NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suara bel istirahat berdentang nyaring, memantul di langit-langit aula Universitas Santara yang tinggi. Bagi sebagian besar mahasiswa baru, itu adalah simfoni kebebasan. Kursi-kursi bergeser kasar, tawa pecah di sudut ruangan, dan langkah kaki berderap memenuhi lorong. Namun bagi Zivara, suara itu terdengar seperti lonceng peringatan.

Ia masih terpaku di bangkunya. Jemarinya mencengkeram pena terlalu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di atas kertas catatannya, hanya ada satu baris kalimat yang ia tulis berulang kali: Jangan menoleh. Jangan peduli.

"Vara? Lo kesambet ya?"

Dina menyenggol bahunya, membuyarkan lamunan yang nyaris menarik Zivara kembali ke jurang kegelapan di atap rumah sakit itu. Zivara mengerjap, menatap wajah Dina yang masih polos tanpa riasan berlebih—wajah yang dulu selalu setia mendengarkan tangisannya selama lima tahun pernikahan yang berdarah-darah.

"Enggak, Din. Cuma... sedikit pening," dusta Zivara lembut. Suaranya terdengar jauh lebih stabil dan tenang dibandingkan Zivara yang berusia delapan belas tahun yang asli.

"Ya sudah, yuk ke kantin! Katanya anak Manajemen lagi kumpul di depan gedung pusat. Kabarnya ada Kak Kaizar juga di sana," ajak Dina dengan mata berbinar-binar.

Mendengar nama itu, perut Zivara terasa melilit. Dulu, ajakan ini adalah oksigen baginya. Ia akan berlari paling depan hanya untuk mencuri pandang pada punggung tegap laki-laki itu. Sekarang, nama itu terasa seperti racun yang sudah ia kenal rasanya.

"Aku ikut ke kantin, tapi kita lewat koridor belakang saja ya? Lebih teduh," ujar Zivara.

Dina mengernyit heran. "Tumben? Biasanya lo paling semangat kalau lewat gedung pusat."

"Udara Bandung lagi panas, Din. Aku malas berdesakan," jawab Zivara sambil merapikan tasnya dengan gerakan anggun yang ia pelajari dari bertahun-tahun mendampingi suaminya di jamuan makan malam diplomat. Gerakannya tidak lagi canggung; ada aura ketegasan yang memancar dari setiap langkahnya.

**

Mereka berjalan menyusuri lorong kampus yang aromanya masih sama—campuran bau buku tua dan tanah basah sisa hujan semalam. Zivara memperhatikan setiap sudut gedung. Dulu, setiap jengkal kampus ini ia isi dengan lamunan tentang Kaizar. Sekarang, ia melihatnya sebagai penjara yang nyaris mengurungnya selamanya.

"Eh, Vara, lo beneran nggak nyesel masuk DKV?" tanya Dina sambil menyedot jus jeruknya. "Padahal Bokap lo diplomat. Lo bisa aja masuk Hukum atau Hubungan Internasional, kan? Kenapa bela-belain di sini?"

Zivara tersenyum pahit. Karena dulu aku bodoh, Din. Karena dulu aku ingin berada di radius satu kilometer yang sama dengan dia setiap hari.

"Mungkin aku cuma ingin melukis masa depanku sendiri kali ini," jawab Zivara retoris.

Langkah mereka sampai di persimpangan jalan menuju kantin. Dan saat itulah, takdir seolah sengaja ingin menguji resolusi yang baru saja ia bangun.

Di bawah pohon besar, sekelompok mahasiswa tingkat atas sedang berkumpul. Di tengah-tengah mereka, berdirilah sang pusat gravitasi. Kaizar Ravindra mengenakan almamater yang tidak dikancingkan, wajahnya yang dingin namun karismatik tampak sedang mendengarkan sesuatu dengan serius.

Dan di sampingnya, seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang yang indah sedang merapikan kerah baju Kaizar. Luna Valenska.

"Wah, Kak Kaizar sama Kak Luna emang visualnya nggak ada lawan ya?" bisik Dina kagum.

Zivara menghentikan langkah. Ia menatap pemandangan itu. Dulu, melihat kemesraan mereka akan membuat dadanya sesak hingga ia harus bersembunyi di toilet untuk menangis. Sekarang? Rasanya masih perih, namun perih yang berbeda. Ini adalah perih karena ia menyadari betapa banyak waktu yang ia buang hanya untuk menjadi penonton dalam kisah cinta orang lain.

