NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021 - Try Out Akbar

Sabtu pagi, halaman SMAN 7 Megawan sudah penuh sebelum bel pertama berbunyi.

Spanduk putih biru terbentang di depan aula. Try Out Akbar UI Megawan Raya. Di bawahnya, ratusan siswa dari beberapa sekolah berdiri dengan map transparan, kartu peserta, botol minum, dan wajah tegang yang belum sempat disembunyikan. Suara sepatu, gesekan kertas, dan bisik-bisik soal passing grade bercampur dengan aroma gorengan dari kantin yang baru buka.

Keira berdiri di sisi koridor, tangan kiri memegang pensil mekanik. Matanya hanya sekali melewati spanduk itu, lalu berhenti pada meja registrasi.

Nomor peserta.

Ruang ujian.

Alur keluar.

Ia menghafalnya dalam tiga detik.

Di sebelahnya, Bayu merapikan tali sepatu dengan gerakan lebih lambat dari biasanya. Kakinya sudah jauh membaik, tetapi pagi ini ia tetap membawa tongkat lipat kecil. Bukan karena tidak bisa berjalan, melainkan karena Keira memintanya tidak memaksa.

"Mbak," Bayu berbisik, "kalau nanti aku lama di soal matematika, nggak apa-apa, kan?"

"Lama bukan masalah." Keira menatap pintu aula. "Yang masalah kalau kamu panik."

Bayu menelan ludah. "Aku berusaha."

"Jangan berusaha terlihat pintar. Kerjakan saja."

Kalimat itu pendek, tetapi bahu Bayu turun sedikit. Ia mengangguk.

Dari gerbang, suara Bu Sri sudah terdengar sebelum orangnya mendekat.

"Laras, jangan lupa minum madu ini sebelum masuk. Mama sudah siapkan roti, susu, vitamin, cokelat, semua ada di tas kecil. Kalau pusing, langsung makan. Jangan dengarkan orang lain, fokus sama target UI."

Laras berjalan di samping Bu Sri dengan rambut disisir rapi dan cardigan tipis warna pastel. Tas bekalnya menggembung. Di tangannya ada tumbler baru, kotak makan baru, dan kartu peserta yang dimasukkan ke lanyard bening.

Saat melihat Keira dan Bayu, langkah Bu Sri berhenti sebentar.

"Kalian sudah bawa alat tulis?"

Pertanyaan itu jatuh seperti kewajiban paling akhir.

"Sudah," jawab Keira.

Bu Sri tidak mengecek. Ia kembali menunduk ke tas Laras, memasukkan satu bungkus permen jahe lagi. "Laras, dengar Mama. Jangan buang waktu. Soal mudah dulu. Kalau ada soal aneh, ingat yang Bu Sri bilang kemarin, soal try out seperti ini kadang dibuat untuk menjebak siswa biasa."

Bayu memandang kotak roti di tangan Laras, lalu cepat-cepat menunduk.

Keira melihatnya.

Pak Prasetyo datang beberapa langkah di belakang. Kemejanya kusut di bagian bahu, seperti dipakai terlalu cepat. Ia memegang amplop kecil yang diselipkan di telapak tangan. Ketika Bu Sri sibuk membetulkan rambut Laras, Pak Prasetyo mendekat ke Keira.

"Keira," suaranya rendah, "ini untuk makan setelah ujian. Jangan bilang Ibu."

Amplop itu tipis. Isinya mungkin tidak banyak, tetapi ujung jari Pak Prasetyo gemetar saat menyerahkannya.

Keira tidak langsung mengambil.

Pak Prasetyo terlihat semakin kikuk. "Bapak tahu ini tidak cukup. Tapi... kalau kamu dan Bayu lapar, beli sesuatu."

Bayu menatap amplop itu dengan mata membesar.

Keira akhirnya menerima. "Terima kasih, Pak."

Pak Prasetyo mengangguk cepat, seolah ucapan sederhana itu sudah membuat dadanya sesak. Di belakang mereka, Bu Sri menoleh.

"Ngapain lama-lama? Laras harus masuk dulu supaya dapat suasana tenang."

Keira memasukkan amplop ke saku tas. "Ayo, Bayu."

Di meja registrasi, panitia memeriksa kartu peserta satu per satu. Ketika nama Laras dipanggil, Bu Sri berdiri lebih tegak. Beberapa guru mengenalinya dan tersenyum. Laras membalas dengan senyum manis yang sudah dilatih.

"Laras Prasetyo, ruang A."

"Terima kasih, Pak."

Ketika nama Keira muncul, petugas sempat mengangkat alis.

