengus lalu masuk kembali, tetapi jendelanya tetap terbuka. Jelas ia masih mendengarkan.
Hari itu, Darto membantu memperbaiki pintu dan jendela. Yuni menyapu halaman sambil memberi tahu lokasi warung terdekat, tukang sayur, pos satpam, dan masjid. Meilan mencatat semuanya di kepala. Lingkungan ini lebih tertata daripada Gang Pelita, meski tetap sederhana.
Menjelang siang, Dedi datang membawa ember dan sapu dengan wajah ditekuk.
"Disuruh Papa," gumamnya.
Meilan menunjuk halaman. "Cabut rumput liar."
Dedi melotot. "Itu kerjaan perempuan."
Suasana langsung hening.
Darto yang sedang minum hampir tersedak. Yuni menutup mulut. Bu Tuti di balik jendela bahkan berhenti pura-pura mengelap kaca.
Meilan berjalan mendekati Dedi.
"Siapa yang mengajarimu begitu?"
"Semua orang tahu. Perempuan di rumah, laki-laki kerja."
"Benarkah?" Meilan mengambil sapu dari tangannya. "Kalau begitu kemarin kenapa kamu tidak bisa melindungi dirimu dari seorang perempuan?"
Wajah Dedi merah.
"Saya masih kecil."
"Bobo juga masih kecil. Tapi dia berani melindungi adiknya. Ukuran tubuh bukan alasan untuk menjadi pengecut."
Dedi menunduk.
Meilan mengembalikan sapu. "Rumput tidak peduli dicabut laki-laki atau perempuan. Lantai tidak peduli disapu siapa. Kalau kamu ingin dihormati sebagai laki-laki, mulai dari tidak menghina pekerjaan orang."
Darto tertawa pelan. "Dengar itu, Ded. Bagus buat hidupmu."
Dedi mengambil sapu dan mulai bekerja tanpa banyak protes.
Lala memperhatikannya dari teras. Setelah beberapa menit, ia berbisik kepada Bobo, "Dedi jadi baik?"
Bobo menjawab tanpa menoleh, "Belum. Tapi dia takut Mama."
Meilan mendengar dan pura-pura tidak mendengar. Kadang, untuk anak seusia Dedi, rasa takut adalah pintu pertama menuju pelajaran.
Sore hari, rumah itu akhirnya lebih layak. Tidak bagus, tetapi pintu bisa dikunci, jendela bisa dibuka, dan halaman tidak lagi seperti tempat ular bersembunyi.
Malamnya, Meilan tidur dengan rasa lelah yang berat tetapi tenang.
Namun sebelum subuh, ia terbangun karena suara gesekan di dapur.
Matanya langsung terbuka.
Ia bangun tanpa suara, mengambil gagang sapu yang semalam ia sandarkan di dinding, lalu berjalan ke dapur.
Di sana, Bobo berdiri di atas bangku kecil. Lala memegang bungkus mi instan. Air di panci sudah mulai panas.
Jantung Meilan hampir berhenti.
"Bobo."
Bobo menoleh. Lala kaget sampai bungkus mi jatuh.
"Mama bangun," bisik Lala.
Meilan mematikan kompor cepat-cepat. Panasnya uap mengenai tangannya, tetapi ia tidak peduli. Ia menurunkan Bobo dari bangku, lalu menarik Lala menjauh dari panci.
"Kalian sedang apa?"
Bobo menunduk. "Bikin sarapan."
"Untuk Mama," tambah Lala takut-takut. "Mama kemarin capek."
Meilan menatap dua anak itu. Marah, takut, dan terharu bertabrakan sampai ia tidak langsung bisa bicara.
Panci. Api. Air panas. Dua anak tiga tahun.
Bayangan buruk melintas terlalu cepat.
Ia berjongkok, memegang bahu mereka.
"Dengar Mama. Kalian tidak boleh menyalakan kompor. Tidak boleh memegang air panas. Kalau lapar, bangunkan Mama."
Lala mulai menangis. "Lala cuma mau Mama makan enak."
Hati Meilan luluh.
Ia menarik mereka berdua ke pelukan.
"Mama tahu. Mama senang kalian sayang Mama. Tapi kalau kalian terluka, Mama akan lebih sakit."
Bobo diam lama, lalu mengangguk. "Bobo salah."
"Bukan salah. Kalian belum tahu. Sekarang sudah tahu."
Untuk menenangkan mereka, Meilan memutuskan memasak sendiri.
Sepuluh menit kemudian, nasi goreng buatannya tersaji di piring.
Dedi yang datang pagi-pagi untuk menyapu halaman mencicipi satu sendok, lalu wajahnya berubah aneh.
"Enak?" tanya Lala penuh harap.
Dedi menelan dengan susah payah. "Unik."
Darto yang kebetulan lewat tertawa sampai memegang perut. Yuni mencoba mencicipi, lalu cepat-cepat minum air.
Meilan menatap piring itu dengan dingin. "Sepertinya kemampuan memasak tubuh ini tidak ikut naik kelas."
Bobo mengunyah pelan. "Bobo bisa makan."
Lala mengangguk setia. "Lala juga."
Meilan menatap dua anak yang rela membela nasi goreng gosong itu. Ia tertawa untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini.
Tawa itu ringan, tetapi membuat rumah kecil tersebut terasa lebih hangat.
Siang harinya, setelah anak-anak tidur, Meilan membuka dompet.
Uang hampir habis.
Pintu sudah diperbaiki, halaman sudah bersih, tetapi hidup tidak bisa dibangun dari rasa aman saja. Anak-anak perlu makan. Mereka perlu pakaian. Ia perlu uang, dan cepat.
Meilan duduk di lantai, menatap keluar jendela.
Di kejauhan, suara pedagang lewat, aroma gorengan dari warung, motor ojek melintas menuju arah BSD City. Otaknya mulai bekerja seperti dulu, memetakan peluang, jalur, kebutuhan pasar, kelemahan lingkungan.
Ia mengambil kertas bekas bungkus paku yang ditinggalkan Darto dan menulis tiga kolom: makanan, pakaian, jasa. Di bawah makanan ia menulis murah, cepat, bikin ketagihan. Di bawah pakaian ia menulis perempuan ingin cantik meski uang pas-pasan. Di bawah jasa ia menulis keamanan, logistik, informasi.
Tiga kolom itu seperti peta kecil menuju hidup baru.
Ia tidak punya modal besar.
Tetapi ia punya kepala.
Dan itu cukup untuk memulai.