Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 25 : Luka Lama Terbuka
Malam itu, aula makan utama kediaman Mahendra kembali berpendar di bawah cahaya lampu kristal yang megah. Keluarga besar Mahendra tengah berkumpul dalam rangka perjamuan makan malam bulanan yang dihadiri oleh para paman, bibi, dan sepupu Arka. Kehadiran mereka seharusnya membawa kehangatan, namun bagi Nadira, atmosfer ruangan itu terasa sepekat jelaga.
Meskipun Arka belum mengambil keputusan final mengenai tuduhan pencurian dokumen perusahaan, posisi Nadira di rumah ini sudah seperti pesakitan yang menunggu vonis. Ia sengaja mengambil posisi duduk di ujung meja yang paling tidak mencolok, berusaha menenggelamkan diri dalam kesunyian.
Namun, Ibu Sarah tampaknya tidak sudi membiarkan Nadira melewatkan malam tanpa sabetan lidahnya. Di tengah perbincangan mengenai ekspansi bisnis real estat milik salah seorang paman Arka, Ibu Sarah sengaja meletakkan garpu peraknya dengan denting yang cukup nyaring, memutus tawa di meja makan.
"Berbicara tentang investasi, kita memang harus selalu selektif memilih mitra," ujar Ibu Sarah, matanya melirik tajam ke arah Nadira dengan binar penuh kejijikan. "Jangan sampai kita salah memilih orang, lalu berakhir mengenaskan seperti keluarga menantu kita ini. Masuk ke lingkungan Mahendra dengan tubuh tanpa modal, membawa tumpukan utang, dan sekarang... malah mendatangkan kerugian triliunan untuk perusahaan suaminya sendiri."
Hening seketika menyergap meja makan. Beberapa bibi Arka saling berbisik di balik saputangan mereka, sementara para paman mendengus pelan, menatap Nadira dengan pandangan merendahkan.
"Sarah, ini makan malam keluarga. Jaga bicaramu!" Opa Wijaya memperingatkan dari ujung meja dengan suara yang bergetar menahan amarah, namun fisiknya yang kian melemah membuatnya tidak bisa berbuat banyak.
Ibu Sarah tidak bergeming. Ia justru semakin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Nadira yang masih setia menunduk. "Kenapa, Papa? Saya hanya mengutarakan fakta. Menantu paruh waktu kita ini memang sejak kecil sudah terbiasa dengan kemiskinan, bukan? Orang yang terbiasa hidup di lumpur menderita, biasanya akan menghalalkan segala cara untuk memegang uang—termasuk mengkhianati suaminya sendiri."
*Deg.*
Kalimat "terbiasa hidup di lumpur menderita" itu menghantam dada Nadira dengan telak. Sentilan kejam dari Ibu Sarah tanpa sengaja memutar kunci sebuah kotak pandora di dalam ingatan Nadira, membuka kembali luka lama yang selama belasan tahun ini ia kubur rapat-rapat di sudut sanubari terdalamnya.
Kilasan masa kecilnya mendadak berputar hebat bagaikan gulungan film lama yang berdebu. Nadira teringat malam kelam saat ia masih berusia sepuluh tahun. Malam di mana rumah mewah keluarganya mendadak digedor paksa oleh belasan debt collector beringas. Usaha tekstil ayahnya yang berkembang pesat hancur lebur dalam semalam akibat dikhianati secara licik oleh rekan bisnis kepercayaannya sendiri—pria yang sudah dianggap ayahnya seperti saudara kandung. Rekan bisnis itu melarikan seluruh modal komunal dan meninggalkan tumpukan utang fiktif atas nama ayah Nadira.
Sejak malam kebangkrutan itu, lembaran hidup Nadira berubah menjadi hitam putih yang penuh air mata. Ayahnya terserang stroke akibat tekanan mental hingga akhirnya berpulang, sementara ibunya mulai jatuh sakit secara perlahan.
Nadira memejamkan matanya kuat-kuat. Ia teringat dengan sangat jelas bagaimana perihnya rasa lapar yang harus ia tahan saat duduk di bangku SMA. Ketika teman-teman sebayanya sibuk berbelanja, merencanakan liburan, atau menghadiri prom, Nadira harus berlari sepulang sekolah menuju sebuah toko kelontong di pinggiran kota untuk bekerja sebagai pelayan paruh waktu.