"Keira Wulandari?"

"Ya."

Petugas menatap daftar lagi. "Ruang A juga."

Laras yang sudah melangkah masuk menoleh. Senyumnya menipis.

Bayu mendapatkan ruang C. Ia terlihat kecewa tidak satu ruangan dengan Keira, tetapi Keira hanya menepuk ringan bahunya.

"Ingat. Baca. Coret. Pilih."

"Kalau ragu?"

"Buang pilihan yang paling bodoh dulu."

Bayu hampir tertawa, tetapi bel masuk memotongnya. "Iya, Mbak."

Aula utama disulap menjadi ruang ujian besar. Meja panjang berjajar. Kipas angin berputar lambat di atas kepala, mengirim bunyi berdecit yang membuat beberapa siswa makin gelisah. Di baris depan, Laras duduk dengan punggung tegak. Ia mengeluarkan pensil, penghapus, penggaris, dan tisu basah, semuanya disusun simetris.

Keira duduk dua baris di belakangnya.

Di sudut aula, seorang pria paruh baya berkacamata berdiri bersama Pak Bambang dan beberapa panitia. Tidak mengenakan jas mencolok, hanya batik cokelat tua dan jam tangan sederhana. Namun cara para guru sedikit menunduk saat bicara dengannya membuat posisinya jelas.

Prof. Dharma.

Keira tidak menoleh lagi.

Pengawas membagikan lembar soal pertama. TPS.

"Waktu dimulai sekarang."

Kertas dibalik serentak.

Suara pertama yang muncul adalah napas tertahan.

Keira membaca halaman satu. Logika kuantitatif. Pola deret. Bacaan panjang yang sengaja dibuat berputar. Ia mengambil pensil, menandai tiga angka, lalu menghitamkan jawaban.

Satu soal.

Dua soal.

Lima soal.

Di depannya, Laras masih membaca paragraf pertama dengan dahi berkerut. Tangannya berhenti di udara, pensil belum menyentuh kertas. Dari samping, siswi lain mulai membalik halaman.

Keira tidak terburu-buru. Ia hanya bergerak tanpa sisa.

Dalam dua puluh menit, setengah paket TPS sudah selesai. Ia menyandarkan punggung sebentar, bukan karena lelah, melainkan karena suara detak jam di depan aula terlalu pelan untuk ruangan sebesar ini. Ia melirik jendela. Di luar, beberapa orang tua menunggu sambil memegang plastik makanan.

Bu Sri pasti masih di sana, menghitung masa depan Laras dengan tangan penuh bekal.

Keira kembali menunduk.

Bagian bahasa Indonesia muncul dengan teks opini pendidikan. Ia membaca sekali, menemukan struktur argumen, lalu memilih jawaban. Tidak ada beban. Tidak ada keinginan membuktikan apa pun kepada meja-meja ini.

Ketika sesi pertama berakhir, beberapa siswa menghela napas seperti baru keluar dari kolam. Laras menunduk, jari-jarinya menggenggam pensil sampai buku jarinya memutih.

"Susah banget," bisik Rika dari meja sebelah saat mereka keluar untuk istirahat. "Laras, kamu bisa?"

Laras tersenyum terlalu cepat. "Lumayan. Aku cuma harus lebih cepat di sesi kedua."

Keira lewat di belakang mereka menuju koridor.

Rika melirik lembar coretan Keira yang hampir kosong. "Mbak Keira kok nggak banyak coretannya?"

Laras tertawa kecil. "Mungkin dilewati."

Keira tidak berhenti.

Di halaman samping, Bayu duduk di bangku semen sambil memegang roti isi dari kantin. Matanya bersinar saat melihat Keira.

"Mbak, aku bisa bagian logika. Yang pola gambar juga bisa. Tadi aku pakai cara yang Mbak ajarin."

"Bagian bacaan?"

"Pelan-pelan, tapi selesai."

Keira duduk di sebelahnya. "Bagus."

Bayu menyerahkan setengah roti. "Bapak kasih uang, ya?"

"Makan."

"Mbak juga."

Keira menerima potongan kecil. Mereka makan tanpa banyak bicara. Di antara ratusan siswa yang sibuk membahas soal, dua saudara itu tampak seperti pulau kecil. Tidak ramai. Tidak diperhatikan. Tetapi untuk pertama kalinya, Bayu tidak terlihat seperti anak yang menunggu dikasihani.

Sesi kedua dimulai dengan TKA saintek pilihan. Walau peserta bebas memilih paket sesuai minat, panitia tetap memasukkan beberapa soal matematika tingkat tinggi untuk seleksi khusus. Inilah bagian yang membuat Laras biasanya tampak percaya diri.

Hari ini, wajahnya berubah sejak halaman pertama.

Soal nomor tujuh meminta pembuktian pola residu. Nomor dua belas menggabungkan geometri dan fungsi. Nomor dua puluh satu sengaja terlihat sederhana, tetapi pilihan jawabannya memancing kesalahan umum.

Laras menggigit bibir. Ia pernah melihat bentuk mirip ini di catatan lama. Catatan yang dulu ia simpan. Tapi di kepala, angka-angka itu tercerai seperti manik-manik jatuh ke lantai.

Keira menyelesaikan nomor dua puluh satu tanpa coretan panjang.

Di sudut aula, Prof. Dharma memperhatikan dari jauh. Awalnya hanya sekilas. Lalu matanya kembali pada gadis di baris ketiga dari belakang itu.

Keira membalik halaman.

Pengawas mendekat karena gerakannya terlalu cepat. "Sudah selesai?"

"Belum."

Pengawas melihat lembar jawaban yang sudah hampir penuh. Bibirnya bergerak tanpa suara.

Keira mengabaikannya.

Bagian akhir menyediakan esai opsional. Sebagian siswa langsung panik karena mengira wajib. Laras menatap instruksi itu lama. Opsional, tetapi diberi ruang besar. Ia takut jika kosong, nilainya terlihat buruk. Ia mulai menulis dengan kalimat berputar, mengutip nama UI, masa depan bangsa, dan dedikasi belajar.

Keira membaca instruksi sekali.

Opsional.

Ia menutup paket soal.

Pengawas menatapnya lagi. "Tidak mengerjakan esai?"

"Tidak perlu."

"Kamu yakin?"

"Instruksinya opsional."

Beberapa siswa menoleh. Laras juga menoleh. Di wajahnya, ada kilatan lega yang salah arah, seakan Keira baru saja melakukan kesalahan fatal.

Keira meletakkan pensil.

Bel akhir berbunyi tiga puluh menit kemudian. Ruangan pecah oleh keluhan.

"Aku mati di nomor dua belas."

"Esainya harusnya wajib nggak, sih?"

"Tadi ada yang kosongin esai. Gila berani banget."

Laras keluar dengan wajah pucat, tetapi begitu Bu Sri mendekat, senyumnya langsung muncul.

"Gimana, Nak?"

"Bisa, Ma. Ada beberapa tricky, tapi Laras bisa."

Bu Sri menghela napas lega. "Mama tahu. Kamu memang beda."

Keira melewati mereka bersama Bayu. Pak Prasetyo menatap wajah Bayu lebih dulu.

"Kamu bisa?"

Bayu mengangguk, masih tidak percaya pada dirinya sendiri. "Lumayan, Pak."

Pak Prasetyo tersenyum kecil. Senyum itu jarang muncul di wajahnya.

Bu Sri melihatnya dan mendengus. "Try out bukan cuma merasa lumayan. Nanti hasilnya yang bicara."

"Betul," kata Keira.

Nada Keira datar, tetapi Bu Sri mendadak merasa kalimat itu seperti pintu yang ditutup dari dalam.

Di belakang aula, Prof. Dharma berdiri bersama koordinator panitia. Ia memegang salinan nomor peserta dan beberapa catatan kecil.

"Yang baris ketiga dari belakang tadi," ucapnya pelan. "Nama?"

Koordinator mencari di daftar. "Keira Wulandari, Prof. Dari SMAN 7."

"Skor sementara?"

"Belum keluar. Tapi sistem CBT cadangan sudah merekam pilihan. Untuk paket manual, lembar akan discan sore ini."

Prof. Dharma mengangguk. "Pisahkan lembar jawabannya. Jangan diubah alur koreksi. Saya hanya ingin memastikan tidak tertukar."

Pak Bambang yang mendengar itu langsung menegakkan badan. "Ada masalah, Prof?"

"Belum."

Kata itu membuat Pak Bambang justru lebih tegang.

Prof. Dharma menatap pintu aula tempat Keira baru saja keluar. Di halaman, gadis itu berjalan di samping adik laki-lakinya, tidak menoleh sedikit pun pada panggung, spanduk, atau orang-orang yang mulai mengira mereka sedang menentukan nasibnya.

Ponsel Prof. Dharma bergetar. Pesan dari rekan panitia pusat menanyakan apakah ia menemukan kandidat dari poster rekomendasi.

Jari Prof. Dharma berhenti sebentar di atas layar, lalu mengetik satu kalimat.

Murid itu benar-benar ada di sini.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!