NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengakuan Gengsi

​"Lorong rahasia ini tembus langsung ke jalan belakang sejauh dua blok dari area pengepungan!" seru Cala menegaskan temuannya.

​Ronan tidak berkedip menatap garis putus-putus di atas kertas kalkir itu. Jari telunjuknya perlahan menelusuri jalur pembuangan limbah tersebut, membayangkan struktur beton bawah tanah yang gelap dan bau.

​"Dua blok dari Hotel Grand Valera adalah Jalan Merak," gumam Ronan pelan. Pria itu langsung menarik papan ketik komputernya mendekat. Jari-jarinya menari sangat liar mengetikkan puluhan baris kode akses. "Jalan itu adalah area bongkar muat barang untuk pertokoan grosir. Sangat sepi, minim lampu penerangan, dan jarang dilewati patroli polisi."

​"Tempat yang sangat sempurna untuk menjemput seorang pembunuh bayaran yang baru saja menyelesaikan tugasnya," tambah Cala semangat. Ia menarik kursi kayunya lebih dekat ke arah Ronan agar bisa melihat layar monitor dengan jelas. Jarak bahu mereka kini hanya terpisah beberapa sentimeter saja.

​Ronan menekan tombol masuk dengan keras. Layar monitor besar di tengah langsung memunculkan puluhan kotak video. Itu adalah rekaman kamera pengawas lalu lintas kota dari berbagai sudut di sekitar Jalan Merak.

​"Pukul berapa tepatnya insiden penusukan CEO Valera itu terjadi?" tuntut Ronan tanpa menoleh.

​"Pukul tujuh lewat dua puluh menit malam. Aku ingat persis karena aku sedang melihat jam tanganku, panik menunggu asistenku yang membawa bunga," jawab Cala sangat yakin.

​Ronan memutar mundur waktu rekaman di layar komputernya ke angka tersebut. Mata tajam pria itu bergerak lincah memindai puluhan layar kecil secara bersamaan. Otak jeniusnya bekerja menyaring informasi visual dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Cala ikut menatap layar, namun matanya cepat lelah melihat gambar hitam putih yang beresolusi rendah dan banyak semutnya. "Kamu bisa menemukan sesuatu di tumpukan video buram begini?"

​"Tentu saja. Ini keahlian dasarku," sahut Ronan datar. Pria itu memperbesar satu kotak video yang menyorot tepat ke arah gang buntu di belakang deretan ruko Jalan Merak.

​Waktu di layar menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit. Keluar sosok pria berjaket hitam dari sebuah penutup gorong-gorong besi yang terbuka. Sosok itu berjalan tenang, tidak berlari-lari panik, lalu masuk ke dalam sebuah mobil boks polos yang sudah menunggunya di pinggir jalan raya. Mobil itu langsung melesat pergi menghilang di tikungan.

​"Dapat," desis Ronan tajam. "Lima belas menit setelah penusukan. Waktu tempuh yang sangat logis untuk berjalan kaki menyusuri lorong limbah bawah tanah dari hotel ke titik penjemputan ini."

​Cala bersorak kegirangan. Ia menepuk lengan Ronan dengan refleks saking senangnya. "Lihat! Apa kubilang! Analisis tata ruangku tidak pernah salah! Polisi bodoh di luar sana pasti masih mengira pembunuh itu punya ilmu sihir bisa menghilang menembus tembok."

​Ronan menatap lengan kirinya yang baru saja ditepuk oleh Cala, lalu beralih menatap wajah bangga wanita di sebelahnya. Wajah dingin dokter forensik itu perlahan melunak, meski rahangnya masih terlihat kaku.

​"Harus kuakui, insting observasimu cukup tajam," ucap Ronan pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh andalannya. "Otakmu ternyata berfungsi lebih dari sekadar memilih warna taplak meja dan merangkai bunga duka cita."

​Cala mendelik kesal, memajukan bibir bawahnya. "Itu pujian atau hinaan, Dokter? Susah sekali mulutmu mengucapkan kata hebat atau luar biasa."

​"Itu pengakuan berbasis fakta logis," balas Ronan ringan. "Tim investigasi membuang waktu berminggu-minggu mencari celah di kamera keamanan lobi dan atap gedung. Tidak ada yang berpikir untuk memeriksa cetak biru lawas milik pihak ketiga. Kamu punya keunggulan memori spasial yang lumayan berguna untuk misi investigasi ini."

​Cala tersenyum lebar penuh kemenangan. Mendapat pengakuan dari pria kaku yang selalu meremehkannya ini terasa seperti memenangkan lotre miliaran rupiah. Ia merapikan kertas kalkirnya yang berserakan, lalu kembali memusatkan perhatian pada layar monitor.

​"Sekarang kita sudah tahu mobil boks apa yang menjemputnya. Kita bisa melacak pelat nomornya, kan?" tanya Cala penuh harap.

​"Pelat nomor itu pasti palsu atau curian. Tapi kita bisa melacak rute pelariannya dari satu kamera ke kamera lalu lintas lain," jelas Ronan. Jari pria itu kembali sibuk mengetik kode-kode pelacakan siber. "Kita harus mencocokkan rute mobil boks ini dengan arah pelarian mobil ambulans palsu dari Restoran Lumina. Jika kita bisa menemukan titik pertemuan rute mereka, kita akan menemukan markas utama Zeta Katering."

