NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 17

Berita tentang 4 orang yang hendak membunuh Arya akhirnya tersebar luas di istana. Pagi-pagi sekali, Raja Gajayana bersama Putri Citra yang juga mendengar berita itu,  bergegas menuju kamar Arya untuk mengetahui kondisi pemuda tersebut. Namun begitu seorang prajurit memberitahu jika Arya berada di kamar Jaya, mereka berdua berganti tujuan menuju kamar penasihat istana tersebut.

Raja Gajayana mungkin tidak terlalu kuatir, karena dia tahu jika Arya pasti bisa menjaga diri. Berbeda dengan Putri Citra,  kekuatirannya terhadap nasib Arya begitu besar, sampai jantungnya ikut berdegup kencang.

Setelah berada di dalam kamar Jaya, Raja Gajayana dan Putri Citra akhirnya bisa bernafas lega melihat keadaan Arya baik-baik saja dan tidak mengalami luka sedikitpun.

"Menurut kabar yang beredar, pelakunya adalah organisasi  Iblis Kematian, apakah benar seperti itu?" tanya Raja Gajayana.

"Mohon maaf, Paduka. Jika dilihat dari segel tanda anggota yang pelaku bawa, sepertinya benar jika mereka pelakunya. Tapi Kita tidak bisa serta merta menuduh mereka adalah pelakunya, bisa jadi segel itu hanya dibuat pengalihan saja agar tuduhan kita alamatkan kepada organisasi itu," kata Arya.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Raja Gajayana.

"Hamba tidak tahu pastinya bagaimana, Paduka. Tapi dari empat orang yang aku bunuh tadi malam, hanya satu yang membawa segel ini. Hamba hanya berjaga-jaga saja agar kita tidak langsung menuduh oraganisasi Iblis Kematian sebagai pelakunya."

"Jadi menurutmu kita harus bagaimana?" sela Jaya.

"Apa Teliksandi kerajaan ada yang mengetahui markas mereka ada di mana?" Arya bertanya balik.

"Mereka terorganisir dengan baik, Arya. Selama ini tidak ada yang tahu markas mereka ada di mana, tapi hari ini juga aku akan menyebar teliksandi istana agar mencari markas mereka."

"Kalau benar pelakunya adalah organisasi Iblis Kematian, aku penasaran siapa dalang yang menyewa mereka?" sahut Raja Gajayana.

"Berarti jangan ada yang mengetahui jika Paman memberi perintah kepada teliksandi untuk mencari markas organisasi itu," kata Arya.

"Apa kau berpikir jika dalangnya ada di dalam istana ini?"

"Besar kemungkinan seperti itu, Paduka. Jika bukan orang dalam istana dalangnya, bagaimana empat orang itu bisa mengetahui kamarku?" Arya sedikit menggigit bibirnya bagian bawah. "Tapi atas dasar apa sehingga ada yang ingin membunuhku? Selama aku berada di istana ini, aku tidak pernah membuat masalah dengan siapapun." keluhnya.

Raja Gajayana berpikir sambil mengelus-elus jenggotnya yang memutih sedikit panjang. Tiba-tiba saja dia terpikir tentang kejadian perseteruan beberapa hari lalu di aula, antara Jaya dan Senopati Mandala serta Patih Mahasura.

"Apa mungkin mereka berdua dalangnya?" ucap Raja Gajayana tiba-tiba.

Arya mengernyitkan dahinya. Dia tampak begitu penasaran dengan kelanjutan ucapan Raja Gajayana.

"Apa yang Paduka maksud itu Senopati Mandala dan Patih Mahasura?" tanya Jaya.

Raja Gajayana mengangguk. "Apa kau ingat ketika berdebat dengan mereka berdua di aula? Saat itu kau bilang jika Arya pantas menduduki jabatan salah satu dari mereka."

"Apa mungkin gara-gara ucapanku saat itu,  Paduka? Padahal saat itu aku hanya menyebut jabatan mereka sebagai pengandaian saja." Jaya menggaruk kepalanya pelan.

"Mungkin saja itu alasannya, Jaya. Jika seseorang terobsesi dengan suatu jabatan, maka orang itu pasti akan mempertahankan jabatannya mati-matian, bagaimanapun caranya. Begitu pula dengan Mahasura dan Mandala, mereka berdua menduga ucapanmu saat itu benar adanya dan menganggap Arya berpotensi menggusur jabatan yang saat ini mereka pegang."

Arya secara perlahan mulai memahami duduk permasalahan yang sedang dia hadapi. Tapi yang membuatnya bertanya-tanya, kenapa keduanya tidak bertanya langsung kepadanya tentang apa yang diucapkan Jaya. Jika semua bisa dikomunikasikan, maka tidak perlu ada dendam yang berujung pada pertarungan.

"Berarti harus ada teliksandi yang mengawasi mereka berdua," kata Arya menyahuti ucapan Raja Gajayana. Tangannya meremas kuat segel tanda anggota organisasi Iblis Kematian yang terbuat dari bahan kuningan.

