Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 TATAPAN YANG MULAI SULIT DI SEMBUNYIKAN.
Bee akhirnya bisa menikmati makan siangnya dengan tenang. Berbeda dengan saat di kantin tadi, kini gadis itu makan dengan lahap.
Sesekali Bee mengangguk-anggukkan kepala menikmati makanan yang menurutnya sangat enak.
"Hmm... enak banget."
Melihat ekspresi Bee yang polos, Xian hanya terkekeh pelan.
Sedangkan di seberangnya...
Kak Juna tanpa sadar terus memperhatikan Bee.
Cara Bee meniup sup yang masih panas.
Cara Bee menggembungkan pipinya saat mengunyah.
Sampai wajah Bee yang terlihat puas setelah meminum jus. Tanpa sadar, sudut bibir Kak Juna terangkat membentuk senyum tipis.
Xian yang duduk di sampingnya langsung menyadari tatapan itu, Ia menyenggol lengan Kak Juna pelan. "Kalau suka..." Xian mendekatkan wajahnya lalu berbisik pelan. "ungkapin.. Bukan malah diam-diam nyuri pandang."
Kak Juna langsung melirik tajam. "Apa sih? Biasa aja."
Xian menahan tawanya. "Biasa katanya, Padahal dari tadi matamu gak lepas dari Bee."
Kak Juna langsung memalingkan wajah ke arah jendela Ia memilih meminum kopinya daripada meladeni sahabatnya yang usil.
Melihat reaksi itu, Xian justru semakin yakin dengan dugaannya. "Dasar dokter dingin. Ternyata kalau jatuh cinta sama aja."
Kak Juna hanya mengembuskan napas pelan. "Urus saja hidupmu."
"Hahaha..." Xian tertawa puas karena berhasil mengganggu ketenangan Kak Juna.
Bee yang sejak tadi fokus makan akhirnya mengangkat kepala. "Pak Xian, kenapa ketawa sendiri?"
"Enggak." Xian buru-buru menggeleng. "Tiba-tiba ingat sesuatu yang lucu."
Bee mengangguk polos lalu kembali melanjutkan makannya.
Setelah suasana kembali tenang, Xian menyandarkan tubuhnya di kursi. "Oh ya, Bee."
Bee menoleh. "Iya, Pak?"
"Akhir pekan nanti perusahaan mengadakan liburan selama dua hari."
Bee tampak penasaran. "Liburan?"
"Iya."
"Seluruh karyawan akan ikut Kamu juga harus ikut."
Bee langsung menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Kan aku masih anak magang, Memangnya boleh ikut?"
Xian langsung tertawa. "Hahaha... Tentu saja boleh, Di perusahaanku tidak ada aturan pegawai magang dilarang ikut kegiatan kantor." Ucapnya Xian "Justru supaya kalian bisa lebih akrab dengan semua karyawan."
Bee tersenyum lebar. "Serius?"
"Serius. Siapa saja boleh ikut "
" Wah... terima kasih, Pak." Bee terlihat benar-benar senang.
Di sampingnya, Kak Juna mulai mencium sesuatu yang mencurigakan, Ia mengenal Xian terlalu lama.
Kalau sahabatnya tiba-tiba bersikap baik seperti ini...
Pasti ada maksud tersembunyi Benar saja.
Xian langsung menepuk bahu Kak Juna. "Tenang, Bro. Kamu juga ikut." Ucap Xian "Semakin banyak yang ikut, semakin seru."
Kak Juna hanya melirik datar. "Aku belum bilang mau ikut."
"Ya sekarang aku anggap kamu ikut."
"Kamu ini...."
Xian hanya terkekeh.
Bee ikut tertawa melihat keduanya saling berdebat seperti anak kecil. "Pak Xian ternyata suka maksa juga ya."
"Namanya juga bos. Harus tegas."
"Tapi kalau sama Kak Juna, saya masih kalah galak."
Mereka bertiga tertawa ringan.
Bee melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Mata Bee langsung membulat. "Astaga!"
"Kenapa?" tanya Kak Juna.
"Jam istirahat tinggal beberapa menit lagi, Aku harus balik ke kantor." Bee buru-buru membereskan piringnya.
Xian melambaikan tangan santai. "Tenang. Di sini ada Juna, Dia yang antar kamu."
Bee mengerutkan kening. "Lho? Terus Pak Xian mau ke mana?" Bee menyipitkan mata sambil tersenyum jahil. "Jangan-jangan mau bolos kerja?"
Xian langsung mendelik. "Cih... Bocah. Pengen tahu aja urusan bos."
Bee tertawa geli. "Kan cuma nanya."
"Rahasia perusahaan."
"Ya sudah, gak jadi nanya."
Kak Juna hanya menggeleng pelan melihat tingkah Bee yang kembali ceria.
Beberapa menit kemudian mereka keluar dari kafe.
Padahal...
Jarak antara kafe dan kantor hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Namun entah kenapa, Xian tetap memaksa Kak Juna mengantar Bee menggunakan mobil.
Kak Juna tahu. Semua ini hanyalah akal-akalan sahabatnya Namun ia memilih diam.
Sementara Bee yang duduk di kursi penumpang justru asyik bercerita tentang pengalaman magangnya.
Melihat Bee yang kembali bisa tersenyum dan tertawa, tanpa sadar hati Kak Juna ikut merasa tenang.
Sedangkan Xian yang berdiri di depan kafe memperhatikan mobil itu hingga menghilang dari pandangan Sudut bibirnya terangkat pelan.
"Dokter dingin... Kalau bukan gue yang bantu, kapan kalian jadian?" gumamnya sambil terkekeh kecil.