Malam harinya, dengan jemari yang gemetar karena kelelahan, ia melanjutkan pekerjaan melipat kotak makan karton di kamar kontrakannya yang sempit dan pengap, berkejaran dengan target demi upah beberapa ribu rupiah yang langsung ia kumpulkan ke dalam kaleng bekas untuk membiayai sekolahnya sendiri serta membeli obat-obatan ibunya. Tidak jarang, ia harus mengorbankan waktu tidurnya demi membaca buku pelajaran di bawah pendar lilin yang hampir habis karena listrik kontrakan mereka diputus akibat menunggak pembayaran.
Segala kesulitan, cemoohan tetangga, dan dinginnya lantai rumah sakit tempat ibunya dirawat telah menempa Nadira menjadi sosok yang begitu tegar. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta belas kasihan pada dunia, dan selalu berdiri tegak dengan martabatnya yang bersih.
Menyadari air matanya hampir jatuh di depan orang-orang yang membencinya, Nadira perlahan menarik napas panjang, meredam seluruh gemuruh emosi di dadanya. Ia membuka matanya kembali, memandang Ibu Sarah dengan tatapan yang tenang, jernih, dan tanpa ada ketakutan sedikit pun.
"Kemiskinan masa lalu keluarga saya bukanlah sebuah kejahatan, Nyonya Sarah," ucap Nadira, suaranya terdengar sangat lembut namun memiliki ketegasan yang memukau, membuat beberapa orang di meja makan tertegun. "Kesulitan hidup telah mengajarkan saya untuk menghargai setiap butir nasi dan setiap rupiah yang saya hasilkan dari keringat saya sendiri. Dan yang paling penting, kesulitan itu mengajarkan saya untuk tidak pernah mengambil apa pun yang bukan menjadi hak saya. Permisi, saya sudah selesai makan."
Nadira berdiri dengan anggun, membungkuk hormat pada Opa Wijaya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak, meninggalkan Ibu Sarah yang ternganga kesal karena gagal melihat menantunya menangis memohon ampun.
Satu jam setelah makan malam yang kacau itu usai, Arka Mahendra sedang duduk di ruang kerja pribadi Opa Wijaya di lantai bawah. Pria itu tampak memijat pangkal hidungnya dengan gusar. Pertemuan mendadaknya dengan Rian di koridor kantor tadi sore terputus karena Rian mendadak bungkam ketakutan, dan kini, malamnya kembali diusik oleh drama meja makan ibunya.
Opa Wijaya menatap cucu kesayangannya dari balik kacamata bacanya, menghela napas panjang melihat gurat frustrasi di wajah Arka.
"Arka," panggil sang kakek, suaranya terdengar berat dan sarat akan kebijaksanaan masa lalu. "Apakah kamu tahu mengapa Nadira tidak pernah runtuh meskipun ibumu menghinanya dengan kata-kata yang paling keji sekalipun?"
Arka mendongak, menatap kakeknya dengan dahi mengernyit. "Karena dia keras kepala, Opa. Dia selalu menolak bantuan saya sejak hari pertama."
Opa Wijaya menggelengkan kepala perlahan, tersenyum kecut. "Bukan keras kepala, Cucuku. Tapi karena dia sudah pernah melewati neraka yang jauh lebih dingin daripada rumah ini. Sebelum kamu menikahinya atas dasar kontrak konyol itu, aku sudah menyelidiki seluruh latar belakang hidupnya secara mendalam."
Opa Wijaya menjeda kalimatnya, menyesap teh herbalnya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada suara yang merendah. "Saat usianya masih remaja, di saat anak-anak seusianya bermanja-manja dengan fasilitas orang tua, Nadira sudah harus menjadi tulang punggung bagi ibunya. Dia bekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda sejak SMA—mulai dari mencuci piring, menjaga toko, hingga mengajar les privat malam hari. Kakinya lecet, tubuhnya kurus kedinginan, namun dia tidak pernah membiarkan ibunya melewatkan satu kali pun jadwal cuci darah. Dia menolak menggunakan skema beasiswa gratis jika itu artinya dia harus mengemis belas kasihan struktural. Dia mempertahankan martabat keluarganya yang hancur akibat dikhianati rekan bisnis ayahnya dengan tangannya sendiri."
