NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~07

Saat Zia mulai bisa tenang setelah drama mendebarkan di ruang tamu tadi.

Sementara itu, Zizan hanya terdiam di pojok jendela. Matanya menatap langit yang hampir gelap, persis seperti model iklan obat sakit kepala. Lamunannya buyar saat Dafa menepuk keras pundak Zizan.

"Dor!!" seru Dafa usil.

Pundak Zizan terdorong ke depan, hampir saja wajahnya melewati batas jendela dan mencium tanah di bawah.

"Kebiasaan deh! Suka banget bikin orang jantungan," ketus Zizan sambil menepis tangan Dafa yang masih menempel di pundaknya.

Dafa malah tertawa lepas tanpa dosa. "Apa yang sedang Anda pikirkan, wahai anak muda?" tanya Dafa, tiba-tiba berlagak seperti penyihir tua dalam dongeng. Tangan kanannya memegangi perut yang sedikit maju, tangan kirinya melingkar di pinggang belakang, lalu membungkuk khidmat seolah sedang menyambut seorang raja.

"Lebay! Aku lagi pusing nih," jawab Zizan, kembali melempar pandangan frustrasi ke luar jendela.

"Pusing kenapa? Belum bayar SPP atau mikirin hilal jodoh?" tanya Dafa penasaran.

Huft! Zizan mendengus kesal.

"Jadi..."

Zizan pun menceritakan semua kejadian menegangkan di ruang tamu beberapa menit lalu.

"MasyaAllah, keren bro!" Dafa kembali menepuk pundak Zizan, kali ini dengan rasa bangga yang meledak-ledak kepada sahabatnya.

"Masalahnya tuh, saingannya berat-berat," keluh Zizan lemas, menyandarkan kembali tubuhnya ke jendela.

Dafa menatap Zizan dari atas ke bawah. "Emang kamu udah pernah angkat mereka? Tahu dari mana mereka berat? Berapa kilo emang, Zan? Lebih berat dari beras bansos?" canda Dafa mencoba memecah ketegangan.

"Aku serius, Dafa! Jangan bercanda dulu napa," ketus Zizan kesal. Tanpa aba-aba, ia melayangkan pecinya ke tubuh sahabatnya itu.

Plak!!

"Eh, sakit tau! Lagian wajahmu tegang banget kayak tali jemuran. Rileks, bro, rileks," ujar Dafa sambil mengusap lengan yang terkena sabetan peci maut.

"Gimana kalau aku kalah coba? Malu aku sama Abah. Bawa nama besar pesantren ini berat, tahu!"

"Jangan pernah bilang tidak bisa sebelum mencoba. Kamu dipilih karena Abah percaya kamu mampu. Jangan mundur sebelum perang, bro!" Dafa menggoyang-goyangkan tubuh Zizan dengan kencang lalu merangkulnya erat.

Huft. Zizan menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. "Doain aja semoga bisa menang. Amin. Mudahkan urusan hamba, ya Allah," bisiknya sambil menangkupkan kedua tangan, memanjatkan doa tulus.

"Amin ya Allah! Semangat!" timpal Dafa, jauh lebih heboh dari Zizan.

***

Hari semakin malam. Suasana di kamar Zia sudah sangat sunyi. Hampir semua santriwati sudah tidur akibat kelelahan. Namun, Zia masih sibuk. Ia tengah memilah-milah kitab yang ingin dipelajarinya. Menatap tumpukan kitab tebal sudah menjadi makanan sehari-harinya setiap malam, jadi mentalnya sudah terlatih saat mendadak diminta belajar untuk lomba.

Setelah semua kitab yang ia butuhkan berada di pelukan, tak lupa buku diary kesayangannya yang selalu setia menemaninya.

Ia melangkah pergi. Dengan melangkah pelan seperti agen rahasia, ia menutup pintu kamar agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia tidak ingin merusak mimpi indah teman-temannya. Namun, langkahnya mendadak kaku saat mendengar suara bisikan dari arah samping. Sindi baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak masuk kamar.

"Eh, Mbak. Mau ke mana malam-malam bawa kitab segunung?" tanya Sindi setengah berbisik, dengan matanya yang sangat menahan kantuk.

