Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Koko, Kamu Berubah
Foto itu akhirnya menempel di pintu kulkas Rumah Tan malam itu juga.
Sekar tidak memberi kesempatan pada Ardian untuk berubah pikiran. Begitu mobil berhenti dan kursi roda masuk ke rumah, ia langsung menuju dapur, mencuci tangan, mengeringkan Polaroid dengan hati-hati, lalu berdiri di depan kulkas seperti arsitek yang hendak membangun kota baru.
Ardian berhenti di ambang dapur.
"Kamu serius?"
"Sangat."
"Itu kulkas."
"Justru karena itu penting. Semua makhluk hidup di rumah ini pada akhirnya mencari makan ke sini."
"Aku tidak."
Sekar menoleh.
Ardian diam.
Mereka sama-sama teringat nasi goreng tengah malam.
Sekar tersenyum kecil. "Baik, semua makhluk hidup kecuali Pak Tan yang katanya tidak pernah lapar."
Ardian menekan tombol kursi rodanya, masuk beberapa sentimeter, lalu berhenti lagi. Ia tidak menyuruhnya berhenti. Itu sudah izin dalam bahasa Tan Ardian.
Sekar mengambil beberapa magnet kecil dari laci. Ada yang berbentuk cabai, ada yang berbentuk kucing, entah dibeli siapa. Ia menempelkan Polaroid di sisi kanan atas, lalu mundur dua langkah untuk menilai.
"Tidak di tengah?" tanya Ardian tiba-tiba.
Sekar menoleh cepat. "Pak Tan memperhatikan komposisi?"
"Aku hanya melihat kamu salah."
"Saya tidak salah. Bagian tengah untuk sticky notes pesanan makanan. Itu wilayah hidup dan mati. Kalau nanti Pak Tan mau dada ayam panggang dengan irisan tomat dan selada dalam wrap gandum, harus terlihat jelas."
Telinga Ardian sedikit merah.
Sekar pura-pura tidak melihat. "Sisi kanan untuk foto keluar rumah. Sisi kiri untuk foto di rumah. Bawah untuk foto lucu. Kalau ada foto Pak Tan tertidur dengan wajah tidak galak, saya taruh bawah."
"Tidak akan ada."
"Itu yang dikatakan semua korban kamera."
Ardian menatap Polaroid itu. Dalam foto, dirinya duduk di carousel dengan cahaya sore di rambut, sudut bibirnya hampir tidak kelihatan naik. Di dunia nyata, ia menatap foto itu seolah benda kecil itu mengancam reputasi hidupnya.
"Jelek," katanya.
"Tapi tidak minta dicabut."
"Karena aku malas berdebat."
"Saya catat sebagai setuju."
Ia benar-benar mengambil sticky note baru dan menulis: Pak Tan setuju foto Dufan ditempel di kulkas.
"Budiman Sekar."
"Saya simpan sebagai bukti administrasi."
Sebelum Ardian bisa membalas, suara langkah terburu-buru datang dari koridor. Darren muncul dengan jas kantor belum dilepas, dasi miring, dan wajah seseorang yang baru saja melihat berita besar tanpa persiapan.
"Apa ini?"
Sekar otomatis berdiri tegak. "Foto."
"Aku tahu itu foto!" Darren menunjuk kulkas, lalu menunjuk Ardian. "Koko ke Dufan?"
Ardian menjawab datar, "Tidak."
Darren menoleh ke foto.
Di foto jelas ada carousel.
Darren menoleh kembali pada Ardian.
"Koko bohong dengan bukti di belakangmu."
"Kamu salah lihat."
"Aku tidak buta!"
Sekar menahan tawa. "Pak Darren baru pulang?"
Darren menatapnya dengan mata melebar. "Mbak Sekar, kenapa tidak ajak aku?"
"Itu kunjungan rehabilitasi ringan."
"Aku juga butuh rehabilitasi batin!"
Ardian mengernyit. "Dari apa?"
"Dari perusahaan, dari rapat, dari Papa, dari semua orang yang mengira aku bisa menggantikan Koko padahal aku bahkan tidak diajak ke Dufan!"
Sekar akhirnya tertawa.
Darren langsung mendekati kulkas, melihat foto itu dari dekat. Wajahnya berubah dari protes menjadi pelan-pelan lembut.
"Koko tersenyum."
"Tidak."
"Ini tersenyum."
"Itu efek cahaya."
"Cahaya tidak bisa menaikkan sudut bibir."
Ardian memutar kursi rodanya. "Kamu terlalu banyak bicara."
Darren tidak mundur. Ia malah menatap Sekar penuh haru. "Kar, kamu hebat sekali. Aku sudah coba ajak Koko keluar rumah berkali-kali, selalu ditolak."
