NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Gala Tahunan (III): Darah di Lantai Dansa

Untuk pertama kalinya malam itu, Brandon terlihat sadar bahwa semua orang sedang merekam.

Kesadaran itu datang terlambat.

Celine sudah duduk di lantai, wajahnya basah air mata, satu tangan memegang pergelangan yang terbentur. Para tamu berdiri. Beberapa ibu sosialita menutup mulut, tapi ponsel mereka tetap menyala. Media internal acara yang tadi hanya merekam donasi kini mendapat skandal keluarga terbesar tahun ini.

Hendra turun dari meja utama.

"Brandon."

Satu kata.

Berat.

Brandon menoleh pada ayah yang ia kira selalu bisa ia manipulasi. "Papa, dia..."

"Diam."

Ballroom hening.

Veronica bergerak cepat, meraih lengan Hendra. "Ini hanya salah paham. Celine jelas tidak sehat."

Celine tertawa pecah. "Aku memang tidak sehat. Kalian yang membuatku begini."

Reynard berdiri di sampingku. Tangannya menyentuh punggungku sebentar, memastikan aku tidak maju. Ia tahu aku ingin pergi ke Celine. Benci atau tidak, melihat perempuan didorong di depan umum membuat darahku panas.

"Steven," kata Reynard pelan.

"Sudah," jawab Steven. "Semua rekaman diamankan."

Brandon melihat ke arah kami. Matanya merah karena malu dan marah.

"Kau," katanya pada Reynard. "Ini pasti permainanmu."

Reynard menjawab dingin, "Aku tidak perlu menyuruhmu mendorong perempuan di depan kamera."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Acara dihentikan.

Tamu diarahkan keluar dengan alasan gangguan teknis. Tentu saja tidak ada yang percaya. Dalam waktu lima belas menit, potongan video sudah menyebar di grup WhatsApp, akun gosip, dan mungkin meja makan seluruh konglomerat Jakarta.

Aku melihat beberapa undangan masih menoleh saat keluar. Ada yang pura-pura prihatin, ada yang jelas puas karena punya bahan cerita baru. Kekayaan ternyata tidak membuat manusia lebih beradab saat melihat kehancuran orang lain. Hanya membuat mereka memakai parfum lebih mahal ketika bergosip.

Celine dibawa lewat pintu samping. Saat melewatiku, ia berhenti setengah detik.

Matanya merah.

Ia tidak minta tolong.

Tidak minta maaf.

Tapi di antara kami ada pengertian aneh bahwa malam ini tidak bisa dikembalikan.

Di lorong belakang ballroom, Hendra memerintahkan tim keluarga membawa Celine ke ruang medis hotel. Monica tidak ada malam itu, tapi aku bisa membayangkan ia akan histeris begitu video sampai ke ponselnya.

Brandon menghilang.

Itu yang membuatku tidak nyaman.

Orang marah yang masih ingin menyelamatkan reputasi biasanya mencari kamera.

Brandon justru menghindarinya.

Itu berarti ia tidak sedang menyusun penjelasan.

Ia sedang menyusun pelarian.

"Di mana dia?" tanyaku.

Reynard menatap Anto.

Anto langsung bergerak.

Hotel Indonesia Kempinski yang tadi terasa seperti panggung kini berubah menjadi labirin karpet tebal, lift servis, dan koridor staf. Aku tetap di dekat Reynard, walau ia menyuruhku menunggu di mobil.

"Tidak."

"Keira."

"Setelah malam seperti ini? Tidak."

Ia menatapku dua detik, lalu menyerah. "Tetap di sampingku."

Di parkiran bawah, udara terasa berbeda. Tidak ada musik, tidak ada parfum mahal, hanya bau beton, bensin, dan hujan yang mulai turun di luar.

Suara pesta dari atas hampir tidak terdengar. Seolah ballroom mewah dan parkiran gelap berada di dua dunia yang tidak saling mengenal.

Aku memikirkan Mira mungkin sudah berjam-jam naik turun membawa nampan untuk orang-orang yang namanya masuk majalah bisnis. Tidak ada yang akan mengingat wajahnya kalau malam itu berjalan normal.

