"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Monster yang Sadar Diri
"Bawa bosmu ke rumah sakit terdekat. Hubungi dokter pribadinya sekarang juga," perintah Keysa dengan nada suara datar tanpa riak emosi.
Langkah kaki Keysa terhenti sejenak di ambang pintu ganda ruang sidang. Keributan dari arah dalam memaksanya menoleh ke belakang melalui bahunya. Di dekat meja tergugat, tubuh besar Arga tergeletak tidak berdaya di atas lantai marmer yang dingin. Panitera dan pengacara Keysa tampak kebingungan memanggil nama laki-laki itu berulang kali.
Reno, ajudan pribadi Arga yang sejak tadi menunggu di luar, langsung berlari masuk menerobos pintu dengan wajah panik pucat pasi. Laki-laki berseragam rapi itu berlutut di samping bosnya, mengecek denyut nadinya, lalu menatap Keysa dengan sorot mata memohon.
"Ibu Keysa, tolong bantu kami. Bapak Arga sama sekali tidak merespons. Apakah Ibu mau ikut ke rumah sakit bersamanya? Mobil sudah siap di lobi depan," tanya Reno dengan suara gemetar ketakutan.
Keysa menatap tubuh mantan suaminya itu selama beberapa detik. Tidak ada kilat iba di sepasang mata cokelatnya. Tembok es di hatinya sudah berdiri terlampau kokoh untuk bisa diruntuhkan hanya dengan adegan pingsan mendadak ini.
"Aku bukan lagi istri apalagi karyawannya, Reno. Mengurus kesehatan fisik Arga adalah murni tugasmu sebagai ajudan yang digaji mahal oleh perusahaan. Lakukan pekerjaanmu secara profesional dan jangan pernah mengemis padaku lagi," balas Keysa tanpa ragu sedikitpun.
Perempuan itu membalikkan badannya kembali. Ia melanjutkan langkah kakinya yang tertunda, menyusuri lorong panjang pengadilan dengan kepala tegak. Bunyi ketukan sepatu hak tingginya perlahan menghilang ditelan keramaian lorong, meninggalkan Arga bersama karma yang baru saja menjemputnya hari ini.
***
Bau obat antiseptik yang sangat tajam langsung menyerang indra penciuman Arga saat ia menarik napas pertamanya.
Laki-laki itu membuka kelopak matanya perlahan. Pandangannya tidak lagi buram atau berkunang-kunang. Ia melihat langit-langit berwarna putih bersih dan lampu neon yang menyala terang. Suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi konstan di sisi ranjang. Ia berada di sebuah kamar perawatan VIP yang sangat mewah dan luas.
Arga mencoba bangkit untuk duduk. Kepalanya tidak lagi berdenyut menyakitkan. Rasa sakit luar biasa yang seolah membelah tengkoraknya saat di ruang sidang tadi telah menguap tidak berbekas tertiup angin pendingin ruangan.
Namun, kesembuhan fisik itu justru membawa kutukan yang jauh lebih mengerikan bagi batinnya.
Semua ingatannya sudah kembali seratus persen. Tidak ada lagi celah kosong. Tidak ada lagi potongan gambar yang patah-patah. Otaknya kini berfungsi sempurna, dengan rekaman yang sangat jernih semua kejadian dari tiga tahun lalu hingga detik di mana palu hakim pengadilan diketuk beberapa jam yang lalu.
Arga menatap kedua telapak tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Tangannya terasa sangat kotor dan menjijikkan.
Ia mengingat semua kekejaman aslinya secara gamblang. Ia mengingat betapa arogannya dirinya saat memaksa Keysa menandatangani kontrak pernikahan palsu demi memuaskan dewan komisaris. Ia mengingat jelas bagaimana ia membentak Keysa tanpa ampun di depan para klien bisnis penting hanya karena perempuan itu terlambat satu menit membawakan map dokumen.
"Bekerjalah dua puluh jam sehari! Aku membayarmu mahal bukan untuk menjadi pajangan berwajah datar di kantorku!"
Kata-kata kejam yang pernah ia lontarkan di masa lalu kembali berdengung hebat di telinganya bagaikan lebah yang mengamuk.
Dada Arga terasa sesak luar biasa, seolah ada bongkahan beton raksasa yang menimpa paru-parunya. Kini ia paham sepenuhnya alasan mengapa Keysa membangun tembok es yang begitu tebal. Kini ia mengerti kenapa Keysa memilih ingin tidur di lantai karpet hotel daripada harus berbagi ranjang empuk dengannya saat di Surabaya.
Keysa tidak sedang bersikap angkuh atau jual mahal. Mantan istrinya itu hanya berusaha sekuat tenaga bertahan hidup dan melindungi mentalnya yang sudah dihancurkan perlahan-lahan oleh keegoisan Arga sendiri.
