Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Menemui Peracik Obat Hebat
Langit malam sudah gelap saat Maya keluar dari kantor polisi. Udara terasa dingin setelah hujan sore tadi mengguyur kota cukup lama. Genangan air kecil masih terlihat di pinggir jalan, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang berlalu lalang.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan warna kekuningan redup di sepanjang trotoar basah. Maya berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket training pinjaman UKS. Langkahnya ringan, namun pikirannya penuh berbagai hal yang terus berputar di kepalanya.
Jamie, Angel, dan Pak Darto. Nama-nama itu muncul silih berganti. Semua manusia busuk itu seperti mulai berkumpul di hidupnya sekaligus.
Maya mendecakkan lidah pelan. “Merepotkan.”
Namun anehnya, sudut bibirnya justru terangkat tipis. Karena semakin banyak masalah muncul, semakin terasa kehidupan lamanya kembali bangkit. Dunia penuh tipu daya, kekerasan, dan permainan licik yang dulu sangat akrab dengannya perlahan mulai terbuka lagi. Bagian paling berbahaya dari dirinya ternyata tidak membenci itu. Dia malah merindukannya.
Malam semakin larut saat Maya tiba di Rusun Melati. Tempat itu masih ramai seperti biasanya. Lorong-lorong sempit dipenuhi suara televisi dari kamar penghuni. Anak-anak kecil masih berlarian sambil bermain kejar-kejaran meski sudah malam. Beberapa ibu duduk mengobrol di depan pintu sambil mengupas bawang.
Aroma mi instan, kopi sachet, dan gorengan bercampur di udara pengap rusun tua itu. Maya menaiki tangga dengan langkah malas. Tangga beton yang lembap berderit pelan setiap kali diinjak. Sampai akhirnya dia tiba di depan kamar Bobby.
Ceklek!
“WOI TUTUP PINTU KALO MASUK!” Suara Bobby langsung menggelegar dari dalam kamar. Cowok itu sedang tidur telentang di atas kasur tipis sambil mengipasi dirinya sendiri menggunakan buku komik lusuh. Kaos oblongnya terangkat sampai memperlihatkan perut.
Maya memandang jijik. “Pemandangan gagal!"
“Apaan sih…” balas Bobby setengah sadar sambil menggaruk perut.
Tanpa basa-basi Maya langsung mendekat lalu menjewer telinga cowok itu kuat-kuat.
“BANGUN!"
“AW AW AW AW!” Bobby langsung loncat bangun sambil memegangi telinganya.
“SETAN LU!” teriaknya heboh. “Kuping gue bukan remote TV!”
Maya duduk santai di kursi plastik dekat kasur sambil menyilangkan kaki. “Gue laper.”
“TERUS?”
“Masakin sesuatu.”
“ENAK AJA!”
Maya menunjuk kompor kecil di pojok kamar. “Nasi masih ada.”
“Ya masak sendiri!”
Maya mendecakkan lidah. “Cowok nggak berguna.”
“LAH LU YANG NUMPANG DI TEMPAT GUE!”
“Makanya berguna dikit!"
Bobby langsung mengambil bantal seolah ingin melemparnya. Namun gerakannya terhenti ketika dia melihat wajah Maya lebih jelas. Alisnya mengernyit. “Eh…”
Maya melirik malas. “Apa?”
“Pipi lu kenapa merah?”
Maya menjawab santai tanpa ekspresi. “Ditampar.”
“Hah?!”
“Terus gue banting orangnya.”
Bobby langsung membeku. Mulutnya terbuka beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Gue nggak tau harus khawatir atau tepuk tangan.”
Maya nyengir kecil lalu berdiri dari kursi. Dia mulai membuka jaket training UKS begitu saja di depan Bobby. Cowok itu langsung panik setengah mati.
“WOI WOI WOI!”
Maya mengernyit bingung. “Apaan?”
“Ganti baju tuh minimal punya malu dikit!”
Maya malah santai mengambil kaos hitam oversized dari tas kecilnya. “Lah emang kenapa?”
“YA KARENA GUE COWOK!”
“Terus?”
Bobby langsung membalik badan heboh sambil menutupi wajahnya pakai bantal. “ASTAGA INI CEWEK BARBAR BANGET!”
Maya memutar bola mata malas sambil tetap mengganti pakaian dengan santai.
Di kehidupan sebelumnya, hal seperti itu benar-benar bukan masalah besar. Saat hidup di lingkungan mafia, privasi kadang jadi hal mewah yang tidak terlalu dipikirkan. “Di dunia gue dulu beginian biasa,” katanya santai.
“DUNIA LU ITU HUTAN?!”
Beberapa detik kemudian Maya sudah selesai memakai kaos hitam longgar dan celana cargo gelap. Rambutnya diikat asal ke belakang.
“Udah,” katanya datar.
Bobby perlahan menurunkan bantal dari wajahnya. “Sumpah ya…” gerutunya. “Lu tuh nggak punya aura cewek normal.”
“Normal bikin lemah.”
“ITU SIAPA YANG AJARIN?!”
Maya tidak menjawab. Dia malah mengambil jaket hitam tipis lalu melemparkannya ke arah Bobby. “Pakai!”
