Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Mabuk
Di sudut meja bar yang temaram, Firman menenggak gelas minumannya dengan kasar. Ia tidak memedulikan teman-temannya yang asyik berjoget di lantai dansa.
Matanya hanya terpaku pada sesosok wanita elegan yang kini melangkah anggun menghampirinya.
Wanginya masih sama. Aroma vanilla dan musk yang memabukkan itu langsung membawa ingatan Firman terlempar jauh ke masa lalu.
"Boleh aku duduk di sini, Mas?" sapa Mawar dengan senyum manis yang membuat lesung pipinya terlihat.
Firman gelagapan, buru-buru memperbaiki posisi duduknya.
"Eh, iya, silakan, Mawar. Astaga, aku masih nggak nyangka kita bisa ketemu di sini setelah sekian lama."
Mawar terkekeh pelan. Ia memesan segelas koktail, lalu menopang dagunya, menatap Firman lekat-lekat.
Tatapan memuja yang sudah lama tidak Firman dapatkan dari siapa pun, apalagi dari istrinya sendiri.
Saat Firman mengulurkan tangan untuk mengambil gelasnya, pandangan Mawar tak sengaja jatuh pada sebuah lingkaran perak yang melingkar di jari manis pria itu. Senyum di bibir Mawar seketika berubah, sedikit memudar, namun dengan cepat digantikan oleh senyuman menggoda yang lebih mematikan.
"Wah, Mas Firman sudah ada yang punya, ya?" goda Mawar dengan nada pelan, menunjuk cincin itu dengan dagunya. "Pasti istrimu wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan Mas Firman yang hebat ini."
Mendengar kata beruntung dan hebat, Firman justru tersenyum sumbang. Hatinya mencelos. Ia menunduk, memutar-mutar gelas di tangannya dengan tatapan nanar.
"Beruntung dari mananya?" Firman tertawa getir, menenggak habis sisa minumannya. "Ya, aku memang sudah menikah. Tapi rasanya aku sudah gagal. Gagal total."
Mawar pura-pura terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membiarkan bahu mereka nyaris bersentuhan.
"Gagal bagaimana, Mas? Coba cerita sama aku. Dulu waktu kita masih sama-sama, kamu itu pria paling cerdas dan penuh ambisi yang pernah aku kenal lho."
Pujian Mawar tepat mengenai sasaran. Ego Firman yang hancur lebur di rumah, mendadak terasa utuh kembali saat berada di dekat wanita ini.
Alkohol yang mulai menguasai kesadarannya membuat Firman kehilangan filter. Bendungan pertahanannya runtuh seketika.
"Perusahaanku bangkrut," racau Firman dengan mata memerah. "Ditipu rekan bisnis. Sekarang utangku menumpuk di mana-mana. Dan yang paling bikin aku mau gila, istriku di rumah."
"Istrimu kenapa, Mas?" pancing Mawar lembut, memasang wajah penuh empati yang sempurna.
"Dia nggak berhenti menuntut dan marah-marah!" seru Firman frustrasi, memukul pelan meja bar. "Tiap hari yang dibahas cuma uang, uang, dan uang! Dia nggak ngerti posisiku yang lagi terpuruk. Bukannya kasih dukungan moral, Kania malah terus menyudutkanku seolah aku ini laki-laki paling tidak berguna di dunia!"
Bodoh. Firman dengan sukarela menelanjangi aib rumah tangganya sendiri di depan mantan kekasihnya.
Padahal, Kania sama sekali tidak pernah marah-marah ataupun menuntunnya.
Firman tidak sadar bahwa di balik tatapan iba itu, Mawar sedang menyusun sebuah celah untuk masuk dan menguasai keadaan.
"Astaga, Mas!" Mawar mendesah prihatin.
Mawar mengulurkan tangannya, menyentuh dan mengusap punggung tangan Firman dengan sangat lembut. Sengatan listrik seolah menyambar tubuh Firman. Ia menegang, namun tidak menepis sentuhan itu. Firman justru menikmati kelembutan yang sudah lama tak ia rasakan.
"Aku sedih banget dengar ceritamu, Mas," bisik Mawar, menatap tepat ke manik mata Firman yang sayu karena mabuk.
"Harusnya istrimu itu paham. Kalau lagi di bawah begini, suami itu butuh dirangkul, butuh ditenangkan. Bukan malah ditekan. Kalau aku jadi istrimu, Mas, aku nggak akan pernah tega membiarkanmu pusing sendirian seperti ini."
