NovelToon NovelToon
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arenna Noir

"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
​Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.

​Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.

​"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."

​Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.

​Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."

bukan buku ****-****...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

​Aktivitas di lantai eksekutif Menara Addison bergulir dengan ketegangan yang konstan sejak Gaby mengambil alih posisi Kepala Dewan Pengawas Internal. Di bawah kepemimpinannya yang jeli dan tidak kenal kompromi, satu per satu borok finansial yang ditinggalkan oleh manajemen lama mulai dikuliti hingga ke akarnya. Gaby tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Baginya, setiap angka dalam draf laporan keuangan adalah bukti nyata dari kejahatan yang pernah hampir menghancurkan hidupnya.

​Namun, siang itu, tubuhnya seolah mengirimkan sinyal protes yang tidak bisa lagi ia abaikan.

​Sejak pagi, kepala Gaby terasa sangat pening bervolume. Rasa mual yang aneh terus-menerus menggelitik pangkal tenggorokannya, membuat fokusnya buyar saat meneliti berkas aliran dana fiktif milik vendor butik Luna. Gaby berulang kali meneguk teh hangat yang disediakan sekretarisnya, namun rasa tidak nyaman di ulu hatinya justru semakin menjadi-jadi.

​"Nyonya Besar, ini berkas audit tambahan untuk wilayah operasional regional Jawa Barat yang perlu Anda tanda tangani," ucap salah satu staf analis baru yang masuk dengan sikap sangat takzim dan berhati-hati.

​Gaby mencoba bangkit dari kursi kebesarannya untuk meraih map tersebut. Namun, baru saja kedua telapak kakinya menumpu di atas lantai marmer, pandangannya mendadak berputar hebat. Seluruh isi ruangan terasa bergoyang, dan warna-warna di sekitarnya perlahan meredup menjadi kegelapan yang pekat.

​Bruk!

​"Nyonya Besar!! Astaga, Nyonya Besar pingsan!!"

​Suara pekikan histeris dari staf analis itu memecah keheningan lantai eksekutif. Map dokumen di tangannya terlepas, berserakan di atas lantai saat ia melihat tubuh Gaby terkulai lemas tak sadarkan diri di dekat meja kerjanya.

​Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, lorong lantai tertinggi itu berubah menjadi kepanikan massal. Kafi yang sedang berada di ruang sebelah langsung menerobos masuk dengan wajah yang berganti pucat pasi. Tidak pernah sekalipun Kafi terlihat sepanik ini. Ia tahu betul, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gaby di bawah pengawasannya, murka seorang Edgar Emiliano Addison tidak akan bisa dibendung oleh siapapun di dunia ini.

​"Cepat hubungi ambulans privat Rumah Sakit Pusat Addison! Dan kau, hubungi Tuan Besar sekarang juga!" bentak Kafi kepada sekretaris dengan suara yang menggelegar, sementara ia sendiri dengan sigap memastikan Gaby dipindahkan ke sofa empuk di dalam ruangan dengan penjagaan ketat dari tim medis internal gedung.

​Kabar pingsannya Gaby sampai ke telinga Edgar saat pria matang itu baru saja menyelesaikan sesi konferensi video internasional di ruang kerja pribadinya di rumah. Begitu mendengar laporan dari pergelangan telepon Kafi, napas Edgar seolah berhenti berembus seketika. Seluruh ketenangan dan wibawa penguasa dinasti yang melekat padanya menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan wanita yang teramat dicintainya.

​Edgar langsung memerintahkan helikopter privatnya untuk bersiap, namun karena jarak yang lebih efisien, ia memilih membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan penuh menggunakan seluruh barisan pengawal pribadinya.

​Ketika Gaby perlahan membuka matanya kembali, ia tidak lagi berada di dalam ruang kantornya yang kaku. Aroma antiseptik kelas atas yang lembut dan hamparan dinding bernuansa putih gading menyambut penglihatannya. Ia sedang berbaring di atas ranjang king-size di dalam Katara Suite, paviliun medis privat super-mewah milik keluarga Addison yang hanya dibuka untuk anggota inti dinasti.

​Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Edgar yang sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam erat telapak tangannya. Wajah tampan suaminya yang biasa terlihat angkuh dan tegas, kini tampak luar biasa cemas. Rambut klimisnya sedikit berantakan, dan dasinya sudah dilonggarkan dengan kasar.

​"Mas..." bisik Gaby serak, mencoba memperbaiki posisinya.

​"Jangan bergerak dulu, Sayang. Tetap berbaring," ucap Edgar cepat, suaranya bergetar sarat akan kehangatan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia mengecup punggung tangan Gaby berulang kali dengan sangat posesif.

"Bagian mana yang sakit? Katakan pada Mas. Kepala kamu masih pusing?"

​Gaby menggeleng perlahan, memberikan senyuman lemah untuk menenangkan suaminya. "Cuma sedikit lemas, Mas. Maaf ya, aku bikin repot sampai pingsan di kantor. Kayaknya aku cuma kecapekan mikirin draf audit kemarin."

​"Mas sudah bilang berulang kali, Gaby. Pekerjaan di kantor itu bisa menunggu, tapi kesehatanmu adalah prioritas mutlak di atas segala-galanya dalam hidup Mas," potong Edgar dengan nada menegur yang lembut namun tegas. Ia mengusap pipi Gaby dengan ibu jarinya. "Kalau kamu sampai kenapa-napa, Mas tidak akan pernah memaafkan diri Mas sendiri."

​Di sudut ruangan, dokter pribadi keluarga Addison seorang profesor medis senior lulusan Jerman melangkah maju dengan senyuman hangat yang sangat cerah, memegang sebuah papan klip hasil laboratorium ekpers yang baru saja keluar.

