Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MantuTersayang
Rin.”
“Rindu.”
Elang mengejar istrinya. Namun, Rindu tetap melangkahkan kaki menuju kama.
“Hei, aku belum selesai bicara,” ucap Elang dengan menghadang langkah sang istri.
“Apalagi sih, Lang? Aku mau istirahat!”
Ada yang berbeda dari sang istri malam ini. Selain tidak mengajukan banyak pertanyaan karena mereka sudah berjauhan selama tiga hari. Rindu pun tak menanyakan kabarnya hingga kini. Bahkan selama tiga hari itu, Elang yang justru menelepon ponsel Rindu yang tak biasa, tidak aktif.
“Kenapa ponselmu tidak aktif?” tanya Elang.
Rindu masih malas berhadapan dengan suaminya yang selama ini membohonginya setengah mati.
“Memang kamu meneleponku?” tanya Rindu.
Elang mengangguk.
“Tumben,” jawab Rindu yang kembali berjalan.
“Tumbeng? Kalau aku tidak menelepon, nanti kamu marah, cemburu. Aku telepon, kamu bilang tumben. Memang kamu itu aneh. Serba salah ngadepin kamu.” Elang masih saja mengejar sang istri dan mengekori dengan kata-kata yang semakin membuat Rindu malas.
Rindu menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah pria yang membuatnya terluka. “Kalau begitu tidak usah dihadapi. Tidak usah ditanggapi. Aku juga sudah biasa menghadapi sikapmu yang seperti ini.”
Elang menganga. Baru kali ini Rindu menjawab pernyataannya dengan ketus juga.
Biasanya, jika dirinya sudah mulai menaikkan suaranya beberapa oktaf dan mulai kesal, Rindu akan mendekat dan dengan lembut menenangkannya. Tapi, malam ini terasa berbeda.
Usai memasuki kamar, Rindu mengambil bantal dan selimut tebalnya.
“Hei, mau dibawa kemana bantal dan selimut itu?” tanya Elang yang melihat gerak gerik istrinya yang aneh.
“Mulai sekarang, aku mau tidur di kamar tamu aja. Supaya ga ganggu kamu. Kamu kan suka ngerjain kerjaan sampai tengah malam. Lampu yang menyala, membuatku ga bisa tidur.”
Untuk pertama kali, Rindu protes akan ketidaksukaan sikap Elang setiap malam. ya, pria itu mengabaikan waktu istirahat sang istri. Padahal, ia tahu bahwa Rindu tidak bisa tidur dengan lampu yang menyala.
Lagi – lagi, Elang hanya bisa diam. Ia membiarkan sang istri membawa dua benda besar itu ke kamar tamu.
“Ibu, sini biar saya bantu,” ujar Bibi yang melihat Rindu membawa benda besar itu.
“Terima kasih, Bi.” Rindu tersenyum dan membiarkan asisten rumah tangga itu membantunya.
Elang terdiam sejenak, hingga suaranya kembali menggelegar. “Bibi.”
Asisten rumah tangga yang usianya berkisar lima puluh tahunan itu menoleh. “Ya, Pak.”
“Bawa lagi benda itu ke kamar!” titahnya.
Dahi Rindu mengernyit. “Lang. Aku hanya ingin istirahat tenang. Apa tidak boleh?”
“Aku tidak akan mengerjaan pekerjaan di kamar saat kamu tidur. Aku janji!”
Rindu berdecih. “Janji. Dua tahun lalu, kamu juga janji akan merubah sikapmu, tapi apa?”Sama saja.”
Tak ingin berdebat panjang, akhirnya mau tidak mau Rindu kembali ke kamar mereka. Bibi pun membawa kembali dua benda besar itu ke kamar utama.
Elang menatap sang istri yang tengah membaringkan tubuhnya di ranjang. Rindu memang terlihat tidak sehat. Sejak datang, wajahnya tampak pucat. Elang pun merasa tak tega. Rasa tak teganya semakin menyeruak ketika selama tiga hari ini ia menghabiskan waktu dengan sugar baby-nya itu.
