Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
happy reading guys
_________
BAB 14: Hari Pernikahan Megah
Hari yang dinanti oleh seluruh lapisan masyarakat dan kalangan jetset negeri ini akhirnya tiba.
Pagi ini, Gereja Katedral terbesar di Jakarta telah disulap menjadi lautan kemewahan yang tak tertandingi.
Ribuan bunga mawar putih dan hitam langka diimpor langsung dari Eropa untuk menghiasi setiap sudut pilar marmer kuno yang menjulang tinggi.
Ratusan mobil mewah milik para pejabat, diplomat, dan pengusaha konglomerat mengular panjang di pelataran luar, dijaga ketat oleh ratusan pengawal bersenjata lengkap.
Di dalam ruang persiapan pengantin wanita, atmosfer terasa sunyi.
Elena Vance berdiri mematung di depan cermin raksasa setinggi tiga meter. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan sepasang mata yang berkilat tajam.
Malam ini, ia mengenakan sebuah gaun pengantin mahakarya desainer dunia yang sangat tidak biasa.
Bukan gaun putih polos seperti yang diinginkan oleh tradisi keluarga besar Syailendra, melainkan sebuah gaun pengantin bersiluet ballgown megah berwarna putih gading dengan lapisan korset beludru yang bertabur ribuan pecahan berlian hitam langka di bagian dadanya.
Penampilan Elena memancarkan keanggunan seorang ratu yang misterius, berani, sekaligus mematikan.
Cklek.
Pintu ruang persiapan terbuka perlahan.
Nicholas Syailendra melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.
Pria itu menghentikan langkah kakinya tepat beberapa meter di belakang Elena.
Sepasang mata elangnya yang biasanya sedingin kutub utara mendadak melebar, terkunci penuh pada keindahan visual wanita di hadapannya.
"Kamu... benar-benar menakjubkan hari ini, Elena,"
bisik Nicholas, suaranya terdengar sedikit berat dan serak, menahan gejolak kekaguman yang teramat sangat yang mendadak berdesir hebat di dalam dadanya.
Elena berbalik, menatap Nicholas sembari mengulas senyuman miring yang begitu menawan.
"Terima kasih, Tuan Nicholas. Gaun berkabung ini sengaja aku siapkan untuk menyambut kedatangan para serigala keluargamu di altar nanti. Apakah kamu siap mempergelarkan pernikahan sandiwara terbaik kita?"
Nicholas terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga aroma parfum maskulin mahalnya kembali mengepung indra penciuman Elena.
Ia mengulurkan lengan kekarnya, menekuknya agar Elena bisa menautkan jemari lentiknya di sana.
"Mari kita guncang dunia mereka, Nyonya Muda Syailendra."
------------------------------
Gedor... Gedor... Gedor...
Suara lonceng katedral raksasa berdentang keras sebanyak dua belas kali, memecah kesunyian di dalam aula utama gereja yang telah dipenuhi oleh ribuan tamu undangan kelas atas.
Begitu pintu kayu raksasa katedral ditarik terbuka lebar, alunan musik organ pipa yang megah menggema hebat memenuhi langit-langit bangunan kuno tersebut.
Nicholas dan Elena melangkah masuk berdampingan, membelah koridor panjang beralas karpet merah beludru.
Kilatan ratusan kamera wartawan dari stasiun televisi nasional yang menyiarkan secara langsung pernikahan ini langsung membabi buta, menerangi setiap tapak langkah kaki mereka menuju altar suci.
Di barisan kursi paling depan, Nenek Syailendra duduk diam dengan tongkat emasnya, mengamati mereka dengan pandangan yang mendalam.
Di sampingnya, Sarah Syailendra dan Ardi Syailendra menatap tajam ke arah Elena dengan kepalan tangan yang tertekuk geram di balik pakaian formal mereka.
Pertempuran minum teh dua minggu lalu masih menyisakan dendam yang membara di hati mereka.
Namun, Elena tidak memedulikan tatapan beracun itu. Dengan dagu yang terangkat tinggi, ia melangkah anggun menaiki anak tangga altar bersama Nicholas, berdiri berhadapan langsung di depan pendeta agung yang sudah menunggu.
