“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Hancur nya Arumi
𝘉𝘳𝘶𝘬!
Arumi merasakan sakit kala tubuhnya harus di banting oleh Adrian di kasur empuk namun, ia tidak mendapatkan keempukan itu matanya mengerjap cepat melihat sekeliling bunga melati dan kamboja menghiasi sekeliling kasur tersebut — wangi menyengat dari dupa,
Menyita indra penciuman nya, tubuh nya menegang kala melihat sesajen sebuah daging dan darah — Ia menatap Adrian dengan tatapan mata yang sulit di percaya.
" Bang kenapa abang bawaku kesini?, abang mau apain aku? " Tanya Arumi bergetar bibirnya
" Kamu hanya perlu melayani dia saja kok, sudah cukup! " Kata Adrian lalu mendorong sang istri ke kasur membuat Tubuh Arumi tersungkur dan terkulai lemah Adrian bergegas pergi, ia mengunci pintu tersebut
" Bang! " Pekikan itu nyaring begitu nyaring sekali — di ruangan yang tidak ada orang selain dirinya.
" Nduk jangan takut! " Sebuah suara membuatnya menoleh ke segala sisi — ruangan tidak ada siapapun. Tetiba wangi kemenyan mengelilingi dirinya seorang wanita tua berambut putih mendekatinya,
" Kamu datang tepat waktu sekali nduk, hari ini hari rabu kasih sayang " Kata wanita tua itu mendekati Arumi dengan sebuah batok kelapa berisi cairan kental. Berbau amis
Arumi memundurkan langkah nya, rasa takut itu menyerang nya " Kamu siapa? Kenapa kamu ada disini?, lepas kan aku! " Ceracau Arumi tubuh nya bergetar hebat
" Jangan takut, hanya sebentar saja! "
Nenek tua itu, menyiram tubuh Arumi dengan cairan tersebut — membuat Arumi memuntahkan segala isi perutnya ia jijik dengan dirinya sendiri. Nenek tersebut tertawa dan merapal mantra di bibirnga, lilin-lilin yang menyala tetiba mati dengan sendirinya
Wangi bunga melati menyeruak dari sosok berbadan kekar yang datang oleh kabut hitam, perawakannya sangat menyeramkan sekali Arumi menegang ia menggeleng kan kepalanya. Saat langkahnya ingin pergi
Sebuah tarikan kuat menarik tubuhnya, membuat dirinya terjatuh di — ranjang Arumi menutup matanya ia merasakan dirinya sedang di jilati makluk jelek itu.
" Lepaskan aku!.. Lepaskan!! "
" Ibu, nenek!, aku ternodai! "
" Abang jahat!, semua jahat! " Jerit Arumi
Malam itu malam petaka baginya, ia di jadikan mainan oleh makluk berwajah jelek yang menyuruh dirinya — untuk menghasilkan anak genderuwo— Arumi merintih kesakitan cakaran dari makluk jelek itu. Memenuhi tubuhnya yang ringkih sesekali ia di banting ke sana-sini
Darah yang mengalir dari lubang hidung Arumi, di jilatin oleh makhluk tersebut — Arumi menutup matanya berusaha menelan semuanya sendiri. Ketidak percayaan masih membelunggu di dalam dirinya,
****
Sinar matahari terbit, seorang wanita yang sedari tadi menatap kosong ranjang dimana ia menghabiskan waktu oleh makhluk itu pun merintikan air matanya. Ia meraih baju nya yang robek di bagian belakang
Dengan tertatih-tatih Arumi, pergi dari tempat pembawa petaka itu — semua sorot mata pejalan kaki menyorot kepadanya dengan tatapan jijik. Arumi terisak kejadian semalam sulit untuk ia Terima ia sudah bernoda dunia tidak akan pernah mau menerima dirinya,
Tatapan Arumi kosong ke arah jembatan, dengan keputusan yang sudah tepat ia naik ke atasnya. Menatap Aliran sungai di bawahnya yang bisa melenyapkan siapapun
Di kota ini makhluk suci seperti Arumi, begitu mudah di buat bernoda oleh sosok tidak berhati nurani ia terisak. Kota ini mampu melenyapkan seluruh kebahagiaan nya.
" Aku letih!!, aku capekk!! " Teriak Arumi
Tidak ada yang membantunya
Tidak ada sandaran.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada penenang.
1
2
3
Arumi menutup matanya, ia membiarkan dirinya bersatu dengan angin untuk — mengakhiri hidupnya yang sampah itu.
" Jangan! "