Elang mendekat dan duduk di tepi tepat di samping tubuh Rindu yang terbaring.
“Kapan kamu jatuh dari sepeda?” tanyanya.
Rindu yang sudah memejamkan mata, sebenarnya malas untuk terbuka. Sungguh, ia sudah malas melihat wajah pria yang dulu ia agungkan karena tampan.
“Rindu. Aku bicara padamu,” ucap Elang lagi.
Rindu pun membuka matanya perlahan.
“Dua hari lalu.”
“Kenapa bisa begitu?”
Rindu mengangkat bahunya. Ia terpaksa berbohong. “Entah lah, kejadiannya cepat.”
Elang menarik nafasnya kasar. Meski ia sering mengacuhkan Rindu, tapi ketika wanita itu tak berdaya, ia pun tak tega.
“Kalau begitu, aku buatkan cokelat panas kesukaanmu. Mau?”
Kepala Rindu menggeleng. “Tidak. Aku hanya ingin tidur.”
Elang semakin bingung. Tidak biasanya Rindu menolak.
Biasanya, wanita itu akan sumringah, ketika Elang melayaninya seperti ini. Tapi, lagi-lagi sikap Rindu berbeda malam ini.
Rindu kembali memejamkan mata. Sedangkan Elang hanya terpaku sembari melihat wajah Rindu. Wajah yang entah mengapa tidak bisa ia tinggalkan. Meski menurutnya, Rindu wanita yang terlalu mandiri dan tidak pandai di ranjang, tapi ketika bangun tidur dan menatap wajah itu, ia merasakan ketenangan.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Elang berdering. Ia merogoh kantong celana dan menatap layar yang bertuliskan ‘Sugar Baby.’
“Mas, hari ini kita ga ketemu?” tanya Miskha setelah ponsel itu diangkat.
“Tidak.”
Elang beranjak dari tepi ranjang menuju balkon. Tak lupa ia menutup pintu itu sebelum melanjutkan komunikasinya dengan Miskha.
Di tempat tidur, Rindu membuka mata dan melihat kelakuan Elang. Ia tahu bahwa suaminya sedang menerima telepon dari selingkuhannya itu.
“Tapi, Mas. punyaku gatal ingin dipake kamu lagi.”
“Dasar bin*l! Sudah tiga hari aku pakai, masih saja belum puas.”
Miskha tertawa diiringi senyum Elang yang hanya sesaat dan memudar ketika mengingat Rindu yang terbaring lemah di ranjang.
“Dek.”
“Hm.”
“Mungkin selama beberapa hari ini kita ga bisa ketemu.”
“Kenapa?” tanya Miskha.
“Rindu sakit. Dia baru aja jatuh dari sepeda saat tugas di Jogja. Jadi Mas harus mengurusnya.”
“Dasar! Cupu banget sih!” umpat Miskha. “Masa naik sepeda aja jatoh.”
Miskha tertawa. kali ini, Elang tak menanggapi. Ia memilih untuk mengakhiri komunikasi ini.
“Udah dulu ya, Dek. Mas mau tidur. Kamu juga tidur,” ucapnya.
Miskha menurut. Ia pun mengakhiri komunikasi ini.
Setelah komunikasi terputus oleh keduanya, Elang kembali memasukkan benda itu ke dalam saku. Ia menatap langit dari pagar balkon kamarnya dan menarik nafasnya kasar.
“Maaf, Rindu. Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Miskha terlalu menggoda,” ucapnya pada dirinya sendiri.
Di ranjang, dengan jarak yang jauh dari balkon tempat Elang berdiri, Rindu seperti memiliki telepati. Ia menjawab gumaman Elang tadi.
“Aku tahu, Mas. Aku tahu,” jawabnya dalam hati.
⸻
Dret … Dret … Dret …
Ponsel yang akhirnya Rindu aktifkan lagi semalam, berdering. Tertera nama Lita Janeta, rekan kerjanya.
