Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 023 : Hilang Selama Tiga Bulan
"Farah!" samar-samar, Farah menoleh ke arah kanan. Ke arah ilalang tinggi. Barusan, ada yang memanggilnya. Suaranya parau dan itu adalah suara wanita.
Sebelum Farah sempat menjawabnya. Dia teringat satu hal. Bahwa, dia terpisah dari rombongannya karena sesosok wanita menyeramkan.
Farah memilih diam setelah mengingatnya. Dia kemudian berbalik, mengacuhkan suara itu kemudian bergerak.
Kabut-kabut putih saat semakin tebal rasanya. Hawanya semakin dingin. Farah berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Dia menyusuri belantara sendirian, memeluk rasa takutnya. Dalam hati, dia berharap, semoga dia dipertemukan oleh salah satu temannya.
Bahkan di sini, dia tidak berani bersuara. Dia takut, sangat takut jika suaranya mengundang sosok menyeramkan datang pada dia.
Krekkkk
"Hah!" Farah terkejut ketika salah satu kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu. Itu berbentuk bulat. Farah mencoba mencerna dulu sebelum menoleh. Benda apakah yang kini dia pijaki itu?
"Apa ini?" gumamnya bertanya-tanya. Merasa tidak memiliki jawaban lagi. Farah pun memilih menoleh ke bawah. Dia menyipitkan kedua matanya untuk fokus mematri apa yang sedang dia injak.
Semakin diamati, bentuknya seperti batu. Batu berwarna putih. Tidak terlalu jelas rasanya. Farah memilih sedikit mundur. Batu putih itu tertutupi dedaunan kering. Dia memilih menendang batu itu, agar dia tahu, sebenarnya benda apa itu?
Ketika dia memundurkan tubuhnya. Memberinya sedikit jarak dari benda itu. Farah mulai menggerakkan kaki kanannya, menariknya ke belakang kemudian menendangnya.
Takk
Takkk
"Ya Tuhan!" ucapnya seraya membulatkan kedua matanya. Betapa sangat ngerinya kini apa yang dia lihat.
Bagaimana tidak? Benda yang tadinya dia kira batu. Setelah ditendang, rupanya itu bukan batu, melainkan tengkorak kepala manusia. Tengkorak kepala itu terlempar ke depan, menabrak pohon.
Jantung Farah berdebar kencang sekarang. Dia takut, dia ingin lari. Tapi dia tidak tahu akan ke mana? Belantara ini rasanya tidak berujung. Kemanapun dia pergi, hasilnya tetap sama rasanya.
Farah yang sudah cukup ketakutan itu. Kini depresi. Dia berjongkok, dia meringkuk, dia menangis.
"A..aku takut!" lirih Farah kini. Sungguh, mentalnya serasa dipermainkan di sini.
"Tolong aku!" kata Farah lagi. Entah kepada siapa dia meminta tolong sekarang?
______
Sementara itu, di tempat Ardin. Terlihat Ardin sedang duduk bersila tepat di bibir danau.
Ardin mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi padanya? Sejak tadi, dia berpikir keras. Mencoba merajuti kejadian-kejadian aneh yang menimpanya.
Saat itu, Ardin memilih menatap ke arah danau. Dia berdiri, memperhatikan pantulan dirinya sendiri di atas permukaan danau.
"Tunggu.." kata Ardin, ketika sebuah keanehan lagi-lagi membuatnya berpikir. Bagaimana tidak? Danau yang kini dia tatap.
Bahkan tidak mengalir seperti danau pada umumnya. Dia tidak melihat adanya riak air. Walaupun di sana, sesekali dia melihat beberapa ikan berlalu lalang.
"Airnya, gak bergerak!" katanya lagi merasa aneh.
Sekarang, Ardin memilih berjongkok. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh air danau itu.
Depp
Saat itu, ketika jari telunjuknya bersentuhan langsung dengan airnya. Anehnya, Ardin tidak merasakan apapun. Tetapi, sesuatu kembali mengejutkan dia tatkala kedua matanya kembali memperhatikan air danau.
"Hah!" pekiknya, terjatuh ke belakang. Sebab sepasang mata mendadak muncul dari dalam danau.
Ardin membulatkan kedua matanya. Dia tidak melihat wajah di sana. Hanya sepasang mata. Awalnya hanya satu, tetapi semakin lama, sepasang mata itu kian bertambah memenuhi danau.
Bulu kuduk Ardin berdiri seketika. Dia memilih bangkit dari posisinya. Mundur secara perlahan walaupun sekujur tubuhnya rasanya meremang.
Ardin segera membalikkan badannya, dia yang sudah cukup ketakutan. Memilih untuk berlari. Tetapi baru saja dia berjarak beberapa meter dari danau.
Dia kembali dikejutkan dengan kemunculan seorang lelaki besar yang mendadak muncul dari arah kanan pepohanan.
Sepertinya, lelaki itu sudah menunggunya. Ardin tidak bisa melihat wajahnya. Sebab, lelaki itu memunggunginya.
"Oh shit!" umpatnya, dan,
Brukkkk
Dia menabrak punggungnya Lelaki misterius itu. Sangking kencangnya larinya, tabrakan itu kembali membuat dia terjatuh.
