Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Gerbang yang Memilih Pewaris
Rasa dingin menusuk tulang.
Itu hal pertama yang dirasakan Lin Yuan saat kesadarannya kembali.
Suara tetesan air bergema di ruangan yang luas.
Tik... Tik... Tik...
Lin Yuan membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya masih kabur. Seluruh tubuhnya terasa remuk.
Bahu kirinya berdenyut hebat. Itu adalah luka dari serangan Zhao Feng sebelum dia melompat ke jurang.
Dia mencoba menggerakkan jarinya. Syukurlah, dia masih bisa bergerak.
"Aku... masih hidup?"
Ingatannya kembali perlahan. Pengkhianatan Han Lie. Serangan Zhao Feng. Dan keputusannya untuk melompat ke jurang demi bertahan hidup.
Lin Yuan memaksa dirinya duduk. Rambut dan pakaiannya basah oleh air sungai.
Dia berada di dalam sebuah gua bawah tanah yang sangat luas. Langit-langit gua begitu tinggi hingga tidak terlihat ujungnya.
Dinding batu dipenuhi lumut hijau yang memancarkan cahaya redup. Sungai bawah tanah mengalir tenang di sampingnya.
Tempat ini terlalu sunyi.
[Memulai analisis lingkungan...]
Suara Sistem Pemakan Takdir terdengar di dalam kepalanya.
[Analisis gagal. Wilayah ini berada di luar cakupan basis data sistem.]
[Tingkat bahaya tidak dapat diperkirakan. Mohon Tuan tetap waspada.]
Lin Yuan mengerutkan kening. Ini pertama kalinya sistem gagal menganalisis tempat.
Selama ini, sistem selalu bisa memberikan informasi tentang musuh dan lingkungan. Tempat ini pasti tidak biasa.
Dia berdiri dengan susah payah. Kakinya masih goyah, tapi dia memaksa berjalan menyusuri tepi sungai.
Tidak lama kemudian, langkahnya terhenti. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya.
Sebuah gerbang batu raksasa berdiri kokoh.
Tingginya puluhan meter. Permukaannya penuh retakan karena usia. Gerbang itu dililit oleh sembilan rantai hitam yang sangat besar.
Setiap rantai sebesar batang pohon. Di atas rantai itu terukir simbol kuno yang memancarkan tekanan berat. Hanya dengan menatapnya, dada Lin Yuan terasa sesak.
Di sekitar gerbang, berserakan senjata-senjata yang sudah berkarat. Pedang patah, tombak hancur, kapak yang sudah rapuh.
Dan di antara senjata itu, ada banyak tulang-belulang manusia.
Ada kerangka yang masih menggenggam pedang. Ada yang berlutut menghadap gerbang, seolah sedang memohon sebelum mati.
"Berapa banyak orang yang mati di sini?" bisik Lin Yuan.
[Peringatan! Kepadatan Energi Takdir sangat tinggi, terdeteksi. Jangan menyentuh objek apa pun tanpa izin sistem.]
Lin Yuan mengangguk dan mengamati gerbang itu lebih teliti. Di bagian tengah gerbang, ada sebuah prasasti batu yang tertutup lumut.
Dia membersihkan lumut itu dengan lengan bajunya. Perlahan, tulisan kuno muncul.
Anehnya, dia tidak pernah belajar tulisan itu, tapi dia bisa memahami artinya.
Tulisan itu berbunyi: "Takdir Memilih Pewaris."
Lin Yuan terdiam lama setelah membaca kalimat itu.
Lalu dia tertawa kecil. Tawanya bergema di gua yang sunyi.
"Aku tidak percaya takdir," katanya pelan.
"Jika takdir itu adil, aku tidak akan dihina selama tiga tahun di sekte."
"Jika takdir itu adil, aku tidak akan diusir dan diburu untuk dibunuh oleh saudara seperguruanku sendiri."
Dia mengepalkan tangan kanannya dengan erat.
"Jika takdir memang ada, maka aku yang akan menentukan jalanku sendiri!"
Begitu kalimat itu terucap, sesuatu terjadi.
Di dalam lautan kesadarannya, Gerbang Pemakan Takdir bergetar hebat.
KLANG!
Suara rantai emas bergema keras di dalam jiwanya. Cahaya hitam pekat memancar dari gerbang di dalam laut kesadarannya. Cahaya itu jauh lebih terang dari sebelumnya.
Salah satu rantai emas yang mengikat gerbang di dalam jiwanya kembali retak. Retakannya semakin lebar.
Pada saat yang sama, gerbang batu raksasa di depannya ikut bergetar.
KLANG! KLANG!
Sembilan rantai hitam yang melilit gerbang batu saling berbenturan. Seluruh gua berguncang hebat. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.
"Apa yang terjadi?" teriak Lin Yuan sambil mundur.
Dari celah gerbang batu, kabut hitam pekat keluar. Kabut itu berkumpul di udara dan perlahan membentuk sosok seseorang.
Sosok itu adalah seorang lelaki tua berjubah hitam. Tubuhnya transparan. Wajahnya penuh kerutan, tapi matanya memancarkan tekanan yang sangat kuat.
