NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Kekuatan Penuh Pertama

Malam itu Bobon tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi dengan pertemuan yang akan terjadi besok. Wulan. Wanita yang pernah dicintainya. Wanita yang kini menjadi musuhnya. Dia berguling-guling di tempat tidur, mencoba menemukan posisi yang nyaman, tapi kegelisahan terus menggerogoti hatinya.

Saat fajar mulai menyingsing, Bobon memutuskan untuk bangun. Dia mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya. Bukan untuk terlihat gagah, tapi untuk menunjukkan rasa hormat pada Wulan. Dia ingin pertemuan mereka berjalan dengan baik, setidaknya dari sisinya.

Sarapan pagi berlangsung dengan suasana tegang. Keluarga kerajaan dan Nenek Mira duduk di meja, tapi tidak ada yang banyak bicara. Semua orang tahu apa yang akan terjadi hari ini.

"Bobon, kau yakin ingin melakukannya sendiri?" tanya Pangeran Bima.

"Aku harus, Pangeran. Ini urusan pribadiku."

"Tapi kami akan siaga di dekat sana. Jika terjadi sesuatu, kibarkan kain biru itu."

Bobon mengangguk. Dia menghabiskan makanannya dan berdiri. "Aku pergi dulu."

Nenek Mira meraih tangannya. "Bobon, ingat kata-kataku. Jangan menyerah padanya. Dia masih mencintaimu."

"Aku ingat, Nek. Aku tidak akan menyerah."

Bobon berjalan keluar istana menuju taman di belakang kerajaan. Itu adalah tempat yang dia pilih untuk bertemu Wulan. Tempat yang tenang dan indah, jauh dari keramaian. Dia duduk di bangku dekat kolam ikan dan menunggu.

Tak lama kemudian, suara seruling mulai terdengar. Melodi yang sama yang selalu dia dengar di malam-malam sebelumnya. Tapi kali ini, melodinya terdengar lebih dekat. Lebih nyata.

Bobon menoleh. Di ujung taman, seorang wanita dengan selendang biru berdiri. Rambutnya panjang dan hitam, wajahnya cantik tapi dingin. Di tangannya, ada seruling hitam yang dia mainkan dengan lembut.

"Wulan," bisik Bobon.

Wulan berhenti bermain. Dia menatap Bobon dengan mata yang tidak bisa dibaca. "Kau sudah berubah, Bobon. Dari pendekar gagah menjadi bocah gendut. Sungguh ironis."

"Aku tahu. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi."

"Kau tidak perlu menjelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Kau mencoba meningkatkan kekuatanmu dan gagal. Tubuhmu berubah. Ingatanmu hilang. Dan kau melupakanku."

Bobon merasakan sakit di dadanya. "Aku tidak sengaja melupakanmu, Wulan. Aku tidak bisa mengendalikannya."

"Tapi kau tetap melupakanku. Kau tetap tidak kembali. Aku menunggu bertahun-tahun, Bobon. Bertahun-tahun!"

Wulan berteriak. Air mata mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya, Bobon melihat kerentanan di balik topeng dinginnya.

"Aku minta maaf, Wulan. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku menyesal. Aku sangat menyesal."

"Penyesalanmu tidak berarti apa-apa! Kau menghancurkanku, Bobon! Kau menghancurkan hidupku!"

"Aku tahu. Dan aku akan melakukan apa pun untuk memperbaikinya."

Wulan tertawa pahit. "Memperbaikinya? Kau pikir semuanya bisa diperbaiki dengan kata-kata manis? Aku sudah bergabung dengan Sekte Iblis. Aku sudah membunuh ratusan orang. Tidak ada jalan kembali."

"Ada. Selalu ada jalan kembali. Aku akan membantumu."

"Kau tidak bisa membantuku! Kau bahkan tidak bisa membantu dirimu sendiri!"

Wulan mengangkat serulingnya dan mulai memainkan melodi yang berbeda. Melodi yang lebih cepat dan lebih keras. Bobon merasakan getaran aneh di tubuhnya. Dadanya terasa sesak.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Bobon.

"Aku akan menunjukkan padamu apa yang aku pelajari selama bertahun-tahun. Aku akan membuatmu merasakan sakit yang aku rasakan."

Melodi itu semakin keras. Bobon merasakan tekanan di kepalanya. Tubuhnya terasa berat. Dia jatuh berlutut dan memegangi kepalanya.

"Sakit!" teriak Bobon. "Berhenti, Wulan! Tolong!"

"Kau merasakannya? Itu baru permulaan. Aku akan membuatmu menderita seperti aku menderita."

Bobon merasakan air mata mengalir di pipinya. Bukan karena sakit fisik, tapi karena sakit hati. Dia melihat kebencian di mata Wulan. Kebencian yang lahir dari cinta yang kecewa.

"Aku mencintaimu, Wulan," bisik Bobon di tengah rasa sakit. "Aku selalu mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Wulan terkejut. Melodinya berhenti sejenak. "Apa?"