Prosesi pemberkatan pernikahan berjalan dengan sangat khidmat dan sakral.
Setiap kalimat janji suci yang keluar dari mulut Nicholas terdengar begitu tegas, dalam, dan penuh dengan kepastian mutlak yang sanggup menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.
Elena membalas kalimat janji tersebut dengan suara renyah yang tenang, tanpa ada sedikit pun keraguan yang tersisa di hatinya.
"Dengan ini, di hadapan Tuhan dan para saksi sekalian, saya nyatakan kalian berdua resmi menjadi sepasang suami istri yang sah," ucap pendeta agung dengan senyuman hangat, lalu menutup kitab sucinya.
"Tuan Nicholas Syailendra, Anda dipersilakan untuk mencium pengantin wanita Anda."
Deg!
Jantung Elena mendadak berdegup kencang secara tidak teratur.
Sesuai dengan skenario draf kontrak di atas kertas emas mereka, adegan ciuman di altar ini seharusnya hanya berupa kecupan formal yang singkat di kening atau pipi demi meyakinkan kilatan kamera media.
Namun, Nicholas tampaknya memiliki rencana lain.
Sebelum Elena sempat bereaksi, tangan kanan kekar Nicholas sudah lebih dulu bergerak maju, mencengkeram lembut tengkuk leher Elena dengan begitu posesif.
Nicholas menarik tubuh ramping Elena hingga dada mereka merapat sempurna tanpa celah.
Pria itu membungkukkan kepalanya, lalu langsung mengunci bibir merah merona Elena dengan bibirnya sendiri dalam sebuah ciuman yang sangat intens, dalam, dan penuh dengan gairah kepemilikan yang mutlak.
Cup.
Seluruh ruang katedral seketika riuh dengan suara jepretan kamera yang menggila dan gemuruh tepuk tangan meriah dari ribuan tamu undangan.
Elena membelalakkan matanya samar karena terkejut.
Sentuhan bibir Nicholas yang hangat, kokoh, dan mendominasi seketika mengirimkan sengatan listrik aneh yang menjalar hebat ke seluruh urat saraf tubuhnya.
Aroma parfum Nicholas yang maskulin mengunci seluruh kesadarannya.
Nicholas mempererat dekapannya di pinggang Elena, memperdalam ciuman itu selama beberapa detik seolah ingin menegaskan kepada seluruh dunia—dan kepada keluarga besarnya—bahwa wanita bergaun berlian hitam ini kini telah sepenuhnya menjadi hak milik mutlaknya yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.
Ketika Nicholas akhirnya melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan, ia menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena yang kini tampak sedikit sayu dan bersemu merah karena kehabisan napas.
Sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan terukir jelas di wajah tampan sang penguasa kota.
"Ini baru awal dari pernikahan kita, Elena,"
bisik Nicholas lirih tepat di depan bibir Elena, ibu jarinya menyeka lembut sisa lipstik yang sedikit berantakan di sudut bibir wanita itu dengan gerakan yang teramat manis namun posesif.
Elena menarik napasnya yang sempat tertahan, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang berantakan.
Ia mendongak, menantang tatapan intens pria yang kini resmi menjadi suaminya secara hukum negara.
"Sandiwara yang sangat rapi, Tuan Nicholas. Kamu hampir membuatku percaya kalau ciuman tadi itu melibatkan perasaan aslimu."
Nicholas tidak membalas kalimat sinis Elena dengan kata-kata. Ia justru terkekeh rendah, lalu menggandeng erat telapak tangan Elena yang mungil ke dalam genggamannya yang besar dan hangat, membimbingnya berjalan berbalik menghadap ke arah ribuan tamu undangan dan sorotan kamera media.
Di bawah hujan kelopak bunga mawar yang berjatuhan dari langit-langit katedral, Elena Vance secara resmi telah dinobatkan sebagai Nyonya Muda Syailendra yang baru.
Aliansi maut yang awalnya hanya terikat di atas kertas emas kini telah melangkah masuk ke dalam sangkar pernikahan yang nyata, siap untuk menggulung habis sisa-sisa musuh mereka yang gemetar ketakutan di kegelapan malam Jakarta.
------------------------------