“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 32.
Dewangga duduk di samping Liora sambil mengunyah roti yang baru saja disuapkan istrinya. Wajahnya tetap memasang ekspresi polos, sementara Liora terlihat begitu santai menikmati secangkir kopi hangat.
Keivan yang sedari tadi memperhatikan keduanya akhirnya meletakkan tabletnya.
"Aneh."
Liora sontak menoleh ke arah tempat duduk anak tirinya. "Apa yang aneh?"
"Kalian berdua." Keivan menyipitkan mata bergantian kepada ayah dan ibu tirinya.
"Loh? Memangnya kenapa?" tanya Liora dengan wajah polos.
Keivan menggeleng pelan. "Nggak tahu. Pokoknya suasananya aneh."
"Aku sama Liora baik-baik aja lohh..." Dewangga memeluk lengan Liora.
"Iya, kau benar. Kita baik-baik aja, mungkin cuma perasaannya." Liora mengangguk sambil mengusap pelan kepala Dewangga.
Keivan semakin curiga, biasanya Mama tirinya itu akan sedikit kerepotan menghadapi tingkah ayahnya. Tapi hari ini, justru ayahnya yang terlihat lebih banyak diam.
Jangan-jangan aku cuma kebanyakan mikir.
Keivan akhirnya kembali fokus pada tabletnya.
Sementara itu, Dewangga diam-diam melirik Liora. Perempuan itu tersenyum seperti biasa, tak ada yang berbeda. Namun instingnya mengatakan, kalau ada sesuatu yang berubah.
Selesai sarapan, Liora berdiri lebih dulu.
"Aku mau ke dapur sebentar."
"Aku ikut!" Dewangga langsung berdiri.
"Ya sudah, ikut."
Mereka berjalan menuju dapur utama mansion. Begitu sampai, para koki langsung menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Pagi."
Liora tersenyum ramah. "Ada buah yang baru datang?"
"Semuanya sudah disiapkan, Nyonya."
Liora membuka lemari pendingin. "Hari ini aku mau bikin jus sendiri."
Dewangga masih berdiri tepat di belakangnya. "Liora... aku mau bantu."
"Boleh."
Jawaban istrinya itu justru membuat Dewangga sedikit bingung, biasanya Liora akan berkata 'Nggak usah'. Tapi hari ini, wanita itu malah mengizinkan.
Liora mengambil sebuah apel lalu menyerahkannya pada suaminya. "Nih."
Dewangga menerimanya.
"Pegang yang bener, ya."
"Oke."
Lalu Liora memberikan jeruk. "Pegang ini juga."
"Oke."
Beberapa saat kemudian, tangan Dewangga sudah penuh. Satu apel, dua jeruk dan satu botol madu. Bahkan talenan kecil pun, ikut diberikan.
"Tunggu sebentar ya."
"Iya..."
Dewangga tetap berdiri memegang semua barang itu. Namun lima menit berlalu, Liora masih sibuk memotong buah. Sepuluh menit, Dewangga mulai pegal.
"Liora... tanganku capek loh ini ."
"Oh?" Liora menoleh dengan ekspresi seolah baru sadar. "Ya ampun."
"Kenapa?" tanya Dewangga.
"Kamu kan anak kuat."
"....." Dewangga tak mampu menjawab.
"Dikit lagi aja, ya."
"Oke..."
Para koki saling berpandangan, hari ini mereka merasa posisi Tuan mereka berubah. Biasanya Nyonya yang sibuk melayani, sekarang justru sang Tuan yang terlihat menurut.
Tak lama kemudian jus selesai dibuat, Liora menuangkannya ke dalam tiga gelas.
"Sini."
Dewangga langsung mendekat. "Mau."
"Tapi..." Liora mengangkat satu jari.
"Apa?"
"Anak baik harus cuci tangan dulu."
"..."
"Tanganmu tadi pegang macam-macam."
"Ooo..." Dewangga menurut, Ia berjalan menuju wastafel. Saat air mengalir membasahi tangannya, Liora diam-diam tersenyum.
Tak lama kemudian, Liora baru selesai mencuci gelas. Begitu berbalik, Ia melihat Dewangga masih berdiri di belakangnya.
"Kok belum pergi?"
"Nunggu Liora."
"Mau ke taman?"
"Mau."
"Ayo."
Mereka berjalan menuju taman belakang mansion, udara pagi terasa sejuk. Burung-burung berkicau di antara pepohonan. Liora duduk di ayunan kayu, sedangkan Dewangga berdiri di depannya.
"Liora, aku ganteng nggak?"
Liora nyaris tertawa, biasanya pertanyaan itu terdengar lucu. Sekarang, Ia tahu pria di depannya adalah aktor ulung.
"Ganteng."
Dewangga tersenyum puas.
"Liora sayang Dewangga?" Pria itu kembali bertanya.
Liora menatap wajah suaminya dalam-dalam, pertanyaan pria itu memang sederhana. Namun kali ini terasa berbeda. Karena yang bertanya bukan pria yang bermental lima tahun, melainkan seorang pria dewasa yang sedang bersandiwara.
"Iya dong, aku sayang kamu," ucap Liora sambil mengulas senyum tipis.
Jawaban istrinya itu membuat Dewangga terdiam beberapa saat, dadanya mendadak terasa hangat. Tatapannya yang semula berbinar kini melembut, seolah masih mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
Melihat perubahan ekspresi suaminya, Liora segera memanfaatkan momen itu untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kalau memang begitu, berarti orang yang disayang harus nurut sama aku, ya?"
Dewangga langsung mengangguk tanpa ragu. "Aku nurut, apapun yang Liora bilang."
Senyum Liora semakin lebar. "Benarkah? Berarti kalau aku suruh minum vitamin setiap hari, kamu harus mau. Kalau aku suruh olahraga supaya badanmu lebih sehat, juga harus mau. Terus kalau aku suruh tidur siang dan istirahat yang cukup, nggak boleh membantah. Bisa?"
Dewangga kembali mengangguk dengan wajah serius. "Bisa! Aku mau! Liora yang suruh, jadi aku nurut."
Liora hampir tertawa melihat kesungguhan pria itu, wajah polos itu benar-benar tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.
Mulai hari ini, aku akan memanfaatkan sendiri semua kepura-puraanmu. Kita lihat saja, siapa yang akan menyerah lebih dulu.
sabar yx ,, harap di maklumi ,, ibu hamil ini 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semua penghuni rumah bisa kena sasaran🤣🤣
hidup , mati , Susah , senang bukan si Rafael yg atur ,, tp Tuhan ,, 😁😁😁😁😁😁