NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Di Depan Mata Air Suci

   Langkah kaki barisan ekspedisi kecil itu menggema lambat di atas lantai batu yang dilapisi es bening layaknya kaca. Semakin dalam Clara dan Leo melangkah masuk ke dalam Gua Air Mata Phoenix Ice, suasana mencekam dari lereng gunung sebelumnya perlahan berganti menjadi sebuah keindahan magis yang menakjubkan.

   Di langit-langit gua raksasa yang membubung tinggi, ribuan stalaktit es abadi menggantung indah, memantulkan pendaran cahaya biru tua dan ungu dari formasi kristal energi yang tumbuh di dinding-dinding batu.

   Anehnya, suhu di bagian terdalam gua ini tidak lagi sedingin di luar. Hawa hangat yang membawa aroma uap belerang murni mulai merayap dari celah-celah bebatuan bawah.

   Fenomena ini tercipta karena titik ini merupakan hulu dari pertemuan dua elemen alam yang berlawanan, dinginnya puncak es abadi dan panasnya urat magma purba Pulau Melayang Frostfire. Dua energi besar itu melebur dalam keseimbangan mistis yang sempurna, menciptakan ekosistem magis yang terisolasi dari dunia luar.

   "Ibu, lihat di depan sana!" seru Leo pelan sembari menunjuk ke arah ujung lorong gua yang melebar membentuk sebuah aula melingkar raksasa. Sepasang mata jingga mirip apinya berkilat penuh rasa takjub.

   Clara mempercepat langkah kakinya, merapatkan jubah wol bulu beruang langitnya. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam aula tersebut, detak jantung Clara seolah berhenti berdetak sesaat karena keindahan pemandangan di hadapannya.

   Di tengah aula batu tersebut, mengalir sebuah mata air melingkar yang airnya berwarna biru langit murni yang sangat jernih. Air tersebut tidak bergolak, melainkan memancarkan pendaran cahaya keemasan yang tipis di permukaannya, melepaskan uap-uap hangat yang membawa aroma kesegaran luar biasa, aroma yang langsung melumpuhkan rasa perih di persendian lengan kanan Clara yang terluka akibat penyerapan energi fisik oleh sarung tangan perak sebelumnya.

   "Mata Air Air Mata Phoenix Ice," bisik Clara, sepasang mata bulatnya berkaca-kaca karena rasa haru yang teramat sangat. Pengetahuan medis magis kuno yang ia pelajari bertahun-tahun di Kuil Agung akhirnya membuahkan hasil nyata.

   Di depan matanya sendiri, terletak kunci utama yang akan mencabut akar kutukan sihir hitam dari tubuh ketiga anak tirinya.

   "Kita berhasil, Ibu! Kita bisa menyembuhkan Rin dan Toby sekarang!" kata Leo riang, sebuah senyuman lebar yang sangat tulus menghiasi wajah ksatria langit mudanya. Ia bersiap untuk melangkah mendekati tepian mata air untuk mengambil cairan magis tersebut menggunakan botol kristal penampung yang ia bawa di tas ranselnya.

   "Tunggu, Leo! Jangan mendekat!" tegor Clara cepat, tangan kanannya yang terbalut sarung tangan Sutra Laba-laba Salju bergerak cepat menarik pundak kecil putra sulungnya untuk mundur kembali ke belakang perisai para prajurit elite.

   Insting seorang mantan Penyembuh Agung kembali menyelamatkan mereka. Begitu Leo mundur satu langkah, permukaan lantai es di sekeliling mata air suci mendadak retak dengan suara dentuman yang keras.

   Brakkk!

   Air biru jernih yang semula tenang mendadak bergolak hebat. Dari dalam dasar mata air, muncul gelombang energi es murni yang sangat pekat, membentuk siluet sesosok makhluk spiritual penjaga berwujud burung raksasa yang seluruh tubuhnya ditenun dari es kristal abadi dan api biru yang dingin. Makhluk itu mengepakkan sayap esnya yang megah, mengeluarkan lengkingan gaib yang menggetarkan seluruh dinding gua batu.

   Frostfire Guardian, manifestasi roh purba yang terlahir dari keseimbangan dua elemen mata air suci tersebut. Tugasnya selama ribuan tahun adalah menguji ketulusan dan kelayakan siapa pun yang berniat mengambil cairan murni penawar kutukan dari pulau terlarang ini.

   "Para prajurit, jangan melepaskan tembakan! Senjata sihir perak kalian justru bisa merusak keseimbangan energi mata air ini!" perintah Clara lantang kepada lima prajurit elite kapal yang sudah bersiap mengarahkan pelontar sihir mereka.

   Clara melangkah maju dengan keanggunan yang penuh keberanian, memposisikan dirinya sendiri di depan Leo. Sarung tangan perak pemberian Alden di kedua tangannya mulai memancarkan pendaran cahaya putih murni yang sangat terang, beresonansi kuat dengan energi murni dari sang roh penjaga di depan mereka.

