Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Tanggal Lima Belas
Pagi tanggal lima belas datang terlalu sunyi.
Keira menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata. Biasanya, Sayap Giok punya suara kecilnya sendiri. Langkah Ningsih di koridor, suara teko diletakkan di nampan, beberapa pelayan berbicara pelan tentang menu sarapan, atau burung-burung yang ribut di halaman belakang.
Hari itu, semuanya seperti dibungkus kain tebal.
Ketika Ningsih masuk membawa bubur ayam dan obat luka, wajahnya lebih pucat daripada bubur di mangkuk.
"Mbak Keira," katanya dengan hati-hati, "hari ini sebaiknya Mbak jangan keluar dari Sayap Giok."
Keira yang sedang mengangkat tangan terbalut perban langsung berhenti.
"Siapa yang bilang?"
"Pak Ji."
Benar saja.
Kalau sesuatu di compound terasa aneh, jawabannya hampir selalu Pak Ji.
Keira mengambil sendok, mengaduk bubur tanpa niat makan. "Alasannya?"
Ningsih menunduk. "Pak Ji hanya bilang hari ini compound sedang... sibuk."
"Sibuk sampai aku tidak boleh keluar?"
"Bukan tidak boleh." Ningsih menggigit bibir. "Lebih baik jangan, Mbak."
Keira menatapnya.
Ningsih jelas tahu sesuatu, atau setidaknya tahu bahwa ia tidak boleh tahu. Bahunya tegang, matanya berkali-kali melirik ke pintu, seperti takut dinding Sayap Giok punya telinga.
Keira tiba-tiba teringat pada percakapan pelayan yang pernah ia dengar.
Setiap tanggal lima belas, Pak Darren menghilang.
Tidak menerima tamu.
Tidak keluar kamar.
Kadang seluruh compound ikut menjadi sunyi.
Saat itu ia hanya menyimpan informasi itu di sudut kepala, bersama banyak hal aneh tentang keluarga Hendrawan yang belum mampu ia pahami. Tetapi kemarin, di mobil, wajah Darren sangat pucat. Bibirnya hampir tidak berwarna, sementara tangannya tetap stabil membalut lukanya.
Orang yang bisa menghancurkan Diana dengan satu kalimat itu tampak seperti sedang ditarik hidup-hidup dari dalam tubuhnya sendiri.
Keira menelan bubur satu suap.
Rasanya hambar.
"Baik," katanya.
Ningsih mengangkat wajah, jelas lega. "Mbak benar-benar akan istirahat?"
"Iya."
Keira tersenyum manis.
Terlalu manis.
Ningsih yang sudah mulai mengenalnya langsung terlihat tidak tenang lagi.
Sepanjang pagi, Keira benar-benar tidak keluar dari Sayap Giok.
Setidaknya secara resmi.
Ia duduk dekat jendela dengan buku terbuka di pangkuan, tetapi matanya lebih sering memantau halaman utama. Dua penjaga lewat setiap lima belas menit. Biasanya hanya satu. Mobil hitam tanpa logo keluar masuk dari gerbang samping, bukan gerbang utama. Seorang staf rumah tangga yang membawa nampan obat hampir menjatuhkan isinya ketika Keira menyapa dari teras.
Compound besar itu bergerak seperti orang yang menahan napas.
Menjelang siang, Pak Ji muncul di halaman depan Sayap Giok.
Ia tidak masuk.
Ia hanya berbicara sebentar dengan kepala keamanan, lalu menoleh ke arah jendela tempat Keira berdiri. Dari jarak itu, Keira tidak bisa membaca matanya. Tetapi ia bisa membaca sikapnya.
Pak Ji sedang memastikan ia tetap di dalam.
Keira mengangkat tangan yang diperban dan melambai kecil.
Pak Ji membungkuk sopan.
Lalu pergi.
"Mereka benar-benar mengira aku kucing rumahan," gumam Keira.
Sore hari, langit Jakarta mulai berubah abu-abu. Hujan belum turun, tetapi udara sudah lembap dan berat. Luka di telapak tangan Keira berdenyut pelan. Lututnya yang memar juga protes setiap kali ia berjalan terlalu cepat.
Itu tidak cukup untuk menghentikannya.
Sekitar pukul lima, mobil abu-abu memasuki gerbang samping. Seorang pria berusia lima puluhan turun dengan jas dokter sederhana dan rambut yang mulai memutih. Ia membawa kotak logam berukuran sedang. Pak Ji menjemputnya sendiri di depan main house.
Keira langsung berdiri.
Dokter.
Kotak logam.
Tanggal lima belas.
Semua potongan itu tidak membentuk gambar yang menyenangkan.
"Mbak mau ke mana?" Ningsih yang sedang merapikan selimut langsung panik.
"Toilet."
"Toilet di sana, Mbak."
"Aku mau yang dekat dapur. Lebih luas."
"Mbak."
Keira berhenti di ambang pintu, lalu menoleh dengan wajah paling tulus yang ia punya. "Ning, kalau aku benar-benar hanya duduk di sini dan besok sesuatu terjadi, kamu mau bertanggung jawab atas rasa penasaranku yang mati penasaran?"
