Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Mahkota Kalaraja
Dewi Kala Sundari tidak langsung menjawab. Dia menundukkan kepala sedikit, seolah menghormati pertanyaan itu.
"Kemanusiaanmu."
Dua kata. Itu saja.
Tapi dua kata itu lebih berat dari 9 keris di tangan Raka.
Kemanusiaan. Hal terakhir yang masih tersisa pada dirinya. Hal yang membuat dia masih bisa merasa sakit ketika mengingat wajah ayahnya yang tergeletak di lantai. Hal yang membuat dia masih bisa ragu ketika kerisnya sudah berada 1 cm di leher Andi.
"Gue udah kehilangan itu sejak lama," kata Raka pelan.
Tapi dia bohong.
Dia tahu dia belum kehilangan semuanya. Kalau dia sudah kehilangan semuanya, dia tidak akan berhenti membunuh Andi tadi. Dia tidak akan ragu.
Dia melangkah maju. Satu langkah.
Lantai batu bergetar.
Dua langkah.
9 keris di tangannya bergetar, seolah ingin lepas dan terbang ke arah mahkota itu sendiri.
Tangan Raka terulur. Jari-jarinya yang penuh darah hitam menyentuh permukaan mahkota emas.
*SRRRAAAKKK!!!*
Begitu kulitnya menyentuh logam itu, cahaya hitam menyembur dari seluruh 9 keris. Cahaya itu seperti ular hidup, merayap naik ke tangan Raka, melilit lengannya, masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung jari sampai ke ubun-ubun.
"AAAAAGHHH!!!" Raka berlutut.
Tapi matanya tidak lepas dari mahkota itu. Cahaya hitam dari 9 keris menyatu dengan cahaya emas dari mahkota. Kedua warna itu bertarung di udara, saling menelan, saling mengisi.
*BUAAAKKK!!!*
Ledakan energi membuat seluruh Istana Bawah Tanah bergetar. Batu-batu besar dari langit-langit jatuh. Debu mengepul tebal.
1000 arwah yang mengikuti Raka dari luar langsung berlutut. Mereka tidak berani mengangkat kepala. Dahi mereka menyentuh tanah. Mulut mereka kompak berbisik:
"Kala Raja... Kala Raja... Kala Raja..."
Di kepala Raka, mahkota itu menempel sendiri.
Dingin.
Berat.
Seperti membawa beban 1000 nyawa yang mati karena kutukan ini.
*[KALA RAJA - LEVEL MAKSIMAL TERBUKA]*
Sebuah suara asing muncul di kepala Raka. Bukan Kala Rahu. Bukan suara manusia. Suara itu tua, dalam, seperti datang dari awal waktu, dari sebelum Majapahit berdiri.
"AKHIRNYA... PENGGANTI AKU DATANG."
Raka memegang kepalanya dengan kedua tangan. Rasanya seperti ada palu yang mengetuk tengkoraknya dari dalam.
"SIAPA LU?!"
"AKU ADALAH RAJA PERTAMA MAJAPAHIT. AKU ADALAH PENCIPTA 9 PUSAKA."
"NAMAKU... PRABU KALA JAYA."
Pemandangan di sekitar Raka berubah dalam sekejap.
Istana Bawah Tanah menghilang.
Dewi Kala Sundari menghilang.
9 keris menghilang.
Yang ada hanya lautan kegelapan tanpa ujung. Tidak ada atas, tidak ada bawah, tidak ada arah. Hanya kegelapan.
Di tengah lautan itu, berdiri seorang pria tua.
Tubuhnya kurus, kulitnya keriput, tapi matanya tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.
Di tangannya tidak ada senjata. Hanya sebuah buku tua yang sampulnya terbuat dari sesuatu yang mengkilap merah kecoklatan.
"AKU TAHU APA YANG KAU PIKIRKAN, RAKA," kata pria tua itu.
"KAU BERTANYA, SIAPA AKU? KENAPA AKU ADA DI SINI?"
Raka tidak bisa bergerak. Tubuhnya seperti dibekukan oleh kekuatan orang tua itu.
"JAWAB GUE!"
Prabu Kala Jaya tersenyum tipis.
"KAU INGIN TAHU KEBENARAN, RAKA?"
"KENAPA MAJAPAHIT HARUS HANCUR? KENAPA DARAH SANGKALA DIKUTUK? KENAPA AYAHMU HARUS MATI?"
Raka mengepalkan tangan. Kukunya menancap ke telapak tangan sampai berdarah.
"KATAKAN! SEKARANG!"
Prabu Kala Jaya membuka buku itu.
Halaman-halamannya terbuat dari kulit manusia. Raka bisa melihat pori-pori, bisa melihat bekas jahitan di pinggirnya.
"200 TAHUN LALU, AKU MEMBUAT PERJANJIAN DENGAN KALA RAHU."
"AKU ADALAH RAJA YANG TAMAK. AKU INGIN MAJAPAHIT MENGUASAI DUNIA. AKU INGIN NAMA KU DIKENANG SELAMANYA."
"MAKA AKU MEMBERIKAN JIWA 1000 PENGIKUTKU YANG SETIA. AKU MENGORBANKAN MEREKA DALAM SATU MALAM. DARAH MEREKA MENJADI BAHAN UNTUK MEMBUAT 9 PUSAKA."
"AKU PIKIR AKU CERDAS."
"TAPI KALA RAHU LEBIH CERDIK DARIKU."
"DIA MENGUTUK DARAH SANGKALA. SETIAP KETURUNANKU YANG MEMEGANG 9 PUSAKA, AKAN MENJADI HAMBA KEGELAPAN. DIA AKAN KEHILANGAN DIRINYA SENDIRI, DAN MENJADI VADAH BAGI KALA RAHU UNTUK BANGKIT KEMBALI."
