Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Rafi mendapat undangan rapat kecil di kantor Pradipta Group.
Undangan itu bukan dari Daren.
Dari Yoga, staf operasional yang namanya terseret dalam skandal ruang VIP, tetapi belum secara resmi dijadikan tersangka. Rafi tidak tahu detailnya. Ia hanya tahu Yoga bekerja dekat dengan proyek-proyek Daren, dan jika orang seperti itu menghubunginya, berarti pintu mulai terbuka.
Ia datang dengan jas terbaik.
Nabila yang memilihkan.
"Mas harus terlihat percaya diri," katanya pagi itu sambil merapikan kerah Rafi. "Jangan terlalu rendah hati. Mereka harus melihat Mas bukan anak pinggiran."
Rafi tersenyum, tetapi kalimat itu menusuk sedikit.
Anak pinggiran.
Ia tahu Nabila tidak bermaksud menghina. Atau mungkin bermaksud sedikit, tanpa sadar. Sejak kecil, itulah posisinya di keluarga Pradipta. Ada, tetapi tidak dihitung. Diundang, tetapi tidak dipertimbangkan. Dipanggil putra, tetapi tidak diberi kursi.
Nabila membuatnya percaya semua itu akan berubah.
Ia ingin percaya.
Sangat ingin.
Rapat digelar di ruang kecil lantai delapan belas, bukan ruang direksi. Di sana ada Yoga, dua manajer proyek, dan seorang pria dari divisi keamanan lapangan. Tidak ada Daren. Tidak ada Bima. Tidak ada Satria.
Tetap saja, Rafi merasa itu awal yang baik.
Yoga tersenyum. "Mas Rafi, terima kasih sudah datang."
"Tentu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami sedang menyiapkan proyek audit lapangan untuk fasilitas kesehatan di luar kota. Ada beberapa klinik mitra yayasan yang perlu diperiksa. Karena situasi yayasan agak sensitif setelah acara kemarin, kami butuh orang keluarga yang bisa tampil netral."
Rafi menegakkan punggung.
Orang keluarga.
Netral.
Akhirnya.
"Kenapa saya?" tanyanya, mencoba terdengar tenang.
Yoga tersenyum. "Mas Daren merasa Mas Rafi punya potensi. Selain itu, Mas belum terseret konflik antara Bu Ratna, Mas Arga, dan Mbak Alya."
Nama Alya membuat Rafi menahan napas.
"Konflik mereka bukan urusan saya."
"Justru itu bagus."
Manajer proyek menyodorkan berkas. "Tugasnya sederhana. Mas Rafi ikut tim ke beberapa lokasi, melihat kondisi, bicara dengan pengelola, lalu memberi laporan keluarga. Tidak perlu teknis."
"Di luar kota?"
"Awalnya Jawa Barat. Kalau lancar, bisa ke proyek lain."
Rafi membuka berkas.
Tidak rumit.
Namun di halaman kedua, ia melihat nama fasilitas yang pernah dikaitkan dengan pengadaan bermasalah. Ia tidak tahu banyak, tetapi pernah mendengar dari obrolan keluarga. Klinik-klinik itu terkait yayasan, vendor, dan dana CSR.
"Apakah ini proyek resmi direksi?"
Yoga tersenyum sedikit. "Mas Rafi hati-hati sekali."
"Saya hanya ingin jelas."
"Resmi internal. Nanti kalau hasilnya bagus, Mas Daren bisa membawa laporan Mas ke Pak Bima."
Pak Bima.
Nama itu seperti kunci.
Rafi langsung membayangkan dirinya dipanggil ke ruang pendiri. Bima menatapnya bukan sebagai anak yang terlambat diakui, tetapi sebagai putra yang berguna. Nabila berdiri di sampingnya, bangga. Sinta dan Hadi mendengar kabar itu. Semua berubah.
"Saya ikut," kata Rafi.
Yoga tampak puas.
Terlalu puas.
Namun Rafi tidak melihatnya.
Sore itu, ia pulang membawa map proyek. Nabila menyambutnya dengan mata berbinar.
"Bagaimana?"
"Aku diminta ikut audit lapangan yayasan."
Nabila hampir berseru. "Benar?"
"Iya. Yoga bilang Daren melihat potensiku."
Senyum Nabila mekar.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh tekanan, ia benar-benar merasa mimpinya kembali bernapas.
"Aku bilang apa, Mas? Ini awalnya. Mas harus ambil kesempatan ini."
Rafi duduk, membuka map di meja. "Tapi proyeknya agak sensitif. Ada fasilitas yang mungkin bermasalah."
"Justru itu bagus."
Rafi menatapnya. "Bagus?"
"Kalau Mas bisa membantu menyelesaikan masalah, semua orang akan melihat Mas berguna."
"Kalau masalahnya terlalu besar?"
"Mas tidak sendiri. Ada tim."
Rafi ragu.
Nabila duduk di sampingnya, memegang tangannya.
"Mas, selama ini orang meremehkanmu karena Mas tidak pernah diberi kesempatan. Sekarang kesempatan itu datang. Jangan takut."
"Aku tidak takut."
"Kalau begitu ambil."
Rafi menatap wajah istrinya.
Nabila cantik. Percaya padanya. Membuatnya merasa lebih besar daripada dirinya sekarang. Itu memabukkan.
