NovelToon NovelToon
The Shadow For Revenge

The Shadow For Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aliet's

Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.

Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.

Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.

5 Tahun setelah Tragedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Balas Dendam kecil (10)

Ia jeda sejenak, menimbang kata-katanya. "Juga mengenai sebuah tempat bernama Pulau Matahari... dikatakan bahwa sosok itu kelak harus menginjakkan kaki ke sana seorang diri, tanpa didampingi oleh siapa pun. Ah... aku belum dapat menyimpulkannya dengan pasti, namun sejauh ini begitulah dugaan yang tertangkap oleh penglihatanku."

Semua anggota mendengarkan penjelasan Elouis dengan saksama. Eric tampak terdiam sejenak, memikirkan sesuatu sebelum akhirnya angkat bicara.

​"Bagaimana jika... Pulau Matahari itu sebenarnya bukan kiasan semata?" cetus Eric perlahan. "Melainkan sebuah tempat yang terletak jauh di sana yang menggunakan istilah tersebut untuk menghindari sesuatu?"

Vincent mengangguk-angguk kecil, mempertimbangkan premis yang dilemparkan Eric. "Dugaanmu masuk akal. Omong-omong... apakah dulu kau pernah terbang menjelajah sejauh itu, Eric?"

​Eric menggelengkan kepala pelan, lalu menatap lurus ke arah Vincent. "Aku tidak pernah terbang sejauh itu. Jika aku nekat melakukannya, aku bisa tewas dimangsa oleh predator yang berukuran jauh lebih besar dariku di angkasa."

​"Jika demikian, mengapa kita tidak menanyakan hal ini langsung kepada 'sang predator' itu saja?" sahut Kael santai.

​Mata Eric seketika membelalak terkejut mendengar celetukan cerdas dari Kael. "Kau benar! Jadi... siapa di antara kita yang berani pergi bertatap muka dan bertanya padanya?"

​"Kalian sedang membicarakan Senior Lucifer, bukan?" sela Kazel yang kini menyandarkan bahunya pada rak buku kayu di dekat mereka.

​"Tepat sekali. Apakah kau yang berniat pergi menemuinya?" tanya Eric mengarahkan pandangan pada Kazel.

Kazel melirik sejenak ke arah kembarannya. "Kau bisa menyuruh Kael saja. Dia yang paling dekat dengan orang itu."

​Eric dan Vincent pun serempak mengalihkan pandangan pada Kael yang sedang duduk bersandar di tepi meja rapat.

​"Mengapa harus aku?" protes Kael cepat. "Meskipun aku dekat dengannya, aku sama sekali tidak lihai dalam hal bernegosiasi. Kau saja yang pergi, Kazel."

​"Tidak. Kau pasti sanggup mengatasinya dengan caramu sendiri," sahut Kazel menatap malas ke arah saudara kembarnya.

​"Sudah kubilang aku tidak selebih itu dalam berbicara! Mengapa kau terus-menerus menyudutkanku?!" timpal Kael dengan nada kesal pada adiknya. "Kau saja yang pergi menemui gurumu itu!"

​Elouis, Edith, Eric, dan Vincent hanya sanggup menyimak dalam hening, menikmati perdebatan adu argumen yang saling melempar tugas di antara kedua saudara kembar tersebut.

"Dia juga gurumu. Sudahlah... berhenti berdebat denganku, pergi saja," ucap Kazel dengan nada malas.

​Kael yang merasa benar-benar kesal lantas melangkah beberapa tindak mendekati saudara kembarnya tersebut.

​"Mengapa kau menyuruh-nyuruhku seperti ini? Sudah merasa pintar sekarang, hah? Pulang saja jika kau merasa tertekan berada di sini," balas Kael dengan ucapan yang terdengar kasar dan tajam.

​Elouis beserta tiga anggota lainnya sempat terkejut mendengar ucapan tajam dari Kael. Namun Kazel, yang pada dasarnya tak kenal takut, membalas tatapan saudaranya dengan tatapan tak kalah tajam dan dingin.

​"Aku bukannya merasa tertekan. Aku hanya menyadari satu hal sekarang," balas Kazel dingin. "Aku jauh lebih cocok tetap berada di sini untuk berdiskusi, sedangkan kau? Pergi dan bertanyalah pada seniormu itu," lanjutnya.

​Eric melirik sejenak ke arah Elouis, meminta petunjuk apakah pertikaian ini perlu segera dihentikan atau tidak.

Sementara itu, Elouis hanya menghela napas panjang. Tanpa menghentikan suasana rapat, ia kembali membuka lembaran buku kuno tentang kendali aliran mana di hadapannya—membiarkan kedua rubah tersebut saling menjatuhkan dan memojokkan satu sama lain.

​"Oh, begitu maksudmu? Jadi, apakah aku bisa menyimpulkan bahwa kau sebenarnya lemah?" balas Kael seraya melipat kedua tangannya di atas dada, melemparkan tatapan meremehkan pada sang adik.

​Kazel seketika mengerutkan keningnya rapat-rapat, amat menyelimuti rasa tidak suka atas tuduhan saudaranya. "Apakah kau perlu mengatakan hal konyol seperti itu? Aku tidak lemah, sialan."

​Sesaat setelah Kazel melontarkan kata kasar tersebut pada saudaranya, mata Kael membelalak terkejut sebelum berganti menjadi raut amarah yang berkobar.

​Elouis masih tetap membiarkan perdebatan itu berlangsung seraya berfokus membaca kitab sihirnya, sedangkan Eric, Edith, dan Vincent yang mulai diliputi rasa cemas hanya sanggup menyaksikan dari tempat masing-masing.

​"Kau berani mengatakan hal itu padaku sekarang?!" tanya Kael dengan suara tegas penuh penekanan.