​"Bagus. Ayo kita bedah rute mereka satu per satu," semangat Cala menggebu-gebu.

​Mereka berdua benar-benar berubah menjadi tim investigasi dadakan yang sangat solid. Ronan bertugas membobol akses kamera pengawas jalan tol, jalan tikus, hingga kamera mesin anjungan tunai mandiri (ATM)  yang menghadap ke jalan raya. Sementara Cala bertugas mencatat setiap titik koordinat, menghitung estimasi waktu tempuh menggunakan logika lalu lintas yang sering ia pakai saat mengatur konvoi mobil pengantin kliennya. Kerja sama mereka mengalir lancar tanpa perdebatan tidak penting.

​Langit di luar kaca jendela apartemen perlahan berubah warna. Sinar terik matahari memudar, digantikan oleh pendar cahaya lampu-lampu gedung pencakar langit kota yang menyilaukan mata. Udara di dalam ruangan steril itu semakin dingin seiring mesin penyejuk ruangan yang terus memompa udara beku secara konstan.

​"Mobil boks itu masuk ke jalan tol lingkar selatan pada pukul delapan tepat," lapor Cala. Tangannya sibuk menuliskan angka di atas papan jalan jepitnya. "Tapi tunggu dulu. Ambulans palsu pelayan restoran itu kabur ke arah jalan tol lingkar utara. Arah mereka sepenuhnya berlawanan, Dokter."

​"Itu trik standar sindikat kejahatan terorganisir. Mereka memecah rute operasional untuk membingungkan pelacakan manual pihak kepolisian," sahut Ronan tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitornya yang menyala terang. "Tapi semua jalan lingkar di kota ini pada akhirnya akan bermuara pada satu titik transit logistik besar di pelabuhan tua. Coba periksa peta kawasan industri pelabuhan itu sekarang juga."

​Cala mengangguk pelan. Ia menarik selembar peta kota dari dalam map cokelatnya. Matanya mulai terasa sangat perih dan panas akibat terlalu lama menatap layar monitor serta tulisan kecil di atas kertas. Ia mengerjap berkali-kali, mencoba mengusir rasa kantuk yang menyerang otaknya tanpa ampun. Ketegangan ekstrem yang ia alami di restoran mulai menagih bayaran fisik berwujud kelelahan yang luar biasa.

​"Pelabuhan tua ada di sektor barat," gumam Cala dengan suara yang mulai serak. Ia menopang kepalanya dengan telapak tangan kirinya. "Ada banyak gudang kosong terbengkalai di sana. Sangat cocok untuk menyembunyikan armada mobil curian atau mencuci uang lewat kargo."

​"Kita harus mencari tahu perusahaan cangkang mana yang menyewa gudang-gudang itu secara legal di atas kertas," kata Ronan serius. Tangannya terus mengklik mouse dengan ritme sangat cepat. "Sistem perbankan mereka pasti terkoneksi langsung dengan aliran dana kotor dari Restoran Lumina. Aku sedang meretas server pajak pelabuhan sekarang. Cari tahu detail blok penyewaannya."

​Cala tidak langsung menjawab perintah tersebut. Kelopak matanya terasa seberat beban besi puluhan kilogram. Tulisan di atas petanya mulai berbayang kabur, menyatu menjadi garis-garis hitam yang sama sekali tidak bermakna. Ia berusaha keras menahan kuap lebar yang memaksa keluar dari mulutnya, namun pertahanan tubuhnya hancur.

​"Apakah kamu menemukan nama perusahaan penyewanya, Cala?" tanya Ronan lagi karena tidak mendengar respons dari wanita di sebelahnya.

​Ronan menoleh cepat ke arah kanan. Kata-kata pria itu terputus seketika di ujung lidah. Tangannya yang sedang memegang mouse membeku total.

​Cala tidak lagi menatap peta kota. Wanita itu sudah tertidur sangat pulas. Napasnya terdengar teratur dan halus, menghembuskan udara perlahan ke bawah.

​Kepala Cala miring ke kiri, kehilangan tumpuan penyangganya, dan kini bersandar dengan sangat nyaman tepat di atas lengan kanan Ronan yang sedang bersandar di atas meja kaca. Rambut panjang wanita itu terurai berantakan, menyentuh kulit lengan Ronan yang hanya terbalut kaus hitam tipis.

​Jantung Ronan mendadak berdegup sangat kencang, menabrak logika medis rasional yang selalu ia pegang teguh sedari awal. Pria yang sangat membenci kontak fisik tidak terduga dan memuja sterilisasi absolut itu kini hanya bisa menatap wajah lelah Cala dalam diam. Ia sama sekali tidak menarik lengannya menjauh sedikit pun. Pria itu justru membiarkan lengannya menjadi sandaran bagi wanita yang tanpa sadar telah mendobrak dinding es di hatinya.

1
Watie Zack
semangat Ronan n Cala, pembunuh cepat ditemukan😍
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak👍👍😍
Watie Zack
wow keren, serasa ikut didalam cerita👍
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!