Dan justru karena itu, aku ingin mengingat.

Seorang pelayan muda berdiri di dekat pilar, wajahnya pucat. Seragamnya bertuliskan Mira.

Ia memegang ponsel dengan tangan gemetar.

"Nyonya..." katanya saat melihatku. "Saya... saya melihat Ko Brandon."

Usianya mungkin tidak jauh dariku saat masih menjadi Naomi. Mungkin lebih muda. Di name tag kecil, selain Mira, ada stiker senyum dari acara hotel, seperti ia sempat diminta terlihat ramah sepanjang malam.

"Kamu aman," kataku, walau aku tidak yakin.

"Saya rekam..." Suaranya pecah. "Saya tidak sengaja. Dia bicara di telepon. Saya dengar nama Denny."

Reynard langsung menegang.

Aku melangkah mendekat. "Di mana?"

Sebelum ia menjawab, suara keras terdengar dari sisi parkiran lain.

Anto langsung menarikku mundur.

Reynard bergerak di depanku.

Kami tidak melihat semuanya.

Hanya bayangan Brandon, suara Mira menahan napas, lalu ponsel yang jatuh ke lantai dan pecah.

Detik berikutnya, Brandon berlari ke arah mobil hitam.

Budi muncul dari sisi lain, tapi sebuah motor masuk cepat dari pintu servis, menghalangi jalur. Brandon masuk mobil dan pintu tertutup keras.

"Kejar," kata Reynard.

Anto dan Budi bergerak.

Aku berdiri membeku, menatap ponsel Mira yang retak di lantai.

Mira terbaring di dekat pilar.

Tidak ada teriakan dramatis.

Tidak ada adegan panjang.

Hanya tubuh yang terlalu diam dan suara hujan yang makin keras.

Seseorang berteriak memanggil petugas medis.

Aku tidak bisa bergerak.

Di kepalaku, Si Kepo tidak mengeluarkan lelucon. Tidak ada ikon. Tidak ada komentar.

Hanya satu baris dingin.

[Saksi kunci dibungkam.]

Aku benci baris itu.

Aku benci bahwa sistem benar.

Petugas keamanan hotel berlari melewati kami. Seorang manajer terus berkata, "Tolong beri ruang," dengan suara yang makin pecah. Di lantai, ponsel Mira masih menyala, layarnya retak, rekaman berhenti pada gambar buram lampu parkir.

Steven mengambil ponsel itu dengan sapu tangan.

"Ini bukti," katanya pelan.

Untuk Mira, pikirku.

Untuk namanya.

Untuk kebenaran yang hampir ikut pecah di lantai parkiran itu.

Untuk gadis itu.

Selamanya.

Reynard menutup pandanganku dengan tubuhnya.

"Jangan lihat."

Terlambat.

Aku sudah mengerti.

Brandon bukan lagi hanya pria kasar, bodoh, atau memalukan.

Ia sudah melewati garis yang tidak bisa ditarik kembali.

Malam itu menjadi kacau dalam potongan-potongan kecil.

Ambulans.

Polisi.

Manajemen hotel yang panik.

Hendra duduk di ruang tunggu dengan wajah tua mendadak sepuluh tahun. Veronica menangis di depan orang, tapi matanya tidak basah ketika mengira tidak ada yang melihat.

Kabar lain datang hampir bersamaan.

Ronny Hartono ditemukan terluka di dekat lift servis hotel lain yang terhubung dengan area parkir. Tidak fatal, tapi cukup untuk membungkamnya. Jessica Hartono mengalami histeria berat setelah video Celine menyebut namanya menyebar. Keluarga Hartono langsung mengirimnya ke fasilitas psikiatri privat.

Tidak ada yang menyebut semua itu kebetulan.

Mereka hanya tidak mengucapkan kata pembungkaman keras-keras.

Di dunia orang kaya, kata-kata kasar selalu diganti istilah rapi: penanganan krisis, perlindungan keluarga, pemulihan reputasi.

Padahal artinya sama.

