NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Roda Langit Ancol

"Aku tidak mau pergi kalau Mama Naya tidak ikut."

Rayyan duduk di lantai ruang tamu, memeluk tas kecil bergambar mobil pemadam.

Arkan sudah memakai kaus hitam dan celana santai, sesuatu yang jarang Naya lihat. Lila berdiri di belakang sofa, memegang topi putih yang dibelikan Raka.

Naya menatap Arkan. "Bapak serius mau membawa anak-anak ke Ancol hari ini?"

"Dokter anak bilang Rayyan butuh udara luar. Psikolog sekolah bilang Lila perlu pengalaman aman di tempat ramai."

"Dan saya?"

"Dokter kandungan bilang kamu perlu berjalan pelan dan tidak stres."

Naya tertawa tanpa suara. "Jadi Dufan obat?"

Rayyan langsung mengangkat tangan. "Aku janji tidak naik yang muter-muter."

Lila berbisik, "Aku mau lihat laut."

Naya menoleh padanya.

Satu kalimat kecil itu cukup menghancurkan semua alasan.

Mereka pergi dengan dua mobil. Satu mobil di depan berisi pengawal, satu mobil untuk mereka berempat. Raka sebenarnya menawarkan ikut, tetapi Rayyan berkata, "Om Raka bikin suasana kantor," dan untuk pertama kalinya Arkan menyuruh Raka libur setengah hari.

Di dalam mobil, Rayyan duduk di kursi anak samping Lila.

"Lila pernah ke Ancol?"

Lila menggeleng.

"Nanti aku tunjukin tempat es krim. Tapi Mama Naya tidak boleh makan terlalu banyak dingin, kata dokter."

Naya menoleh. "Sejak kapan kamu jadi dokter?"

"Sejak Mama hamil."

Mobil mendadak sunyi.

Arkan melirik lewat kaca spion.

Naya menatap jendela.

Rayyan sadar salah bicara, lalu meraih tangan Lila. "Maksudku, sejak ada adik rahasia."

"Rayyan."

"Aku diam."

Ia benar-benar diam selama tiga detik.

Lalu berbisik pada Lila, "Tapi kamu dengar kan?"

Lila mengangguk.

Naya menutup mata. Arkan menahan senyum.

Di Ancol, udara laut bercampur bau popcorn dan aspal panas. Hari kerja membuat tempat itu tidak terlalu padat. Lila menggenggam tangan Naya erat-erat di awal, tetapi pelan-pelan pegangannya melonggar saat Rayyan menunjukkan akuarium kecil, kios balon, dan kereta mini.

"Lihat, ikan itu mukanya seperti Om Raka," kata Rayyan.

Naya hampir tersedak minum.

Arkan menunduk. "Jangan bilang itu ke Om Raka."

"Kenapa?"

"Dia bisa tersinggung."

"Tapi benar."

Lila menutup mulutnya.

Itu bukan tawa penuh.

Hanya suara kecil.

Namun Naya mendengarnya seperti hadiah.

Mereka makan siang di restoran tepi laut. Naya memilih nasi hangat, sup bening, dan ikan bakar tanpa sambal. Rayyan menatap piringnya dengan sedih.

"Sambalnya tidak boleh?"

"Untuk kamu juga tidak," kata Arkan.

"Papa tidak asyik."

"Papa masih bayar."

"Kalau begitu Papa asyik sedikit."

Naya menunduk, tersenyum.

Arkan melihatnya.

Beberapa minggu terakhir, wajah Naya selalu tegang. Hari ini, di antara suara anak-anak dan angin laut, ketegangan itu turun sedikit. Tidak hilang. Hanya turun. Tapi bagi Arkan, itu seperti jendela yang akhirnya dibuka.

Setelah makan, Rayyan meminta naik bianglala.

Lila takut di awal. Naya hampir menolak, tetapi Lila menarik ujung bajunya.

"Kalau Mama ikut, aku mau."

Kata Mama itu masih pelan, tetapi tidak lagi tersangkut.

Naya mengangguk.

Mereka masuk satu kabin. Arkan duduk berhadapan dengan Naya. Rayyan menempel di kaca, sementara Lila duduk di sebelah Naya, tangannya menggenggam ujung lengan baju.

Saat kabin naik, laut terbuka di bawah.

Rayyan menunjuk jauh-jauh. "Lila, lihat! Rumah-rumah jadi kecil."

Lila mendekat ke kaca.

"Takut?" tanya Rayyan.

Lila menggeleng.

"Kalau takut bilang. Aku kakak."

Naya menoleh.

"Kakak?"

Rayyan mengangguk mantap. "Aku lebih besar dua menit."

Arkan dan Naya sama-sama membeku.

Lila menatap Rayyan. "Kamu tahu dari mana?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa."

Ia berkata sesederhana itu, lalu kembali menunjuk laut.

Naya menunduk, air mata naik tanpa izin.

Arkan melihatnya.

"Naya..."

"Jangan."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Kalau Bapak bilang ini kebetulan, saya tidak sanggup."

Arkan diam.

Di puncak bianglala, angin membuat kabin bergoyang sedikit. Lila refleks memeluk Naya. Rayyan ikut memegang tangan Lila.

"Tidak apa-apa. Kalau jatuh, Papa tangkap."

Arkan mengangkat alis. "Papa bukan Superman."

"Tapi Papa tinggi."

Lila tertawa kecil lagi.