"AKU BARU SADAR KETIKA SUDAH TERLAMBAT."
"MAKA AKU MEMECAH 9 PUSAKA DAN MENYEMBUNYIKANNYA DI SELURUH NUSANTARA."
"AKU MEMBUNUH DIRIKU SENDIRI DENGAN KERIS PUSAKA PERTAMA, UNTUK MEMUTUSKAN KUTUKAN."
"TAPI KUTUKAN ITU TIDAK BISA MATI."
"DIA HANYA TIDUR. DAN SEKARANG... DIA BANGUN LAGI MELALUIMU, RAKA."
Raka terdiam.
Seluruh tubuhnya dingin.
Lutnya lemas.
"Jadi... gue... cuma boneka?"
Suara Raka pecah.
"Gue berjuang mati-matian, bunuh paman gue sendiri, bunuh Nyi Blorong, kumpulin 9 pusaka... cuma buat jadi wadah iblis itu?"
Prabu Kala Jaya menggeleng pelan.
"TIDAK. KAU PUNYA PILIHAN, RAKA."
Dia mengangkat dua jari.
"PILIHAN PERTAMA: JADI KALA RAJA SEJATI. KUASAI DUNIA DENGAN KEGELAPAN. TAPI KAU AKAN KEHILANGAN SEMUANYA. TERMASUK DIRIMU SENDIRI. KAU AKAN MENJADI KALA RAHU YANG BARU."
"PILIHAN KEDUA: HANCURKAN 9 PUSAKA DAN MAHKOTA INI. PUTUSKAN KUTUKAN UNTUK SELAMANYA. TAPI KAU AKAN MATI BERSAMA MEREKA. KAU TIDAK AKAN BISA BALAS DENDAM. KAU TIDAK AKAN BISA MELIHAT DUNIA YANG BEBAS DARI KUTUKAN INI."
"PILIH."
Raka menatap kedua tangannya.
Di tangan kanan, 9 keris menyala hitam, berdenyut seperti jantung hidup.
Di tangan kiri, mahkota Kala Raja berdenyut pelan, seolah memanggilnya.
Di kepalanya, suara Kala Rahu berbisik, suaranya menggoda:
"PILIH KEKUATAN, RAKA! JADI RAJA DUNIA! SEMUA ORANG YANG MENYAKITIMU AKAN BERLUTUT DI HADAPANMU! KAU BISA MENGHIDUPKAN KEMBALI AYAHMU!"
Di hatinya, suara almarhum ayahnya berbisik pelan, hampir tidak terdengar:
"Hentikan ini, Nak. Jangan jadi seperti kami. Jangan biarkan dendam memakanmu. Pulanglah."
Raka menutup mata.
Dia ingat wajah ibunya yang tersenyum terakhir kali sebelum dibunuh.
Dia ingat wajah ayahnya yang menatapnya dengan bangga sebelum ditikam dari belakang.
Dia ingat wajahnya sendiri di cermin, 3 bulan yang lalu, ketika dia pertama kali memegang Keris Kala Naga. Matanya masih normal. Matanya masih punya harapan.
Sekarang? Matanya hitam.
Tangannya berlumuran darah.
Hatinya kosong.
"GUE CAPEK," kata Raka pelan.
"CAPEK JADI ALAT BALAS DENDAM. CAPEK JADI BONEKA KUTUKAN. CAPEK HIDUP BUAT ORANG LAIN."
Dia mengangkat 9 keris dan mahkota tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Kedua tangannya gemetar.
"GUE PILIH... MENGAKHIRI SEMUA INI."
"BUAT GUE, BUAT AYAH GUE, BUAT SEMUA ORANG YANG MATI KARENA KUTUKAN INI."
"HANCURKAN!"
Raka menancapkan semua keris ke dadanya sendiri.
*JLEBBB!!! JLEBBB!!! JLEBBB!!!*
Darah hitam menyembur deras, membasahi seluruh tubuhnya.
Mahkota Kala Raja retak dengan suara seperti kaca pecah.
9 keris hancur menjadi debu hitam yang beterbangan ke udara.
*ROAAARRR!!!*
Jeritan terakhir Kala Rahu mengguncang seluruh Istana Bawah Tanah. Suaranya begitu keras sampai seluruh gunung Lawu bergetar.
Kutukan 200 tahun terputus.
Raka jatuh ke tanah.
Tubuhnya dingin.
Matanya hitam itu perlahan memudar menjadi coklat biasa.
Warna mata Raka Wiraatmaja yang asli.
"AYAH... IBU..."
Raka berbisik.
Nafasnya tersengal.
"GUE... PULANG..."
Dan Raka Wiraatmaja, Kala Raja terakhir, mati dengan senyum di wajahnya.
---
*EPILOG*
3 hari kemudian.
Gunung Lawu kembali tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Candi Cetho yang runtuh tidak pernah dibangun lagi. Pemerintah bilang itu karena longsor.
Di desa bawah gunung, seorang anak kecil berumur 8 tahun sedang bermain di sungai.
Dia menemukan sebuah keris kecil tanpa bilah. Hanya gagangnya saja. Bentuknya seperti kepala macan.
Anak itu memungutnya.
Tangannya kecil, tapi gagang itu pas di tangannya.
Untuk sesaat, matanya berkedip hitam.
Hanya sesaat.
Lalu dia tertawa, dan berlari pulang sambil memegang mainan barunya.
Di langit, awan hitam perlahan menghilang.