Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Rencana Arlan.
Pagi itu, walau semalam Safa dibuat ketakutan setengah mati, ia masih menyiapkan sarapan untuk sang suami.
Saat bangun, hatinya terasa tenang. Arlan senantiasa menemaninya walau ia tertidur di atas sofa.
Semua sudah tersaji di meja sebelum pukul enam pagi. Asap kopi mengepul membawa aroma yang menyegarkan.
Arlan yang baru saja turun segera berjalan menuju dapur. Ia tersenyum saat melihat wanita yang semalam begitu rapuh, kini bersenandung ringan sambil memotong beberapa buah.
"Aku senang, akhirnya Safa sudah kembali," tuturnya sambil menarik punggung kursi.
Safa tersentak dan berbalik. "Eh, Mas Arlan. Sudah bangun?"
Arlan hanya tersenyum sembari duduk di kursi. Aroma kopi hitam yang memikat membuatnya tak sabar untuk mencicipinya.
Sruuup!
Saat sruputan pertama, Arlan merasa begitu segar. Ia melirik ke arah sang istri sembari memberikan senyum tulus, menandakan kopi buatan Safa terasa nikmat.
Safa pun membalas dengan senyuman lega. "Enak gak, Mas?"
"Iya, ini enak. Kamu pintar bikin kopi, manisnya pas."
"Benarkah?" Wajah Safa tampak berbinar saat mendapat pujian.
Arlan mengangguk. Ia lalu mengambil sepotong buah dan memakannya. "Bagaimana keadaanmu? Apa sekarang kamu baik-baik saja? Semalam kamu pasti syok."
Gerakan Safa yang tengah mencuci tangan terhenti. Ia terdiam sejenak. Ia sebenarnya tidak baik-baik saja, rasa trauma itu jelas masih terasa. Namun, demi membuat Arlan tidak khawatir, ia mencoba tersenyum saat berbalik.
"Aku udah gak papa kok, Mas. Semalam aku hanya kaget aja soalnya tiba-tiba ada orang masuk ke kamar," tuturnya berusaha tenang.
"Ya sudah. Sekarang kamu bisa tenang. Mas akan memperketat penjagaan, dan akan ada pembantu yang tinggal di rumah kita. Jadi, saat Mas belum pulang, kamu tidak sendirian."
Arlan menepuk pelan kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Safa agar duduk. "Kemarilah, kita sarapan bareng."
Safa mengangguk dan duduk di samping sang suami. Ia meladeni Arlan layaknya seorang istri yang berbakti.
Sebelum Arlan melahap makanannya, ia menatap sang istri. Kedua tangannya bertumpu di dagu seolah sedang menilai.
"Apa kamu jadi pulang ke rumah mamamu hari ini?"
"Iya, Mas. Aku harus pulang untuk mengambil alih toko Ayah," ujarnya.
Arlan terdiam. Ia ingin menemani sang istri, namun hari ini ada urusan yang tidak bisa ia tinggalkan. Ia dilema.
"Mas gak perlu khawatir, aku bisa jaga diri. Aku nanti akan bawa Mbak Luna," tutur Safa, karena ia paham jika Arlan tengah mengkhawatirkannya.
"Maaf, Safa. Mas gak bisa temani kamu. Tapi kamu tenang saja, Mas selalu akan membantumu. Sekarang kamu punya orang yang bisa diandalkan, jadi jangan pernah takut dengan apa pun lagi," ungkap Arlan.
Safa tampak ragu. Ia hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya. "Tapi ... Mas ..."
"Ingat, Safa. Sekarang kamu istriku. Menantu keluarga Kusuma, apa lagi yang kamu takutkan? Jika kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut." Arlan mencoba membuat sang istri bangkit dari keterpurukan. Ia tahu Safa sudah banyak menahan diri selama ini.
Dengan tatapan penuh kepercayaan, Arlan berkata, "Lakukan saja apa yang perlu kamu lakukan. Sisanya... atau kalau kamu dalam kesulitan, itu tugas Mas."
Safa mengangguk dengan rona bahagia. Kini ia punya tempat untuk pulang dan mengadu. Seseorang yang akan selalu ada saat ia terjatuh.
"Makasih, Mas. Mulai sekarang aku akan bilang tidak jika aku memang tidak mau."
Arlan tersenyum lebar. "Itu baru benar. Sekarang habiskan makananmu. Lihat, kasihan nasinya dari tadi cuma kamu aduk-aduk."