Lelaki tua itu menatap Lin Yuan tanpa berkedip. Keheningan berlangsung lama.
Kemudian dia tersenyum tipis.
"Seratus ribu tahun..." Suaranya parau dan bergema di seluruh gua.
"Akhirnya ada yang datang membawa Gerbang Pemakan Takdir ke hadapanku."
Tubuh Lin Yuan langsung menegang. Jantungnya berdetak keras.
Bagaimana orang ini bisa tahu tentang rahasia terbesar di dalam jiwanya?
Secara naluriah, Lin Yuan menggenggam gagang pedang besi di pinggangnya.
"Siapa kau?" tanya Lin Yuan dengan waspada.
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Dia justru menatap sembilan rantai hitam dengan tatapan rindu.
"Sudah terlalu lama aku menunggu di tempat gelap ini. Aku hampir lupa rasanya menunggu pewaris yang layak."
[Peringatan! Entitas di depan bukan manusia dan bukan jiwa. Status tidak dapat diidentifikasi.]
[Mohon Tuan menjaga jarak aman.]
Suara sistem membuat Lin Yuan semakin waspada. Bahkan sistem tidak bisa mengenali lelaki tua ini.
Lelaki tua itu menoleh ke arah Lin Yuan dan tersenyum.
"Menarik. Bahkan benda di dalam jiwamu itu tidak bisa mengenali siapa aku."
Lin Yuan menyipitkan mata. Lelaki tua ini bahkan tahu tentang sistem.
"Jangan gugup, anak muda. Aku tidak bisa merebut Gerbang Pemakan Takdir milikmu. Sejak kau membangunkannya, gerbang itu sudah mengakui dirimu sebagai tuannya selamanya."
"Siapa kau sebenarnya? Apa tujuanmu?" tanya Lin Yuan.
Lelaki tua itu menghela napas panjang.
"Aku hanyalah Penjaga Makam Takdir ini."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, seluruh gua berguncang pelan.
KLANG!
Sembilan rantai hitam berbunyi nyaring. Aura kuno yang menyesakkan dada menyebar ke seluruh gua.
"Dahulu, tempat ini didatangi oleh para Kaisar dan Raja yang mengaku bisa mengendalikan hukum langit."
"Mereka datang dengan sombong. Mereka ingin merebut warisan agung di balik gerbang ini."
Lelaki tua itu melirik tulang-belulang yang berserakan di tanah dengan wajah datar.
"Lalu mereka semua mati secara tragis. Karena mereka tidak mampu melewati ujian takdir mereka sendiri."
Lin Yuan memandang tulang-belulang itu dengan ngeri. Jadi mereka adalah para ahli yang pernah mengguncang dunia.
Lelaki tua itu melanjutkan dengan suara berat.
"Mereka semua percaya kekuatan bisa menaklukkan takdir. Mereka lupa satu hal penting."
"Takdir tidak pernah tunduk pada kekuatan. Justru kekuatan yang akan tunduk pada orang yang mampu melampaui takdir."
Saat kata-kata itu bergema, gerbang di dalam kesadaran Lin Yuan kembali bergetar hebat.
Lelaki tua itu menatap Lin Yuan dengan penuh harapan.
"Anak muda, kau berkata tidak percaya takdir. Itu adalah jawaban yang paling benar bagi seorang pewaris."
"Orang yang terlalu percaya takdir tidak akan pernah bisa menjadi pewaris tempat ini."
Lin Yuan menarik napas untuk menenangkan hatinya.
"Kalau begitu, mengapa gerbang ini seolah memilihku untuk datang ke sini?"
Lelaki tua itu tersenyum.
"Bukan gerbang ini yang memilihmu. Ia hanya mengenali sesuatu yang telah lama hilang."
"Tiga tahun lalu, Bola Roh itu tidak hancur karena kau lemah. Ia retak karena merasakan keberadaan Gerbang Pemakan Takdir di dalam tubuhmu."
Mata Lin Yuan membelalak. Jadi selama ini dia dihina karena kekuatan agung yang bangkit di dalam dirinya?
Sebelum Lin Yuan sempat bertanya lagi, lelaki tua itu tiba-tiba mengangkat tangannya.
BOOM!
Seluruh gua berguncang hebat. Sembilan rantai hitam menegang bersamaan menahan tekanan energi yang luar biasa.
Gerbang batu raksasa perlahan terbuka. Sebuah celah sempit muncul di antara dua daun gerbang yang tebal.
Kabut hitam menyembur keluar. Suhu di dalam gua turun drastis.
Dari balik kabut itu, terdengar suara langkah kaki yang berat dan seragam.
Tap... Tap... Tap...
Sosok-sosok berjubah hitam berjalan keluar satu per satu. Wajah mereka pucat dan mata mereka menyala merah. Di tangan mereka tergenggam pedang berkarat, tapi aura mereka jauh lebih kuat daripada Han Lie.
Lin Yuan menggenggam pedangnya lebih erat.
[Bahaya ekstrem terdeteksi! Pasukan Penjaga Takdir telah bangkit!]
[Mohon Tuan bersiap untuk pertempuran hidup dan mati!]
Bersambung...