"Biasa, mau uzlah (menyendiri) " jawab Zia tak kalah lirih, memberi kode dengan telunjuk di depan bibir.

Sindi mengangguk paham. "Oke, jangan pulang kemalaman. Nanti dikira ronda."

"Siap, Sin!" Keduanya berpisah. Sindi masuk ke kamar, sementara Zia berjalan mencari tempat paling sepi untuk belajar dan sekedar menumpahkan isi di kepalanya.

Setelah mencari beberapa tempat, ia akhirnya memilih koridor lantai atas. Tempat itu sangat nyaman, aman, dan damai karena sepi. Udara malam yang sejuk langsung mengenai wajahnya, membuat pikirannya kembali segar saat menatap langit yang bertabur bintang.

Selang beberapa puluh menit, Zia fokus pada kitab-kitab yang ia bawa. Setelah menyelesaikan target belajarnya, ia menutup kitab tersebut dengan hati yang tenang.

"Alhamdulillah, ya Allah. Semoga Engkau lancarkan acara yang akan saya hadapi nanti. Amin," doa Zia sambil mengangkat kedua tangannya, menatap langit malam dengan mata yang teduh dan hati yang tenang.

Malam semakin dingin, namun Zia belum juga mengantuk. Ia pun mengeluarkan "senjata" yang selalu setia menemani sepinya. Sebuah pena hitam dengan buku diary biru yang siap menerima keluh kesah Zia.

Ia pun mulai menulis, sambil matanya sesekali memandangi langit, lalu kembali menulis.

Dear Diary...Malam memeluk bumi dalam keheningan yang amat dalam. Dinginnya begitu syahdu, perlahan membawa angin malam. Wahai angin, sampaikanlah bisikan rindu yang tak pernah sampai ini kepada sosok yang teramat aku cintai di ujung sana...

Terima kasih karena selalu ada dalam setiap bait doaku. Terima kasih atas keteguhan rasa yang tak pernah padam oleh waktu. Terima kasih pula telah menjaga kesucian rasa yang sama-sama kita rawat dalam diam.

Aku tahu, di luar sana banyak sekali paras wanita yang jauh lebih menawan. Namun, hatiku selalu bersyukur, karena pada akhirnya, akulah yang engkau pilih. Dan untuk kesekian kalinya aku ucapkan terima kasih.

Untukmu, lelaki yang sangat aku cintai, Mas Charis.

Zia menghentikan penanya sejenak. Ia menatap langit, lalu tertawa sendirian di tengah koridor yang sepi. Menatap nama Charis yang tertulis jelas di bukunya lalu, pikirannya mendadak bernostalgia pada kejadian martabak tadi sore.

Zia tahu, itu pasti cara jail Mas Charis untuk mengujinya. Ditambah dengan ekspresi Salsa saat mengantarkannya yang polos tanpa dosa, membuat martabak salah rasa itu menjadi hal paling manis yang selalu sukses membuat Zia senyum-senyum sendiri.

Cinta mereka memang unik, di saat orang lain pamer cokelat, Mas Charis justru pamer keju pembawa cobaan. Namun, perhatian yang dibalut keusilan itulah yang selalu berhasil membuat hati Zia menghangat.

Beberapa saat lamanya Zia melamun, hingga akhirnya ia tersadar. Ia menepuk kedua pipinya yang mendadak terasa panas. Keheningan malam yang tadinya syahdu akhirnya bubar jalan, akibat fikirannya malah sibuk memutar ulang memori tentang martabak keju penuh cobaan dari Mas Charis tadi.

Zia mengembuskan napas perlahan. Ia merapikan jilbabnya yang agak mencong diterpa angin malam, lalu mulai membereskan kitab-kitab tebal di sampingnya.

Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka yang terlalu malam untuk ukuran seorang santriwati yang besok subuh harus beraktivitas lagi.

Baru saja ia hendak bangkit berdiri sambil memeluk tumpukan kitab dan buku diary kesayangannya. Sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari balik pilar koridor bawah.

Sret... Sret...Suara langkah kaki yang diseret pelan terdengar mendekat. Suasana koridor yang semula damai mendadak berubah mengerikan seperti film-film horor.