Dan, sialnya! Belum sempat Ardin melihat dengan jelas wajah Lelaki yang dia tabrak ketika menoleh ke arahnya.
Telapak tangan lelaki itu mengarah ke arahnya. Telapak tangannya besar. Menutupi wajah Ardin hingga tidak terlihat apapun.
"Arghhh!" teriak Ardin, kesakitan. Dia tidak melihat apapun di sana. Sungguh, gelap! Gelap dan sangat gelap.
Suaranya berteriak begitu kencang. Dia kini masih berada di dalam hutan. Hutan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sebuah desa mati.
"Suara apa itu?" tanya seorang pria paruh baya.
Di sampingnya kini, berdiri seorang wanita yang cukup cantik dengan rambut yang tergerai. Siapa lagi mereka jika bukan, Tuan Antony dan Nyonya Antony.
Selama anak mereka Farah. Terjebak di dalam alam sebelah. Berbulan-bulan, mereka mengumpulkan banyak sekali informasi perihal sebuah desa yang namanya menghilang dari denah peta wilayah.
"Ayo kita cari, Ma!" seru Tuan Antony, dia mengajak istrinya untuk ikut serta bersamanya menghampiri suara Ardin yang berteriak.
Mereka menyusuri hutan dengan langkah yang tergesa-gesa namun tetap memperhatikan keselamatan. Mereka hanya berdua. Hanya mereka, sebab beberapa orang di wilayah ini enggan mengantar mereka kemari.
Hingga, ketika jarak demi jarak terpangkas. Tuan Antony, tiba tepat di depan tubuh Ardin yang mengerang sambil masih terpejam. Ardin seperti sedang kesakitan.
"Ardin!" ucap Tuan Antony, membulatkan kedua matanya. Di sana dia melihat tubu Ardin yang masih nampak bugar meskipun sudah tiga bulan menghilang.
Ya, benar! Sudah tiga bulan, Farah beserta rombongannya hilang. Dan sekitar satu setengah bulan, orang tua Farah mencari. Tetapi tidak kunjung membuahkan hasil.
"Ardin!" seru Tuan Antony, dia menghampiri Ardin.
"Arghhhhhh..." pekik Ardin yang masih terpejam. Keringat dingin mengucur deras di dahinya.
Nyonya Antony, duduk bersimpuh. Dia mengeluarkan tissue dari dalam tasnya. Mengusap lembut kening Ardin yang basah kuyup akibat keringat.
"Dia demam!" seru Nyonya Antony, kepada suaminya. Ardin yang masih meronta-ronta itu, segera ditepuk-tepuk pipinya oleh Tuan Antony.
Pukkk
Pukkk
"Bangun Ardin!" seru Tuan Antony berusaha menyadarkannya. Dia melakukannya beberapa kali.
Hingga Ardin betul-betul membuka kedua matanya. Ardin nampak terengah-engah. Dia memandangi langit saat itu, meskipun wajah Tuan Antony adalah pemandangan pertama yang dia lihat.
"Kamu kenapa? Kamu dari mana, Ardin?" tanya Tuan Antony pada Ardin. Tetapi Ardin tidak menjawab.
Dia seperti orang linglung. Pertanyaan itu, seakan sulit dijawab oleh dia. Ardin memilih duduk kemudian. Mengacuhkan pertanyaan dari Tuan Antony. Sejenak, dia menatap sekeliling.
Sungguh, ada kelegaan juga kekhawatiran serta ketakutan yang kini hinggap dalam dadanya. Dia kemudian menundukkan kepalanya. Dia ingat, Farah!
"Gimana bisa saya di sini, Om?!" tanya Ardin kini pada Tuan Antony. Dia menoleh sekarang ke arah Tuan Antony yang juga ikut bingung.
"Apa yang terjadi?" tanya Tuan Antony pada Ardin.
Saat itu pandangan mereka saling mengunci. Dan di sana Ardin, meneteskan air mata. Dia mencengkram bahu Tuan Antony.
"Berapa lama, buat om nemuin saya?" tanya Ardin kepadanya.
"Berapa lama, kami hilang?" tanya Ardin lagi. Mendengar itu, Tuan Antony sejenak menatap ke arah istrinya. Setelah itu dia kembali menatap Ardin dan berkata,
"Tiga bulan!" jawab Tuan Antony. Mendengar itu, Ardin pun lemas rasanya.
Rasanya baru dua hari mereka berada di alam sebelah. Tetapi kenapa, sekarang di sini Tuan Antony mengatakan bahwa dia hilang sekitar tiga bulan.
Merasa ini sudah tidak bisa dinalar. Ardin teringat pada satu nama. Satu nama yang cukup terkenal dalam daerah itu.
"Om, aku bakalan ceritain semuanya! Tapi, tolong, antar aku ke satu alamat. Orang itu, tahu betul perihal belantara ini. Aku mohon om, sebab Farah masih berada di sana! Itu tempat yang berbahaya. Entah kenapa, belantara memilih mereka berlima?" jelas Ardin pada Tuan Antony.
Mendengar penjelasan Ardin, serta mimik wajahnya yang meyakinkan. Rasanya Tuan Antony tidak mau mendebatnya. Apalagi, ini menyangkut nyawa Farah!
ternyata dia lebih tua dari aku🤣