Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Mengambil Air Suci Part 2
"Yang benar saja! Lubangnya sangat kecil," protes Aelias tak habis pikir. "Bagaimana cara kita masuk ke dalam sana? Anda bisa melihat sendiri kalau ukuran tubuh saya dan tubuh Anda sebesar ini!"
Ilustrasi tokoh Aelias Vance [Light Elf from Ljosalfhar/Alfheimr]
Aelias memijat pelipisnya. Mungkin jika ia adalah seorang anak kecil, ia masih bisa memaksakan diri untuk merangkak masuk ke dalam sana.
"Biasanya, aku selalu mengubah wujudku menjadi seekor kucing atau berang-berang kalau mau masuk ke dalam lubang itu," sahut Benjamin acuh tak acuh. "Tapi sekarang aku sedang malas sekali. Aku tidak mau membuat pakaian dan tubuhku kotor. Pikirkan saja sendiri caranya dengan kekuatan Elf milikmu itu. Tugasku kan hanya mengantarkanmu sampai sini."
Ilustrasi tokoh Benjamin Emerson [Seorang penyihir Mage, ras Naga dari Silverwood (hutan perak Vespera)]
Aelias melotot tak percaya mendengar jawaban santai pria di hadapannya. "Mage, aku bahkan tidak bisa berubah wujud menjadi hewan sepertimu! Apa Anda tidak bisa membantuku? Setidaknya gunakan kekuatan teleportasi Anda!"
"Tidak bisa," tolak Benjamin mutlak. "Kau harus tahu kalau kekuatan sihir semacam itu sama sekali tidak berguna di area suci ini."
Aelias hanya mendengus pasrah. "Kalau begitu, apa kekuatan alam berfungsi di sini?"
"Mungkin. Coba saja," ucap Benjamin acuh tak acuh sembari menyandarkan tubuhnya ke batang pohon terdekat.
Mau tidak mau, Aelias harus memutar otak. Ia memejamkan mata, memusatkan sisa energi magisnya, lalu mulai merapalkan mantra lembut untuk memanggil kekuatan alam.
Tidak lama kemudian, semak-semak di sekitar mereka berkersek. Segerombolan hewan pengerat seperti tikus-tikus hutan berukuran sedang keluar dari persembunyian mereka, berbaris patuh di depan kaki sang Elf Cahaya.
Aelias kemudian mengarahkan telapak tangannya pada dedaunan hijau yang rimbun di sekitar Pohon Methuselah. Mengikuti lambaian jemarinya, daun-daun tersebut terlepas dari ranting, melayang di udara, lalu menganyam diri mereka sendiri dengan sangat rapi hingga membentuk beberapa kantung kokoh untuk menampung air suci.
"Isilah semua kantung ini dengan air suci di dalam sana," perintah Aelias lembut kepada segerombolan tikus tersebut.
Kantung-kantung daun itu seketika melayang rendah, mengikuti pergerakan lincah para tikus yang mulai merangkak masuk satu per satu ke dalam lubang kecil Pohon Methuselah.
Selama menunggu proses pengambilan air suci tersebut, Aelias berjalan mendekati Benjamin lalu duduk di atas salah satu akar pohon yang menonjol besar.
"Kau tahu, Mage? Hari ini ternyata akan menjadi hari yang sangat spesial bagiku," ucap Aelias dengan senyum misterius yang terukir di bibirnya.
"Spesial bagaimana?" tanya Benjamin tanpa menoleh.
"Aku bertemu seseorang. Gadis cantik yang ternyata adalah mate-ku. Aku tidak sengaja berpapasan dengannya saat menaiki bus dalam perjalanan menuju rumah Anda tadi. Tampaknya, dia juga seseorang yang dulu pernah kukenal. Tapi aku belum tahu pasti karena kami hanya bertemu sebentar."
"Hm, begitu rupanya. Selamat," ucap Benjamin singkat, terdengar acuh tak acuh seperti biasanya.