   "Roh suci penunggu mata air, kami datang bukan untuk merusak atau mencuri kekuasaan tempat ini," kata Clara dengan nada suara yang lantang, jernih, dan memancarkan ketulusan batin yang luar biasa mendalam menembus aula gua. "Saya adalah Clara, seorang ibu yang datang demi menyelamatkan nyawa anak-anak saya. Di atas kapal kami, ada dua jiwa kecil yang sedang menderita akibat kutukan sihir hitam sekte terlarang. Saya bertaruh nyawa menembus badai es utara ini hanya untuk memohon setetes air mata penawar dari kebaikan Anda."

   Sang Frostfire Guardian memiringkan kepala esnya yang megah, sepasang mata kristal birunya menatap tajam lurus ke dalam jiwa Clara, menguji apakah ada kebohongan atau keserakahan di dalam hati wanita tanpa sihir tersebut.

Tekanan energi magis yang sangat medok merayap di udara, membuat para prajurit elite di belakang menahan napas ketakutan karena aura sang roh purba sangat mengintimidasi.

   Melihat ibunya sedang diuji sendirian di depan monster besar, Leo tidak tinggal diam. Ia melangkah maju berdiri di samping Clara, menggenggam erat tangan kiri ibunya dengan tangan kecilnya yang hangat. "Aku juga memohon kepada Anda, Roh Suci! Ibu telah terluka parah demi melindungiku dari monster es di luar tadi. Beliau bukan penyihir jahat. Beliau adalah ibu tiri kami yang paling baik di seluruh dunia langit. Tolong, biarkan kami membawa obat ini pulang untuk menyembuhkan adik-adikku!"

   Saat Leo berbicara, sepasang sayap manifestasi energi api Phoenix jingga keemasan kembali mengepak lembut dari punggungnya. Kemunculan energi api murni Phoenix dari tubuh Leo yang teratur sempurna, tanpa ada niat menyerang sedikit pun, mendadak memicu reaksi berantai yang tak terduga.

   Sang Frostfire Guardian tertegun melihat keagungan api Phoenix sejati di tubuh Leo yang bersinergi dengan pendaran cahaya perak murni dari sarung tangan Clara. Sebagai roh yang terlahir dari elemen es dan api, makhluk purba itu mengenali bahwa sepasang ibu dan anak tiri di hadapannya memiliki kemurnian batin yang sangat sakral, sebuah ikatan kasih sayang sejati yang melampaui batas hubungan darah daging biasa.

   Raungan gaib sang roh penjaga perlahan-lahan mereda, berubah menjadi sebuah kicauan rendah yang menenangkan seolah-olah memberikan restu penuh.

   Makhluk raksasa itu mengepakkan sayapnya sekali lagi, lalu perlahan-lahan tubuh es dan api birunya melebur kembali ke dalam dasar mata air suci, menyisakan ketenangan air yang kini memancarkan pendaran cahaya emas yang jauh lebih kental dan hangat dari sebelumnya.

   Di atas permukaan air yang tenang, sebuah pusaran kecil terbentuk, mengangkat sebutir kristal es berisi cairan biru keemasan murni, inti sari dari Air Mata Phoenix Ice, melayang lembut di udara menuju ke arah telapak tangan Clara.

   Clara menerima kristal penawar itu dengan kedua tangan bergetar karena rasa haru dan bahagia yang membuncah di dalam dadanya. Air mata kebahagiaan akhirnya menetes membasahi pipinya yang kemerahan. "Terima kasih... demi Dewa Langit, kita berhasil, Leo."

   Leo langsung menghambur memeluk pinggang Clara dengan erat, menangis bahagia di dalam dekapan ibunya. "Kita berhasil, Ibu! Rin dan Toby akan sembuh!"

   Para prajurit elite kapal serempak menurunkan senjata mereka, memberikan penghormatan penuh dengan ekspresi wajah penuh rasa kagum yang luar biasa mendalam kepada Clara. Wanita tanpa sihir yang awalnya diragukan oleh seluruh kekaisaran, hari ini telah berhasil menaklukkan roh penjaga pulau purba terlarang hanya dengan kekuatan ketulusan hati seorang ibu.

   "Bernet, hubungi ruang kemudi utama The Sky Leviathan sekarang juga," perintah Clara tegap setelah menenangkan emosinya, suaranya kembali memancarkan otoritas kepemimpinan seorang kapten wanita yang tangguh. "Persiapkan seluruh sistem peluncuran kapal. Kita telah mendapatkan penawarnya. Kita akan segera bertolak kembali menuju jalur pelayaran selatan secepatnya untuk menyembuhkan Rin dan Toby sebelum Gerhana Abadi tiba."

   "Perintah dilaksanakan dengan rasa hormat tertinggi, Kapten Clara!" sahut Bernet melalui alat komunikasi sihirnya dengan nada suara yang bergetar penuh kebanggaan.

   Barisan ekspedisi kecil itu segera berbalik cepat, melangkah keluar meninggalkan keindahan gua suci dengan hati yang dipenuhi oleh kemenangan awal yang gemilang.

   Namun, di saat yang sama, Clara tahu bahwa fase pertempuran akhir yang sesungguhnya melawan Sekte The Obsidian Dawn baru saja menanti mereka di luar sana, dan ia harus segera bersatu kembali dengan Kapten Alden demi mengunci kebahagiaan keluarga utuh mereka di ujung cakrawala pelayaran.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!