Ningsih tampak ingin menangis. "Rasa penasaran tidak bisa mati, Mbak."
"Bisa. Namanya jadi bodoh."
Sebelum Ningsih menemukan jawaban, Keira sudah keluar lewat pintu samping.
Ia tidak berlari.
Berlari membuat orang curiga. Maka ia berjalan seperti penghuni rumah yang hanya mencari udara segar, menunduk ketika melewati petugas kebun, lalu berbelok melewati koridor samping yang menuju area belakang main house.
Compound itu luas, tetapi setelah hampir sebulan tinggal di sana, Keira mulai hafal jalur-jalur yang jarang dipakai. Tangga servis dekat dapur. Lorong belakang ruang cuci. Pintu kayu kecil yang selalu terkunci, kecuali ketika staf senior lewat membawa dokumen atau barang medis.
Hari itu pintu kayu kecil terbuka sedikit.
Keira menahan napas.
Dari balik dinding, ia melihat Pak Ji berjalan menuruni tangga sempit bersama dokter tadi. Kotak logam di tangan dokter memantulkan cahaya lampu. Tidak ada pelayan yang mengikuti mereka.
Keira menunggu sampai suara langkah mereka meredup, lalu menyusul.
Tangga itu turun lebih dalam dari yang ia kira. Udara menjadi dingin dan berbau antiseptik, bercampur logam lembap. Dindingnya polos, tanpa lukisan keluarga, tanpa karpet mahal, tanpa lampu hias. Seolah bagian rumah ini sengaja dibuat tidak punya wajah.
Setiap langkah membuat lutut Keira nyeri.
Setiap nyeri justru membuatnya semakin sadar.
Ia tidak sedang mengejar gosip.
Ia sedang mencari jawaban tentang pria yang kemarin memegang tangannya seolah luka kecil itu adalah kesalahan dunia.
Di ujung tangga, ada lorong bawah tanah.
Hanya satu pintu di ujung lorong yang mengeluarkan cahaya putih tipis dari celah bawahnya. Di balik pintu itu terdengar suara Pak Ji, rendah dan tegang.
"Dokter Xiao, waktunya lebih cepat dari bulan lalu."
Suara pria lain menjawab, tenang tetapi berat. "Saya tahu. Siapkan penahan tambahan. Jangan sampai tangannya lepas."
Penahan?
Tangan siapa?
Keira mendekat dengan punggung menempel pada dinding. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut orang di dalam bisa mendengarnya. Dari dalam terdengar bunyi logam bergeser di lantai, lalu suara kulit ditarik dan dikencangkan.
Kemudian suara Darren.
Hampir tidak mirip suara Darren.
Satu tarikan napas rendah, kasar, seperti seseorang yang menelan pecahan kaca.
Keira membeku.
"Pak Darren," bisik Pak Ji. Kali ini suara tua itu terdengar retak. "Tahan sebentar lagi."
Tidak ada jawaban.
Hanya bunyi logam bergetar.
Keira menelan rasa takut yang naik sampai tenggorokan. Ia berlutut perlahan, mengabaikan lutut memarnya yang menjerit, lalu mendekatkan mata ke celah pintu.
Ruangan itu terang.
Terlalu terang.
Di tengah ruangan ada sebuah kursi logam yang terpasang kuat ke lantai. Darren duduk di atasnya. Pergelangan tangannya diikat dengan sabuk kulit tebal pada kedua sandaran. Dadanya naik turun tidak teratur. Kemeja putihnya basah oleh keringat, menempel pada tubuhnya. Wajahnya sepucat kertas.
Pak Ji berdiri di sisi kanan kursi, satu tangan mencengkeram sandaran seolah sedang menahan dunia agar tidak runtuh.
Di sisi kiri, Dokter Xiao menyiapkan suntikan dari kotak logam.
Keira menutup mulutnya dengan tangan yang tidak terluka.
Darren tiba-tiba membungkuk.
Darah keluar dari sudut bibirnya, tipis tetapi jelas, jatuh ke kemeja putih.
Keira merasa seluruh tubuhnya berubah dingin.
Dokter Xiao bergerak cepat. Jarum suntik masuk ke lengan Darren. Cairan bening didorong perlahan, tetapi tubuh Darren justru menegang. Sabuk kulit berderit. Otot di lehernya menonjol, napasnya berubah menjadi geraman pendek yang tertahan.
"Dosis pertama tidak cukup," kata Dokter Xiao tajam.
"Tambahkan," kata Pak Ji.
"Kalau terlalu banyak, jantungnya bisa turun."
"Kalau terlalu sedikit, dia akan lepas."
Kalimat itu membuat Keira hampir jatuh terduduk.
Darren akan lepas dari apa?
Di dalam ruangan, Darren tiba-tiba mengangkat kepala.
Keira melihat matanya.
Dan semua mimpi buruk yang pernah mengejarnya sejak ia bangun di Kolam Teratai seolah menabrak kenyataan sekaligus.
Mata Darren bukan lagi cokelat gelap.
Mata itu merah.
Merah seperti darah yang terbakar.