Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Vonis
"Lo sadar nggak, dari tadi cara jalan lo mirip gue?"
Keira Seng menoleh dengan wajah polos yang terlalu rapi untuk disebut tidak sengaja.
"Serius? Mungkin dunia yang salah. Kenapa harus gue yang dituduh meniru?"
Xavier Sia menatap hoodie hitam-putih yang mereka pakai bersamaan, lalu turun ke sepatu kanvas putih di kaki Keira. Sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Dunia juga tahu selera gue lebih bagus."
"Selera lo bagus karena gue pakai versi yang lebih lucu."
Kalimat itu seharusnya terdengar sombong. Dari mulut Keira, entah kenapa malah seperti permintaan hidup yang dibungkus candaan.
***
Seminggu sebelum percakapan itu pernah terjadi, Keira duduk di depan ruang dosen pembimbing dengan map tipis di pangkuan dan hasil lab yang terasa lebih berat daripada seluruh tugas semester lima.
Kampus Unpar siang itu ramai. Anak-anak DKV membawa tabung gambar, mahasiswa Hukum lewat dengan kemeja rapi, tukang kopi susu di dekat gerbang memanggil pelanggan dengan suara yang sama seperti hari-hari biasa.
Hanya dunia Keira yang sudah berhenti sejak dokter di RS Borromeus menyebut kata itu.
Kanker.
Stadium lanjut.
Ia sempat tertawa waktu mendengarnya. Bukan karena lucu, tapi karena otaknya seperti kehilangan tombol reaksi yang normal.
"Maksud Dokter, lambung saya ini drama queen banget ya? Kalau mau rusak, langsung grand final."
Dokter tidak tertawa. Angela Liem, yang baru tiba dari Jakarta dengan blazer kantor masih melekat di tubuhnya, juga tidak tertawa. Mama Keira hanya menggenggam tas kulitnya begitu kuat sampai buku jarinya memucat.
Keira baru berhenti bercanda saat melihat Angela menoleh ke jendela dan mengusap sudut matanya diam-diam.
Maka hari ini, dengan sisa tenaga yang masih bisa ia pakai untuk terlihat waras, Keira datang meminta cuti akademik.
"Keira, Ibu paham kondisi kamu berat." Bu dosen pembimbing menutup map itu pelan. "Tapi pengajuan cuti harus melalui prosedur. Surat dokter, persetujuan orang tua, administrasi fakultas. Tidak bisa selesai hari ini."
"Kalau saya tidak sempat menyelesaikan prosedurnya, Bu?"
Ruangan itu mendadak terlalu sunyi.
Keira tersenyum duluan, seolah kalimatnya cuma lelucon gagal. "Maksud saya, deadline tugas saya juga banyak. Takut keburu tenggelam."
Ibu dosen menatapnya dengan mata iba yang paling Keira benci. "Kamu pulang dulu. Istirahat. Besok kita bicarakan lagi."
Besok.
Orang sehat memang gampang sekali memakai kata itu.
Keira keluar dari gedung fakultas dengan map menempel di dada. Napasnya pendek. Perutnya terasa seperti diremas pelan dari dalam, bukan cukup sakit untuk membuatnya jatuh, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa tubuhnya sudah menjadi rumah kontrakan yang mau roboh.
Ponselnya bergetar. Nama Angela muncul di layar.
"Keira, kamu sudah dari kampus?"
"Sudah, Ma. Dosenku belum bisa proses hari ini."
Di seberang sana ada jeda. Suara mesin mobil dan klakson Jakarta terdengar samar.
"Mama bisa ke Bandung malam ini."
"Nggak usah. Aku cuma mau tidur."
"Kamu makan dulu."
Keira melihat gerobak siomay di pinggir jalan. Aroma bumbu kacang biasanya membuatnya lapar. Hari ini, lambungnya langsung protes.
"Iya. Nanti aku makan."
"Jangan bohong."
Keira tertawa kecil. "Ma, kalau aku bohong soal makan, paling dosanya masuk kategori ringan."
"Keira."
Suara Angela pecah sedikit. Keira langsung menyesal. Ia menggigit bibir, menahan kalimat bercanda berikutnya.
"Aku pulang dulu, Ma. Nanti aku kabari."
Ia memutus panggilan sebelum suasana berubah menjadi terlalu basah untuk ditanggung di tengah kampus.
Jalan menuju gerbang memaksanya melewati area Fakultas Hukum. Sore mulai turun. Lampu taman belum menyala, tapi bayangan pohon sudah memanjang di paving block. Keira berjalan pelan, satu tangan menekan perut, satu tangan memegang map.
Di dekat tangga gedung Hukum, kerumunan kecil membuat langkahnya melambat.
Seorang cewek berdiri dengan wajah merah, memegang paper bag kecil. Di depannya, seorang cowok tinggi memakai hoodie hitam-putih yang desainnya mirip dengan hoodie Keira, hanya ukurannya jelas lebih mahal dan jatuh di bahunya dengan cara yang menyebalkan.
Cowok itu terlalu mencolok untuk diabaikan. Wajahnya rapi seperti poster penerimaan mahasiswa baru yang sengaja dibuat tidak realistis. Rambutnya agak berantakan, tapi malah terlihat seperti sengaja. Di bawah sudut bibirnya ada tahi lalat kecil.