Namun, sedetik kemudian ia mengembuskan napas panjang. "Aku juga sebenarnya sudah menemukan mate-ku. Tapi aku masih ragu, karena dia ternyata memiliki lebih dari satu mate. Aku terlalu takut kalau nanti dia akan pilih kasih padaku."
Aelias terbelalak kagum. "Benarkah? Wah, aku tidak menyangka Mage Agung sepertimu akhirnya berhasil menemukan belahan jiwamu juga. Selamat, Mage!"
"Tapi sayangnya, mate-ku itu hanyalah seorang manusia biasa," tambah Benjamin, ada nada bimbang dalam suaranya.
"Aku juga sama! Dia saat ini berwujud manusia," sahut Aelias antusias. "Tapi insting Elf-ku merasakan kalau dia bukan manusia biasa. Wah, kebetulan sekali, ya? Kenapa mate kita bisa sama-sama berada di dunia manusia?"
Benjamin tersentak. Ia mendadak terdiam sejenak di tempatnya berdiri. Firasatnya mendadak berubah menjadi tidak enak, memicu ketegangan aneh di dalam dadanya.
"Apa kau sudah tahu namanya? Atau... bagaimana ciri-ciri fisiknya?" tanya Benjamin, suaranya mendadak berubah serius penuh rasa penasaran.
Aelias menaikkan sebelah alisnya, heran melihat perubahan sikap sang Mage Naga yang tiba-tiba menegang. "Belum. Aku belum sempat bertanya. Lagi pula, kenapa Anda mendadak menanyakan ciri-cirinya? Aneh sekali."
****
Sementara itu, di dalam bus, Evelyn sudah merasa sangat muak. Ia tidak peduli lagi pada kehadiran Kaelen yang nekat duduk di sampingnya dengan tubuh yang masih menyedihkan.
Beberapa kali Evelyn mencaci, bahkan mengusir pria itu secara terang-terangan di depan penumpang lain. Namun, tampaknya hati Kaelen sudah sekeras batu. Pria itu benar-benar telah mabuk cinta dan tidak peduli lagi dengan harga dirinya demi mendapatkan ampunan Evelyn.
Ciiittt!
Bus akhirnya berhenti di sebuah halte yang kebetulan jaraknya agak jauh dari tempat tujuan Evelyn yang sebenarnya. Gadis itu langsung berdiri dan turun dengan tergesa-gesa.
Ilustrasi tokoh Evelyn Moonshade (mode manusia).
Sementara itu, Kaelen juga tidak mau kalah. Ia bergegas ikut turun dan terus mengekor di belakang Evelyn, melekat erat seperti perangko.
Evelyn melangkah lebar memasuki jalan setapak yang menanjak menuju Bukit Vespera. Setelah berjalan cukup jauh dan merasa suasana di sekitar sudah cukup sepi dari jangkauan manusia, ia mendadak menghentikan langkahnya.
Evelyn berbalik, lalu menatap Kaelen dengan pandangan yang sangat jengah.
"Heh, kau! Berhenti mengikutiku!" bentak Evelyn, berkacak pinggang. "Pulang saja sana ke istanamu yang megah itu! Kehadiranmu di sini benar-benar merusak pemandanganku!"
"Tidak akan pernah," sahut Kaelen tegas. "Karena aku akan terus mengikutimu hingga ke ujung dunia sekalipun. Lagipula, keberadaanku di sini juga bertugas untuk melindungimu."
Ilustrasi tokoh Kaelen Marine [Pangeran Mermen dari Kerajaan Abyssal Trench]
Sebenarnya, di dalam hati Kaelen merasa sangat terkejut saat menyadari arah tempat tujuan Evelyn. Rute ini terasa sangat familier baginya.
Jalur menanjak ini berdekatan dengan batas hutan teritori milik Raja Demon, Damian Dexter—yang tidak lain adalah pamannya sendiri.
