NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Pulang Ke Dunia Manusia

"Jangan bilang... pria itu juga seorang Vampir?"

"Iya, tentu saja! Namanya juga bawahan setia Kakek Jacob, ya jelas semuanya adalah Vampir. Memangnya Kakak berharap apa? Apa Kakak berharap yang akan mengantarmu pulang itu seorang pangeran tampan yang menunggangi kuda terbang?"

Scarlett terkekeh geli melihat kepanikan Elara. Ia lalu menyenggol pelan lengan sang Siren. "Kenapa Kakak malah diam saja di sini? Bukankah tadi Kakak bilang ingin cepat-cepat pulang?"

Elara seketika dirundung kegugupan yang teramat sangat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku bisa melupakan fakta mengerikan itu? Bagaimana kalau Raja Vampir licik itu sebenarnya menyuruh panglimanya untuk tidak mengantarku pulang? Bagaimana kalau Jacob justru memintanya untuk membunuhku di tengah jalan dengan cara menghisap habis semua darahku hingga kering? batin Elara bergidik ngeri, membayangkan nasib malangnya jika harus berdua saja dengan monster haus darah.

Mengabaikan seluruh rasa malu dan ego tingginya yang sempat menggebu-gebu tadi, Elara mendadak memutar tubuhnya menghadap Scarlett. Ia memasang senyum cengengesan, mencoba bersikap semanis mungkin demi keselamatan nyawanya.

"Scarlett... gadis baik nan cantik," rayu Elara dengan nada suara yang dibuat-buat selembut sutra. "Kakak Elara yang cantik ini sepertinya... tidak jadi pulang bersama pria menyeramkan di depan sana. Jadi... apakah tawaranmu yang sebelumnya tadi masih berlaku? Jika boleh, aku ingin pulang bersamamu saja."

Scarlett terkekeh geli melihat perubahan ekspresi wajah Elara yang mendadak manis. "Tentu saja boleh, Kak. Ayo, ikut aku!"

Tanpa ragu, Scarlett langsung menggandeng erat lengan Elara dan menuntunnya berjalan mantap menuju gerbang utama. Tepat saat langkah kaki mereka berhenti di hadapan Matteo, Scarlett sengaja berdeham pelan untuk menarik perhatian sang panglima.

"Ekhm. Paman Matteo, biar aku saja yang mengantarkan Kak Elara pulang," ucap Scarlett dengan nada santai namun penuh percaya diri.

Matteo menaikkan sebelah alisnya, menatap lurus ke arah cucu dari tuannya itu dengan ekspresi kaku tanpa senyuman. "Nona Muda, biar saya saja yang melaksanakannya. Sebab, saya menerima perintah langsung dari Yang Mulia Raja Jacob."

"Dengar ya, Paman," potong Scarlett cepat sembari berkacak pinggang. "Bilang saja pada Kakek jika Kakak cantik ini hanya mau pulang bersamaku. Titik!"

Tanpa memedulikan tatapan keberatan dari panglima Vampir tersebut, Scarlett langsung menarik lengan Elara. Ia melangkah lebar membawa sang Siren menuju altar perak tempat gerbang dimensi yang menghubungkan Alfheim menuju dunia manusia berada.

"Kak, sebenarnya aku tidak tahu ada hubungan apa antara Kakak cantik ini dengan Kakek Jacob," ucap Scarlett di sela langkah lebar mereka menuju altar dimensi.

Ekspresi jenakanya mendadak memudar, digantikan oleh gurat serius yang jarang ia tunjukkan. "Namun, sebagai teman barumu, aku hanya ingin menyarankan agar Kakak tidak mencari masalah dengan penguasa Vampir itu. Itu akan sangat berbahaya untuk keselamatan nyawamu. Terlebih... beliau adalah seorang mantan raja Vampir murni yang begitu disegani di seluruh jagat imortal ini."

Elara justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kegetiran setelah mendengar peringatan tersebut.