"Aku mencintaimu. Bahkan ketika aku tidak mengingatmu, hatiku tetap merindukanmu. Itu sebabnya aku selalu memegang kain biru ini. Itu sebabnya aku merasa tenang saat memegangnya."

Bobon mengeluarkan kain biru dari sakunya. Kain yang sama yang dia temukan di kedai. Kain yang selalu dia bawa ke mana-mana.

Wulan menatap kain itu dengan mata berkaca-kaca. "Kau... kau masih menyimpannya?"

"Aku tidak tahu artinya dulu. Tapi aku selalu merasa itu penting. Sekarang aku tahu. Itu adalah milikmu. Itu adalah satu-satunya hubunganku denganmu."

Wulan menurunkan serulingnya. Melodinya berhenti total. Tekanan di kepala Bobon hilang. Tapi rasa sakit di hatinya masih ada.

"Kenapa kau tidak kembali padaku?" tanya Wulan dengan suara bergetar. "Kenapa kau memilih mereka daripada aku?"

"Aku tidak memilih siapa pun, Wulan. Aku pergi untuk melindungi mereka. Tapi aku berencana kembali padamu. Aku berjanji akan kembali. Tapi sesuatu terjadi. Tubuhku berubah. Ingatanku hilang. Aku tidak bisa kembali karena aku bahkan tidak ingat siapa diriku."

Wulan diam. Air mata mengalir di pipinya. "Aku menunggu, Bobon. Aku menunggu bertahun-tahun. Aku menangis setiap malam. Aku berdoa agar kau kembali. Tapi kau tidak pernah datang."

"Aku minta maaf," kata Bobon sambil berdiri. Dia berjalan mendekati Wulan. "Aku tahu kata-kata tidak cukup. Tapi aku akan membuktikan padamu bahwa aku serius. Aku akan membantumu keluar dari Sekte Iblis. Aku akan membantumu menemukan kedamaian. Aku akan melakukan apa pun untuk memperbaiki semuanya."

Wulan menatap Bobon dengan mata penuh konflik. "Kau... kau benar-benar berubah. Dari pendekar yang sombong menjadi bocah yang rendah hati."

"Aku bukan pendekar sombong lagi. Aku hanya Bobon. Dan aku mencintaimu."

Wulan menggigit bibirnya. Air mata mengalir deras. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sudah merencanakan untuk membunuhmu. Tapi sekarang..."

"Kau tidak perlu memutuskan sekarang. Kau hanya perlu tahu bahwa aku di sini. Dan aku tidak akan pergi lagi."

Wulan menangis. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia menangis seperti wanita biasa. Bukan Jenderal Iblis yang dingin dan kejam. Tapi Wulan yang dulu. Wanita yang mencintai Bobon dengan segenap hatinya.

Bobon memeluknya. Wulan tidak menolak. Dia bersandar di dada Bobon dan menangis.

"Aku merindukanmu," bisik Wulan. "Aku sangat merindukanmu."

"Aku juga merindukanmu," jawab Bobon. "Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

Di kejauhan, keluarga kerajaan dan Nenek Mira mengamati dari balik pohon. Mereka tersenyum melihat pertemuan itu.

"Mereka akan baik-baik saja," kata Nenek Mira. "Cinta sejati selalu menemukan jalannya."

Pangeran Bima mengangguk. "Bobon memang luar biasa. Dia berhasil menjangkau hati Wulan."

Putri Laras menangis bahagia. "Ini sangat mengharukan. Aku senang untuk mereka."

Tapi di balik kebahagiaan itu, ada ancaman yang mengintai. Di atas bukit yang jauh, Kaisar Kegelapan mengamati pertemuan itu dengan mata penuh amarah.

"Wulan mengkhianatiku," geramnya. "Dia memilih cinta daripada kesetiaan. Dia harus dihukum."

Kaisar Kegelapan mengangkat tangannya dan memanggil para jenderalnya. "Bersiaplah. Kita akan menyerang Kerajaan Kencana lebih cepat dari yang direncanakan. Tidak ada yang bisa menghentikan kita."

Dan di taman istana, Bobon dan Wulan masih berpelukan. Tidak menyadari bahwa badai akan segera datang. Badai yang akan menguji cinta mereka. Badai yang akan menentukan nasib seluruh benua.

Bobon memegang erat tangan Wulan. "Aku akan melindungimu. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu."

Wulan tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, senyumnya tulus. "Aku percaya padamu, Bobon. Aku percaya padamu."

Di dada Bobon, segel keempat retak total. Rasa sakit yang luar biasa menjalari tubuhnya. Tapi di balik rasa sakit itu, ada kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang telah lama tertidur. Kekuatan yang siap bangkit.

Bobon berteriak kesakitan. Tubuhnya bergetar. Cahaya terang keluar dari dadanya. Segel keempat telah terbuka sepenuhnya.

Dan Bobon merasakan kekuatan penuh pertamanya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!