"Pria bodoh macam apa aku ini," rutuk Arga parau. Laki-laki itu meremas selimut putih rumah sakit dengan sangat kuat hingga urat tangannya menonjol tajam.
Masa amnesianya selama tiga minggu terakhir terasa seperti sebuah tamparan keras dari takdir. Saat ingatannya rusak, insting murninya justru berusaha keras untuk melindungi Keysa. Ia cemburu buta saat ada laki-laki lain menatap Keysa, ia belajar memasak bubur hambar di dapur, ia menemani Keysa semalaman saat demam meradang. Tapi semuanya sudah sangat terlambat. Semua usaha tulusnya saat amnesia tidak akan pernah bisa menghapus dosa-dosa brutal yang ia lakukan selama dua tahun penuh.
Ia adalah monster yang sesungguhnya. Dan Keysa lari meninggalkannya bukan karena ada laki-laki lain yang lebih kaya, melainkan lari untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri dari cengkeraman monster itu. Karma menghantam mental sang penguasa perusahaan raksasa hingga hancur lebur berserakan di atas kasur rawatnya.
Arga memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan rasa sakit di dadanya yang teramat sangat menyiksa kewarasannya.
Suara knop pintu yang diputar memecah keheningan kamar rawat tersebut secara tiba-tiba.
Pintu kayu berpelitur cokelat itu terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan luar biasa mewah melangkah masuk dengan angkuh. Ia memakai gaun mahal berwarna merah marun, kalung mutiara besar yang melingkar di lehernya, dan menenteng tas kulit edisi terbatas.
Itu adalah Ratna, ibu kandung Arga.
Wajah Ratna terlihat sangat cerah dan sumringah. Senyum lebar menghiasi bibirnya yang dipulas riasan tebal. Tidak ada raut panik atau sedih melihat anak lelakinya terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Wanita itu justru berjalan mendekati ranjang dengan langkah ringan seperti sedang menghadiri pesta perayaan besar.
"Oh, Arga sayang. Kamu sudah sadar rupanya," sapa Ratna dengan nada suara yang melengking ceria. Wanita itu meletakkan tas mahalnya di atas nakas, sama sekali tidak peduli pada wajah putranya yang terlihat sangat pucat dan kacau.
Arga membuka matanya perlahan. Ia menatap ibunya dalam diam. Rahangnya mulai mengeras kaku.
"Ibu baru saja dengar kabar baik dari pengacaramu kalau sidang putusan akhirnya berjalan lancar hari ini," lanjut Ratna tanpa basa-basi sedikit pun, senyum kemenangannya semakin melebar. "Syukurlah, Keysa, wanita asisten rendahan itu sudah resmi cerai darimu, Arga. Ibu sudah muak melihat wajah datarnya yang sok berkuasa itu berkeliaran di perusahaan kita."
Ratna menarik kursi dan duduk dengan santai. "Sekarang kamu sudah bebas total. Ibu bisa segera menjodohkanmu dengan anak perempuan direktur Bank Global yang cantik dan jauh lebih sepadan dengan status keluarga kita."
Udara di dalam kamar VIP itu mendadak turun beberapa derajat. Suhu ruangan berubah menjadi sangat dingin dan luar biasa mencekam.
Kata-kata hinaan yang keluar dari mulut ibunya barusan menyulut kobaran api kemarahan yang luar biasa pekat di dalam dada Arga. Laki-laki itu mengingat dengan sangat jelas bagaimana ibunya ini selalu merendahkan dan merundung Keysa di masa lalu, dan betapa bodohnya ia karena justru diam membiarkan hal itu terjadi terus-menerus.
Namun, Arga yang sekarang bukanlah Arga yang dulu. Ingatannya utuh, dan rasa penyesalannya telah mengubahnya menjadi sosok yang jauh lebih mematikan.
Arga perlahan menegakkan punggungnya. Ia menatap ibunya lekat-lekat. Tidak ada lagi rasa hormat atau kepatuhan buta di dalam sepasang mata elang tersebut. Yang ada hanyalah kilat pembunuh yang sangat murni, gelap, dan mengancam keselamatan siapa saja yang berani memancing emosinya hari ini.
Ratna otomatis menghentikan senyum lebarnya. Wanita paruh baya itu mundur selangkah di kursinya, merinding ketakutan melihat tatapan mengerikan dari darah dagingnya sendiri.
"Keluar," desis Arga dengan suara sangat rendah, dingin, namun penuh dengan ancaman mematikan. "Jangan pernah berani menyebut nama mantan istriku dengan mulut kotormu."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..