Mata Rindu yang semula masih tertutup, kini terbuka sempurna. sebelum mengambil ponsel, ia mengedarkan pandangan dan tak menemukan keberadaan Elang. Kebiasaan ini hampir setiap pagi terjadi, Rindu pun tak heran lagi. Elang memang kerap meninggalkannya saat dirinya masih terlelap. Ketika selesai melakukan hubungan suami istri pun begitu. Sesaat, Rindu merasa bahwa dirinya selama ini hanya pelampiasan suaminya saja, jika pria itu mengurusnya.”
menginginkannya.
“Bodoh!” umpat Rindu.
Dan, sayangnya umpatan itu setelah ia menekan tombol hijau di ponselnya.
“Bodoh? Siapa yang bodod?” tanya Lita.
“Eh, sorry. Aku kira, aku belum mengangkat telelepon,” sanggah Rindu.
“Tunggu! Lu lagi ngumpat siapa? Si Bibi?”
Rindu menggeleng. “Ngga. Gue lagi ngumpat diri gue sendiri yang bangun kesiangan.”
“Rin, kamu sudah bangun?” tanya Elang yang tiba – tiba masuk dan membawakan semangkuk krim sup.
Rindu yang masih menerima telepon, matanya mengikuti gerakan Elang.
“Rin, hari ini lu masih belum bisa masuk?” tanya Lita.
sedang ia pegang.
“kamu ga ke kantor?”
Kepala Elang menggeleng. “Ngga. Kamu kan sedang sakit.”
Jika saja, Rindu masih belum tahu kebusukan Elang dibelakangnya, mungkin ia akan berbunga – bunga dan percaya oleh sikap manis Elang saat ini, seperti waktu – waktu sebelumnya.
Rindu mati – matian bertahan menahan sikap acuh Elang, karena dibalik itu terkadang Elang pun bersikap manis seperti ini. Pria itu cukup tahu bagaimana menarik ulur perasaannya. Karena Elang memang tahu bahwa Rindu sangat mencintainya. Hal itu pun tampak dengan kebucinan Rindu selama ini.
“Rindu …” panggil Bella yang tiba – tiba memasuki kamar dengan suara histeris.
Wanita paruh baya itu langsung mendekati.
menantunya. “Menantu kesayangan Mama, kenapa?”
Wanita itu menoleh ke arah putranya. “Elang, kamu apakan putri Mama? Mengapa kepalanya diperban begini?”
Elang mengngkat bahunya. “Ngga tau, Ma. Tiba-tiba Rindu pulang sudah dalam keadaan diperban.”
Bugh
Bella memukul lengan atas putranya.
“Bodoh! Jadi suami ngapain aja sampai ga tahu istrinya kecelakaan?” Bella terus menyalahkan Elang.
“Salahkan Rindu yang tidak mengaktifkan ponselnya selama tiga hari.”
Bella pun menatap tajam ke arah wanita yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu.
“Maaf, Ma. Rindu lupa membawa charger. Karena tugasnya mendadak, jadi ga ada persiapan apa-apa.”
Bella tidak jadi marah. Ia justru memeluk menantu kesayangannya. “Lain kali, jangan ulangi lagi. Mama benar-benar khawatir padamu.”
Rindu pun membalas pelukan itu. Pelukan hangat dari seorang Ibu yang tidak pernah ia rasakan. Atas dasar hal ini pula, Rindu enggan berpisah dari Elang. Ia tidak siap kehilangan kasih sayang dari Bella. Namun, jika mengingat kelakuan putranya Bella, Rindu ingin sekali mengajukan gugatan cerai.
Entahlah! Untuk saat ini ia ingin mengumpulkan bukti. Dan untuk kedua nenek sihir dan penggoda itu, Rindu juga ingin membalas kelakuan mereka, tapi dengan cara apa? ia pun belum memikirkan. Saat ini yang paling penting adalah kesembuhan dan pekerjaan yang sudah tiga hari ia tinggalkan.
Menurut Lita, Pak Dirga bos kesayangannya sampai menunda pensiun beberapa hari hingga menunggu Rindu pulih dan kembali bekerja lagi.