"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kilatan perak belati itu memotong udara dan nyaris menyentuh helai selimut Flossie. Namun, sebelum ujung tajamnya sempat menggores kulit, sebuah cengkeraman sekuat cakar elang menghantam pergelangan tangan sang penyusup.
Xavier telah memprediksi arah serangan. Dengan satu sentakan, ia memutar lengan pria bertopeng itu ke belakang hingga bunyi gemertak sendi yang bergeser menggema di dalam kamar.
"Argh!"
Pria asing itu mengerang tertahan dan Xavier tidak memberikan celah sedikit pun. Lututnya menghantam ulu hati sang pembunuh, lalu disusul sebuah pukulan telak yang membuat pria kekar itu terjangkit ke lantai marmer.
Belati di tangannya terlepas dan berdenting nyaring sebelum menabrak kaki ranjang Flossie.
"Kevin! Masuk!" seru Xavier.
Pintu kamar kembali terbuka dalam hitungan detik. Kevin masuk bersama dua pengawal bertubuh tegap dan mereka langsung mengunci tubuh sang pembunuh yang meronta di lantai dan menekan wajahnya ke lantai hingga tidak berkutik.
Flossie mencengkeram dadanya yang naik-turun dan napasnya tersengal-sengal di antara kepanikan yang luar biasa.
"X-Xavier, Siapa dia? Siapa yang mengirimnya?"
Xavier tidak langsung menjawab. Ia memungut belati yang terjatuh dan memeriksa ukiran kecil di dekat gagangnya, lalu beralih menatap pria yang telah dilucuti maskernya.
Wajah di balik masker itu tampak asing, kasar, dan dingin, tipikal eksekutor bayaran kelas atas.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah klinik ini," perintah Xavier dingin dan sorot matanya menatap tajam sang penyusup.
"Interogasi dia secara menyeluruh. Aku ingin nama dalangnya keluar dari mulutnya dalam sepuluh menit."
"Baik, Tuan," sahut Kevin patuh, lalu menyeret pria itu keluar bersama para pengawal.
Suasana kamar kembali hening, namun sisa-sisa ketegangan masih pekat di udara. Flossie menatap Xavier dengan tubuh yang masih bergetar hebat di bawah selimut.
"Mereka benar-benar ingin aku mati, Xavier."
Xavier berjalan mendekati ranjang dan meletakkan belati itu di atas meja nakas.
"Tenanglah! Kamu aman di sini dan jantungmu bisa memicu kontraksi lagi jika kamu terus panik."
Sepuluh menit berlalu bagai keabadian bagi Flossie. Setiap detik diisi oleh ketakutan akan ancaman baru yang bisa saja menerobos pintu kamarnya. Tepat pada menit kesebelas, Kevin kembali melangkah masuk.
Wajah asisten pribadi Xavier itu tampak lebih tegang dari sebelumnya sambil memegang sebuah alat perekam suara digital.
"Bagaimana, Kevin?" tanya Xavier langsung.
Kevin melirik Flossie sejenak sebelum menatap tuannya.
"Pria itu adalah eksekutor dari jaringan bawah tanah, Tuan. Dia mengaku di bawah tekanan berat. Dia dikirim bukan karena penyamaran kita bocor, tapi karena perintah pembersihan total dari seseorang yang ingin memastikan tidak ada saksi hidup."
"Siapa?" tanya Flossie menuntut jawaban. "Katakan padaku, Kevin. Siapa yang membayarnya?"
Kevin menarik napas dalam dan mengaktifkan rekaman suara di tangannya. Suara parau dan rintihan kesakitan sang pembunuh terdengar dari pengeras suara kecil.
"Aku tidak tahu nama aslinya, tapi perantara kami menerima dana dari rekening atas nama yayasan pribadi milik Madam Willa Kincaid. Dia ingin wanita itu dipastikan menjadi mayat agar skenario teh beracun tidak akan pernah digugat kembali."
Kevin mematikan rekaman tersebut. Flossie merasa seolah seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap seketika setelah mendengar nama itu. Kepalanya berputar hebat, dihantam oleh kenyataan yang kejam
"Dia yang meminum teh itu sendiri. Dia yang menuduhku di depan Alfie dan sekarang dia mengirim orang untuk membunuhku hanya untuk menjaga kebohongannya?"
"Itulah cara kerja orang-orang di lingkaran Kincaid, Flossie."
Xavier melangkah mendekat dan sepasang matanya menatap Flossie dengan kilatan kalkulatif yang dingin.
"Bagi Willa Kincaid, kamu adalah noda yang harus dihapus sepenuhnya. Status hilang di sungai tidak cukup aman baginya. Selama jasadmu tidak ditemukan, dia tidak akan bisa tidur nyenyak, karena takut suatu hari kamu kembali membawa bukti medis."
"Dia begitu kejam."
Air mata Flossie menetes deras dan membasahi kain sprei.
"Aku selalu memasak untuknya dan merawatnya saat dia sakit. Bagaimana bisa seorang ibu memiliki hati sebusuk itu?!"
"Dia bukan ibumu dan dia tidak pernah menganggapmu manusia sejak awal," sahut Xavier tanpa emosi dan memotong sisa-sisa kenaifan Flossie.
"Di dunia mereka, reputasi dan kekuasaan adalah segalanya. Nyawamu dan nyawa anak-anakmu tidak ada harganya di atas papan catur mereka."
Flossie mengepalkan tinjunya. Rasa sakit di hatinya bermutasi menjadi amarah yang membakar. Kebencian terhadap keluarga Kincaid menjalar di setiap aliran darahnya.
"Alfie, apakah Alfie juga tahu tentang ini?" tanya Flossie lirih.
Ia menatap Xavier dengan sisa harapan yang rapuh.
"Apakah itu penting?"
Xavier menaikkan sebelah alisnya.
"Bahkan jika dia tidak tahu, dia adalah orang yang melemparmu ke tengah badai malam itu. Dia yang membukakan pintu bagi ibunya untuk melenyapkanmu. Di mataku, dia sama bersalahnya."
Flossie terdiam. Kata-kata Xavier menghujam tepat ke ulu hatinya. Alfie adalah eksekutor pertama yang menghancurkan hidupnya malam itu.
Tanpa pengusiran dari Alfie, dia tidak akan pernah terkapar sekarat di pinggir jalan.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menang," ujar Flossie. "Aku tidak akan mati di tangan mereka."
Xavier menatap perubahan dari wanita di hadapannya dengan kepuasan yang tertahan di sudut bibirnya. Senjata rahasia yang ia butuhkan untuk menjatuhkan Kincaid Group telah terbentuk dengan sempurna oleh rasa sakit dan dendam.
Xavier melangkah maju dan memandang Flossie.
"Keluarga Kincaid tidak akan berhenti sampai kamu menjadi mayat sungguhan," ucap Xavier.
"Malam ini juga, aku akan membawamu keluar dari negara ini. Bersiaplah, Flossie! Perjalananmu untuk merebut kembali segalanya dimulai dari Paris."