"Kalau benar mereka berdua adalah dalangnya, apa yang akan Paduka lakukan kepada keduanya?" lanjutnya bertanya.

"Aku pasti akan memberi hukuman berat kepada mereka berdua!" jawab Raja Gajayana geram.

Sementara itu di tempat lain, Senopati Mandala dan Patih Mahasura berbincang dengan serius di sebuah ruangan. Mereka tampaknya mulai yakin jika ucapan Jaya tentang kemampuan ilmu kanuragan Arya yang tinggi, adalah benar adanya. Dan itu semakin membuat mereka berdua ketakutan akan kehilangan jabatan.

"Usaha awal kita untuk menyingkirkan pemuda itu telah gagal total, Senopati. Apakah kau punya rencana lain yang lebih efektif untuk membunuhnya?" tanya Patih Mahasura.

"Saat ini aku tidak punya rencana lain, Tuan. Yang penting saat ini Jaya tidak mencurigai bahwa kita adalah dalang dari kejadian tadi malam," jawab Senopati Mandala.

Dua malam setelah kejadian, seorang teliksandi yang bertugas mengawasi Senopati Mandala dan Patih Mahasura,  mendatangi kamar Jaya untuk melaporkan hasil yang sudah dia dapatkan.

Beberapa saat lamanya, Teliksandi tersebut keluar dari kamar Jaya dengan memasang sikap setenang mungkin.

Sekitar 5 menit berlalu, Jaya menyusul keluar dari kamarnya dan berjalan sedikit tergesa-gesa menuju kamar Arya. Dilihat dari raut wajahnya, tampaknya ada sesuatu yang penting akan disampaikannya kepada Arya.

Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Jaya membuka pintu kamar Arya dan masuk ke dalam. Tentu saja apa yang dilakukan Jaya membuat Arya terkejut dan bertanya-tanya. "Ada apa, Paman?"

Jaya lalu bercerita panjang lebar tentang informasi yang baru saja dia dapatkan dari teliksandi.

"Jadi seperti itu! Biar aku saja yang bergerak mengikutinya," ucap Arya.

"Ada lagi, Arya. Ternyata mereka berdua juga berniat untuk menghabisi Paduka. Faktor tidak adanya putra mahkota membuat mereka berdua mempunyai keinginan untuk menguasai kerajaan ini."

"Apa Paman yakin dengan laporan itu?" Arya mengernyitkan dahinya. Dia terkejut dengan informasi yang disampaikan Jaya.

"Faktor kedekatanmu dengan Putri Citra membuat mereka takut tersingkir dari istana, dan akhirnya mereka mempunyai rencana busuk seperti itu."

"Baiklah, sekarang juga aku akan berangkat,"pungkas Arya.

Jaya mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar Arya.  Tak berapa lama pemuda berambut kemerahan itu ikut keluar dari kamarnya.

Di luar Kotaraja, seorang teliksandi turun dari atas pohon setelah melihat kedatangan Arya.  Selepas memberi hormat, Teliksandi tersebut melaporkan apa yang dia lihat.

Tak lama kemudian, mereka berdua berjalan cepat memasuki hutan lebat yang letaknya tidak jauh dari kotaraja.

Hampir 4 jam berlalu, mereka berdua akhirnya tiba di sebuah bangunan yang cukup besar dan terbuat dari batu bata yang tersusun rapi.

Selain letaknya yang jauh di dalam hutan, bangunan itu juga terlindungi oleh sebuah bukit kecil dan disamarkan oleh semak belukar yang luas. Siapapun tidak akan menyangka jika ada sebuah bangunan di balik bukit tersebut.

"Itu markas organisasi Iblis Kematian, Tuan," kata Teliksandi seraya mengarahkan pandangannya tertuju kepada bangunan satu-satunya yang berdiri di dalam hutan itu.

Arya cukup heran. Sebenarnya jarak antara markas tersebut dengan Kotaraja tidak terlalu jauh. Tapi kenapa pihak istana selama ini tidak mengetahui jika markas organisasi Iblis Kematian begitu dekat.

Padahal menurut informasinya, organisasi tersebut cukup meresahkan. Tidak jarang ada saudagar ataupun pedagang besar yang tiba-tiba mati terbunuh oleh ulah anggota organisasi Iblis Kematian.

Baru 5 langkah mereka berjalan mendekat, lebih dari 40 orang berpakaian hitam berloncatan dari atas pohon dan bergerak mengepung mereka berdua.

"Hahahaha! Ternyata kau begitu mudah ditipu, anak muda!" Tiba-tiba Patih Mahasura dan Senopati Mandala muncul dari belakang sosok berpakaian hitam yang mengepung Arya serta seorang teliksandi.

Yang membuat Arya lebih terkejut lagi, Teliksandi yang bersamanya bergerak menjauh darinya dan bergabung bersama 40 orang yang mengepungnya.

"Bangsat!" umpat Arya dalam hati. Dia tidak menyangka jika para teliksandi yang diberi perintah langsung oleh raja Gajayana, ternyata juga berkhianat.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!