NovelToon NovelToon
Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Wanita perkasa / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Lim Mei Li bukan wanita biasa.

Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.

Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.

Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.

Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.

Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.

"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."

Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.

Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.

🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Kevin Tan tidak menunggu sampai semua pintu tertutup.

Ia tahu kapan harus lari.

Malam itu, setelah bank meminta klarifikasi dan dua pejabat izin mendadak menjauh, Kevin masuk ke kamar Rachel tanpa mengetuk. Ibunya sedang duduk di depan meja rias, menghapus lipstik dengan gerakan pelan yang terlalu tenang.

"Aku harus keluar dari Jakarta," katanya.

Rachel tidak tampak terkejut. "Akhirnya otakmu bekerja."

"Mama sudah tahu?"

"Aku tahu sejak kamu membanting ponsel."

Kevin menggertakkan gigi. "Lim Mei Li punya semua jalur uangku."

"Bukan semua. Belum."

Rachel membuka laci bawah meja rias. Dari sana ia mengeluarkan paspor, satu ponsel baru, dan amplop cokelat tebal.

Kevin menatapnya. "Mama sudah menyiapkan ini?"

"Aku menyiapkan banyak hal sejak perempuan itu kembali."

"Ke mana?"

"Medan dulu. Dari sana, orang kita bisa bawa kamu ke Penang."

Kevin mengerutkan kening. "Penang?"

"Jalur lama. Keluarga Tan masih punya kenalan bisnis di sana."

Ia tidak tahu bahwa jalur lama itu sudah lama tidak sesederhana yang ia kira. Dunia orang-orang kaya Asia Tenggara punya banyak pintu, dan beberapa pintu kelihatan milik keluarga Tan hanya karena belum ada yang memberi tahu siapa pemilik kunci sebenarnya.

Kevin mengambil paspor. "Tan Bao Shan tahu?"

"Kalau dia tahu, dia akan menahanmu untuk membuktikan keluarga ini masih punya wibawa."

"Jadi Mama membantuku?"

Rachel menatapnya lewat cermin. "Aku menyelamatkan satu-satunya anakku yang masih bernapas."

Kalimat itu membuat Kevin diam.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia melihat sesuatu yang mirip rasa takut di wajah ibunya. Bukan takut pada Mei Li saja, tetapi takut pada rumah ini, pada kutukan yang bergerak dari satu anak Tan ke anak Tan berikutnya.

"Aku akan kembali," kata Kevin.

"Jangan kembali sebelum aku memanggilmu."

"Kalau Lim Mei Li mengejarku?"

Rachel berdiri, menyentuh wajahnya sebentar. Sentuhan itu dingin.

"Jangan berhenti."

Kevin baru keluar lima menit ketika Tan Bao Shan memanggil Rachel ke ruang kerja.

Lelaki tua itu duduk di balik meja besar, wajahnya seperti batu yang retak.

"Kevin pergi?"

Rachel tidak menunduk. "Untuk sementara."

"Kamu mengirim cucuku lari?"

"Aku mengirim anakku hidup."

Tongkat Tan Bao Shan menghantam lantai. "Hidup sebagai buronan kecil?"

"Lebih baik daripada mati sebagai bukti ketiga di tangan Lim Mei Li."

Tan Bao Shan terdiam. Kemarahan di wajahnya tidak hilang, tetapi untuk sesaat ia tidak punya jawaban. Jasmine. Stella. Dua nama itu masih terlalu baru untuk dijadikan bantahan.

"Kalau dia tertangkap di luar," katanya pelan, "keluarga ini akan terlihat makin lemah."

Rachel menatapnya dingin. "Keluarga ini sudah lemah sejak menutup pintu untuk anak tujuh tahun itu."

***

Haji Mansur mendapat kabar lebih cepat daripada petugas imigrasi.

Salah satu anak buahnya melihat mobil Kevin keluar dari Tan Residence menuju bandara kecil. Orang lain melihat nama palsu muncul di daftar penumpang charter ke Medan. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, informasi itu sampai ke Ricky, lalu ke Amy.

Saat pesan masuk, Mei Li sedang berada di ruang kerja, meninjau pembelian piutang supplier yang membuat Tan Group semakin sulit bergerak.

Amy membaca laporan. "Kevin menggunakan paspor asli, tapi tiket atas nama staf perusahaan. Tujuan awal Medan. Kemungkinan lanjut ke Penang."

Bella menyipit. "Mau saya kejar?"

"Tidak."

Ricky yang ikut rapat jarak jauh dari Koh Tower langsung protes, "Jie, dia baru saja mau menculik aku."

"Aku tahu."

"Dan kita biarkan dia liburan?"

"Penang bukan liburan untuk dia."

Amy berhenti menulis.

Ia mengerti lebih dulu.

Penang berarti Istana Bulan. Penang berarti Aliansi Dua Belas. Penang berarti wilayah yang belum saatnya dibuka ke publik Jakarta, tetapi sudah lama berada di bawah bayangan Mei Li.

Bella menatap Mei Li. "Boss ingin dia masuk sendiri?"

"Kevin berpikir dia keluar dari perangkap." Mei Li menandai satu dokumen, lalu menutup map. "Biarkan dia bernapas sebentar. Orang yang merasa selamat biasanya bicara lebih banyak."

Ricky masih tidak puas. "Aku ingin lihat wajahnya waktu tahu dia lari ke halaman rumahmu."

"Nanti."

"Janji?"

Mei Li menatap layar video Ricky.

Ricky langsung duduk tegak. "Baik. Saya akan sabar."

Amy menyembunyikan senyum.

Ponsel Mei Li bergetar. Pesan dari Arka.

Saya dengar Tan Group membatalkan rapat izin. Semoga malam Anda lebih tenang.

Mei Li membaca pesan itu sekali, lalu membalik ponsel tanpa membalas. Namun ia juga tidak menghapusnya.

Bella melihat, tetapi memilih hidup lebih panjang dengan tidak berkomentar.

***

Di bandara kecil, Kevin masuk ke pesawat charter dengan topi rendah dan masker. Ia membawa satu koper kecil, ponsel baru, dan rasa malu yang berubah menjadi marah.

Saat pesawat lepas landas, Jakarta mengecil di bawah awan.

Kevin menatap kota itu dari jendela.

"Tunggu saja," gumamnya. "Aku akan kembali."

Di ponsel barunya, pesan dari nomor tidak dikenal masuk lagi.

Penang aman untuk sementara.

Kevin tersenyum lega.

Ia tidak tahu, di ruang kerja Menteng Regency, Amy juga menerima tangkapan layar pesan yang sama dari Sean.

"Nomor anonim itu ikut mendorongnya ke Penang," kata Amy.

Mei Li menatap peta Asia Tenggara di layar.

Ada titik kecil bergerak keluar dari Jakarta.

"Bagus."

Bella menatapnya. "Nona?"

Mei Li menyentuh titik itu dengan ujung jari.

"Dia tidak akan lari terlalu jauh."

1
Hagia Sophia
sukaa bgt sama ceritanya.. semangat kak... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!