Ilustrasi tokoh Damian Dexter [The Demon King penguasa kegelapan].
Kaelen didera rasa takut jika sang paman sampai melihatnya di sini, lalu menyeretnya kembali ke Istana Demon yang berdiri kokoh di jantung Hutan Vespera. Wilayah kekuasaan pamannya itu memang terletak lumayan dekat dari Pohon Methuselah, tempat Benjamin dan Aelias saat ini sedang mengambil air suci.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri!" ketus Evelyn. Ia memutar bola matanya jengah, lalu kembali melangkah lebar menaiki bukit.
Kaelen mengernyitkan dahi dalam-dalam. Ia sangat mengenal rute jalan setapak ini. Ini adalah jalur menuju kediaman rahasia seorang Mage Agung. Dan Mage itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengannya, atau bisa dibilang masih terhitung sebagai kerabatnya sendiri.
"Kau... mau apa datang ke tempat terpencil ini?" tanya Kaelen curiga, menyamakan langkahnya yang pincang. "Jangan bilang kalau kau mau pergi ke rumah Kakek Benjamin?"
"Kakek?!" Evelyn seketika tertawa renyah tanpa sudi menoleh ke belakang. "Kau sudah gila, ya? Pria tampan berambut merah itu adalah kekasihku—ah, maksudku, calon kekasihku! Fisiknya masih sangat muda dan menawan, kenapa bisa-bisanya kau menyebutnya kakek?!"
Kaelen sontak tertegun mendengar ucapan Evelyn. Rasa terkejut yang luar biasa membuat pria itu buru-buru memaksakan kakinya yang terluka untuk menyamakan langkah dengan Evelyn.
"Kau bilang apa barusan?! Calon kekasih?!" Kaelen menatap Evelyn dengan mata membelalak tidak percaya. "Kau menyukai Kakek Benjamin? Yang benar saja! Dia itu sudah tua, umurnya saja sudah dua ratus lima puluh tahun! Umurnya hampir sama dengan kakek kandungku!"
Evelyn seketika menghentikan langkahnya. Matanya membelalak lebar, menatap Kaelen dengan pandangan tak percaya. "Hah, apa maksudmu?! Itu tidak mungkin! Kau pasti sedang mencoba membual karena kau cemburu, kan? Mengaku saja!" ucapnya sambil cemberut kesal.
Kaelen justru terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Evelyn yang entah kenapa sekarang malah tampak semakin menggemaskan di matanya.
"Kau tidak percaya pada perkataanku?" Kaelen tersenyum tipis. "Asal kau tahu saja, makhluk imortal seperti kami memang memiliki umur yang sangat panjang. Pasti kau juga sudah tahu hal itu, kan? Malahan, kakek dari si kembar tiga—Jonas, Jonah, dan Josiah alias sepupuku itu—umurnya sudah hampir lima ratus tahun. Kalau tidak percaya, tanya saja sendiri pada Kakek Benjamin nanti."
Kaelen menjeda kalimatnya. Raut wajahnya mendadak berubah sendu, menatap Evelyn dengan tatapan terluka seolah-olah ia baru saja diselingkuhi. "Hei, Evelyn... Kudengar dari ibuku, bukankah kau ini juga mate dari pamanku, Damian? Lalu, kenapa sekarang kau tiba-tiba menyukai Mage Benjamin? Lantas, aku dan pamanku itu mau kau kemanakan?"
"Kau bicara apa sih?!" sentak Evelyn jengkel.
"Heh, dengar ya... Kau ini bukan siapa-siapa lagi bagiku! Bahkan bukan teman lagi! Jadi, jangan harap aku mau menerimamu hanya karena ikatan takdir konyol itu. Aku juga tidak peduli jika pria tampan itu sudah berumur ratusan tahun! Dan soal pamanmu itu... apa maksudmu pria yang memiliki wujud seperti iblis menyeramkan?"