NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 Saksi yang Tidak Boleh Hilang

"Titah dari Puri Raja. Emban Sumini akan dibawa untuk ditanyai langsung oleh Baginda."

Kalimat itu membuat halaman Puri Candra membeku.

Sumini berdiri di belakang Wulan dengan wajah seputih kain. Tangannya masih memegang ujung selendang, tetapi jari-jarinya tampak kehilangan tenaga.

Harsa menutup kotak bukti dengan bunyi pelan.

"Emban Sumini adalah saksi Pengadilan Kerajaan dalam pemeriksaan surat palsu dan perubahan catatan Puri Candra," katanya. "Ia tidak bisa dibawa tanpa berita acara."

Abdi dari Puri Raja menelan ludah. "Hamba hanya membawa titah."

"Titah lisan?"

"Dari Emban Agung Darma atas nama Baginda."

Arjuna menatap abdi itu.

Orang itu langsung berlutut lebih rendah.

"Atas nama Baginda," ulang Arjuna. "Hari ini terlalu banyak hal dilakukan atas nama Baginda."

Tidak ada yang berani menjawab.

Pengurus Puri Raja yang sejak tadi berdiri kaku mulai berkeringat. Jika ia membiarkan Sumini pergi bersama Puri Timur, ia mungkin dianggap melawan raja. Jika ia memaksa mengambil Sumini di depan Pangeran Mahkota dan Pengadilan, ia bisa tercatat sebagai orang yang menghalangi saksi.

Anindya melihat keraguan itu. Ia melangkah ke samping Sumini, menempatkan dirinya di antara perempuan tua itu dan abdi Puri Raja.

"Jika Baginda ingin bertanya," katanya, "Sumini bisa menjawab di hadapan Pengadilan dan saksi keluarga Cendekia. Bukankah perkara ini menyangkut Permaisuri Candra Dewi?"

"Gusti Putri," abdi itu memohon, "hamba..."

Suara tongkat memukul lantai batu.

Semua orang menoleh.

Eyang Maha masuk ke halaman Puri Candra dengan Raden Danarta di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi matanya membuat dua abdi Puri Raja langsung menunduk.

"Siapa yang ingin membawa saksi kematian putriku tanpa memanggil ayahnya?" tanya Eyang Maha.

Abdi itu hampir menjatuhkan papan titah.

Arjuna menatap Eyang Maha. "Eyang."

"Aku menerima kabar kau masuk Puri Candra." Eyang Maha melihat kotak bukti di tangan Harsa, lalu Sumini yang gemetar. "Tampaknya aku datang tidak terlalu lambat."

Harsa segera memberi hormat. "Adipati Cendekia, Sumini telah memberi kesaksian awal dan menunjukkan tempat ditemukannya catatan Permaisuri."

Eyang Maha memejamkan mata sekejap.

Ketika ia membukanya lagi, kelembutan itu hilang.

"Catat," katanya kepada Harsa. "Mulai saat ini, Emban Sumini berada dalam perlindungan keluarga Cendekia dan Pengadilan Kerajaan. Jika Baginda ingin bertanya, aku akan mengantarnya sendiri ke Balai Agung, bukan ke ruang tertutup."

Pengurus Puri Raja tampak ingin membantah, tetapi Danarta maju setengah langkah. Ia tidak bicara. Ia hanya berdiri sebagai putra Cendekia yang kini kembali memiliki rumah dan saksi.

Akhirnya abdi itu menunduk. "Hamba akan menyampaikan."

"Sampaikan dengan lengkap," kata Eyang Maha. "Jangan hilangkan kata Pengadilan."

***

Mereka tidak kembali ke Puri Timur.

Eyang Maha membawa mereka ke Kadipaten Cendekia yang baru sehari dibuka. Debu masih menempel di beberapa sudut. Beberapa tirai belum diganti. Namun di pendopo utama, udara terasa berbeda dari Puri Candra. Ada manusia yang bernapas di sana. Ada teh hangat. Ada penjaga yang memandang Sumini bukan sebagai barang yang harus diseret, melainkan saksi yang harus hidup.

Anindya duduk di dekat tiang dengan Wulan di belakangnya. Ia sudah sangat lelah, tetapi tidak ingin pergi sebelum mendengar apa yang selama ini ditahan Eyang Maha.

Di atas meja rendah, kain bayi dan catatan Candra diletakkan di dalam kotak bukti.

