Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Benih Fitnah di Balik Senyum
"Kalau ibu-ibu gak percaya..." Yanti memperlihatkan lengannya yang memerah akibat terkena kuah panas saat memasak tadi pagi.
"Ini. Tadi pagi Vira menyiram saya pakai kuah panas cuma karena katanya sup yang saya masak terlalu asin."
Padahal luka itu terjadi karena kuah sup tumpah saat ia sendiri memasak.
Yanti lalu memperlihatkan memar di lututnya. "Kalau yang ini..."
Ia mengusap pelan bagian yang lebam. "Saya didorong Vira sampai jatuh. Cuma karena saya gak sengaja mecahin piring waktu nyuci."
Wajah beberapa ibu-ibu mulai berubah.
"Kalau memang begitu, laporkan saja ke polisi."
"Iya. Jangan didiamkan."
"Kami bisa jadi saksi kalau memang kamu dianiaya."
Yanti buru-buru menggeleng sambil menangis lebih keras. "Jangan, Bu... jangan."
"Kenapa?"
"Kalau Vira dipenjara... saya mau kerja di mana? Meski dia sering jahat sama saya, tetap saja dia yang ngasih saya pekerjaan."
Ia kembali mengusap air matanya. "Kalau saya dipecat... siapa yang bakal bayar biaya berobat bapak saya?"
Padahal selama bekerja di kota itu tak sepeser pun Yanti mengirimkan uang pada orang tuanya. Bahkan jika diminta pun banyak alasan.
Beberapa ibu mulai tampak prihatin. Namun, sebagian lainnya masih menyimpan keraguan.
"Kasihan sih... tapi tetap aja kita baru dengar dari satu pihak."
"Iya. Jangan buru-buru percaya. Kita juga harus dengar penjelasan Vira."
Ucapan itu membuat Yanti mengepalkan tangan di balik punggungnya.
Meski tidak semua percaya, ia tahu benih keraguan sudah berhasil ia tanam. Itu saja sudah cukup untuk merusak nama baik Vira sedikit demi sedikit.
Setelah berhasil menanamkan keraguan di benak para ibu, Yanti buru-buru menggeleng panik.
"Ibu-ibu, tolong jangan bilang sama siapa pun, ya. Saya tadi keceplosan," ucapnya dengan wajah cemas, seolah benar-benar menyesali perkataannya.
Ia menundukkan kepala, lalu melanjutkan dengan suara lirih, "Saya takut Vira marah sama saya. Saya susah cari kerja karena gak bisa kerja cepat kayak orang lain. Sebenarnya saya sudah bersyukur dia masih mau mempekerjakan saya."
Yanti menggenggam kedua tangannya erat, air matanya kembali mengalir.
"Tolong... anggap saja saya gak pernah bilang apa-apa," pintanya dengan akting yang begitu meyakinkan.
Seandainya ada yang melihatnya tanpa mengetahui kebenaran, mungkin mereka akan mengira Yanti adalah korban yang sedang ketakutan. Aktingnya benar-benar sempurna.
Para ibu saling berpandangan. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya mengangguk pelan.
"Iya, sudah. Tenang saja," ujar salah seorang dari mereka.
"Semoga kamu sabar, ya, Nak."
Yanti mengangguk penuh rasa syukur.
"Terima kasih... terima kasih, Ibu-ibu," ucap Yanti dengan wajah penuh rasa lega.
Di balik wajahnya yang tampak polos, sudut bibir Yanti nyaris terangkat. Benih-benih keraguan telah berhasil ia taburkan. Kini ia hanya perlu menunggu gosip itu menyebar dengan sendirinya.
Tak lama kemudian, ia membeli dua bungkus es kelapa muda lalu pulang.
Ia masuk ke dalam rumah dengan tenang seolah ia hanya keluar membeli es kelapa muda. Padahal ia menemukan celah dan langsung dimanfaatkan untuk menjatuhkan Vira.
"Ra, ini es degannya."
Vira menerima kantong plastik itu. "Yang satu buat kamu aja."
"Makasih, Ra." Mata Yanti berbinar. Namun dalam hati ia mendengus. "Ya iya lah. Masa aku yang kepanasan beli, terus kamu habisin dua-duanya?"
Vira membawa es itu ke kamar. Kurang dari semenit kemudian, ia keluar lagi.
"Yanti."
"Iya?"
"Skincare aku hilang."
"Uhuk! Uhuk!"
Yanti langsung tersedak. "Ilang?" tanyanya sambil mengusap bibir. "Ilang gimana?"
Dalam hati ia mulai panik. "Cepat banget dia sadar?"
