Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA BARU DI BALIK GERIMIS SORE
Laju kendaraan perlahan melambat begitu memasuki pekarangan sebuah rumah tua yang tampak sunyi. Rumah peninggalan almarhumah nenek Maira itu berdiri dengan kokoh, dilingkupi pohon-pohon rindang yang membuat suasananya terasa meneduhkan namun sekaligus sepi. Mobil taksi yang membawa Maira dan Aisyah akhirnya berhenti sempurna di depan teras. Tak lama kemudian, deru halus suara motor matic milik Fatih terdengar menyusul di belakang, mengekor dengan setia bagai pelindung yang memastikan mereka sampai tanpa kurang satu apa pun.
Aisyah dengan penuh kesabaran turun terlebih dahulu, lalu berputar untuk membukakan pintu mobil dan memapah tubuh Maira yang masih terasa kaku. Dengan langkah yang sengaja diseret pelan, Maira menapakkan kakinya di teras rumah. Hijab instan hitam pemberian Fatih tampak bergerak pelan ditiup angin sore, membingkai wajahnya yang pucat.
Setelah berhasil menuntun Maira duduk di sofa ruang tamu yang bersih, Aisyah meletakkan tas berisi obat-obatan di atas meja. Gadis itu menatap Maira dengan pandangan mata yang sarat akan rasa khawatir.
“Mbak, istirahat total ya di kamar setelah ini. Nggak apa-apa kan kalau malam ini aku tinggalin sendiri?” tanya Aisyah dengan nada yang berat, sebenarnya merasa tidak tega membiarkan sahabatnya sebatang kara di rumah sebesar ini dalam kondisi pasca-kecelakaan.
Maira memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba mengusir kecemasan dari wajah adik tingkatnya itu. “Gak apa-apa, Syah. Santai aja. Besok juga gue udah bisa masuk kerja lagi di kafe kok, lihat aja nanti... jadi Lo jangan khawatir berlebihan gini ah,” ucap Maira dengan nada ceplas-ceplos khasnya yang sengaja dikeluarkan untuk menutupi rasa linu di bahunya.
“Loh! Mbak Maira, jangan dong!” protes Aisyah seketika dengan dahi berkerut cemberut. “Bahu Mbak itu masih memar, pelipisnya juga baru dijahit. Mbak harus benar-benar cukup istirahat dulu beberapa hari ini. Jangan keras kepala deh.”
Di tengah perdebatan kecil kedua wanita itu, Fatih melangkah masuk ke dalam ruang tamu setelah memarkirkan motornya dengan rapi di luar. Langkah kakinya yang selalu tenang kini terhenti tepat di sisi meja. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah kantong kresek putih yang aroma isinya langsung tercium gurih.
“Ini, Mbak... tadi di dekat persimpangan depan, saya sempat berhenti sebentar untuk beli nasi dan beberapa lauk. Buat nanti Mbak makan sebelum minum obat-obatan dari dokter,” ucap Fatih dengan nada suara baritonnya yang teramat sopan, menyodorkan kresek tersebut ke hadapan Maira.
Maira menatap kantong kresek itu, lalu beralih menatap wajah teduh Fatih bergantian. Rasa hangat sekaligus tidak enak hati kembali membuncah hebat di dalam dadanya. “Aduh... kalian ini bener-bener ya. Gue jadi ngerasa ngerepotin banget dari semalam. Maaf ya... dan makasih banyak buat kalian berdua yang udah tulus banget bantuin gue,” tutur Maira dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Fatih menyunggingkan senyum tipis yang sangat terhormat, menggelengkan kepalanya pelan. “Sama sekali tidak ngerepotin kok, Mbak. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong-menolong dalam kesulitan. Mbak tidak perlu merasa sungkan.”
Maira terdiam sejenak. Mendengar kata 'Mbak' yang terus-menerus meluncur dari bibir Fatih entah mengapa membuat kupingnya mendadak terasa gatal. Maira mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Fatih dengan lekat.
“Btw, Fatih... kayaknya umur kita berdua itu seumuran deh, atau paling gak beda tipis banget. Jadi, plis, jangan panggil gue 'Mbak' lagi kenapa? Berasa tua banget gue kalau Lo panggil gitu. Panggil Maira aja,” ucap Maira dengan nada menuntut yang santai.
Fatih seketika tertegun. Detik berikutnya, seulas senyum canggung namun manis terbit di wajah tampannya. Ia sempat menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, merapikan letak kemeja kokonya. “Eh... takutnya terkesan kurang sopan, Mbak.”
“Kan gue sendiri yang minta, Fatih. Jadi legal-legal aja,” kejar Maira dengan binar jenaka yang mulai kembali di matanya.
Fatih menarik napas pelan, mencoba membiasakan diri dengan permintaan tak biasa dari wanita di depannya ini. “Kalau begitu... iya deh, Mb—a... eh, maksud saya, Maira,” ucap Fatih yang sempat tersendat di lidah, membuat Aisyah yang melihat tingkah kakaknya langsung tertawa lirih.
“Nah, gitu dong! Kan enak dengernya,” sahut Maira puas.
Setelah memastikan seluruh keperluan Maira beres dan obat-obatannya sudah ditata dengan rapi, Fatih dan Aisyah pun akhirnya pamit untuk pulang karena hari sudah semakin temaram menjelang magrib. Mereka meninggalkan Maira sendiri di dalam rumah peninggalan neneknya yang seketika kembali diselimuti oleh kesunyian yang pekat.
Malam harinya, gerimis tipis mulai mengguyur atap rumah. Maira berbaring telentang di atas kasur kamarnya yang empuk setelah selesai menyantap nasi pemberian Fatih dan menelan beberapa butir obat pereda nyeri. Suasana kamar yang sepi dan hanya diterangi lampu tidur remang-remang membuat pikiran Maira mendadak melayang jauh.
Di tengah keheningan malam, ingatan Maira perlahan-lahan kembali berputar pada sosok Rayn. Bayangan wajah lelaki itu saat terakhir kali bersamanya di dalam mobil yang ringsek kembali berkelebat.
“Gimana ya kondisi Rayn sekarang di rumah sakit? Apa dia luka parah banget?” batin Maira dalam hati, menyembunyikan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.
Maira mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Bagaimanapun kasarnya perlakuan Rayn akhir-akhir ini, Maira tidak bisa menampik kenyataan bahwa lelaki itu adalah seseorang yang telah lama bersamanya di masa lalu. Rayn adalah orang yang pernah mengisi kekosongan hatinya yang hampa saat ia merasa dibuang oleh dunia. Meskipun Maira tahu betul, di balik kebersamaan mereka dulu, Rayn selalu memiliki maksud dan kemauan tersendiri yang berujung negatif. Namun, sisa rasa khawatir sebagai sesama manusia yang pernah berbagi cerita tetap tidak bisa dihapus begitu saja dari lubuk hati Maira malam itu.