Bulu kuduk Zia langsung berdiri tegak. Ia menelan ludah berulang kali, mencoba mengingat-ingat doa pengusir setan yang pernah diajarkan Abah di kelas, tapi otaknya mendadak berputar sangat lama.

"Y-ya Allah... jangan sekarang. Saya belum khatam hafalan kitabnya. Kalau mati sekarang, nanti di akhirat ditanya apa?" bisik Zia ketakutan. Matanya terpejam rapat sambil memeluk erat kitab-kitabnya sebagai tameng darurat.

"Woi, ngapain merem di situ? Lagi latihan jadi patung selamat datang, ya?"

Zia membuka matanya perlahan. Suara berat dan familiar itu jelas bukan berasal dari makhluk halus, melainkan dari tiga orang cowok dengan peci miring ke kanan dan sarung yang diikat asal-asalan di pinggang lebih mirip boyband kuno daripada hantu.

Ternyata mereka bertiga Zizan, Ares, dan Dafa. Berdiri di bawah koridor, Ares dan Dafa langsung saling pandang. Otak jahil mereka mendadak sinkron untuk mengerjai Zia yang berada di koridor atas. Kedua cowok itu memegang sebuah senter kecil, lalu mengarahkan sinarnya tepat ke wajah sendiri dari bawah dagu. Alhasil, tampang mereka jauh lebih menakutkan dan absurd daripada hantu yang asli.

Sementara itu, Zizan hanya tersenyum geli. Seperti biasa, ia tetap berusaha menjaga image sebagai cowok sedingin es batu di dalam kulkas dua pintu.

"Astagfirullah, Ares, Dafa! Matikan senter kepalanya! Bikin copot jantung orang saja!" omel Zia setengah berbisik. Ia panik setengah mati takut suaranya mengundang perhatian orang sepondok.

Dafa dan Ares terkekeh pelan lalu mematikan senter. "Lagian kamu ngapain di situ jam segini? Bukannya tidur malah mojok. Mana meluk kitab udah kayak meluk guling gitu lagi.

"Tanpa membalas sepatah kata pun, Zia langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan duo gesrek yang masih asyik menggoda dirinya.

Sementara itu, Zizan yang sedari tadi diam tiba-tiba terdiam memikirkan tumpukan kitab yang dibawa Zia. "Oh... serajin ini ternyata anak ini. Tidak salah Abah memilihnya," batin Zizan bangga. Ia tersenyum-senyum sendiri, sebelum akhirnya sadar bahwa ekspresi langkanya itu telah tertangkap basah oleh kedua sahabatnya.

Ares menyenggol siku Dafa, merasa heran melihat ekspresi Zizan yang mendadak berubah tersenyum manis dengan tatapan kosong, pemandangan yang lebih langka daripada gerhana matahari.

Keduanya saling tatap, lalu senyum jahil langsung terbit di wajah mereka.

"Woi, Zan! Mikirin apa kamu? Oh, pasti cewek yang di atas tadi ya? Cieee..." goda Ares sengit.

"Iya, nih. Kayaknya ada yang udah bisa mencairkan es batu yang udah kedaluwarsa di dalam kulkas ini," timpal Dafa memanasi.

Namun, sedetik kemudian Dafa langsung menepuk pundak Zizan, mencoba membawa sahabatnya kembali ke kenyataan. "Sadar, Bro. Dia calonnya Mas Charis."

"Iya, Zan. Nanti kamu kena omel yang lebih dahsyat daripada masalah kitab kemarin," sahut Ares.

Dengan bakat aktingnya yang serbabisa, Ares langsung memperagakan nada bicara Mas Charis yang sok dingin dan tegas. "Zizan, mengapa kamu merebut calon istri saya? Apakah kamu sudah merasa lebih tampan dan lebih pintar dari saya? Berani sekali kamu, awas saja tunggu pembalasan saya! Hahaha!"

Dafa dan Ares langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar parodi aneh tersebut.

Sementara Zizan hanya bisa meringis pasrah. "Apa sih? Udah ah, aneh banget. Enggak mungkinlah aku suka sama Zia. Udah, ayo lanjut ronda sebelum kita yang diusir dari pondok!" ajak Zizan, buru-buru mengalihkan pembicaraan demi menyelamatkan harga dirinya yang mulai retak.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!