Naya akhirnya ikut tertawa, pendek dan basah.

Untuk beberapa menit, mereka terlihat seperti keluarga biasa.

Tidak ada laporan DNA.

Tidak ada Rania.

Tidak ada penjara.

Hanya dua anak, seorang ibu yang takut berharap, dan seorang laki-laki yang terlambat belajar cara melindungi.

Saat turun dari bianglala, Lila meminta ke toilet. Naya menemaninya. Arkan menunggu di luar bersama Rayyan.

Tidak lama, pintu toilet anak terbuka. Lila keluar sambil membetulkan kerah bajunya. Rambutnya tersibak, memperlihatkan leher belakang.

Arkan menegang.

Di bawah telinga kiri Lila ada tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit.

Rayyan berlari ke arah Lila, topinya miring. Saat ia menunduk mengambil botol minum yang jatuh, rambut di belakang telinganya ikut tersingkap.

Tanda yang sama.

Ukuran berbeda sedikit, tetapi bentuknya nyaris identik.

Arkan tidak bergerak.

Naya keluar dari toilet dan melihat wajahnya.

"Ada apa?"

Arkan menatap dua anak itu.

Rayyan sedang membetulkan topi Lila.

"Tidak," katanya pelan.

Tapi suaranya tidak berhasil menyembunyikan apa pun.

Naya mengikuti arah pandangnya.

Saat ia melihat tanda lahir itu, dunia yang baru saja terasa ringan kembali berhenti.

Di tengah keramaian Ancol, dua anak itu berdiri berdampingan.

Dan tubuh mereka menyimpan bukti yang tidak bisa dipalsukan Rania.

Naya berlutut di depan Lila, tangannya bergetar saat menyibak rambut anak itu sekali lagi.

Tanda lahir itu kecil. Selama ini tertutup rambut, sering terlewat karena Lila selalu menunduk. Bentuknya seperti bulan sabit tipis, warna cokelat muda.

"Mama?" Lila bertanya pelan.

Naya tidak bisa menjawab.

Rayyan menepuk belakang telinganya sendiri. "Aku juga punya?"

Arkan berjongkok dan mengangguk. "Iya."

Rayyan tersenyum bangga. "Berarti benar aku kakak."

Tidak ada orang dewasa yang berani mengatakan iya.

Karena kalau mereka mengatakan iya, semua dinding yang dibangun dari dokumen palsu bisa runtuh terlalu cepat, dan anak-anak akan tertimpa puingnya.

Arkan mengambil ponsel, memotret tanda lahir itu dengan izin Naya.

"Untuk dokter genetika," katanya, sebelum Naya bertanya.

"Jangan kirim ke siapa pun yang bisa dibeli."

"Aku kirim ke Raka dan dokter independen di luar grup rumah sakit."

Naya mengangguk.

Mereka memutuskan pulang lebih cepat. Rayyan protes sebentar, tetapi ketika melihat Naya pucat, ia langsung berkata, "Aku sudah puas. Lila juga sudah lihat laut."

Di mobil, anak-anak tertidur berdampingan.

Kepala Rayyan jatuh ke bahu Lila. Lila tidak menjauh.

Naya melihat mereka dari kursi depan.

"Kalau mereka benar saudara, saya kehilangan empat tahun mereka bersama."

Arkan tidak mengemudi. Sopir yang mengemudi. Namun tangannya di atas lutut mengepal.

"Aku juga."

Naya menoleh.

Arkan menatap jalan. "Aku kehilangan kesempatan menjadi ayah yang benar."

Naya ingin mengatakan itu bukan hal yang sama.

Tapi ia terlalu lelah.

"Bapak masih punya kesempatan dengan Rayyan."

"Dan Lila?"

Naya tidak menjawab.

Arkan menerima diam itu.

Ketika mobil masuk tol, ponsel Arkan bergetar. Foto dari Ancol sudah tersebar. Bukan tanda lahir. Foto mereka berempat di dekat bianglala, diambil dari jauh.

Caption akun gosip:

`Arkan Wiratama jalan dengan mantan napi dan dua anak. Bu Rania ke mana?`

Naya melihat layar itu.

"Rania tahu kita bersama."

Arkan langsung menghubungi Raka.

"Cari siapa yang mengikuti kami."

Di rumah Pradipta, Rania menatap foto yang sama.

Tanda lahir tidak terlihat.

Tapi cara Arkan berdiri di belakang Naya, cara Rayyan memegang tangan Lila, sudah cukup membuat dadanya terbakar.

Ia melempar ponsel ke sofa.

"Kalau mereka ingin jadi keluarga," katanya pada Bu Mira, "aku akan buat sekolah, wartawan, dan polisi melihat Naya sebagai ibu yang berbahaya."

Bu Mira tidak menegur.

Ia hanya bertanya, "Besok anak-anak sekolah?"

Rania tersenyum.

"Besok."

Bu Mira mengambil ponsel dan menghubungi salah satu ibu komite sekolah yang selama ini senang menerima bingkisan Pradipta.

"Besok ada sedikit masalah yang perlu Ibu bantu luruskan," katanya manis.

Di seberang, perempuan itu langsung paham bahwa kata luruskan berarti membuat sesuatu tampak bengkok lebih dulu.

Rania mendengar percakapan itu dan menatap lagi foto Ancol.

Naya terlihat terlalu tenang di sana.

Besok, ia akan memastikan ketenangan itu pecah di depan semua orang tua murid.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!