Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
" Assalamu'alaikum , maaf apa yang terjadi sama anak saya ? " . Seorang perempuan paruh baya memakai kais lengan panjang dan celana panjang yang masih berlumuran lumpur , bahkan di tangan nya pun masih ada bekas lumpur yang mengering . Sepertinya perempuan itu di jemput dari sawah atau kebun dan belum sempat membersihkan diri karena merasa sangat khawatir pada putra nya .
" Wa'alaikumussalam , apa njenengan ibu nya pemuda ini ? " . Tanya ustadz Zein .
" Leres pak , tapi kenapa anak saya bisa sampai sini sedangkan rumah kami ada di desa Gambir Anom " .
" MasyaAllah , itu sangat jauh mbok kalau mau ke sini sudah pasti melewati dua desa lain nya , simbok ke sini tadi sama siapa ? " . Tanya kang Jalal .
" Tadi ada orang yang jemput simbok tapi simbok nggak kenal le , habis nganter simbok langsung buru - buru pergi seperti nya ada keperluan penting " .
" Bawa ke rumah aku aja kang biar nggak di tengah jalan begini " .
" Kang Iman apa nggak apa - apa ? " . Jawab kang Jalal .
" Nggak pa pa kang , toh aku juga cuma tinggal berdua sama simbok ku " .
" Ya wes kita bopong ke rumah mu kang kalau begitu " . Kang Jalal dan kang Iman di bantu pak Soni membopong pemuda itu ke rumah kang Iman yang kebetulan berjarak sepuluh meter dari gapura .
" Ayo mbok mari kita ikuti mereka " . Bu Wati menggandeng lengan simbok untuk berjalan ke rumah kang Iman .
Dirumah kang Iman pemuda itu diletakkan di atas dipan di ruang tamu yang biasa di gunakan Iman bersantai melepas lelah sepulang dari sawah .
" Monggo masuk semua nya , maaf cuma ada tikar lusuh " . Kang Jalal mempersilahkan para tamu .
" Mbok Mar'ah mana kang ? " . Tanya kang Jalal yang mengintip ke arah dapur .
" Jam segini biasa nya simbok jemur baju di belakang rumah , sebentar aku panggilkan " .
Sementara kang Iman mencari keberadaan mbok Mar'ah , ustadz Zein mengusapkan air bidara ke wajah dan tangan pemuda yang masih belum sadar itu .
" Ngapunten pak ustadz anak simbok sudah merepotkan di desa ini " .
" Sudah kewajiban kami Sebagai sesama manusia mbok , panggil saja Zein seperti nya kita juga seumuran " .
" Maturnuwun pak Zein , nama ku Sri sedangkan anak ku ini nama nya Satrio , tapi aku bingung pak kenapa Satrio bisa sampai di gapura desa Rejo Sari " .
" Kita akan tahu nanti mbok kalau nak Satrio sudah bangun " .
" Assalamu'alaikum " . Mbok Mar'ah tersenyum sembari membawa satu kendi air minum dan beberapa gelas .
" Wa'alaikumussalam " . Serempak mereka menjawab salam dari mbok Mar'ah .
" Simbok baru punya air putih saja belum sempat nyiapin apa - apa " .
" Walah mbok jangan repot - repot , kami akan semakin segan kalau merepotkan simbok " . Jawab bu Wati yang bergegas berdiri dan menyalami mbok Mar'ah .
Mbok Mar'ah mengamati wajah bu Wati kemudian tersenyum .
" Kamu hamil nduk ? " . Tanya mbok Mar'ah yang membuat bu Wati kebingungan .
" Hamil ? " . Tanya pak Soni dengan mata berbinar .
" Kamu suami nya le ? " .
" Benar mbok , aku Soni dan ini istri ku Wati , itu mbok Sri dan putra beliau Satrio " . Pak Soni memperkenalkan diri nya dan yang lain nya satu persatu .
Mbok Mar'ah tersenyum kemudian mengajak duduk bu Wati .
" Kamu sedang hamil nduk , hamil muda " . Ucap mbok Mar'ah yang masih menyisakan rasa bingung sekaligus bahagia pada hati pak Soni .