​"Tuan Besar Edgar, Anda tidak perlu secemas itu," buka sang dokter dengan nada bicara yang menenangkan. "Kondisi Nyonya Besar Gaby sama sekali tidak mengalami gangguan penyakit yang serius."

​Edgar langsung menoleh, sorot matanya menajam menuntut penjelasan. "Lalu kenapa istri saya bisa sampai pingsan tidak sadarkan diri di tempat kerja, Profesor?"

​Dokter senior itu terkekeh pelan, melirik ke arah Gaby yang juga sedang menunggu dengan rasa penasaran. "Nyonya Besar Gaby pingsan karena tubuhnya sedang mengalami lonjakan hormon yang sangat wajar bagi seorang wanita yang sedang mengawali masa awal kehamilan. Hasil uji darah dan ultrasonografi darurat menunjukkan bahwa Nyonya Besar positif hamil. Usia kandungannya sudah memasuki minggu kelima."

​Hening.

​Ruangan Katara Suite itu mendadak sunyi senyap seketika. Gaby terpaku di atas ranjangnya, kedua tangannya secara refleks bergerak perlahan menyentuh permukaan perutnya yang masih tampak rata di balik selimut sutra. Air mata kebahagiaan seketika menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur oleh rasa haru yang luar biasa besar. Dia hamil. Ada janin kecil, darah daging Edgar, yang kini sedang tumbuh di dalam rahimnya.

​Sementara itu, Edgar Emiliano Addison pria tangguh yang tidak pernah gentar menghadapi runtuhnya pasar saham global atau ancaman musuh bisnis terbesar sekalipun seketika membeku di tempatnya. Sepasang mata elangnya melebar, menatap dokter lalu beralih menatap perut Gaby dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

​"Dokter... Anda tidak sedang bergurau, kan?" tanya Edgar, suaranya mendadak berubah serak dan bergetar hebat.

​"Tentu tidak, Tuan Besar. Selamat. Anda akan segera menjadi seorang ayah. Calon pewaris sah takhta Addison Group sedang tumbuh dengan sangat sehat di dalam rahim istri Anda," jawab dokter itu penuh takzim sebelum pamit mundur dari ruangan bersama tim perawat, memberikan ruang privasi mutlak bagi sepasang suami istri tersebut.

​Begitu pintu suite tertutup rapat, Edgar tidak lagi bisa menahan gelombang emosi yang membuncah di dalam dadanya. Pria matang berkepala empat itu perlahan menundukkan kepalanya di atas dada Gaby, memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian yang luar biasa seolah Gaby adalah porselen paling rapuh di dunia.

​Gaby bisa merasakan bahu tegap Edgar bergetar, dan setitik air mata hangat menembus pakaian rumah sakit yang ia kenakan. Edgar menangis. Pria perkasa itu menangis karena haru.

​"Mas... kamu menangis?" bisik Gaby lembut, menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut Edgar, mengusapnya dengan penuh rasa cinta.

​Edgar mendongak, memperlihatkan sepasang matanya yang memerah berkaca-kaca. Ia tidak malu memperlihatkan sisi paling rapuhnya di depan wanita yang telah merubah seluruh hidupnya ini. "Mas... Mas sangat bahagia, Gaby. Sangat, sangat bahagia. Terima kasih... terima kasih telah hadir dalam hidupku dan memberikan hadiah seindah ini."

​Edgar mendekatkan wajahnya, meraup bibir Gaby dalam sebuah kecupan yang teramat dalam, lembut, dan pekat oleh rasa syukur yang tiada tara. Ciuman mereka kali ini tidak didasari oleh gairah yang meledak-ledak, melainkan oleh rasa cinta yang telah matang dan suci, menyongsong kehadiran malaikat kecil yang akan meneruskan dinasti mereka.

​Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Edgar menggeser duduknya, menempelkan telinga dan telapak tangan kanannya di atas perut rata Gaby. Gestur posesif dan proteksi maksimalnya seketika keluar berlipat ganda.

​"Mulai hari ini, tidak ada lagi kantor, tidak ada lagi berkas audit, dan tidak ada lagi yang boleh membuatmu berpikir keras, Sayang," ucap Edgar dengan nada bicara yang penuh otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah. "Kamu harus istirahat total di rumah utama. Mas yang akan memantau semua pergerakan lewat Kafi."

​Gaby terkekeh renyah, mengusap rahang tegas suaminya. "Mas, ini baru lima minggu. Aku masih bisa beraktivitas biasa kata dokter tadi."

​"Tidak ada bantahan, Nyonya Besar Addison," potong Edgar posesif, mengecup perut Gaby dari balik selimut dengan penuh kasih sayang. "Anak kita adalah pangeran atau putri tertinggi di dinasti ini. Dia sudah memegang separuh dari seluruh aset pribadi dan saham mayoritas Mas sejak detik ini. Mas akan memastikan bahwa seluruh dunia tahu bahwa anak yang kau kandung adalah pemilik takhta masa depan yang tidak akan pernah bisa diusik oleh seujung kuku pun oleh para sampah di luar sana."

​Gaby bersandar pada dada bidang Edgar yang memeluknya dari samping, merasakan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan. Di dalam ruangan Katara Suite yang mewah ini, di tengah penjagaan ketat dunia medis kelas atas, Gaby tahu bahwa hidupnya kini telah sempurna sepenuhnya. Janin yang ada di dalam kandungannya bukan hanya sekadar penerus nama besar Addison, melainkan simbol kemenangan mutlak atas segala kepedihan masa lalu yang kini telah terkubur rapat di bawah kaki takhta kebahagiaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!