Mereka memang serasi, batin Zivara. Dan seharusnya aku tidak pernah menyisipkan namaku di antara mereka.

"Ayo, Din. Aku lapar," ajak Zivara tanpa menunggu reaksi temannya. Ia berbalik, memunggungi pemandangan yang dulu sangat ia puja itu. Ia berjalan dengan punggung tegak, tidak sekali pun menoleh ke belakang.

**

Sore harinya, langit Bandung berubah menjadi jingga kemerahan, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan kampus. Zivara duduk sendirian di bangku taman, menunggu jemputan ayahnya. Ia sengaja meminta Dina pulang lebih dulu karena butuh waktu untuk menata hatinya yang terus-menerus dihantam kenangan déjà vu.

"Kamu mahasiswa baru yang menjatuhkan gantungan kunci tadi pagi?"

Suara bariton itu berat, dingin, dan sangat familiar hingga membuat bulu kuduk Zivara meremang.

Zivara menoleh perlahan. Kaizar berdiri hanya dua meter darinya. Di tangannya, ia memegang gantungan kunci yang terjatuh tadi.

Zivara berdiri, menjaga ekspresi wajahnya tetap netral. Tidak ada rona merah di pipi, tidak ada kegugupan yang biasanya membuat lidahnya kelu.

"Itu sudah saya buang, Kak. Kenapa tidak kakak buang saja?" ucap Zivara jutek.

Mata tajam Kaizar menatap Zivara lekat-lekat. Ia mengernyitkan dahi, tampak terganggu oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. "Saya perhatikan sejak tadi pagi... kamu seolah-olah sedang menghindari sesuatu. Atau lebih tepatnya, kamu menghindariku?"

Zivara tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Kaizar merasa seperti sedang diremehkan. "Kakak terlalu percaya diri. Kita bahkan tidak saling kenal. Kenapa saya harus repot-repot menghindari seseorang yang tidak ada dalam daftar penting hidup saya?"

Kalimat itu seperti tamparan halus bagi Kaizar. Selama ini, semua gadis di universitas ini akan melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatiannya. Tapi gadis di depannya ini menatapnya seolah ia hanyalah gangguan kecil.

"Benarkah?" Kaizar melangkah satu langkah lebih dekat, mencoba mengintimidasi dengan auranya yang dominan. "Tapi caramu menatapku... itu bukan tatapan orang asing. Ada kebencian di sana. Kenapa?"

Zivara merasakan jantungnya berdegup kencang, tapi ia segera mengendalikan diri. Ia tidak boleh kalah.

"Mungkin Kakak salah lihat. Bukankah Kakak seharusnya lebih fokus pada Luna Valenska? Dia baru saja kembali dari Italia, kan? Dia pasti sangat membutuhkan perhatianmu daripada menginterogasi mahasiswi baru sepertiku."

Wajah Kaizar seketika berubah pucat. Genggamannya pada gantungan kunci itu mengendur. "Dari mana kamu tahu tentang Luna? Dia... kami baru saja bertemu tadi siang secara tertutup."

Zivara menatap Kaizar tepat di manik matanya untuk terakhir kali—tatapan yang membawa sisa-sisa luka dari masa depan.

"Dunia ini sempit, Kak. Dan ingatlah satu hal..." Zivara mendekat, membisikkan kalimat yang membuat Kaizar merinding. "...beberapa orang ditakdirkan untuk tetap menjadi masa lalu, tak peduli seberapa keras Kakak mencoba menjadikannya masa depan. Simpan energimu untuk dia, karena kali ini, aku tidak akan ada di sana untuk menangkapmu saat kamu jatuh."

Zivara berbalik dan melangkah menuju mobil ayahnya yang baru saja tiba. Ia masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi.

Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, Kaizar Ravindra berdiri terpaku. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak wajar. Ia tidak mengenal gadis itu, tapi kenapa rasanya seolah-olah ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat besar? Sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki.

"Zivara Arthea..." gumam Kaizar pelan, mengecap nama itu di lidahnya.

Ia tidak tahu bahwa di dalam mobil, Zivara sedang menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Ia berhasil. Ia sudah menang satu langkah. Tapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

***

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!