"Kau tenang saja, Scarlett," ucap Elara lirih, tatapan matanya menerawang jauh menembus kilau altar perak di hadapan mereka. "Aku sama sekali tidak berniat membuat siapa pun merasa terbebani, apalagi terseret ke dalam masalah besar. Sebaliknya... aku justru ingin menjauh sejauh mungkin dan tidak akan pernah sudi lagi berurusan dengan penguasa kegelapan itu. Itu sebabnya aku mantap mengambil keputusan ini dan memilih untuk pulang ke rumah Tuan Cedric."

Di dalam benaknya, Elara merapatkan tekad. Rumah kayu Cedric yang hangat dan aroma masakan restoran yang sederhana adalah benteng perlindungan terbaik yang ia miliki saat ini. Ia ingin mengubur malam laknat bersama Edgard, menghapus jejak beringas Jacob di lehernya, dan memulai hidup baru sebagai pelayan biasa di Kota Luminara. Tanpa sang Siren sadari, benih yang tertanam di rahimnya kelak akan menjadi magnet yang menarik para penguasa imortal tersebut kembali ke hadapannya.

****

Tanpa terasa, langkah kaki keduanya telah sampai di altar perak. Scarlett langsung menuntun Elara, lalu mengayunkan tangannya untuk membuka gerbang dimensi.

"Masuklah," ucap Scarlett seraya mendorong pundak Elara pelan.

"Kau yakin lubang cahaya ini bisa membawaku pulang?" tanya Elara sangsi, menatap ragu pusaran energi di hadapannya.

"Iya, seratus persen yakin! Cepat, Kak!"

Syutt!

Scarlett ikut melompat masuk di belakang Elara. Detik berikutnya, tubuh keduanya meluncur cepat dan langsung mendarat di dalam sebuah terowongan perosotan bermain anak di pusat taman Kota Luminara. Tempat mendarat mereka tepat berada di seberang gedung mewah panti asuhan milik keluarga Scarlett.

Elara meluncur ke luar terlebih dahulu, lalu jatuh terduduk di atas rumput hijau, disusul oleh Scarlett yang mendarat dengan mulus di sampingnya.

"Wah... apa ini sejenis sihir sulap?" gumam Elara takjub seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Sepasang matanya membelalak heran. Suasana di Kota Luminara ternyata masih siang benderang, sangat berbeda dengan dunia Alfheim yang posisinya sudah beranjak sore hari.

"Ssst... pelankan suaramu, Kak. Di sini ramai orang. Suaramu bisa menarik perhatian mereka," bisik Scarlett panik, seraya buru-buru menarik tangan Elara untuk menjauh dari area wahana bermain anak-anak tersebut.

"Maaf, Scar. Aku benar-benar tidak tahu jika banyak manusia yang berkeliaran di sekitar sini," balas Elara ikut berbisik, matanya bergerak waspada meneliti kerumunan asing di sekitarnya.

Scarlett kemudian menghentikan langkahnya tepat di tepi jalan raya yang padat, menunggu lampu penyeberangan pejalan kaki menyala hijau. "Kakak tidak usah sebingung itu. Barusan itu adalah hal yang sudah biasa kulakukan. Bagiku, keluar masuk dimensi Alfheim sudah seperti aktivitas membuka dan menutup pintu rumah saja."

Begitu lampu penyeberangan berganti warna, Scarlett mulai menyeberang dengan langkah santai, sembari jemarinya terus menggandeng erat tangan Elara agar tidak tertinggal. Elara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

Di dalam benaknya, ia memaklumi kehebatan gadis di sampingnya ini. Mengingat pengakuan Scarlett yang merupakan cucu kandung dari Raja Arthur—sang penguasa tertinggi kaum Elf Hutan—maka memiliki hak istimewa untuk melintasi batas dunia bukanlah hal yang mustahil bagi gadis berambut perak tersebut.