Elouis akhirnya mengangguk pelan saat Eric kembali mengarahkan pandangan ke arahnya, memberikan sinyal penuh untuk menyudahi pertikaian tersebut.

​"Hei, hei, kalian berdua hentikan sekarang. Dan kau... ikut denganku, Kael," ucap Eric seraya melangkah maju menengahi keduanya dan merangkul bahu Kael. "Kazel, kau ikut bersama Vincent," lanjutnya.

​Tanpa banyak bicara, Vincent bangkit berdiri. Dengan gerakan santai namun tegas, ia meraih bagian belakang kerah baju Kazel, lalu membimbingnya melangkah berjalan menjauh dari Kael.

​"Kalian berdua benar-benar berisik di dalam ruangan yang sunyi ini," sindir Edith dingin seraya merapikan gaunnya, lalu melangkah di belakang Vincent dan Kazel.

​Dalam sekejap, keheningan perpustakaan kembali tercipta. Elouis kini kembali duduk sendirian di sudut lantai atas tersebut, dikelilingi oleh tumpukan kitab tebal dan misteri ramalan kuno yang menanti untuk dipecahkan.

Hanya berselang beberapa menit setelah rekan-rekannya pergi, suara derap langkah kaki yang tenang mulai terdengar mendekat ke sudut perpustakaan.

​Elouis mulanya mengabaikan suara tersebut dan tetap fokus pada kitab di hadapannya, hingga atensinya terusik oleh ketukan pelan di pinggiran meja.

​Tuk... tuk!

​"Lady, selamat sore... berniat kah Anda meluangkan sedikit waktu berharga itu untuk saya?" ucap sebuah suara lembut namun berwibawa.

​Elouis segera meletakkan penanya, mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri dan membungkuk hormat kepada sang pangeran.

​"Tentu saja, Yang Mulia. Silakan duduklah senyaman mungkin," balas Elouis tenang.

​Akhirnya kedua bangsawan muda itu duduk saling berhadapan. Sejauh yang Elouis rencanakan semula, ia tadinya berniat mengirimkan surat balasan saja agar tidak perlu melakukan pertemuan empat mata seperti ini.

​"Mari kita bicara dengan santai saja. Aku tidak ingin ada terlalu banyak formalitas di antara kita," ucap Dominic ramah. "Jadi... apakah kau sudah selesai berdiskusi dengan orang-orangmu?"

​"Baiklah, saya akan berbicara terus terang kepada Anda, Yang Mulia," balas Elouis mantap. "Kami memutuskan bersedia untuk menerima tawaran dari Anda."

​"Namun, batasi ini dengan jelas: kami hanya bersedia menyatukan kekuatan pada saat ujian khusus itu berlangsung. Selepas pelatihan tersebut selesai... saya beserta kelompok saya tidak akan berada di pihak Anda lagi. Bagaimana?" sambung Elouis tegas.

​Dominic tampak menimbang-nimbang syarat tersebut sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju. "Baiklah. Aku tidak mempermasalahkan hal itu."

​Pangeran itu menyipitkan mata sejenak, menatap lekat manik mata Elouis. "Namun... mengapa kau tampak begitu menjaga jarak dan menghindari lingkaran kekaisaran?"

Elouis terdiam sesaat, merangkai kata demi menjaga keamanan posisinya. "Saya mohon maaf jika tindakan saya menimbulkan kesalahpahaman. Namun... tidak seperti yang Anda duga, saya memang lebih memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam intrik kaum bangsawan di akademi ini, terkecuali bersama rekan-rekan yang memang berdiri di pihak saya."

​Dominic mendadak berdehem pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.

​"Mendengar jawaban itu... aku justru semakin menginginkanmu beserta orang-orangmu untuk berada di sisiku... Bagaimana jika kuubah keputusannya?" ucap Dominic lembut, sebuah kalimat terselubung yang seketika membuat detak jantung Elouis berdegup jauh lebih cepat.

1
Xlyzy
mereka terlihat berbahaya, kalian harus hati hati extra hati hati kalau bisa
Miu.Nuha
yaahh selesai deh, padahal lagi tegang2nya...
Miu.Nuha
mereka bisa bercakap2 dgn saling batin begitu? hebat juga ya 👍 seperti esper gitu...
Miu.Nuha
ada untungnya ya El
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍
-Thiea-
dia udah siap sepenuhnya menghadapi ujian apapun. udah ditempa dari kecil soalnya.
-Thiea-
terlalu banyak basa-basi. mending langsung mulai aja. udah gak sabar di elouis.
Filan
kak, ini panjang banget. apa 2500?
ali: tambah 3 kak.. aku kebablasan nulisnya
total 3 replies
Mingyu gf😘
Ayoo, kamu pasti bisa, demi membalas darah kedua orang tuamu
Filan
tegang sekali saling mengintai
Mingyu gf😘
Bersyukur masih ada pengawal setia yang mau menolong satu satunya anggota keluarga yang tersisa
Filan
waduh, berburu
Filan
mau ngapain bocah malam-malam. sibuk amat bukannya tidur.
Myz Pena
semoga aja kael dan kezil kawan yang baik untuk elois
Myz Pena
Vincent ternyata kemampuannya hebat juga ya...
ginevra
iya sih kalian terlalu lama tatap2an. ayolah gas dimulai kelasnya
ginevra
terus gimana Lou? mending di tengah2 kan ya
Xlyzy
yey kalian satu kelas aman deh kalau gutu
Three Flowers
banyak yang kembar karena lahir dari ras binatang ya?
ali: iyaa kakk, aku riset dulu sebelum bikin cerita ini hehe
total 1 replies
Three Flowers
kukira Noah itu laki-laki, ternyata perempuan
Three Flowers
memang sesuatu banget kalo sekelas sama bestie🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!