Kalimat manipulatif itu bekerja dengan sempurna. Di otak Firman yang sedang kalut, Kania seketika berubah menjadi sosok antagonis yang kejam, sementara Mawar menjelma menjadi malaikat penyelamat tak bersayap.
"Mas Firman, dengarkan aku," lanjut Mawar, suaranya kini terdengar serius. "Berapa utangmu sekarang? Biar aku yang bereskan."
Firman membelalak kaget. Kesadarannya sedikit tertarik kembali. "Apa? Gila kamu! Nominalnya besar sekali. Aku nggak mungkin merepotkanmu. Harga diriku bisa–"
"Ssst..." Mawar menempelkan telunjuknya di bibir Firman, menghentikan ucapan pria itu. "Buang dulu gengsimu, Mas. Aku tulus mau bantu kamu. Kebetulan bisnis properti ku sekarang sedang sangat lancar. Anggap saja ini pinjaman tanpa bunga. Tanpa batas waktu pelunasan."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian, Mas," potong Mawar tersenyum manis, membelai pipi Firman dengan ibu jarinya. "Kamu selesaikan dulu masalah utang-utangmu, buat pikiranmu tenang. Kamu tidak pantas menderita seperti ini, dan pastinya kamu tidak pantas diteriaki oleh istrimu setiap hari."
Hati Firman luluh lantak. Ia menatap Mawar dengan pandangan penuh rasa syukur yang membutakan logika. Di saat istrinya sendiri menangis menahan beban ekonomi keluarga di rumah, Firman justru menyerahkan lehernya secara sukarela ke dalam jerat utang budi dan manipulasi manis sang masa lalu.
"Terima kasih, Mawar. Kamu memang wanita yang luar biasa. Andai Kania bisa mengerti aku seperti kamu mengertiku," gumam Firman parau, menggenggam erat tangan Mawar yang masih berada di pipinya, tak menyadari seringai penuh kemenangan yang tersembunyi di balik senyum lembut wanita itu.
"Nggak masalah kamu sudah punya istri Mas. Toh akupun sedang membutuhkan seseorang seperti kamu," batin Mawar.
*****
Jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk angka satu dini hari, namun mata Kania belum bisa terpejam. Rasa cemas menggerogoti hatinya menunggu sang suami yang tak kunjung pulang.
Tiba-tiba, sorot lampu menyilaukan menembus celah tirai jendela. Kania buru-buru menyingkap tirai dan mengintip keluar. Matanya membelalak kaget melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan pagar rumah mereka.
Dari kursi penumpang, Firman turun dengan langkah gontai dan sempoyongan, nyaris tersungkur jika tak berpegangan pada pagar besi. Tak lama, kaca jendela mobil itu tertutup dan perlahan melaju pergi membelah malam.
Kania segera membuka pintu depan. Aroma menyengat dari alkohol yang bercampur dengan samar-samar wangi parfum wanita langsung menusuk indra penciuman Kania saat ia memapah suaminya masuk.
"Itu mobil siapa, Mas? Kamu pulang sama siapa?" tanya Kania, suaranya bergetar menahan keterkejutan. Matanya menatap sang suami yang kini bersandar di ambang pintu dengan kemeja berantakan. "Dan astaga, kamu mabuk?!"
Firman tidak menjawab. Pria itu hanya menatap istrinya dengan sorot mata sayu yang merendahkan, lalu menepis tangan Kania kasar untuk menerobos masuk ke ruang tengah.
Kania terhuyung ke belakang, dadanya mulai sesak menahan tangis. Ia segera mengejar suaminya yang kini menjatuhkan diri dengan kasar di atas sofa reyot mereka.
"Mas! Aku tanya, kamu mabuk?!" air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kania. "Sebesar apa pun masalah kita, setumpuk apa pun utangmu, jangan sampai kamu melarikan diri ke minuman keras seperti ini! Ini bukan kamu, Mas!"
Mendengar omelan Kania, emosi Firman yang sedang kacau di bawah pengaruh alkohol langsung meledak hebat. Pria itu bangkit berdiri dengan kasar, menatap istrinya dengan tatapan penuh kebencian.
"Diam kamu! Berisik!" bentak Firman dengan suara menggelegar, jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Kania.
"Kamu tidak tahu apa-apa! Bebanku sudah berat di luar sana, dan pulang ke rumah harus mendengar ocehan mu lagi?! Berhenti bertingkah sok peduli!"
Air mata Kania akhirnya luruh membasahi pipi. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia menatap nanar pria di hadapannya. Pria bermata merah yang membentaknya dengan begitu kasar malam ini rasanya bukan lagi Firman, suami yang dulu berjanji akan memuliakannya.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...