"Itu mobilnya, Kak. Kebetulan sepupuku sudah menunggu di sana," ucap Scarlett sembari menunjuk sebuah mobil mewah berwarna perak yang terparkir rapi di depan gedung panti asuhan.

Dahi Elara seketika mengernyit heran. Langkah kakinya tertahan. "Hah? Kau bilang sepupu? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang jika kau yang akan mengantarkanku pulang?"

"Iya, benar. Namun, karena aku belum bisa menyetir mobil, jadi sebelumnya aku sudah menghubungi dia untuk membantu mengantar Kakak pulang," jelas Scarlett santai tanpa beban.

"Kakak tenang saja, aku juga akan tetap ikut di dalam mobil karena dia pastinya tidak tahu di mana letak rumah Tuan Cedric."

Elara mengangguk pelan menerima alasan tersebut. Namun, entah mengapa, secercah perasaan tidak enak mendadak merayap dan menggelitik ulu hatinya. Firasatnya kembali terusik.

"Ya sudah, Scar. Ayo kita ke sana. Aku hanya takut Tuan Cedric akan panik mencariku jika aku menghilang terlalu lama," gumam Elara, mempercepat langkahnya yang masih agak kaku.

"Kau tidak perlu khawatir, Kak," sahut Scarlett menenangkan, menyunggingkan senyum lebar. "Meskipun Kakak merasa telah menghabiskan waktu berjam-jam yang melelahkan selama berada di dimensi Alfheim tadi, Kakak harus tahu satu rahasia. Aliran waktu di dunia manusia ini berbeda dengan di sana. Jadi, meski Kakak menghabiskan waktu seharian penuh di Alfheim, waktu yang berjalan di dunia ini akan tetap sama persis seperti saat pertama kali Kakak melangkah pergi dari sini."

Mendengar hal itu, Elara seketika mendesah lega. "Benarkah? Wah, aku benar-benar tidak tahu jika perputaran waktu di sana dan di sini bisa seberbeda itu."

"Iya, Kak. Ayo, Kakak naik duluan," ucap Scarlett ramah sembari membukakan pintu penumpang bagian belakang mobil.

Elara mengangguk patuh. Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, ia langsung melangkah masuk dan mendudukkan tubuhnya yang letih di atas jok kulit yang empuk. Scarlett pun bergegas ikut masuk dan duduk di samping sang Siren, lalu menutup pintu mobil dengan rapat.

"Kita kemana dulu, Scar?" suara seorang pemuda terdengar memecah keheningan dari arah kursi kemudi.

Nada bicaranya terdengar sangat datar dan dingin. Pemuda itu mengenakan sebuah hoodie longgar, membuat wajahnya tidak terlalu terlihat jelas karena terhalang oleh tudung kain yang sengaja ia tarik menutupi kepala.

Elara seketika tertegun begitu gelombang suara itu menghantam indra pendengarannya. Namun, hal yang jauh lebih mengejutkan adalah aroma tubuh sang pemuda yang mendadak menguar memenuhi kabin mobil. Aroma belantara yang liar, tajam, dan pekat... aroma yang teramat familier di memorinya.

Gadis Siren itu menyipitkan matanya tajam, mencoba mengintip profil wajah orang di depannya melalui kaca spion tengah. Namun, usahanya sia-sia karena pemuda itu sama sekali tidak kunjung menoleh ke belakang.

Bau ini... Bau si berengsek semalam!

1
falea sezi
lanjutt donk
falea sezi
🤣🤣 anak siapa nanti anak raja vampir apa srigala 🤣🤣 jd lacur aja murahan sih
falea sezi
kenapa semua ngira elara jodohnya🤣 bkin haremm mau nyaingin Elisa kah bersuami banyak🤣🤣
falea sezi
novel fiksi sebagus ini kenapa baru nemu🤭
falea sezi
bejat lu elgar
falea sezi
wah Siapakah jodoh elara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!