“Hah?”
“Kita pergi.”
Bobby langsung curiga. “Ke mana lagi nih?!”
Maya mulai memakai sepatu sambil menjawab singkat. “Ketemu seseorang.”
“Siapa?”
“Sambudi.”
Hening beberapa saat. Bobby langsung melotot seperti baru mendengar nama hantu.
“SAMBUDI?!”
Maya mengangguk santai.
“Yang peracik obat gila itu?!” tanya Bobby memastikan.
“Yup.”
“LAH NGAPAIN KETEMU DIA?!”
Maya tersenyum tipis. Senyum yang selalu muncul ketika dirinya mulai merencanakan sesuatu. “Balas dendam.”
Bulu kuduk Bobby langsung merinding.b“Jangan ngomong kayak villain film…”
Namun Maya tidak menjelaskan lebih jauh. Dia hanya mengambil tas kecilnya lalu berjalan keluar kamar. “Lu bakal susah ngerti.”
“Ya jelas gue susah ngerti!” protes Bobby sambil buru-buru memakai jaket. “Orang hidup lu aja kayak season baru sinetron kriminal!”
Maya terkekeh kecil. “Pokoknya ikut aja.”
Bobby menghela napas panjang penuh penderitaan. “Gue yakin suatu hari nanti gue mati gara-gara nemenin lu.”
“Tenang.”
“Tenang gimana?!”
“Kalau lu mati gue kuburin.”
“Sialan!”
Sekitar tiga puluh menit kemudian, motor butut Bobby melaju memasuki kawasan selatan kota. Suara mesinnya berisik dan kadang batuk-batuk seperti hampir mati.
Semakin jauh dari pusat kota, suasana jalan makin sepi dan gelap. Gedung-gedung modern perlahan menghilang, digantikan rumah-rumah tua dengan cat kusam dan pagar besi berkarat.
Gang-gang sempit mulai bermunculan seperti labirin. Lampu jalan banyak yang mati. Beberapa hanya berkedip redup seperti mau padam.
Orang-orang bertato duduk nongkrong di pinggir jalan sambil merokok dan menatap setiap kendaraan yang lewat dengan tatapan tajam.
Bobby terlihat makin gelisah. Tangannya mencengkeram setang motor lebih erat. “Gue serius nanya…” katanya pelan. “Kita ngapain ke tempat beginian?”
Maya memandangi sekitar dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
“Tempat kayak gini justru paling aman buat orang berbahaya.”
Bobby menelan ludah. Nama Sambudi memang terkenal di dunia bawah tanah kota. Pria muda itu dikenal sebagai peracik obat ilegal yang sangat jenius. Banyak rumor beredar tentang kemampuannya membuat berbagai jenis ramuan dan zat berbahaya. Obat tidur, penahan nyeri, stimulan, bahkan racun ringan. Apa pun bisa dia racik selama dibayar mahal.
Yang paling menyeramkan, banyak kelompok mafia menggunakan jasanya. Termasuk organisasi tempat Priska dulu dibesarkan.
Motor Bobby akhirnya berhenti di depan rumah tua semi permanen yang terlihat nyaris roboh. Pagar besinya dipenuhi karat. Lampu rumah menyala redup kekuningan dari dalam.
Bobby langsung berbisik panik. “Kita beneran masuk?”
Maya turun santai dari motor. “Iya.”
“Kalau dia bunuh kita?”
“Lebay!”
“ITU BUKAN SOLUSI!”
Maya berjalan mendekati pintu rumah tanpa peduli ocehan Bobby.
Tok tok tok.
Dia mengetuk pintu tiga kali. Suasana langsung hening. Tak ada suara apa pun selama beberapa detik. Lalu pintu terbuka perlahan.
Seorang pria muda kurus muncul dari balik pintu. Rambut putihnya acak-acakan, sementara matanya kecil tajam seperti tikus tua. Dia memakai kaos lusuh dan celana pendek seadanya. Tatapan pria itu langsung jatuh pada Maya. Seketika dia membeku.
“…hah?” Matanya menyipit perlahan. “Siapa...”
Bobby langsung bingung sendiri melihat reaksi itu. “Kenapa tuh cowok?”
Namun Maya hanya memasukkan tangan ke saku sambil tersenyum tipis. “Lama nggak ketemu, Sambudi.”
Pria muda itu langsung menatap Maya semakin tajam. Wajahnya perlahan berubah pucat.
“Suara itu…” gumamnya lirih.
Maya melangkah mendekat satu langkah. “Gue butuh bantuan.”
Sambudi masih memandanginya seperti melihat hantu hidup. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang terasa sangat familiar. Cara berdiri, cara bicara, dan tatapan mata dingin itu. Semuanya sangat mirip dengan seseorang dari masa lalu yang pernah dikenalnya di dunia mafia.
Tangan Sambudi mulai gemetar kecil. "Siapa kalian?” timpalnya.
Maya hanya tersenyum tipis dalam diam. Sementara Bobby berdiri di belakang dengan wajah makin bingung, merasa dirinya sekali lagi terseret ke sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang dia bayangkan.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