Seseorang sedang membersihkan jejak.

[Analisis: pembersihan jejak.]

[Pelaku kemungkinan: pihak Denny.]

Aku menatap Denny di ujung koridor. Ia sedang bicara dengan dua pria berjas, wajahnya prihatin sempurna.

Sempurna sekali sampai membuatku mual.

Hendra mengadakan rapat keluarga darurat di ruang pertemuan hotel sebelum subuh. Bukan rapat penuh, hanya lingkaran inti dan tim legal.

"Brandon dinonaktifkan sementara dari semua jabatan operasional," katanya.

Veronica langsung berdiri. "Hendra, kau tidak bisa menjadikan anak kita kambing hitam sebelum penyelidikan selesai."

"Anak itu mendorong perempuan di depan ratusan kamera."

"Celine memfitnah!"

"Mira mati."

Dua kata itu menghentikan ruangan.

Aku melihat Hendra saat mengatakan itu. Untuk pertama kalinya, bukan pemimpin keluarga atau pemilik perusahaan yang bicara. Hanya seorang pria tua yang sadar rumahnya membesarkan sesuatu yang kini memakan orang lain.

Hendra menutup mata sebentar.

"Namanya akan masuk laporan resmi keluarga. Biaya pemakaman dan kompensasi untuk keluarganya ditanggung Wijaya Group."

Veronica membuka mulut.

Hendra menatapnya.

"Jangan bicara tentang reputasi di depanku sekarang."

Veronica menutup mulut.

Untuk sekali itu, ia kalah oleh rasa muak yang bahkan Hendra tidak bisa sembunyikan.

Veronica pucat. "Kau menuduh Brandon?"

Hendra menatapnya. "Aku menyatakan fakta bahwa setelah skandalnya meledak, seorang saksi mati di parkiran dan Brandon menghilang."

Tidak ada yang berani bicara.

Reynard berdiri di samping jendela, wajahnya seperti batu.

Aku tahu ia sedang menghitung. Bukti yang ada. Bukti yang hilang. Jalur kabur Brandon. Hubungan Denny dengan semua kekacauan ini. Tapi di balik semua hitungan itu, tangannya terkepal sangat kuat.

Mira bukan keluarga kami.

Tapi malam itu, kematiannya menjadi cermin yang memperlihatkan seberapa busuk perang keluarga ini bisa menjadi.

Keira di dalam diriku gemetar. Naomi di dalam diriku ingin muntah. Aku menggenggam ujung kursi dan memaksa diri tetap tegak.

Karena Mira pantas diingat bukan sebagai efek samping skandal, tapi sebagai orang yang kehilangan hidup karena orang berkuasa takut rahasianya terbuka.

Menjelang pagi, kami pulang ke PIK.

Mobil sunyi.

Aku menatap jendela, melihat Jakarta yang mulai terang. Kota ini bisa bangun seperti biasa setelah satu malam seseorang tidak pulang lagi.

Reynard menggenggam tanganku.

"Ini baru mulai," katanya pelan.

Aku menoleh.

Ia tidak menatapku, matanya lurus ke depan.

"Brandon sudah menunjukkan batasnya. Setelah ini, semua orang akan memilih sisi."

Ponselnya bergetar.

Pesan terenkripsi dari Leo.

Reynard membukanya.

Wajahnya berubah.

Aku sudah belajar mengenali perubahan kecil itu. Bukan panik. Bukan takut. Lebih seperti pintu lain terbuka di tengah bangunan yang sedang terbakar.

Aku membaca dari samping.

Aku menemukan kandidat bahan penawar. Tapi bahan mentahnya ada di fasilitas riset milik Ong Corporation.

Jadi bahkan obat untuk menyelamatkannya berada di tangan musuh.

Racun Dingin di tubuh Reynard, Mira yang baru mati, Brandon yang kabur, dan Ong Corporation yang menyimpan bahan penawar.

Semua garis tiba-tiba bertemu.

Tidak ada kebetulan.

Aku menutup mata.

Malam belum selesai.

Perang baru saja mendapat harga.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!