Suhu dapur turun setengah derajat.
Sekar merasakannya sebelum Darren sadar.
Ardian berhenti memutar kursi roda.
"Apa kamu baru saja memanggil dia apa?"
Darren membeku.
Sekar menatap Darren dengan peringatan halus. Jangan cari mati.
Darren menelan ludah. "Kar?"
Ardian menatapnya.
Darren langsung mengangkat kedua tangan. "Mbak Sekar. Maksudku Mbak Sekar. Lidahku terpeleset karena emosi."
"Jaga lidahmu."
"Siap, Koko."
Sekar menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa terlalu keras. Ia tidak tahu kenapa kata "Kar" bisa membuat Ardian bereaksi seperti seseorang mencuri sendok pribadi. Padahal nama itu memang panggilan pendeknya di rumah.
Darren sepertinya juga menyadari sesuatu. Matanya bergerak dari wajah Ardian ke foto, lalu ke Sekar, lalu kembali ke Ardian.
Perlahan, sangat perlahan, ekspresinya berubah.
Itu ekspresi adik yang menemukan rahasia kakaknya dan ingin berteriak, tetapi masih ingin hidup.
"Koko," katanya hati-hati.
"Apa?"
"Kamu berubah."
Ardian tertawa dingin. "Omong kosong."
"Dulu kalau ada yang menempel foto di kulkas, Koko suruh staf ganti kulkas."
"Itu karena foto keluarga Papa jelek."
"Dulu kalau aku panggil siapa pun dengan nama pendek, Koko tidak peduli."
"Kamu memang sering tidak sopan."
"Dulu kalau diajak ke luar rumah, Koko bilang dunia luar berisik."
"Dunia luar memang berisik."
Darren menunjuk foto itu. "Tapi Koko pergi."
Ardian tidak menjawab.
Darren tidak mengejar. Ia hanya memandang foto itu lagi, lalu mendesah panjang seperti ibu-ibu sinetron yang anaknya akhirnya lulus sekolah.
"Baiklah. Mulai sekarang, kulkas ini aset nasional keluarga Tan."
"Jangan berlebihan," kata Ardian.
"Kalau begitu aku harus masuk foto berikutnya." Darren langsung menunjuk area kiri bawah kulkas. "Di sini. Foto aku membawa sosis, Koko pura-pura tidak peduli, Mbak Sekar menjadi saksi sejarah."
"Tidak perlu."
"Perlu. Aku adik kandung. Masa anak TK asing boleh masuk cerita Dufan, aku tidak?"
Sekar menahan senyum. "Anak TK-nya tidak masuk foto, Pak Darren."
"Tapi mereka masuk cerita. Aku bahkan tidak masuk cerita!"
Ardian menatapnya dari samping. "Kamu ingin masuk cerita hidupku sebagai orang yang menangis karena tidak diajak ke Dufan?"
Darren membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Kalau ditulis dengan sudut pandang yang baik, itu bisa terdengar menyentuh."
"Tidak."
"Mbak Sekar, nanti kalau ada foto bunga, aku boleh ikut satu?"
Sekar melirik Ardian. Pria itu menatap kulkas, pura-pura tidak mendengar.
Itu berarti belum dilarang.
"Nanti kita lihat," kata Sekar diplomatis.
Darren langsung puas. "Aku anggap itu janji."
"Aku akan beli magnet bagus. Yang ini cabai terlalu kampungan."
"Jangan sentuh fotoku."
Kalimat itu keluar begitu cepat sampai dapur hening.
Sekar berkedip.
Darren berkedip lebih cepat.
Ardian sendiri tampak sadar terlambat. Ia menatap kulkas, lalu berkata lebih datar, "Maksudku, jangan merusak susunan."
Darren menunduk, bahunya bergetar. "Iya, Koko. Susunan."
Sekar berbalik ke wastafel, pura-pura mencuci tangan lagi. Air mengalir, menutupi suara tawanya yang hampir pecah.
Malam itu, setelah makan malam dan jadwal kompres hangat selesai, Ardian kembali ke ruang kerjanya. Lampu meja menyala lembut. Di luar jendela, halaman Rumah Tan lebih sunyi daripada Dufan, tetapi untuk pertama kalinya sejak lama, sunyi itu tidak terasa sebeku biasanya.
Di atas meja, ada sebuah buku catatan kulit cokelat yang masih baru. Kulitnya lembut, sudutnya rapi, kertasnya tebal.
Ardian membuka halaman pertama.
Ia mengambil pulpen hitam, berhenti sebentar, lalu menulis beberapa kata besar di bagian paling atas.
Setelah itu, ia menutup buku tersebut sebelum siapa pun bisa melihat isinya.