Opa Wijaya menatap lurus ke dalam manik mata Arka yang kini tampak bergetar hebat. "Nadira begitu kuat menghadapi penghinaan dari ibumu, karena bagi dia, makian kata-kata tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit melihat ayahnya meninggal dalam kemiskinan setelah dikhianati. Dia menghargai kejujuran di atas segalanya, Arka. Seorang wanita yang rela memotong porsi makannya sendiri demi membelikan obat ibunya, tidak akan pernah—sekali lagi aku tegaskan, tidak akan pernah—menjual dokumen perusahaanmu demi uang."
Kalimat demi kalimat dari Opa Wijaya itu seolah menjadi palu godam yang menghantam seluruh dinding ego dan kesombongan di dalam kepala Arka.
Setelah berpamitan pada kakeknya, Arka berjalan kembali menuju kamar utamanya dengan langkah yang terasa lunglai. Kamar itu begitu sepi dan lengang, kehilangan sosok wanita yang biasanya duduk tenang di sudut sofa sambil membaca buku persiapan mengajar.
Arka mendudukkan dirinya di tepi ranjang yang luas, menatap kosong ke arah lemari pakaian Nadira yang kini sudah kosong melompong karena semua barangnya telah dipindahkan ke paviliun belakang.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, Arka Mahendra merasakan sebuah rasa bersalah yang teramat pekat dan menyesakkan menjalar di dalam dadanya. Rasa bersalah itu begitu kuat hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas dengan lega.
Selama beberapa bulan pernikahan kontrak mereka, apa yang sebenarnya telah ia lakukan?
Ia selalu mengatasnamakan profesionalitas bisnis. Ia memperlakukan Nadira seolah-olah wanita itu hanyalah sebuah objek transaksi yang memiliki masa kedaluwarsa satu tahun. Ia sering kali mengabaikan kehadirannya, bersikap dingin, dan membiarkan ibunya serta Selena melemparkan sindiran tajam tanpa pernah benar-benar berdiri pasang badan untuk melindunginya secara mutlak. Ia terlalu sombong dengan kekayaan dan kekuasaan Mahendra Group miliknya, hingga mengira bahwa dengan memberikan sebuah kartu kredit tambahan—yang bahkan tidak pernah disentuh oleh Nadira—ia sudah menyelesaikan seluruh kewajibannya sebagai seorang suami.
Arka meremas rambutnya dengan kedua tangannya, memejamkan mata menahan gejolak penyesalan yang membakar sanubarinya.
Ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak pernah benar-benar mengenal wanita yang telah menjadi istrinya tersebut. Ia tidak pernah tahu tentang perjuangan berdarah-darah Nadira sejak SMA, ia tidak pernah tahu tentang rasa sakit akibat pengkhianatan rekan bisnis ayahnya, dan ia tidak pernah mencoba untuk memahami ketakutan tersembunyi di balik keteguhan sikap istrinya. Di saat Nadira sedang bertarung habis-habisan menjaga martabatnya yang bersih di tengah gempuran fitnah besar, Arka justru berdiri di balik dinding gengsi, menuntut bukti-bukti formal di atas kertas hitam di atas putih sebelum memberikan rasa percayanya.
"Maafkan saya, Nadira..." bisik Arka lirih di dalam keheningan kamar yang sunyi.
Malam itu, rona penyesalan telah sepenuhnya meruntuhkan keangkuhan sang CEO. Di balik kegelapan malam yang kian pekat, Arka Mahendra memantapkan sebuah janji baru di dalam hatinya: bahwa ia tidak akan lagi menjadi penonton pasif dari penderitaan istrinya. Keraguan telah sirna, digantikan oleh sebuah kepastian emosional yang murni. Ia akan menggunakan seluruh kekuatan, jaringan, dan kekuasaan yang ia miliki untuk merobek topeng kepalsuan Selena, mengembalikan kehormatan nama baik Nadira, dan merebut kembali hati wanita yang kini telah resmi menjadi pemilik tunggal dari seluruh hidup dan cintanya.