"Baik," katanya.
Nabila tersenyum lega.
Namun saat Rafi mandi, Nabila membuka map itu lagi.
Ia membaca nama-nama klinik. Ia tidak mengerti detail audit, tetapi melihat logo yayasan Pradipta membuatnya gelisah. Setelah acara Karina, yayasan sedang panas. Mengapa Daren memberi Rafi tugas sekarang?
Apakah ini benar kesempatan?
Atau umpan?
Nabila mengingat ucapan Alya.
Kamu selalu punya pilihan. Kamu hanya tidak suka pilihan yang tidak menguntungkanmu.
Ia menutup map dengan kesal.
Tidak.
Alya tidak boleh benar.
Jika ia mulai meragukan Rafi, maka semua pengorbanannya sia-sia. Ia sudah memilih. Ia sudah meninggalkan kemungkinan menjadi istri Arga. Ia sudah menahan sikap Ratna. Ia sudah mempermalukan diri di depan Alya.
Rafi harus berhasil.
Harus.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Ratna.
`Rafi mendapat tugas? Bagus. Pastikan dia menurut arahan Daren. Jangan biarkan dia bicara dengan Alya.`
Nabila menatap pesan itu.
Jantungnya turun.
Ratna tahu lebih dulu.
Berarti tugas ini memang dari pihak Daren.
Berarti Rafi tidak dipilih karena potensi saja.
Namun Nabila tetap membalas:
`Baik, Bu. Saya akan ingatkan Mas Rafi.`
Setelah mengirim pesan, ia merasa muak pada dirinya sendiri.
Tapi ia tidak berhenti.
Malam itu, Rafi memeluknya dan berkata, "Aku akan buktikan pada mereka."
Nabila tersenyum di dadanya.
"Aku percaya, Mas."
Dalam gelap, matanya terbuka.
Percaya.
Ia mengulang kata itu dalam hati berkali-kali, seperti doa.
Karena kalau ia berhenti percaya, yang tersisa hanya ketakutan bahwa ia sudah memilih jalan yang salah.
Keesokan paginya, Rafi berangkat lebih awal. Ia tidak langsung menuju kantor Pradipta. Ia berhenti di masjid kecil dekat apartemen, duduk di serambi setelah salat, dan membuka lagi berkas proyek itu.
Nama-nama klinik di dalamnya terasa asing, tetapi angka-angkanya tidak. Ada biaya perjalanan yang terlalu bulat, pengadaan alat yang tidak menyebut merek, dan kolom tanda tangan saksi yang belum diisi. Ia bukan ahli audit, tapi ia cukup lama diremehkan untuk tahu kapan seseorang sedang memberinya pekerjaan yang tidak mau mereka sentuh sendiri.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Yoga:
`Mas Rafi, nanti dokumen awal bisa ditandatangani dulu. Formalitas saja. Biar nama Mas cepat masuk laporan.`
Rafi membaca kalimat itu berkali-kali.
Nama masuk laporan.
Dulu ia mungkin langsung senang. Hari ini, setelah melihat cara Alya menatap dokumen dan cara Arga mulai bicara, kata formalitas terdengar seperti lubang.
Ia mengetik balasan:
`Saya baca dulu. Tidak mau tanda tangan kosong.`
Balasan Yoga datang lima menit kemudian.
`Mas, kalau terlalu kaku, nanti orang mengira Mas belum siap diberi tanggung jawab.`
Rafi menggenggam ponsel.
Ancaman itu halus. Dan justru karena halus, ia sadar tugas ini tidak sesederhana yang Nabila ingin percayai.
Di seberang meja, Nabila mengaduk teh yang sudah dingin.
"Mas Yoga cuma ingin kamu cepat dipercaya."
"Orang yang ingin aku dipercaya tidak akan menyuruhku tanda tangan sebelum baca."
"Kamu selalu curiga setelah dengar Kak Alya."
Rafi mengangkat wajah. "Aku curiga karena dokumennya kosong."
Nabila terdiam.
Rafi membuka salah satu lampiran. Ada daftar kunjungan klinik, nama vendor, dan kolom penerimaan barang yang belum diisi.
"Kalau ini audit lapangan, kenapa aku diminta tanda tangan dulu?"
"Mungkin prosedurnya begitu."
"Kamu pernah kerja di yayasan?"
Nabila menggigit bibir. "Tidak."
"Aku juga tidak. Makanya aku bertanya."
Ponsel Rafi kembali berbunyi. Kali ini dari nomor tidak dikenal.
`Pak Rafi, besok jangan lupa datang sendiri. Jangan bawa pihak luar. Program ini sensitif.`
Ia menunjukkan layar pada Nabila.
"Menurutmu ini juga prosedur?"
Nabila tidak punya jawaban.
Rafi menyimpan ponsel, lalu menyalakan laptop. Tangannya masih ragu, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak langsung menuruti rasa malu.
"Aku akan baca semuanya malam ini."
"Mas, kalau kamu membuat Bu Ratna kecewa--"
"Bu Ratna bukan istriku."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi membuat Nabila menatapnya seperti baru disiram air dingin.
Rafi menunduk lagi ke layar. Di balik angka-angka kecil itu, ada sesuatu yang sengaja dibuat terlihat membosankan. Dan ia mulai curiga justru bagian membosankan itulah yang paling berbahaya.