"Xavier, aku cuma mau bilang..." suara cewek itu bergetar. "Aku suka kamu."
Beberapa orang langsung menahan napas. Keira, yang seharusnya pulang, ikut berhenti karena manusia tetap manusia. Bahkan pasien kanker pun masih punya rasa ingin tahu.
Cowok bernama Xavier itu menatap paper bag, lalu wajah cewek itu.
"Kebetulan."
Cewek itu membeku.
Xavier memasukkan satu tangan ke saku hoodie. "Aku juga suka diriku sendiri."
Satu detik hening.
Lalu ada yang tersedak tawa.
Keira hampir ikut tertawa, tapi perutnya sakit. Ia menutup mulut, bahunya bergetar. Gila. Cowok ini bukan cuma menolak. Ia menolak dengan tingkat percaya diri yang harusnya dikenai pajak.
Mungkin karena gerakannya terlalu jelas, Xavier menoleh.
Tatapan mereka bertemu di bawah langit Bandung yang mulai memerah.
Keira lupa menunduk. Xavier juga tidak langsung mengalihkan mata. Untuk beberapa detik yang aneh, suara kampus seperti mengecil. Keira menyadari warna hoodie mereka sama. Hitam di bagian badan, putih di lengan, bahkan tali serutnya sama-sama putih.
Seorang mahasiswa di belakang Xavier bersiul pelan.
"Wih, couple hoodie?"
Keira tersadar lebih dulu. "Bukan!"
Xavier menurunkan pandangan ke hoodie Keira, lalu kembali ke wajahnya. Alisnya terangkat sedikit, seperti baru menemukan soal ujian yang salah cetak.
"Pacarnya Xavier?" bisik seseorang.
"Gila, pantes nolak."
Darah naik ke wajah Keira. Kalau tubuhnya tidak sedang setengah rusak, mungkin ia sudah punya tenaga untuk menjelaskan panjang. Sayangnya, hari ini ia hanya punya satu prioritas: tidak muntah di depan Fakultas Hukum.
"Salah orang," katanya cepat.
Ia memutar badan dan berjalan pergi dengan langkah yang ia paksa stabil. Dari belakang, ia masih bisa merasakan tatapan Xavier menempel di punggungnya.
Baru setelah melewati gerbang, lutut Keira melemas. Ia berhenti di dekat tiang lampu, menarik napas dalam-dalam. Di kaca spion mobil yang parkir, wajahnya terlihat pucat. Terlalu pucat untuk hoodie yang seharusnya lucu.
"Tuhan," gumamnya pelan, "kalau memang mau kirim keajaiban, jangan yang ribet ya. Kirim saja CEO ganteng yang mau donasi nyawa. Atau minimal voucher makan."
Tidak ada petir. Tidak ada malaikat. Hanya notifikasi ojek online dari HP-nya sendiri.
Keira pulang ke The Springs Residence dengan kepala bersandar di jendela mobil. Bandung bergerak di luar kaca, warung, lampu merah, motor, mahasiswa yang tertawa di trotoar. Semuanya berjalan seperti biasa, seolah hidup orang lain tidak sedang selesai pelan-pelan.
Apartemen lantai 16 terasa sepi saat ia masuk. Angela belum datang. Sepatu kerja Mama tidak ada di rak. Di meja makan, ada kotak barang pindahan yang belum sempat ia bereskan sejak awal semester. Keira menaruh map di atasnya, lalu melihat sesuatu menyembul di antara kabel charger lama.
Sebuah HP Nokia tua.
Ia mengerutkan kening. Benda itu ia temukan dua hari lalu di kotak gudang, lalu ia buang ke tempat sampah dekat lift karena tidak bisa menyala. Kenapa sekarang ada di meja makan?
"Oke. Entah gue yang pikun, atau apartemen ini butuh disinfektan spiritual."
Keira mengambil HP itu. Bodinya kusam, layarnya kecil, tombolnya keras. Benda mati.
Sampai tiba-tiba layar hijaunya menyala.
Tangannya nyaris melempar HP itu.
Getaran kasar memenuhi telapak tangannya. Satu pesan masuk, huruf-huruf pixel muncul pelan seperti film horor murah.
`Sistem Imitasi aktif.`
Keira tidak bernapas.
Pesan kedua muncul.
`Host terdeteksi: Keira Seng.`
Pesan ketiga membuat darahnya terasa berhenti.
`Misi utama: tiru target untuk memperoleh Poin Kehidupan.`
Keira menatap layar itu, lalu menatap map hasil lab di meja. Dadanya naik turun. Kalau ini prank, orang yang membuatnya sangat niat dan sangat kurang ajar. Kalau ini bukan prank...
HP itu bergetar lagi.
`Replika Target: Xavier Sia.`
Di bawah tulisan itu, muncul foto cowok Fakultas Hukum yang tadi menolak cinta dengan kalimat paling menyebalkan sedunia.
Keira memegang meja agar tidak jatuh.
"Serius?" bisiknya. "CEO donasi nyawa nggak datang, gantinya sistem nyuruh gue cosplay cowok narsis?"