Eyang Maha menatap kotak itu lama.

"Candra selalu menulis jika takut lupa," katanya. "Saat kecil, ia menulis daftar burung yang lewat di halaman. Saat menjadi permaisuri, ia menulis daftar orang yang boleh dipercaya."

Arjuna duduk kaku.

"Apakah ibu pernah mengirim kabar kepada Eyang saat sakit?"

"Tidak pernah sampai." Suara Eyang Maha rendah. "Aku hanya menerima kabar setelah ia dimakamkan."

Anindya menahan napas.

Catatan itu berbunyi kirim kabar kepada Ayah. Kabar itu tidak pernah sampai.

Eyang Maha menyentuh tepi kotak bukti. "Saat Candra mengandung lagi, posisinya berubah. Ia bukan hanya permaisuri yang dicintai rakyat. Ia membawa anak kedua dari darah Cendekia. Jika anak itu lahir, dukungan kepada Puri Candra akan semakin kuat. Bagi raja yang percaya pada kasih, itu berkah. Bagi raja yang takut bayangan orang lain di takhtanya, itu ancaman."

Ia berhenti sebentar, seolah menimbang apakah kenangan itu pantas dikeluarkan di depan cucunya.

"Sebulan sebelum ia sakit, Candra mendampingi Baginda menerima utusan dari wilayah selatan. Utusan itu tidak memuji permata mahkota, tidak memuji pasukan, tidak memuji kebun istana. Ia berterima kasih kepada Permaisuri karena lumbung bantuan yang ia atur menyelamatkan desa mereka dari kelaparan."

Eyang Maha menatap Arjuna.

"Aku melihat wajah Naradewa saat itu. Ia tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. Malamnya, Candra menulis kepadaku bahwa ia ingin mengurangi kegiatannya di depan umum sampai anaknya lahir. Ia berkata, seorang istri harus tahu kapan suaminya merasa kecil di hadapan rakyatnya."

Anindya merasakan dada sesak.

Permaisuri Candra bukan hanya korban yang lemah di kamar sakit. Ia perempuan yang memahami politik, memahami hati orang yang ia nikahi, dan tetap tidak bisa menyelamatkan dirinya dari ketakutan lelaki itu.

Arjuna menunduk pada kain bayi di kotak bukti.

"Ibu tahu Baginda iri padanya."

"Ia tahu," jawab Eyang Maha. "Tetapi ia masih ingin percaya bahwa iri tidak akan berubah menjadi pembunuhan."

Tidak ada yang menyebut nama Naradewa.

Tidak perlu.

Arjuna akhirnya bertanya, "Eyang sudah curiga sejak dulu?"

"Aku curiga sejak pintu Puri Candra ditutup untukku." Eyang Maha menatap cucunya. "Tetapi curiga tanpa saksi hanyalah batu di dada. Aku terlalu lambat menemukan jalan masuk. Ketika aku mencoba menekan, keluargaku dibuang pelan-pelan dari pusat kekuasaan."

Sumini menangis tanpa suara.

"Hamba takut," katanya. "Permaisuri meminta kabar dikirim. Hamba mencoba mencari orang, tetapi semua pintu dijaga. Setelah beliau wafat, hamba hanya menyelamatkan buku."

"Kau menyelamatkan suara orang mati," kata Anindya.

Sumini mengangkat wajah, air matanya makin deras.

Eyang Maha memandang Anindya. Ada penghargaan baru di matanya. "Benar. Dan karena suara itu akhirnya terdengar, orang yang dulu menutup pintu akan bergerak lebih kasar."

Arjuna menoleh kepada Garuda. "Jaga Sumini. Tidak ada makanan, air, atau obat masuk tanpa diperiksa."

"Siap."

Harsa membuka catatan yang dibawanya. "Ada satu hal lagi. Aku meminta orang Pengadilan memeriksa daftar pemindahan tabib Puri Candra."

Arjuna menatapnya. "Tabib yang menolak ramuan?"

"Ya. Catatan resmi menyebut ia dipindahkan ke wilayah timur karena urusan keluarga." Harsa berhenti sejenak. "Tetapi di buku kematian Pengadilan, namanya tercatat dua hari kemudian. Ditemukan di sungai luar Kota Raja."

Sumini menutup mulut.

Anindya merasakan darah di wajahnya surut.

Harsa menutup buku catatan.

"Orang pertama yang menolak ramuan itu tidak pernah sampai ke wilayah timur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!