Safa terkekeh kecil lalu melahap makanannya.
Setelah keperluan sang suami siap, Safa mengantar kepergian Arlan sampai ke depan pintu. Begitu Arlan akan menuju mobil, Safa menarik tangan suaminya dan menciumnya penuh hormat.
"Hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa sabuk pengaman. Jangan ngebut, ya?" cecarnya tak henti.
"Iya. Hari ini kamu bawel banget," celetuk Arlan sembari berjalan menuju mobilnya.
"Mas ..." rengek Safa saat dikatai bawel.
Arlan hanya melambai sebelum masuk ke dalam mobil.
Pagi ini jelas terasa berbeda dari pagi-pagi yang lain. Arlan semakin terbuka dan begitu perhatian. Bahkan saat Arlan tertawa lepas, Safa bisa merasakan ketulusannya. Ia berharap hubungan mereka semakin baik, dan Arlan bisa menjadi suaminya selamanya.
Setelah Arlan pergi, Safa buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia mengambil ponsel dan menghubungi asisten yang sudah lama tidak ia gunakan jasanya.
"Halo, Mbak Luna. Bisa ke tempatku? Aku ada sesuatu yang harus dilakukan, dan aku butuh bantuan Mbak."
"Baik, Non. Saya akan segera ke sana. Tunggu saya sejam lagi," ujar Luna dari seberang telepon.
Ponsel dimatikan. Safa kembali ke dapur untuk membereskan sisa sarapan mereka.
Beberapa saat kemudian, Arlan tiba di kantornya. Ia menenteng kotak bekal makan siangnya dengan bangga. Sontak hal itu menarik banyak perhatian orang di sekitar.
Bahkan petugas resepsionis tak luput memperhatikannya. "Wah, kotak bekal makan siang yang dibawa Pak Arlan sangat gak biasa. Warnanya ungu, jelas wanita banget. Apa Pak Arlan sudah menikah, ya?"
"Ah, mana mungkin. Sekelas Pak Arlan nikah tanpa pesta besar itu mustahil. Dia aja gak pakai cincin kawin," timpal yang lain.
"Iya juga, sih. Atau jangan-jangan itu dari kekasihnya? Bisa jadi, loh."
Riana yang baru saja datang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka dan langsung mendekat. "Siapa yang kalian bicarakan? Kenapa serius gitu?"
"Oh. Pagi, Bu!" ucap mereka serempak.
"Itu, Bu. Tadi Pak Arlan lagi nenteng kotak bekal. Yang bikin kami gagal fokus, wadahnya berwarna ungu dengan gambar bunga-bunga. Kan jelas itu disiapkan oleh seorang wanita," timpal petugas resepsionis.
Riana terdiam. Ia sama sekali tidak berharap bosnya memiliki kekasih. Ia ingin mendekati pria itu, namun dengan sikap Arlan yang begitu dingin, hal itu seakan mustahil.
"Sudah, jangan bikin gosip pagi-pagi. Bisa saja itu memang punya beliau, dan pelayan rumahnya yang menyiapkan."
Dengan wajah masam, Riana melangkah pergi menuju lift. Pikirannya terus melayang memikirkan sosok kekasih bosnya.
"Apa aku benar-benar gak punya kesempatan?" gumamnya lirih.
Sementara itu di ruangannya, Arlan meletakkan kotak makan siang di atas meja kerja. Ia menyimpannya dengan hati-hati seolah itu adalah barang berharga.
Tak lama kemudian, pintu diketuk. Arlan yang sedang duduk di kursi kebesarannya menoleh. "Masuk!"
Perlahan pintu terbuka. Egar masuk dengan seringai tipis di wajahnya. Matanya langsung membelalak saat melihat kotak bekal ungu di meja.
"Wah, apa ini? Bekal makan siang atau bukti cinta dari nyonya tersayang?" ledeknya. Tangannya terulur hendak menyentuh kotak itu, namun ...
Plak!
Tangannya ditepis Arlan dengan keras. "Jangan sentuh!" ucapnya protektif.
"Hmm ... buset, galak amat. Iya, iya, aku gak sentuh. Mulai terobsesi nih ..."
Egar lalu menyodorkan iPad miliknya. Di dalam layar tertera laporan yang sempat Arlan minta.
"Jadi, bagaimana? Mau kita apakan kroco ini?" ucap Egar disusul seringaian tipis.