"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
Ailin lalu kembali menatap sang putri.
"Sakit?" tanya wanita itu dengan lembut. Dan mendengar suara itu, bibir Lian langsung bergetar. Gadis kecil itu sebenarnya ingin menjawab tidak. Namun begitu melihat wajah sang ibu, air mata yang tadi ia tahan justru jatuh semakin deras.
"Mama...."
Ailin tidak bertanya lagi. Ia langsung mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam pelukan. "Sudah! Mama di sini."
Lian memeluk leher ibunya erat-erat lalu menangis di bahunya.
Di samping mereka, Kean hanya terdiam.
Ia memperhatikan bagaimana tangan Ailin mengusap punggung Lian pelan sambil terus menenangkan gadis kecil itu.
Tiba-tiba ia teringat perkataan adiknya beberapa menit lalu.
Kalau nangis ya harus dipeluk.
Saat itu Kean mengira Lian hanya asal bicara. Namun sekarang ia melihat sendiri bagaimana tangisan adiknya perlahan mereda di pelukan Ailin.
Sementara Linda mendengus. "Cuma jatuh sedikit saja sudah nangis begitu."
Ailin kembali mendongak, menatap sang ibu mertua dengan kesal. "Kalau sakit ya menangis. Untuk apa ditahan-tahan."
"Anak perempuan jangan terlalu dimanja! Nanti kalau sudah besar juga jadi milik keluarga lain."
Ailin memeluk tubuh sang putri erat, lalu menggendongnya dengan pelan. "Putriku sendiri, aku yang akan memanjakannya."
Tanpa menunggu balasan Linda, Ailin membawa Lian pergi dari sana. Sementara sang ibu mertua yang merasa tersinggung itu ingin mengejar sebelum dihentikan Juan yang sejak tadi diam.
Pria itu memperhatikan punggung Ailin yang membawa Lian pergi. Sekarang, ia merasa keputusan yang selama ini ia tunda tidak bisa ditunda lagi.
"Lihat! Karena dimanja begitu, dia jadi semakin berani melawan mama."
"Ada yang ingin aku bicarakan, Ma."
"Apa? Kau mau menceraikan wanita sialan itu?"
Juan menggeleng, wajahnya serius ketika Linda memandangnya marah. "Dia semakin enggak sopan sama mama, Juan. Kalau dibiarkan begitu akan semakin ngelunjak."
"Aku ingin Kean tinggal di sini lagi."
Saat itu suasana mendadak hening. Linda memandang sang putra dengan tatapan tidak percaya. "Enggak! Kean akan tetap tinggal bersama mama dan papa!"
Juan menghela napas dalam. "Aku dulu membiarkan mama membawanya karena takut dengan kondisiku tidak bisa menjaga dua anak dengan baik. Tapi sekarang aku sadar, itu keputusan yang salah. Aku enggak ingin Kean tumbuh menjadi Yandi yang kedua."
"Kau! Kau mau membuat mama marah sampai mati, ya?" Linda menunjuk ke arah Juan, suaranya bergetar dengan emosi yang tak tertahan.
"Apa pun itu. Aku tetap akan mengambil anakku kembali untuk tinggal di sini."
"Kalau begitu kita tanyakan pada Kean. Dia mau tetap tinggal bersamaku atau tinggal di sini." Linda yang sangat yakin sang cucu akan memilihnya tentu tidak khawatir.
Keduanya kini menatap Kean yang melihat mereka bergantian. Kedua tangan anak itu menggenggam tanpa sadar. Ia lalu menatap pada sang nenek.
"Nenek... aku mau coba tinggal di sini."
"Dengar! Kean enggak mau ting...." Perkataan wanita itu terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah Kean, memasang wajah tidak percaya. Seolah ia telah mendengar sesuatu yang salah.
"Kean? Kau."
"Aku mau coba Nenek. Tinggal bersama papa dan Lian."
Saat itu wajah tidak percaya Linda berubah menjadi marah. "Pasti wanita itu. Dia pasti sudah menghasutmu, kan?"
Kean menggeleng pelan. "Dia enggak mengatakan apa pun, Nenek."
Linda menatap sang cucu tanpa berkedip. Dalam hati masih tidak percaya, terlebih pada wajah Kean yang menunjukkan kepastian.
"Terus kenapa kamu mau tinggal di sini? Nenek kurang baik apa sama kamu?"
"Nenek baik. Tapi... kata Lian di sini kalau terluka akan dipeluk."
Linda membuka mulutnya, seolah ingin membantah. Namun tak satu kata pun keluar. Selama ini ia memang melimpahi Kean dengan materi, kemewahan yang serba ada. Apa pun yang anak itu inginkan tak segan-segan ia dan sang suami penuhi. Namun ternyata anak itu hanya ingin sebuah pelukan.
Linda mengembuskan napas panjang.
"Kalau itu yang kamu mau..." Suaranya terdengar jauh lebih lemah dari sebelumnya.
"Baik. Tinggallah di sini untuk sementara." Ia lalu menoleh ke arah Juan lalu mendengus pelan.
"Nanti kalau sudah tahu bagaimana rasanya hidup bersama wanita itu, jangan menangis minta pulang ke rumah nenek!"
Kean hanya menunduk tanpa menjawab. Sementara Linda berbalik pergi, meninggalkan cucu yang sejak bisa berjalan telah tinggal bersamanya itu.
"Menyesal?" tanya Juan pada sang putra yang menatap punggung sang nenek dengan sorot sedih.
Anak lelaki itu menggeleng pelan. "Papa... kalau sedih boleh minta pelukan, enggak?"
Untuk sesaat Juan membeku. Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut putranya.
Selama ini Kean selalu terlihat keras kepala, manja, dan sulit diatur. Namun pada akhirnya, ia hanyalah seorang anak kecil yang juga ingin disayangi.
Juan lalu tersenyum pelan dan merentangkan kedua tangannya. "Boleh."
Hampir seketika Kean masuk ke dalam pelukannya.
.
.
.