Vira menatapnya datar. "Krim siang, krim malam, serum, sama pelembapku."
Yanti buru-buru menggeleng. "Aku gak tahu."
"Masa?"
"Iya."
Vira mengangguk pelan. "Berarti aku harus lapor polisi."
Mata Yanti langsung membesar. "Polisi?"
"Iya." Vira mengangkat bahu. "Soalnya yang hilang lumayan mahal."
Yanti menelan ludah. "Gak usah sampai polisi juga kali...."
"Kenapa?"
"Soalnya... paling juga salah taruh."
"Aku gak pernah salah naruh." Vira melangkah mendekat. "Yanti."
"I-iya?"
"Boleh aku lihat lemarimu?"
Wajah Yanti langsung berubah. "Buat apa?"
"Cuma memastikan."
"Kamu curiga sama aku?"
"Aku cuma mau memastikan."
"Kamu gak boleh sembarangan nuduh orang!" Tanpa sadar nada suaranya naik satu oktaf.
Vira tetap tenang. "Makanya aku mau memastikan."
"Aku gak ngambil!"
Vira menyipitkan matanya, menatap Yanti penuh selidik. "Kalau memang gak ngambil, kenapa gugup?"
"Aku gak gugup!" bantah Yanti.
"Kalau begitu buka lemarimu."
Yanti menggigit bibir. "Aku gak mau."
"Kenapa?"
"Itu privasiku."
Vira tersenyum tipis. "Kalau begitu aku panggil Ketua RT sekalian."
Mendengar itu, Yanti langsung panik. "Ya udah!" Dengan kesal ia berjalan menuju kamar. "Silakan cari!"
Vira membuka laci paling bawah. Tak butuh waktu lama. Empat kotak skincare miliknya tersusun rapi di sana.
Yanti langsung berteriak. "Itu punyaku!"
Vira mengangkat sebelah alis. "Punyamu?"
"Iya!"
"Kapan kamu beli?"
"Beberapa hari lalu."
"Di mana?" cecar Vira.
Yanti terdiam sepersekian detik. "Di... toko kosmetik."
"Yang mana?"
"Itu... pokoknya di kota."
Vira mengangguk pelan. "Berapa harganya?"
"Lupa."
"Lupa semua?"
"Ya... sekitar seratus ribuan."
Vira tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu justru membuat Yanti makin gelisah.
"Kenapa ketawa?"
"Soalnya lucu."
"Apa yang lucu?" Yanti meremas ujung bajunya.
"Kamu bilang beli sendiri."
"Iya."
Vira mengangkat sebelah alisnya. "Katanya harganya sekitar seratus ribu."
"Benar." Yanti tetap berusaha terlihat tenang.
Vira mengangkat satu botol serum. "Yang ini saja hampir lima ratus ribu."
Yanti membeku.
Vira mengambil pelembap. "Ini empat ratus ribu."
Lalu krim malam. "Ini tiga ratus lima puluh ribu."
Ia menatap Yanti lurus. "Total semuanya hampir dua juta rupiah."
Wajah Yanti langsung pucat.
"Jadi sekarang aku mau tanya." Vira melipat kedua tangan di depan dada. "Dari mana uangmu buat beli semuanya?"
Yanti membuka mulut. Namun tak satu kata pun keluar.
Vira melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah. Yanti refleks menelan ludah.
"Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini," ucap Vira dengan suara tenang, "kerjakan tugasmu dengan benar dan jujur."
Tatapannya tak bergeser sedikit pun.
"Kalau tidak..." Vira berhenti sejenak. "Percayalah, aku gak akan menganggapmu saudara lagi."
Setelah mengatakan itu, Vira berbalik dan berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
Yanti mengatupkan giginya rapat. Tatapannya dipenuhi kebencian.
"Tunggu saja, Vira," gumamnya lirih. "Sebentar lagi, satu kampung akan memandangmu dengan jijik."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Dan saat nama baikmu hancur... aku ingin lihat apa Hartato masih mau melamarmu."
...✨"Orang yang paling berbahaya bukanlah musuh yang berdiri di depanmu, melainkan orang yang tersenyum di rumahmu sambil menyiapkan kehancuranmu."...
..."Topeng kepolosan bisa menipu banyak mata, tetapi tak akan mampu menyembunyikan kebenaran untuk selamanya."✨...
.
To be continued
Si Kutu Kupret bener² manfaatin Vira jadi Pahlawan,padahal kenyataannya Bohong,baru terungkap kebenarannya.
Jangan bilang apa yaa..?
sepertinya Vira benar-benar akan jatuh Cinta sama Arvin
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu